
Angin berhembus membawa ketenangan di balik kengerian yang tengah tiga orang rasakan. Tak ada suara, semakin membuat buluk kuduk berdiri dan merinding. Rasa kecemasan berlebihan yang tak seperti biasa harus ditahan untuk menyelidiki kebenaran.
Di rumah yang sederhana dengan tiga ruang di dalam terlihat kumuh tak terawat. Di ruang paling depan, tiga orang duduk dengan memikirkan ke mana perginya warga desa ini. Tak ada yang menjawab. Seakan ada teka-teki di desa Bumi Selatan.
Senior Fans yang baru saja mendengar cerita apa yang Amdara lihat membuat kecemasan yang bertambah. Ilusi yang dilihat Amdara pasti bukan sesuatu yang tidak disengaja, tidak mungkin bocah berambut putih itu tiba-tiba melamun tanpa sebab. Amdara juga berpikir demikian, pasti ada seseorang yang melakukan jurus ilusi.
Jurus ilusi di Negeri Elang Bulan dikatakan sangat berbahaya karena kekuatan dari halusinasi dapat membunuh lawan tanpa menyentuh sedikit pun. Untuk lepas dari jurus ilusi sebenarnya sulit, harus ada orang luar yang membangunkan orang yang tengah terkena jurus ilusi. Jika sampai tidak bangun, maka sudah bisa dikatakan mat*. Beruntung Amdara masih selamat dari maut di hadapannya.
Inay sendiri sudah cukup baikan setelah istirahat kurang lebih tiga jam. Dirinya menanyakan keadaan Senior Fans dan Amdara yang dijawab anggukan.
"Senior, aku yakin ada seseorang di desa ini."
Entah mengapa perasaan Amdara mengatakan memang ada orang-orang di desa walaupun mereka belum menjumpai satu pun.
Senior Fans menangguk. "Mn. Aku juga berpikir demikian."
"Apa benar ada orang? Jika benar, berarti orang itu jauh lebih kuat darimu, Senior? Kau tidak bisa merasakan hawa kehadirannya 'kan?"
Benar yang dikatakan Inay. Senior Fans tidak merasakan hawa kehadiran seseorang selain mereka. Bahkan matanya yang istimewa pun seperti tidak berguna sama sekali. Memang lebih sulit melawan manusia daripada Roh Hitam.
Inay malah berpikir orang-orang desa Bumi Selatan ini telah lama kehilangan nyawa. Terlihat dari lumut yang sudah tumbuh dan tanaman liar yang tidak terawat. Pemikiran Inay malah beralih pada 'arwah' dari orang-orang desa yang mungkin akan menghatui mereka jika sampai mengganggu. Inay menelan ludah susah payah.
"Senior, lebih baik kita pergi saja. Ini jauh lebih berbahaya dari yang dibayangkan. Aku tidak mau mengantarkan nyawa di negeri ini. Cih, aku lebih baik lenyap di tangan Roh Hitam daripada lenyap dengan konyol di desa ini."
Senior Fans menatap tajam Inay dan kemudian berkata dingin, "jaga bicaramu."
Inay tersentak, dinginnya tatapan mata Senior Fans lebih menusuk dari pada yang lain. Inay memalingkan wajah.
"Tenanglah. Kita tidak akan lenyap di desa ini." Amdara menambah, "sekarang yang kita lakukan adalah mencari warga desa."
Inay sontak langsung menoleh, terkejut dengan perjataan Amdara. "Hei, apa kau sakit? Tidak ada orang di desa ini. Dara, kau masih terkena ilusi yah?"
Amdara menggeleng. Dia berkata, "tidak. Kita belum mencarinya."
Sebelum malam datang, mereka harus segera mencari warga desa. Masih teringat dengan cerita Kepala Desa yang mana malam lebih berbahaya dari siang di desa ini. Mereka belum sempat mencari warga desa karena sebelumnya langsung dikejar oleh pusaran angin hitam dan tiga jam mereka habiskan untuk beristirahat.
"Kau gil*? Dara, jika memang ada orang di desa ini, kita bertemu satu saja maka kita akan tertular penyakit juga!" Inay berkata tegas. Dia sampai mengepalkan tangan kuat.
Jika bukan ulah manusia, maka Amdara tak akan mendapat jurus ilusi. Tidak mungkin Roh Hitam menggunakan jurus ilusi, jika pun ada maka seharusnya Senior Fans dan Inay sudah lama merasakan kehadirannya.
Amdara yang masih yakin dengan perasaannya menjawab dingin.
__ADS_1
"Bagaimana kau tahu penyakit menular itu dengan kontak fisik?"
"Hei, bukankah setiap penyakit menular selalu ada kontak fisik?"
"Lalu bagaimana dengan gum*alan dag*ng hitam yang keluar dari mulutmu?"
Inay dibuat tersentak oleh perkataan Amdara barusan yang terdengar cukup kejam. Dia sampai membuka mata dan mulut.
"M-maksudmu aku ...?"
Amdara mengangguk tegas membuat Inay merasa lemas. Mengeluarkan isi perut berupa gum*alan dag*ing hitam bukanlah hal wajar. Terlebih sebelum memasuki desa mereka dalam keadaan baik.
Inay melihat kedua tangannya, tidak ada yang aneh. Tubuhnya pun juga tidak merasakan sesuatu yang aneh. Namun, perkataan Amdara masih terngiang di pikiran.
