Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
151 - Pengendali Jiwa Makhluk


__ADS_3

Ucapan menggelegar barusan membuat Amdara seketika menghentikan langkah. Dirinya terkejut dengan suara dari Siluman Ular di depannya yang sedang menatap tajam.


"Kau bisa berbicara?"


Amdara bertanya hati-hati. Takut jika tiba-tiba Siluman Ular mendadak menyerang dengan ganas. Itu jelas adalah hal yang berbahaya. Apalagi bocah itu tidak tahu sekarang berada di mana. Setahu Amdara, ketika berhadapan langsung dengan Siluman Ular di hutan, dia tidak bisa berbicara. Lalu bagaimana sekarang bisa berbicara?


Siluman Ular tersebut mendesis. Tubuhnya masih bergerak-gerak saat mengeluarkan kalimat yang membuat Amdara tersentak kaget.


"Menurutmu?" Sinis Siluman Ular berujar, "karena seluring milikmu, aku jadi terjerat oleh pemikiranmu. Apa kau tidak tahu sekarang berada di ruang bawah sadar milikmu?!"


Amdara tidak tahu apa yang dimaksud oleh Siluman Ular ini. Tapi satu hal yang dimengerti Amdara saat ini tidak sedang berada di hutan. Melainkan entah berada di tempat apa.


Melihat Amdara yang terkejut tapi tidak memberi tanggapan, Siluman Ular dibuat kesal. Dia berkata, "kau bocah otak lambat! Apa kau mengerti yang aku katakan barusan?!"


Gelengan kepala pelan Amdara sebagai jawaban bertambah membuat Siluman Ular marah. Matanya melotot tajam ke arah Amdara yang hanya berkedip melihatnya.


"Sssttt. Kau bocah menyebalkan! Berani sekali tidak mengerti ucapanku ...!" Siluman Ular baru akan menerjang. Tapi sebuah tali merah bersinar terang tiba-tiba muncul dan melilit lehernya hingga dia tidak bisa mendekati Amdara lebih.


Kejadian itu jelas mengagetkan Siluman Ular dan Amdara sendiri. Siluman Ular mendesis bertambah kencang. Matanya nyalang ke arah Amdara.


"Sialan! Cepat lepaskan tali ini. Atau aku akan membunuhmu!"


Siluman Ular itu terus berteriak meminta Amdara melepaskan ikatan tali tersebut sambil terus mengomel tidak jelas. Amdara mengembuskan napas melihat bagaimana tingkah aneh Siluman Ular ini. Padahal dilihat dari fisiknya, Siluman Ular sangat menakutkan tapi ketika dia berbicara sudah mengubah sedikit pandangan Amdara.


"Hentikan permainan seluringmu, bocah! Cepat lepaskan aku. Apa kau mau aku memakanmu hidup-hidup?! Hei, bocah otak lambat! Apa kau mendengarku, hah ...?!"


"Berisik."


Satu kata itu berhasil keluar dari mulut Amdara. Dingin, sekaligus tajam membuat Siluman Ular sampai terdiam. Ada perasaan aneh yang dia rasakan ketika Amdara berkata demikian.

__ADS_1


"H-hei, apa katamu?! Sssttt!"


Amdara tidak menghiraukan perkataan Siluman Ular yang tidak bisa mendekatinya. Amdara memilih duduk di atas batu dengan sikap tenang. Namun, ketenangan itu membuat khawatir Siluman Ular. Entah mengapa tatapan Amdara berubah dingin ketika menatapnya.


Amdara berkata tanpa nada, "jelaskan semuanya kepadaku."


"Hah, apa kau sedang membodohi diri sendiri? Bagaimana seorang pengendali jiwa bisa berkata ingin dijelaskan semua yang terjadi? Ssssstttt. Tsk, apa aku yang memang sedang berbicara dengan manusia bodoh? Sssttt. Yah, terkecuali jika kau bocah yang baru saja---" Siluman Ular seketika menghentikan ocehannya. Dia menatap lekat bocah yang duduk santai di atas batu tersebut. Siluman Ular menghentakkan ekor hingga terdengar suara keras. Dia berkata, "apa kau bocah yang baru pertama kali memainkan Seluring Putih?!"


Anggukan Amdara sebagai jawaban sudah benar-benar mengguncang jiwa Siluman Ular yang sekarang berkali-kali menghentakkan ekor dan melibaskannya tak tentu arah. Wajah Siluman Ular sudah terbakar bara kemarahan sekarang. Pantas saja bocah di hadapannya ingin mendapatkan penjelasan dari awal! Haih, jika Siluman Ular tahu sejak awal, dia tidak akan mengomel panjang lebar kepada bocah yang nampak polos itu.


Tingkah Siluman Ular membuat alis Amdara naik sebelah. Kebingungan dengan sikap aneh Siluman itu. Terdengar gerutuan dari siluman tersebut yang semakin membuat Amdara penasaran.


