
Amdara pergi ke kamarnya, ternyata Inay belum juga pergi. Melihat kedatangan Amdara, wajah Inay sudah berseri-seri, karena sudah satu jam lebih Amdara pergi dan baru kembali pasti membawa kabar baik.
Inay langsung bertanya mengenai apa saja alasan yang sampai mampu membuat para Tetua menyetujui penolakan Amdara mengikuti Turnamen. Sayangnya Amdara malah menghela napas dan duduk di satu kursi. Gelengan kepala Amdara membuat Inay membelalakkan mata, dan menanyakan maksud Amdara.
"Senior Fans datang. Dia setuju, aku tidak memiliki pilihan lagi."
Ucapan Amdara bagai pedang menusuk jiwa Inay saat itu juga. Inay duduk di depan Amdara sambil bertanya banyak hal. Mendengar Senior Fans baru datang ke Akademi tentu membuat Inay terkejut bukan main.
"Bagaimana bisa Senior menyetujuinya?! Apa dia memiliki rencana lain?!" Inay sampai menggebrak meja. Wajahnya masih penuh dengan rasa keterkejutan.
Namun, Amdara malah mengambil satu kacang rabus. Dia menggeleng dan mengatakan tidak tahu rencana apa yang dibuat Senior Fans mereka. Amdara mengupas kacang, memakan bijinya lalu membuang kulitnya.
"Aku memiliki waktu tiga tahun untuk terus menjalankan misi Tetua Bram." Amdara menelan kacang yang sudah dikunyah. Lalu kembali bersuara, "saat Turnamen, jika bertemu Roh Hitam aku akan melenyapkannya langsung."
Inay menyenderkan kepala pada kursi. Dia memejamkan mata sejenak sebelum menarik napas panjang. Yang dikatakan Amdara memang ada benarnya. Sekarang yang dipikirkan Inay adalah bagaimana bisa Fans menyetujui Amdara untuk mengikuti Turnamen Magic Muda ini?
"Aku berharap kau kembali dengan mengatakan kau berhasil, tapi malah Senior Fans datang dan menyetujuinya. Hah ... apa yang terjadi dengan takdir ini?!"
Inay mengerucutkan bibir. Dia menarik napas kesal, dan mengambil kacang rebus. Membuka lalu memakan isinya dengan cepat, seolah sedang melampiaskan amarah pada kacang tersebut. Sambil terus makan kacang, Inay terus saja berbicara tanpa henti. Masih tidak terima dengan persetujuan Senior Fans.
Amdara hanya diam mendengarkan, sambil sesekali menjawab sekenanya sambil memakan kacang rebus. Raut wajah Amdara terlihat tanpa ekspresi, tapi sebenarnya bocah berambut putih itu memiliki banyak masalah saat ini. Pertama adalah harus membantu Cakra untuk membuat portal, di lain sisi dia harus berusaha keras agar bisa lebih kuat untuk mengikuti turnamen. Memikirkan orang yang bisa melepaskan Benang Merah, serta kedatangan Senior Fans. Amdara sampai tidak lagi mendengarkan keluh kesah Inay malam itu.
*
*
*
Pagi menjelang membawa sang mentari hadir menyinari bumi denga kehangatan. Amdara sudah membersihkan diri, setelah membereskan kamarnya yang kacau karena semalam Inay yang sangat kesal membuang kulit kacang sembarangan bahkan tubuh Inay dipindahkan Amdara ke rancang karena tertidur di lantai dengan posisi tengkurap.
Seseorang mengetuk pintu kamar, Amdara segera membukanya. Seorang murid memberi hormat dan mengatakan bahwa pagi ini Amdara ditunggu oleh Tetua Haki di kediamannya. Amdara mengangguk mengerti. Setelah kepergian murid tersebut, mata Amdara beralih ke ranjang di mana Inay masih tertidur pulas. Banyaknya masalah yang dia hadapi pasti sudah cukup melelahkan.
Amdara mengeluarkan kertas dan pena. Dia menulis sesuatu untuk Inay. Tulisan itu berisi, "Kak Inay, aku berlatih di kediaman Tetua Haki. Kau berlatihlah dengan baik."
Amdara mengembuskan napas sambil melihat Inay. Dirinya melesat melalui jendela pergi ke tempat para Tetua.
