Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
224 - Dalam Perjalanan


__ADS_3

Akademi Magic Awan Langit belum pernah ada yang mencapai tiga besar. Hanya berada di sepuluh besar. Ini karena yang memenangkan posisi tiga besar paling sering adalah Akademi Nirwana Bumi yang mengirimkan murid-murid paling terbaik.


Mencapai sepuluh besar saja sudah sangat membanggakan bagi Akademi Magic Awan Langit. Apalagi lawannya sungguh tangguh dan memiliki kekuatan tidak kalah luar biasa.


Untuk Turnamen Magic Muda kali ini, di Akademi Magic Awan Langit diwakili oleh Amdara, Cakra, dan Shi. Mereka juga dibimbing dan dijaga oleh Tetua Rasmi.


Ini adalah kali pertama murid-murid tersebut akan mengikuti Turnamen Magic Muda. Sebelum keberangkatan, ketiga murid itu telah diberi wejangan oleh para Tetua dan Guru. Mengatakan bahwa turnamen ini untuk menjaga tali persaudaraan antara Akademi dan membuat hubungan pertemanan lebih erat. Mereka juga mengatakan bahwa Turnamen Magic Muda harus dijadikan pengalaman, dan tidak boleh terlalu memaksakan diri untuk meraih kejuaraan. Karena hal penting dari suatu kegiatan adalah proses, bukan hasil.


Kali ini Turnamen Magic Muda diikuti oleh tiga puluh lima Akademi dan tentunya oleh Akademi dari Aliran Putih. Sementara Akademi Aliran Hitam tidak diikutkan karena Akademi ini sering berbuat keributan. Akademi yang mengikuti Turnamen Magic Muda dari berbagai daerah, tapi masih dalam jangkauan Negeri Nirwana Bumi.


Masing-masing Akademi mengirimkan tiga murid terbaik. Setiap Akademi memiliki ciri khas tersendiri dalam bentuk pakaian, jurus, atau penampilan lain.


Di perjalanan, Tetua Rasmi menjelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan Turnamen Magic Muda yang harus dimengerti Amdara, Cakra dan Shi.


"Jangan ikut campur urusan orang lain saat di Akademi Nirwana Bumi. Hanya membuang waktu, dan bisa saja kalian akan mendapatkan masalah besar."


Mereka juga diperingati harus berhati-hati dalam bertindak. Tidak diperbolehkan mencari masalah dan melibatkan diri pada masalah orang lain.


Ketiganya mendengarkan dengan baik sambil terus terbang dengan cepat.


"Dan jangan terlalu mencolok."


Satu hal ini juga harus diperhatikan. Tetua Rasmi menoleh ke belakang, tepat pada ketiga muridnya.


Dirinya menarik napas dalam dan menggelengkan kepala.


"Tapi wajah kalian sudah mencolok duluan. Tsk. Entah aku harus bangga atau lebih menjaga kalian di Akademi Nirwana Bumi nanti."


Tetua Rasmi terus berbicara tanpa henti. Tapi perkataannya barusan membuat Shi, Cakra, dan Amdara saling pandang dan menaikkan bahu.


Perjalanan mereka melewati sebuah kota, kemudian melewati desa yang cukup luas dengan banyak penduduk. Dengan mudah mendapatkan izin lewat hanya dengan menunjukkan identitas diri yang dilakukan Tetua Rasmi.


Mereka terbang dengan lancar, apalagi dengan kecepatan tinggi tanpa berniat beristirahat.


Padahal Amdara sedang berusaha keras mengatur pernapasan dan kekuatan dalam tubuh yang tiba-tiba tidak terkendali. Seperti tiba-tiba menghilang dan mendadak melonjak tinggi. Entah karena keadaan tubuhnya yang kurang mengimbangi karena tidak cukup istirahat atau karena hal lain.


Wajahnya semakin pucat, apalagi bibirnya juga mulai memutih. Keringat


dingin mulai bercucuran di dahi. Dia usap menggunakan lengan dan berusaha tetap tenang. Tidak boleh sampai membuat perjalanan menghambat.


Perlahan dia tidak lagi mendengar penjelasan Tetua Rasmi. Karena harus fokus pada pengendalian diri.


"Tidak. Tidak boleh tumbang."


Amdara menatap ke depan, tatapan mata tajam bak elang siap menelan musuh. Tangannya terkepal kuat, menekadkan dalam hati tidak boleh sampai membuat yang lain khawatir.


Sampai dari ufuk barat, jingga mulai menampakkan diri dengan keindahan sementara. Sang mentari mulai berpindah tempat. Udara sekitar juga mulai berubah.


Malam akan semakin mendekat, tapi Amdara semakin kelelahan. Dia kembali mengusap keringat yang menetes.

__ADS_1


Tentu saja hal tersebut membuat Cakra dan Shi menoleh dan mulai memperhatikan Amdara yang terlihat sangat kelelahan. Berbeda dengan keduanya yang masih bugar.


"Luffy, apa kau baik-baik saja?"


Gadis itu bertanya khawatir. Apalagi melihat juniornya yang semakin pucat, dan bila diperhatikan kecepatan terbang Amdara mulai menurun.


Amdara menoleh dan mengangguk mencoba tenang. Dirinya berkata, "aku baik-baik saja. Senior jangan khawatir."


Shi tersenyum dan mengusap pelan kepala Amdara. Dia sudah merasa Amdara seperti adik sendiri.


