
Di halaman, sekarang Amdara tengah melayang dan melihat Tetua Genta yang sejak percakapan di ruangan tidak buka suara. Tetua Genta mengangguk, menandakan bahwa dia harus mengikuti apa yang dikatakan sesepuh Klan Ang.
Ketiga sesepuh Klan Ang juga melayang, mengelilingi Amdara dengan jarak tidak cukup jauh. Ketiganya harus melihat bagaimana Amdara mengeluarkan jurus angin hebat.
"Kau bisa mulai sekarang."
Deta memberi instruksi. Ekspresinya tidak bisa dilihat secara jelas. Namun, tatapan matanya menunjukkan sangat penasaran dan penuh harap.
"Jika benar dugaanku. Dia benar anaknya."
Bukan hanya Deta yang melihat dengan serius. Melainkan Jie dan Kung juga demikian.
Melihat pemandangan tidak biasa ini, beberapa orang anggota Klan Ang mulai menampakkan diri. Memperhatikan bocah berambut putih yang berada di tengah dengan ekspresi tenang. Mereka jelas bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
Perlahan tangan Amdara menengadah. Mendongak sebentar, memandang langit biru. Dia pejamkan mata sesaat. Mulai berkonsentrasi dalam menyerap kekuatan alam. Perlahan, kedua tangannya membentang ke samping. Di saat itu juga angin berhembus memainkan jubah, rambut dan tentunya ikat rambut itu.
Matanya terbuka. Tubuhnya melakukan sebuah gerakan dengan cepat, unik dan sulit ditiru. Gerakan tubuhnya sampai membuat angin tiba-tiba saja berhembus kencang dan membawa perasaan aneh di benak orang-orang Klan Ang.
Ketiga sesepuh sampai dibuat menahan napas melihat gerakan tersebut. Ini adalah gerakan yang dahulu pernah diajarkan kepada mereka, akan tetapi tidak bisa dilakukan karena terlalu banyak gerakan dan sulit dipraktikkan. Namun, bocah berambut putih tersebut terlihat sangat mudah melakukannya.
"Tarian Bumi Angin."
Deta menelan ludah susah payah. Dia yakin gerakan itu adalah sebuah jurus dari Tarian Dewa Angin.
Angin datang secara tiba-tiba dari atas pada saat Amdara mengacungkan tangan ke atas dengan mendongak.
Pusaran angin berwarna biru tersebut lalu menelan Amdara dengan cepat. Sebuah dedaunan dan bunga putih entah dari mana tiba-tiba muncul dan membuat aroma menyegarkan sekaligus khas menyeruak ke hidung semua orang.
"I-itu jurus yang baru aku lihat!"
"Bagaimana bisa bocah itu melakukannya? Aku belum pernah melihatnya."
"Aku juga belum. Apa dia anggota Klan kita? Jurusnya hebat sekali!"
Orang-orang itu mulai mengeluarkan pendapat sambil membuat perisai pelindung, sebab pusaran angin biru tersebut mulai membesar dan membawa tekanan tersendiri.
Bahkan ketiga sesepuh juga membuat perisai pelindung. Mereka tidak menyangka bahwa Amdara bisa mengeluarkan kekuatan ini.
Deta mengepalkan tangan, tatapannya semakin menajam.
__ADS_1
"Tidak salah lagi. Dia keturunan Legenda Sang Langit."
Deta masih memperhatikan dengan serius. Berulang kali berdecak kagum atas kekuatan ini.
Berbeda sekali dengan Jie yang menahan amarah luar biasa. Dia berkata, "mustahil! Ini sangat mustahil. Anak itu ... dia akan membawa bahaya! Tidak. Jika dia benar bocah itu, aku tidak akan membiarkannya begitu saja."
Tongkatnya tergenggam erat. Sorot matanya menunjukkan kebencian karena suatu alasan kuat.
Kung sendiri masih bungkam. Namun, netra berkaca-kaca. Dadanya terasa sesak menahan gejolak antara rindu, senang, dan sedih. Dia tahu jurus tersebut. Dia yakin siapa anak itu. Namun, bibirnya terasa kelu.
Sama seperti Tetua Genta yang tidak bisa berkata-kata. Dia menahan napas merasakan kekuatan amat besar. Sangat tidak menyangka kekuatan Amdara sudah sepesat ini.
Di dalam pusaran angin, Amdara diam tidak berkutik. Dia telah melakukan gerakan yang belum pernah ditunjukkan sebelumnya. Karena hanya beberapa kali dirinya melatih gerakan yang dibuat sendiri ini. Untuk nama jurus ini, Amdara menamakan asal.
Sesaat mata birunya berubah warna menjadi hitam. Sebuah asap hitam muncul di bawah kakinya yang langsung terserap ke tanah. Amdara sadar merasakan kekuatan aneh di dalam tubuh, tapi dia tidak tahu apa yang terjadi dan membiarkan hal tersebut.