Di jembatan sungai, terlihat Cakra berdiri di sana bersama seorang bocah perempuan dari kelas Tiga Atas. Dia bernama Shi, memiliki wajah seputih giok dengan semburat merah di kedua pipi, berbibir merah muda mungil, dan berhidung mancung. Shi nampak cantik sempurna di pandangan Amdara sampai berdecak kagum. Apalagi melihat rambut biru Shi yang terurai panjang ke belakang, dihias sedemikian rupa.
Amdara mendarat ketika Shi melambaikan tangan. Amdara memang belum pernah melihat Shi sebelumnya, dia hanya menebak gadis cantik itu adalah Shi dari kelas Tiga Atas. Amdara baru akan memberikan hormat, tapi Shi tiba-tiba saja langsung merangkulnya akrab. Sontak saja membuat bocah berambut putih itu berkedip.
"Namamu Luffy, 'kan? Tidak peduli bagaimana pandangan murid lain terhadapmu. Ketika Tetua sudah memilihmu, aku yakin kau ini lebih kuat dari yang lain," kata Shi terang-terangan. Dia lalu tersenyum. "Salam kenal, ya. Aku Shi dari kelas Tiga Atas. Kau tidak perlu memanggilku 'senior'. Aku masih sangat muda, baru berumur enam belas tahun."
Amdara tersentak, rasanya kurang sopan jika dia yang lebih muda dari Shi menyebut nama tanpa ada kata 'senior'.
Shi lalu mengajak Amdara dan Cakra melayang pergi tanpa memedulikan keterkejutan Amdara mengenai Shi yang seolah sudah mengenal dirinya dan begitu akrab. Shi memang berbeda dengan murid-murid lain. Ini adalah kesan baik pertama yang dia lakukan terhadap adik kelasnya.
Amdara semakin dibuat berdecak kagum. Nampaknya Shi memiliki kepribadian ramah dan juga sedikit cerewet. Shi mengatakan bahwa dirinya sangat tidak menyangka bahwa dirinya lah yang terpilih menjadi salah satu perwakilan Akademi. Padahal menurutnya masih ada banyak murid yang lebih kuat darinya. Shi juga berkata bahwa sangat terkejut bahwa Amdara dan Cakra dipilih dengan pertimbangan matang dari Tetua.
"Luffy, selamat untuk kemenangan kelompokmu."
Amdara tersenyum tipis, dia lalu mengucapkan terima kasih atas pujian seniornya ini. Shi kembali berujar, "aku ingat saat kau tiba-tiba muncul dan mencabut bendera. Haih, kau memiliki kekuatan membuat portal yah? Itu sangat keren!"
__ADS_1
"Senior terlalu memuji."
"Aiya, sudah kukatakan jangan panggil aku senior. Berada di antara kalian berdua, jika kalian memanggilku 'senior', aku akan merasa sangat tua. Kalian berdua hanya perlu menganggapku teman sebaya, oke?"
Amdara menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis. Sepertinya dalam latihan tiga tahun ini tidak akan terasa bosan karena ada Shi.
Sementara Cakra tidak mengatakan apa-pun. Dia hanya mendengarkan tanpa berniat ikut buka suara.
Tingkah kedua adik kelas Shi membuatnya tertawa sambil menggelengkan kepala. Dia memerhatikan raut wajah Cakra dan Amdara bergantian sebelum berujar yang membuat Cakra dan Amdara sontak tersentak.
"Aih, kalian memang benar-benar manusia hemat bicara, yah. Tapi itu tidak mengurangi rasa kagum kepada kalian. Malah menurutku menambah daya tarik tersendiri bagi orang lain."
Shi tersenyum, sebelum akhirnya menggelengkan kepala. Sepertinya dia orang tepat yang dipilih untuk mencairkan suasana sedingin es ini.
Amdara terdiam, dia melirik Cakra sejenak sebelum mengalihkan perhatian ke depan.
"Senior terlalu berlebihan,"
Shi menaikkan sebelah alis mendengar perkataan Cakra. Dia lalu berkata, "sudah kukatakan jangan panggil 'senior'. Tsk, apanya yang berlebihan? Aku hanya mengatakan pemikiranku saja."
Shi mengembuskan napas. Dia lalu menoleh ke samping di mana Amdara yang hanya bergumam.
"Kita akan menggunakan jalan pintas menuju kediaman Tetua Haki. Luffy, apa kau tahu sebenarnya kediaman para Tetua sangat jauh?"
