
Tidak ada lagi percakapan antara keduanya. Mereka lebih menambah kecepatan untuk segera sampai ke Klan Ang.
Membutuhkan enam jam untuk sampai di tempat tujuan tanpa henti dan menggunakan kecepatan tinggi.
Dan sekarang, terpampang jelas sebuah tempat yang terlihat luas dengan banyak gedung.
Sebuah gerbang sangat besar sebagai pembatas terlihat megah. Gerbang ini berwarna biru dengan corak bunga. Tidak ada yang berjaga di gerbang itu.
Tetua Genta dan Amdara menapak. Melihatnya dengan tatapan terperangah. Udara di luarnya sudah terasa berbeda.
Amdara menoleh ke Tetua Genta yang mengangguk, petanda mereka akan masuk sekarang.
Tetua Genta mengulurkan tangan dan menyentuh gerbang. Sebuah cahaya putih keluar saat dia menyentuh dan beberapa saat kemudian gerbangnya terbuka sendiri. Tetua Genta menarik lagi tangan.
Sama sekali tidak ada suara saat terbuka. Terpampang jelas halaman luas dan menyejukkan.
Tetua Genta mulai melangkah masuk, diikuti Amdara yang mengedarkan pandangan.
Tempat ini sangat hijau oleh tanaman yang terawat dan bersih. Gedungnya juga berbentuk sedikit aneh dengan warna yang kebanyakan biru.
Seseorang berpakaian warna kuning dengan corak angin beliung menapak di di depan Tetua Genta. Dia pria berumur kisaran 30 tahun dan memiliki ciri khas rambut bergelombang yang dibiarkan terurai.
Tetua Genta sontak memberikan hormat, sesaat Amdara menatap pria bernama Huzi itu sebelum memberi hormat.
Huzi mengangguk. Dia memang jauh lebih kuat dari Tetua Genta.
"Tuan Huzi, aku datang kemari untuk mengantarkan seseorang dengan kekuatan angin."
Kata Tetua Genta yang menatap Amdara, memberi tanda Amdara untuk memperkenalkan diri.
Amdara mengangguk dan maju selangkah. Dia memberikan hormat kembali.
"Luffy, Tuan."
Huzi terlihat memperhatikan Amdara dari bawah sampai atas. Tidak pernah melihat bocah ini sebelumnya, tetapi aura yang dirasakan tidaklah asing. Dia diam tidak merespon sampai Amdara mendongak dan berdiri seperti semula.
Huzi bertanya datar pada Tetua Genta, "apa yang kau inginkan?"
Tetua Genta tersenyum dan dengan sopan menjawab walau hatinya sedang khawatir akan langsung mendapat serangan.
"Mungkin anak ini keturunan Klan Ang."
Amdara hanya diam mendengarkan. Dia tidak mengalihkan pandangan, bahkan saat Huzi menatap dingin. Yang ada Amdara balik menatap dingin.
"Kembali. Dia bukan dari Klan Ang."
__ADS_1
Huzi baru akan melesat pergi, tetapi suara Tetua Genta yang nampak syok menghentikan.
"Tuan Huzi, tapi kekuatan anginnya sangat hebat."
Tetua Genta merasa cemas. Dia tidak mungkin pergi begitu saja.
Huzi menoleh ke belakang. Dengan suara dingin berucap, "apa menurutmu orang berkekuatan angin semuanya adalah dari Klan Ang?"
Angin berubah arah, terasa tidak mengenakan bagi Tetua Genta yang bergeming. Bahkan angin ini cukup membuat orang sesak napas.
"Tuan, tapi--"
"Kau bodoh. Membawa anak tidak jelas. Dan mengatakan dia keturunan Klan Ang? Hmph. Tidak mungkin salah satu dari kami berbuat tidak benar di luar sana."
Bagai sambaran petir di dada Tetua Genta mendengar hal tersebut. Namun, dia tidak berani menjawab.
Huzi tersenyum sinis dan melesat pergi. Tetapi siapa duga sebuah serangan melesat ke arahnya dengan kecepatan tinggi.
*
*
*
Sebuah serangan berupa rantai es yang tiba-tiba keluar dari tanah dan menyerang Huzi. Tapi Huzi berhasil mengelak dengan cepat, tatapannya menajam ke arah Amdara yang sekarang melayang dan menatap balik lebih dingin tanpa rasa takut.
Huzi menoleh ke arah Tetua Genta remeh. Dia berkata, "sangat tidak sopan--"
Rantai es sebelumnya bergerak-gerak tidak jelas kini menyerang Huzi saat Amdara mengangkat tangan mengendalikan. Rantai es itu terus mengejar Huzi yang terus menghindar.