"Hah ...! kenapa aku ditakdirkan bertemu dengan bocah sepertimu?! Dan kenapa pula aku harus menjelaskan situasinya sekarang kepada musuhku sendiri ...?!" Siluman Ular mendisis. Dia ingin sekali melilit tubuh bocah itu dan meledakkannya sekarang juga. Rasa-rasanya dia menjadi seorang ayah yang sedang memarahi anaknya karena tidak paham mengenai pembelajaran.


Amdara masih duduk dengan sikap tenang, matanya beberapa kali berkedip karena melihat tingkah Siluman Ular yang tidak terduga ini.


Siluman Ular mendesis dan terlihat sangat marah. Bahkan dia kembali melibas-libaskan ekor sampai terdengar debaman keras.


"Tidak bisa."


"Sssstttt. Kenapa? Kau anak manusia tidak tahu fungsi benda pusaka. Kurang membaca sejarah tapi berani menggunakan benda langka ini!"


"...."


"Apa semua manusia muda sepertimu?! Jarang belajar, tapi sudah mempraktekkan sesuatu. Tanpa aturan, tanpa pengetahuan dasar. Apa selama aku hidup zaman manusia sudah mulai berubah menjadi manusia dengan otak lambat?! Ssstttt!"


"...."


"Hah ...! Benar-benar memuakkan! Aku bahkan tidak tahu lagi harus berkata apa. Tsk! Ssssttt!"

__ADS_1


Amdara mendengus mendengar ocehan tidak jelas Siluman Ular di hadapannya. Bocah berambut putih itu tidak berniat membalas ucapan Siluman Ular sedikit pun.


".... kau jelaskan semuanya padaku. Atau kau sebenarnya tidak tahu sejarah benda pusaka ini juga?" Amdara mengangkat Seluring Putih. Tatapan mata polosnya membuat Siluman Ular membuka lebar-lebar matanya.


"Manusia otak lambat! Apa maksudmu?! Aku sudah hidup selama tiga belas ribu tahun. Dan tentu saja tahu sejarah kecil Seluring Putih itu!" Siluman Ular yang tidak mau dikatakan tidak mengetahui sejarah Seluring Putih akhirnya mulai bercerita panjang lebar.


Cerita berawal ketika si pembuat Seluring Putih yang telah lama menggunakan kekuatannya untuk memasukkan ke dalam Seluring Putih. Kekuatannya tentu saja yang dapat mengendalikan jiwa suatu makhluk yang diinginkan oleh si peniup seluring. Seluring Putih telah diperebutkan sejak dahulu. Sudah banyak pertumpahan darah yang terjadi akibat memperebutkan benda pusaka ini.


Di alam.bawah sadar ini, Amdara memang tidak memainkan seluring. Namun, di dunia nyata dia masih memainkan irama ketenangan. Siluman Ular menjelaskan bahwa dengan kata lain, sekarang karena Amdara memainkan Seluring Putih maka jiwa Siluman Ular sudah terjerat olehnya. Atau bisa dikatakan seperti ada tali yang mengikat kekuatan Siluman Ular sehingga Amdara bisa mengendalikan tubuh Siluman Ular, akan tetapi akan ada perlawanan dari Siluman Ular sendiri.


Amdara bertanya bagaimana cara dirinya mengendalikan suatu makhluk. Siluman Ular tanpa berpikir panjang mengatakan bahwa Amdara hanya perlu menjinakkan makhluk tersebut, tentu saja hanya menggunakan pikiran, karena ini adalah alam bawah sadar si peniup seluring.


Siluman Ular membeku menatap tak percaya bocah di hadapannya yang telah menjebak.


"Kau tahu kediaman Tetua Haki?"


Siluman Ular mendisis tak karuan. Lehernya seperti terbakar oleh sesuatu. Dia mengumpat, karena bocah di hadapannya telah melakukan pengendalian jiwa kepadanya. Siluman Ular jadi menyesal karena telah menjelaskan secara detail kepada bocah ini. Tidak terima, dia memberontak sejadi-jadinya walau lehernya semakin terasa terbakar. Dia menatap tajam Amdara.


"A-apa? Ssttt. Lepaskan sialan! Berani sekali kau mengendalikanku!"


"Kau tahu kediaman Tetua Haki?"


"Apa? Tidak sama sekali. Kau bocah! Cepat hentikan permainan seluringmu!"


"Bawa aku ke kediaman Tetua Haki. Setelahnya aku akan melepaskanmu."


"Sialan! Kau pikir dapat mengendalikanku dengan mudah? Ha ha ha! Dasar bocah---!!"


Siluman Ular ambruk tak kuasa menahan beban berat yang tiba-tiba menimpa tubuhnya. Dirinya mendesis semakin tidak karuan.

__ADS_1


"Cepat."


__ADS_2