Amdara menoleh sambil menaikkan sebelah alis. Dia lalu menggeleng. Setahu Amdara, kediaman para Tetua berada di Akademi, yaitu gedung besar khusus para Tetua. Mendengar perkataan Shi, sepertinya Amdara tidak tahu banyak hal mengenai Akademi Magic Awan Langit. Yah, itu wajar karena dirinya baru beberapa bulan tinggal di sini.
Shi kemudian menjelaskan tanpa ragu bahwa sebenarnya kediaman para Tetua tidak berada di wilayah Akademi Magic Awan Langit, melainkan berada di luar Akademi. Tempat para Tetua juga berbeda-beda. Untuk itulah Shi mengatakan mereka akan melewati jalan pintas untuk bisa langsung menuju kediaman Tetua.
Shi membawa Amdara ke gerbang Akademi. Di sana ada tiga Murid Penjaga Gerbang yang sedang bertugas. Salah satu dari mereka adalah senior yang pernah dijadikan kelinci percobaan oleh Amdara menggunakan pil buatannya.
Shi, Amdara, dan Cakra mendarat mulus. Murid Penjaga Gerbang yang mengenal Amdara nampak terkejut. Dia baru akan membuka suara, tapi Shi sudah menyerobot.
"Senior, kami ingin pergi ke kediaman Tetua Haki."
Ketiga murid yang tahu bahwa Shi, Amdara, dan Cakra adalah orang yang terpilih menjadi perwakilan Akademi, sontak ketiga senior itu berdecak kagum apalagi kepada Amdara yang masih sangat muda. Pandangan mereka memang sudah mulai berubah.
Ketiga Murid Penjaga Gerbang mengangguk. Ketiganya langsung bergandengan tangan. Lalu memejamkan mata sambil mengucapkan sesuatu yang tidak dimengerti Amdara. Sebuah cahaya muncul di atas ketiga murid itu, sebuah pola rumit terlihat berputar lambat. Perlu diketahui, bahwa hanya Murid-murid Penjaga Gerbang lah yang hanya bisa membuat portal gabungan untuk bisa langsung pergi ke kediaman para Tetua.
Amdara yang melihatnya terperangah. Dia tidak menyangka ternyata ada yang bisa membuat portal gabungan. Pasti dampaknya akan lebih hebat dari portal yang dibuatnya.
"Masuklah. Dan berhati-hatilah di perjalanan ini," pesan salah satu Murid Penjaga Gerbang.
Shi mengangguk, dia langsung terbang lalu berhenti ketika tepat berada di bawah pola cahaya tersebut. Dalam detik berikutnya dia menghilang.
Amdara kemudian juga melesat tanpa pikir panjang, diikuti oleh Cakra di setelahnya. Setelah ketiga bocah barusan pergi, cahaya tersebut langsung menghilang dan ketiga Murid Penjaga Gerbang nampak menghela napas panjang. Mereka langsung mengatur pernapasan. Nyatanya hanya membuat portal barusan sangatlah menguras kekuatan mereka karena dibutuhkan konsentrasi tinggi agar mereka benar-benar bisa memastikan portal yang dibuat bisa memastikan kediaman Tetua.
"Berhati-hatilah, Tetua sudah memasang jebakan untuk kalian~"
Satu di antara ketiga murid tersebut berdecak kagum. Dia tanpa sadar berkata, "Shi memang sangat cantik dan juga ramah. Tapi Luffy ternyata masih sangat muda kecantikannya sudah terlihat. Walaupun dia dingin, tapi aku menyukainya. Yah, aku sebenarnya tidak ingin memuji Cakra. Tapi dia itu memang tampan. Huh, berada di dekat dua gadis cantik pasti menyenangkan."
Kedua temannya yang mendengar berkedip. Satu temannya berceletuk, "kau jangan bermimpi bisa menjadi perwakilan Akademi. Walaupun ketiga murid barusan cantik dan tampan, bukankah kau tidak akan pernah mendapatkannya? Simpan saja rasa sukamu itu."
__ADS_1
Satu temannya lagi mengangguk setuju. Lalu mengeluarkan kalimat yang membuat kedua rekannya terkejut bukan main.
"Murid sepertimu tidak akan dipandang oleh keduanya. Apalagi Luffy yang cantik dan juga berbakat dalam banyak hal. Apa kalian tahu? Pil yang diberikan kepadaku katanya itu dibeli. Tapi aku masih tidak percaya. Bisa saja Luffylah yang membuat pil itu 'kan?"
