Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
253 - Kekuatan Asing II


__ADS_3

Di sana, Amdara membuka mata netra birunya perlahan. Tatapannya masih datar, pandangannya langsung tertuju ke depan. Tepat di mana Mitsu tengah menatapnya juga.


Luka-luka di tubuh telah hilang sempurna. Kekuatan alam mengelilingi. Membawa kesejukan tersendiri. Membuat asap hitam perlahan menghilang.


Pakaiannya tertiup pelan oleh angin. Begitu pula dengan rambut yang sudah berubah putih seperti semula, serta ikat kepala. Ikat kepala bercorak naga itu bersinar terang.


Sayap emasnya mengepak. Perlahan tubuh terangkat, membawa angin besar. Amdara tiba-tiba saja menghilang, saat itu juga membuat Mitsu terkejut. Sampai tiba-tiba Amdara berada tepat selangkah di depan dengan tangan mencengkram leher Mitsu kuat.


Mitsu yang tidak sadar dengan keberadaan lawan tercekik. Dia mencoba memberontak, tapi sia-sia sebab kekuatannya ditekan oleh kekuatan lawan yang jauh lebih besar dari sebelahnya bahkan melebihi dia sendiri.


"B-bagaimana mungkin kau masih hidup setelah terkena serangan telak dariku?!"


Kata Mitsu kesakitan. Sekuat tenaga melepas tangan lawan dari leher, tapi tidak bisa. Terlalu kuat.


Amdara hanya diam. Dia menatap dalam netra lawan. Sampai lawan tanpa sadar merasakan degub jantungnya berdetak lebih keras. Perasaan gentar tiba-tiba saja muncul.


Amdara mengangkat tangan, membuat tubuh Mitsu ikut terangkat. Sebelah tangan gadis itu mengepal, lalu memukul perut lawan dengan kekuatan besar bersamaan tangan kanan melepas cengkraman.


Mitsu menghantam ke belakang sampai lima belas meter. Matanya terbuka lebar, perutnya langsung terluka parah. Darah mencuat dari perut dan mulut.


Amdara tiba-tiba menghilang, muncul kembali di atas Mitsu yang tak berdaya. Melihat lawan yang sudah terluka parah hanya dalam satu serangan tidak membuatnya merasa iba. Tatapan dingin itu membuat lawan yang masih sadar tak bisa berkata-kata.


Sesaat bayangan hitam keluar dari tubuh gadis berambut putih. Sangat besar, membentuk tubuh makhluk mengerikan.


Mitsu terbelalak melihat itu. Semakin ketakutan melihat Amdara. "K-kau monster!"


Bayangan hitam itu berubah menjadi pedang es dan langsung melesat ke arah dahi lawan. Mitsu yang kekuatan tidak bisa digunakan saat itu terkena serangan telak. Dia berteriak, darah mencuat dari dari. Teriakannya sama sekali tidak membuat Amdara berkutik dari tempat. Sampai Mitsu benar-benar kehilangan kesadaran.


Amdara tiba-tiba bersuara, "aku lebih dari itu."


Kepala dia mendadak terasa sakit. Suara-suara aneh terdengar. Bising, membuat gadis itu memegang kepala kesakitan. Sampai dia terjatuh, tidak sadarkan diri.


Seorang pria mengenakan penutup wajah mendarat di sana. Pakaian cokelatnya dilambai-lambai angin sekitar. Pandangannya mengarah ke gadis berambut putih yang tergeletak tak sadarkan diri.

__ADS_1


Hanya menggunakan jari telunjuk, dia mengangkat Amdara dan membawanya pergi tanpa peduli pada Mitsu yang keadaannya cukup parah.


Setelah menghilangnya asap hitam, orang-orang segera pergi ke reruntuhan. Termasuk Kawa dan yang lain, tak peduli dengan tubuh yang masih terluka. Pikiran mereka terus tertuju pada Amdara yang entah bagaimana kondisinya sekarang.


Ian yang tak sengaja melihat Kawa menyerngitkan dahi. "Apa dia juga punya urusan datang kemari?"


"Apa kita akan melihat ke sana juga?" tanya Enric.


Ian menggeleng dan menjawab, "tidak. Kita lanjutkan saja."


Enric, Arlet, dan dua lagi temannya mengangguk dan melesat pergi. Tidak peduli dengan kejadian barusan, toh mereka memiliki tujuan lain yang mendesak.