Amdara menghilang, muncul di atas dengan tatapan tidak bisa diartikan. Dia melesatkan serangan berupa pedang es ke arah Huzi. Namun, pria itu langsung membuat perisai pelindung kuat hingga pedang es tersebut hancur berkeping-keping.
Tetua Genta menggeleng dan hendak menghentikan, akan tetapi suara keras nan dingin terdengar lebih dahulu.
"Tetuaku tidak bodoh."
Amdara muncul dari tempat tidak terduga, yaitu di atas Huzi dan melemparkan rantai es dan membuat pusaran angin tepat di titik Huzi berada. Debu-debu bertebaran, pusaran angin miliknya sampai membuat Huzi tidak terlihat.
Tatapan anak itu berubah menjadi putih. Dia menyatukan kedua tangan, saat itu juga rantai es telah melilit Huzi dan pusaran angin semakin terasa lebih dingin menusuk tulang.
Bunga putih turut berhamburan di pusaran angin entah berasal dari mana. Aroma menyegarkan langsung tercium di indera hidung.
"Aku bukan anak tidak jelas."
Amdara semakin menajamkan mata. Dan mengeluarkan kekuatan besar. Dia melakukan gerakan sebuah jurus dan melesatkan jurus yang selama ini jarang dipakai.
__ADS_1
"Kilatan Angin Aliran Pertama."
Pusaran angin lebih besar muncul dan langsung melesat ke arah pusaran angin sebelumnya. Semakin mendekat, semakin berubah menjadi sebuah tangan besar dan langsung menabrak pusaran angin itu.
Blaaar!!
BAAM!
Hantaman keras mengenai telak Huzi yang tidak menduga hal ini. Dia sampai menabrak dinding akibat angin besar berbentuk telapak tangan. Satu gedung hancur, dengan ada bentuk telapak tangan. Debu berhamburan sehingga menghalangi pandangan.
Huzi nampak menekan dada yang terasa sesak. Dia terbatuk-batuk. Menatap tajam Amdara yang sudah menghilang lagi.
Sesaat bayangan biru muncul di depan sana, Huzi membulatkan mata tidak tenang. Dia bangkit dan melesatkan kekuatan sangat besar. Namun, bayangan biru itu membelah diri berwarna hitam. Kedua bayangan itu seolah membuat ingatan Huzi pergi jauh.
Napas Huzi mulai tidak beraturan. Dia menggeleng. "Tidak mungkin!"
Dia melesatkan serangan berupa elemen angin tidak kalah hebat. Bahkan anginnya berwarna hijau muda dengan akar di dalamnya menjalar siap menerkam siapa pun.
Dua bayangan itu juga mengulurkan tangan ke depan. Bertabrakkan dengan pusaran angin Huzi. Tanah sampai dibuat retak. Gemuruh petir tiba-tiba terdengar di langit. Awan mendung mendadak memunculkan diri, seolah mendukung pertarungan ini.
Debaman keras bahkan sampai membuat gedung retak dan membuat orang-orang Klan Ang terkejut bukan main.
Tetua Genta segera membuat perisai pelindung dan pergi menjauh. Dia tidak bisa menghentikan Amdara yang terlihat sedang marah. Dia mengingat bagaimana kalimat pertama yang dikatakan anak itu.
"Luffy ...."
Tetua Genta mendongak, melihat kilatan cahaya hitam dan emas bebarengan muncul di atas Huzi yang sepertinya tidak sadar.
"Kali ini aku mendukungmu."
Tetua Genta tersenyum. Dia memang tahu Klan Ang kebanyakan angkuh karena merasa paling kuat. Jadi, jika Amdara berhasil memberi pelajaran itu akan sangat bagus!
Di sana, Amdara masih dengan aura wibawa. Terpancar cahaya emas dan hitam di belakangnya. Dia menyeringai ke bawah. Mengepalkan tangan dan melesat, ke arah kepala Huzi.
"Dan mungkin aku bukan dari Klan Ang kalian. Angkuh."
Tepat saat Huzi mendongak, tinjuan berhasil mendarat di dahi. Dia yang tak sempat menghindar terkena serangan itu sampai kakinya mulai kehilangan keseimbangan. Kekuatannya seolah terserap oleh tangan kecil itu.
Sebuah pola aneh muncul di mata Amdara. Dan hanya Huzi yang melihatnya.
"T-tidak mungkin!"
Darah mencuat di dahi Huzi. Saat itu juga, Amdara menggunakan kaki untuk membuat tendangan ke arah leher Huzi yang langsung menghantam gedung cukup jauh.
Amdara baru akan melesat kembali merasa tak puas dengan tinjuan, tapi siluet putih dari arah lain dan berhenti tepat di hadapan Amdara membuatnya menaikkan sebelah alis.
__ADS_1
"Hentikan!"