*
*
*
Cahaya tersebut merupakan portal yang seharusnya langsung membawa Amdara, Shi dan Cakra ke depan kediaman Tetua Haki langsung. Namun, nyatanya mereka malah berada di depan hutan yang penuh dengan siluman.
Shi jelas terkejut, dia mengedarkan sekitar. Walaupun matahari masih menyinari bumi, tapi melihat ke dalam hutan seperti tidak ada secercah matahari. Apalagi suasana sepi serta angin yang membawa perasaan tidak enak.
"Kenapa kita berada di sini? Bukankah seharusnya sudah berada di depan kediaman Tetua Haki?" Shi berdecak.
Amdara yang tidak tahu hanya mengedarkan sekitar. Dari aura yang dia rasakan, memang ada banyak Siluman di hutan tersebut.
"Apa Murid Penjaga Gerbang salah mengirim kita?"
Pandangan Shi beralih ke Cakra seolah meminta pendapat. Cakra menggeleng dan buka suara, "sepertinya tidak. Mungkin ini adalah bentuk latihan kita."
Shi berkedip mendengar pendapat adik kelasnya ini. Saat sadar dirinya terbelalak kaget.
"Jadi maksudmu latihan pertama kita harus bisa melewati hutan ini untuk bisa ke kediaman Tetua Haki?!"
Anggukan singkat dari Cakra sudah membuat Shi lemas. Dia menggigit bibir bawah cemas. Pasalnya di dalam hutan, bukan hanya ada satu dua siluman. Banyaknya siluman di hutan ini membuat orang-orang tidak sudi mengantarkan nyawa.
"Ba-bagaimana mungkin? Ini terlalu berbahaya."
Shi sama sekali tidak merasa dirinya jadi lemah. Namun saat ini dia belum siap kehilangan nyawa karena siluman yang mungkin akan mereka temui nanti. Shi menggeleng, ingin meminta Cakra dan Amdara agar mereka pergi dari sini pun tidak bisa. Selain jaraknya yang sangat jauh untuk kembali ke Akademi, Shi juga tidak mau terlihat lemah di depan kedua adik kelasnya.
"Tidak ada pilihan lain. Ayo." Amdara melayang, perlahan dia mendekati hutan tanpa ragu.
Shi yang melihatnya kembali membelalakkan mata tidak percaya Amdara memiliki keberanian sebesar itu.
Shi berteriak, "hei, Luffy! Apa kau tidak tahu di dalam hutan ada banyak siluman dengan umur ribuan tahun?! Cepatlah kembali, atau kau akan kehilangan nyawamu ...!"
"Percuma saja kita kembali. Lebih baik lakukan latihan pertama ini."
Kata Cakra lalu dia juga melesat yang membuat Shi bertambah terkejut dan berteriak memanggil kedua adik kelasnya. Namun, Amdara dan Cakra sama sekali tidak mempedulikan. Shi menarik napas perlahan, dia menggelengkan kepala.
"Apa yang sudah kalian lakukan? Kalian benar-benar merepotkan. Bagaimana jika ada siluman yang lebih kuat dari kita?! Dalam sekejap mata pasti kita akan tewas dibuatnya."
Shi menelan ludah susah payah melihat ke depan. Dia mengepalkan kedua tangan sebelum akhirnya melayang dan perlahan mendekati hutan. Mulutnya tidak bisa diam, dia terus saja mengomel tidak jelas kepada Amdara dan Cakra.
Aura menekan sangat terasa di tubuh ketiga bocah itu. Perasaan mistis mulai terasa. Apalagi hutan tersebut benar-benar sepi, seperti tidak pernah terjamah oleh manusia satu pun.
Ketiga bocah itu mulai waspada. Bersiap kapan pun jika ada hal yang ganjal. Amdara mendarat di salah satu ranting pohon, dia menaikkan sebelah alisnya ketika merasakan ada hawa yang begitu kuat sedang mengarah ke mereka. Shi dan Cakra pun mendarat di salah satu ranting, mereka mengedarkan pandangan.
"Aura ini adalah siluman berumur sepuluh ribu tahun."
__ADS_1
Perkataan Shi sudah membuat Cakra dan Amdara terkejut. Kedua bocah itu berdecak kagum karena hanya dengan merasakan aura, Shi sudah bisa menebak umur Siluman yang akan datang. Wajah mereka terlihat serius. Saat tiba-tiba hembusan angin terasa sangat panas di sekitar.