Kawa menyerukan nama Amdara, akan tetapi tidak ada sahutan. Raut wajahnya tampak gelisah, dia melihat kepingan bangunan yang hancur berkeping-keping.


"Tidak! Dia pasti ada di sini!"


Jogu mengangkat salah satu keping bangunan. Suaranya gemetar, pikirannya kacau. Teman yang lain juga melakukan hal yang sama.


"Tapi mustahil selamat dari jurus Mitsu," lirih Kawa sembari menunduk dalam.


"Kau tahu kekuatan lawan besar. Tapi kenapa kau malah membiarkan gadis kecil itu yang melawan Mitsu?!" geramnya. Riak mukanya terlihat Merah. menandakan dia marah.


Kawa kontan mendongak, tersentak dengan ucapan Jogu yang masuk akal. Dirinya diamz tetapi tangan terkepal kuat.


Jika saja dia menahan gadis itu, dan dirinyalah yang melawan Mitsu. Tidak akan terjadi hal seperti ini. Dan jika saja dia tidak membuat kesepakatan, nyawa gadis muda itu akan baik-baik.


"Kenapa?! Kau tidak bisa menjawab?! Benar-benar!"


Cengkraman itu semakin kuat, tapi lawan bicara sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata.


"Sudahlah, Jogu. Sekarang cari Luffy, bukan cari masalah lain!"


Gaku mencoba melepas tangan Jogu yang cukup erat mencengkram. Jogu dengan kesal mendorong Kawa dan berdecih.

__ADS_1


Dia kembali mencari temannya itu bersama Ilan dan yang lain. Tanpa peduli bagaimana perasaan Kawa sekarang.


Kawa memandang kosong ke depan. Dia berkata lirih, "seharusnya aku menahan Luffy. Seharusnya akulah yang menjadi lawan Mitsu. Bukan gadis malang itu. Ini memang salahku, ini kesalahanku."


Mereka terus mencari, sama sekali tidak ada tubuh yang ditemukan. Bahkan bercak darah tidak terlihat. Orang-orang mulai kebingungan karena tidak ada orang tewas. Padahal sudah dicari.


Salah seorang murid Akademi Nirwana Bumi menyerukan nama Mitsu. Kontan Jogu menoleh dan segera melesat ke arah sumber suara. Bisa saja Amdara berada di sana.


Namun, tidak ada. Hanya ada Mitsu yang kondisinya sudah memprihatinkan. Hal itu sontak membuat Murid-murid Akademi Nirwana Bumi terkejut bukan main, termasuk Jogu.


"B-bagaimana Senior Mitsu bisa sampai terluka separah ini?!"


"Siapa yang menyerangnya?!"


"Berhenti mengoceh! Ayo bawa Senior ke tempat pengobatan."


Murid-murid itu dilanda keterkejutan dan penasaran. Padahal jelas-jelas Mitsu lah yang melakukan serangan telak, walau tidak ada yang melihat apa yang sebenarnya terjadi. Tapi mereka yakin Mitsu harusnya tidak terluka, tetapi lawan.


Jogu juga sama terkejutnya. Padahal yang melawan Mitsu hanya Amdara.


"Tidak mungkin itu Luffy 'kan?" Jogu mulai berpikir lagi.


*


*


*


Di ruangan bernuansa putih, ada satu ranjang dan tempat duduk. Satu sekat untuk ruang kamar mandi. Terlihat sederhana, tetapi aroma obat-obatan cukup menyengat. Salah satu meja penuh oleh kendi berisi ramuan.


Jendela terbuka keras oleh angin, lalu pria yang membawa Amdara baru saja sampai di sana dan segera membaringkan tubuh gadis muda itu pelan. Tidak ada luka sama sekali, bahkan aliran darah, dan detak jantungnya normal. Kemungkinan dia syok atas apa yang terjadi.


Pria itu meletakkan tangan di atas dahi Amdara, mulai memeriksa kondisi inti spiritual. Alisnya menyatu, seolah ada yang tidak beres.

__ADS_1


Dia memandang pasien dengan wajah iba. "Menyedihkan. Setelah mengeluarkan kekuatan besar, kau langsung tidak sadarkan diri karena Benang Merah."


Pria itu menarik tangan dan berjalan ke tempat duduk. Meminum teh biru dengan santai. Menunggu Amdara sadar tanpa perlu melakukan penyembuhan.


__ADS_2