"Jika ada sesuatu, katakan saja kepadaku. Jangan memaksakan diri, oke?"


Amdara tersentak, tapi segera sadar dan mengangguk. Dia merasa Shi sudah banyak berubah, karena semakin dewasa. Apalagi Shi tidak cerewet dalam perjalanan.


Perjalanan malam hari, mereka tidak perlu menggunakan cahaya atau api karena bisa menggunakan kekuatan untuk melihat kegelapan.


Tidak ada lagi pembicaraan setelah Tetua Rasmi menjelaskan banyak hal. Mereka terus terbang dengan baik.


Semakin Amdara berusaha tenang, semakin daksanya ingin terjatuh. Dia menggigit bibir bawah.


"Tidak. Aku tidak lemah."


Keseimbangan terbang Amdara menurun, sampai nyaris jatuh jika Shi tidak segera menangkap.


"Luffy, tubuhmu sangat lemah!"


"Luffy, apa kau sakit?"


Tetua Rasmi segera memeriksa keadaan Amdara, akan tetapi bocah itu malah menggeleng dan mengatakan dirinya baik-baik saja. Keadaan ini membuatnya cukup khawatir.


"Tubuhnya lemah. Apa dia masih memikirkan orangtuanya?"


Tetua Rasmi memperhatikan Amdara. Dirinya juga tidak percaya dengan ucapan Tetua Genta dan Tetua Haki sebelumnya. Namun, melihat kedahsyatan kekuatan angin membuatnya berpikir ulang.


Cakra memperhatikan Amdara yang terlihat kelelahan. Apalagi ada beberapa tetes keringat di dahi.


"Apa kita perlu istirahat?"


Cakra menawarkan, tapi langsung ditolak. Dia cukup bingung melihat keadaan Amdara.


"Tidak. Lanjutkan perjalanan."


Amdara mencoba mengatur pernapasan. Terbang cepat nyatanya sekarang sangat menguras kekuatan. Apalagi setelah membuat portal, dia belum istirahat cukup lama. Hal ini jelas mengakibatkan kondisi tubuh tidak baik-baik saja. Namun, bocah ini tidak ingin mengatakan pada siapa pun.


Shi memegang erat Amdara dengan cemas. Dirinya merasakan aliran kekuatan yang tidak stabil. Serta hembusan napas yang terasa sangat dingin. Berbeda dari kebiasaan manusia lain.


Shi mengusap keringat di dahi temannya ini. Dia pikir Amdara sedang demam, tapi dahinya terasa sangat dingin.


"Luffy, kau terlihat sangat kelelahan. Wajahmu bertambah pucat. Sebaiknya kita istirahat dulu, Tetua."

__ADS_1


"Tidak---"


Kruuuuk


Tiba-tiba saja suara perut berbunyi. Menimbulkan keheningan sesaat sebelum Shi tertawa keras dan menepuk-nepuk pelan perut Amdara.


"Baiklah, perutmu yang telah menjawab. Tetua, kita pergi ke penginapan."


Tetua Rasmi tertawa kecil, dia mengangguk setuju. Dirinya menggeleng-gelengkan kepala dan mengajak mereka pergi ke sebuah penginapan di sebuah desa.


Cakra terlihat tersenyum tipis, apalagi memperhatikan wajah Amdara yang sedikit memerah.


*


*


*


Seorang pelayan membawakan beberapa makanan di atas meja yang ditempati Tetua Rasmi dan ketiga murid.


Amdara sedari tadi hanya menunduk malu. Dia menyentuh perut yang kelaparan, dan merasakan tubuhnya benar-benar lelah butuh istirahat.


"Maaf, aku menghambat perjalanan."


Katanya tanpa mendongak. Sangat memalukan untuk kejadian hari ini.


"Tidak masalah. Kesehatanmu lebih penting. Sekarang makanlah sampai kenyang."


Tetua Rasmi tersenyum. Menyodorkan semangkuk nasi, semangkuk daging, dan semangkuk sayur.


Shi juga menempatkan minuman di depan Amdara. Dirinya berujar, "yang dikatakan Tetua Rasmi benar. Kau makanlah."


Aroma dari makanan di meja sungguh menggugah selera. Apalagi sudah lama Amdara tidak memanjakan lidah. Dirinya mendongak, dan berterimakasih kepada Tetua Rasmi, Shi, dan Cakra.


Perlahan dia meminum segelas air dan lanjut menyumpit nasi ke dalam mulut. Kunyahan demi kunyahan mulai tertelan, menenangkan bagi cacing perut sekarang.


Walau cara makan Amdara terlihat berwibawa, akan tetapi semua hidangan dalam sekejap telah dia makan. Sampai membuat Tetua Rasmi berkedip melihat pemandangan ini.


Shi dan Cakra juga sampai menghentikan makan mereka. Memperhatikan Amdara yang dengan lahap memasukkan makanan di atas meja ke dalam mulut. Seolah mulut itu belum pernah makan.


"Tetua, sepertinya makanan ini masih sedikit."


Kata Amdara sambil menyuap daging ke dalam mulut. Perkataannya membuat Tetua Rasmi tersentak.


"Dia telah memakan lima mangkuk dan masih mengatakan ini sedikit? Apa dia sedang dalam masa pertumbuhan?"


Bahkan Shi yang baru makan semangkuk saja rasanya sudah kenyang, melihat Amdara makan lebih banyak membuatnya tersenyum kikuk.


"Haih, benar-benar perut karet."

__ADS_1


__ADS_2