Senior Fans mengembuskan napas. Dia berkata, "aku belum mengatakan hasil pemeriksaan."
Amdara dan Inay sontak tersentak dan langsung menunggu kakak seperguruan itu menjelaskan lebih detail.
"Tubuh Inay memang baik." Senior Fans menatap Inay dan kembali berbicara, "tapi tidak dengan kekuatannya."
Setelah Inay mengeluarkan isi gum*alan itu, dia memang tidak langsung pulih. Pernyataan menyakitkan ini membuat Inay tanpa sadar menahan napas.
Jelas mereka langsung mengerti maksud dari Senior Fans. Jika saja 'paman' dan Amdara waktu itu mengeluarkan isi perut, maka entah apa yang akan terjadi.
Di desa terpencil, kekuatan warga terserap melalui tanah. Namun, di desa Bumi Selatan ini mungkin tidak melalui tanah melainkan mengeluarkannya dari perut.
"Lalu g*m*alan itu apa masih ada?" Amdara bertanya dengan raut wajah sedikit pucat.
"Kita akan mencari tahu."
Keadaan di luar masih sama. Namun, mereka sepakat untuk melihat apakah masih ada g*m*lan yang Inay keluarkan. Jika tidak ada, maka sesuatu telah terjadi.
Sebelum pergi, Senior Fans telah membuat perisai pelindung yang kuat pada kedua bocah itu. Untuk berjaga-jaga dari serangan apa pun.
Mereka terbang tanpa menurunkan kewaspadaan. Tidak ada lagi pusaran angin hitam yang mengejar, tetapi perasaan mereka seperti ada yang mengejar dari belajang.
Yang pertama kali mendarat dekat g*mp*lan dag*ng hitam adalah Senior Fans. Masih ada. Berarti ini akan berbeda dari desa terpencil sebelumnya.
Namun, suara aneh dari belakang salah satu rumah membuat Senior Fans terganggu. Sebelum memeriksa, dia mengeluarkan cahaya kuning dan langsung menghancurkan gumpalan itu.
Inay yang melihatnya tersentak dan berkata, "senior, kenapa kau menghancurkannya?"
__ADS_1
Amdara yang mendengarnya menjawab, "kau mau memakannya?"
Inay mengedipkan beberapakali mata. Tidak menyangka Amdara akan berbicara demikian.
Senior Fans menjelaskan, lebih baik dihancurkan sebelum sesuatu yang aneh terjadi. Senior Fans meminta kedua bocah itu untuk bersembunyi di balik salah satu rumah, permintaannya ini jelas membuat bingung Amdara dan Inay. Dengan singkat Senior Fans mengatakan ada sesuatu yang harus dirinya pastikan.
Amdara dan Inay melakukan sesuai perintah. Mereka bersembunyi di salah satu rumah warga. Inay tidak turun, dia terus saja melayang. Katanya tidak ingin menginjak tanah lumutan itu. Melihatnya saja membuatnya geli.
Amdara yang mendengarnya hanya menggeleng-geleng. Padahal jika terus melayang hanya akan menguras kekuatan.
Inay itu mengintip dari atas atap. Sementara Amdara meminta diturunkan dan lebih memilih mengawasi dari bawah.
Awalnya tidak ada yang aneh, tetapi Amdara mendengar suara tangisan anak kecil tidak jauh dari tempatnya. Penasaran, Amdara mencari sumber suara. Jika memang ada orang, maka itu lebih baik karena bisa menyelidiki secara langsung.
Amdara memasuki lorong gelap kecil, hanya ada beberapa celah cahaya masuk ke sana. Namun, Amdara masih bisa melihat seseorang yang tengah duduk dan menangis.
Amdara mendekati bocah kecil itu yang meringkuk ketakutan sendiri. Pakaian bocah itu tertutup berwarna gelap. Rambutnya berantakan, ada bau menyengat dari tubuhnya tetapi Amdara tidak menghiraukan. Bocah laki-laki itu berumur kisaran lima tahun.
Semakin Amdara mendekat, semakin meringkuk dan menangis pula bocah itu.
Amdara menghentikan langkah sekitar tiga langkah dari bocah itu. Amdara harus berbicara pada bocah di hadapannya untuk menggali informasi. Siapa tahu bocah ini tidak tertular penyakit makanya menangis sendirian di lorong ini 'kan? Amdara menarik napas, dia memulai berbicara.
Awalnya sapaan Amdara tidak dijawab.
"Jangan takut."
Bocah itu menggeleng-gelengkan kepala. Masih dengan menyembunyikan kepala dia menjawab gemetar.
"A-aku tidak takut padamu. K-kaulah yang akan takut padaku."
Amdara tidak mengerti apa yang dimaksud bocah di depannya. Masih waspada tetapi Amdara duduk di depan bocah itu. Pembawaannya yang tenang membuat bocah laki-laki yang meringkuk itu berhenti bergetar.
"A-apa yang akan kau lakukan?"
Walaupun tidak melihat bagaimana Amdara yang duduk. Akan tetapi bocah itu mengetahui.
Amdara menaikkan sebelah alisnya. Dia berkata, "mn? Tidak ada."
Mendengar perkataan Amdara membuat bocah itu tersentak. Dia berdecak, tidak lagi berbicara gugup. Malah dia terlihat kesal.
"Lalu untuk apa kau ke sini? Pergi sana!"
__ADS_1
Amdara tersenyum kecil. "Aku mengajakmu."