Namun, seperti para anggota Klan Ang sekarang tidak merasakan apa-pun Hanya ada decakan kagum melihat kekuatan besar bocah itu.
*
*
Di Alam Suci Atas, tepatnya di ruangan Tetua Besar Moksa. Dia yang tengah duduk tenang, mengerjakan sebuah dokumen dibuat terdiam dengan perasaan mendadak gelisah. Keringat dingin muncul. Seketika tubuhnya berdiri. Mengedarkan pandangan sekitar.
"Kekuatan ini ... dia akan segera muncul!"
Sebuah kekuatan yang dirasakan sangat mengerikan dan pernah dirasakan dahulu. Kekuatan yang membuat siapa pun ketakutan setengah mati. Menekan, dan sulit dikalahkan.
Tetua Besar Moksa mengepalkan tangan. Dia menghilang pergi ke suatu tempat di mana para orang kuat sepertinya pasti sedang berkumpul.
"Iblis. Pasti para makhluk ini sudah membuat gerakan."
Memang benar hanya orang-orang seperti Tetua Besar Moksa lah yang merasakan tekanan hebat ini.
Di Negeri Elang Bulan, Tetua Bram yang sedang berdiskusi dengan banyak orang mendadak merasa sesuatu yang tidak enak. Keringat dingin bercucuran di dahi. Sontak dia berdiri tiba-tiba, pikirannya tertuju pada Amdara yang berada di Negeri Nirwana Bumi.
"Apa kekuatannya sudah tidak bisa dibendung?"
Nyatanya bukan hanya Tetua Bram yang tiba-tiba saja berdiri. Melainkan beberapa Tetua yang berada di sana juga merasakan hal yang tidak mengenakan. Tekanan kuat serta mengerikan sangat terasa.
__ADS_1
"A-apa? Tekanan apa ini! Tubuhku sangat sakit."
Seorang Tetua ambruk menekan dadanya. Dia menahan napas merasakan sesuatu yang menariknya ke tanah. Bukan hanya dia, melainkan Tetua yang lain.
"I-ini kekuatan iblis! Kita tidak bisa menundanya lagi. Kita harus bersiap-siap dalam perang yang akan terjadi!"
Suara salah satu Tetua menginstruksikan Tetua yang lain, mengangguk setuju. Pasalnya mereka akan dalam bahaya jika tidak melakukan tindakan dengan lebih cepat.
"Benar. Untuk sekarang, cepat hubungi dua negeri lain untuk persiapan tidak terduga. Kita harus menyatukan kekuatan untuk dunia manusia!"
Yang lain menanggapi dengan wajah pucat pasi. Mereka jelas sangat khawatir akan suatu hal yang mengerikan. Yaitu berperang demi memperebutkan dunia. Perang antara dua makhluk. Perang dunia secara besar-besaran.
Sebenarnya sudah pernah mereka merasakan kekuatan mengerikan dari makhluk itu. Namun, kekuatan yang terasa tidak terlalu tinggi dan membuat dada sakit.
"Perang ... apa Dara akan turut memihak manusia?"
Tetua Bram membatin. Dia mengatupkan bibir rapat-rapat. Hari yang tidak pernah dia harapkan sama sekali, karena khawatir tindakan Amdara akan salah.
Tanah di tiga negeri sekaligus mengeluarkan asap hitam. Ada retakan-retakan kecil yang menjalar. Sebuah suara geraman sangat keras terdengar oleh siapa pun, tapi hanya lima detik. Setelahnya asap menghilang, tapi tanah retak tidak kembali seperti semula.
*
*
*
"Siapa aku?"
Dua kata tersebut terlintas di benak Amdara. Dia menunduk, tangannya terkepal kuat. Perasaannya mendadak terasa tidak enak. Pikirannya sesaat kacau entah karena apa. Bola mata yang masih menggelap, sesaat memperlihatkan kekelaman di dalam sana.
Bayangan mengenai pertama kali mengenal Tetua Bram yang sudah merawatnya terlintas. Hari di mana dia tidak banyak bicara. Hari penuh makna karena Tetua Bram selalu memperhatikannya. Kenangan memburu Roh Hitam, serta berlatih keras di Organisasi Elang Putih membuat Amdara beberapa menit merasakan rindu.
Lalu, lintasan pertama kali masuk ke Negeri Nirwana Bumi di pikirannya muncul. Banyak hal yang terjadi di Akademi. Banyak kenangan yang ternyata tidak pernah dia bayangkan. Mendapat teman, guru, serta kisah bermakna baginya.
Suara-suara tawa Inay, Atma, Nada, Dirgan, dan yang lain terdengar di telinga. Suara panggilan dari Guru Aneh, dan Tetua lain muncul. Bahkan masih banyak suara yang dengan lembut, kasar, serta sedih memanggilnya.
"Aku merindukanmu, Nak."
Mata Amdara terbuka lebar. Warna netra berubah seperti semula. Napasnya jadi tidak beraturan mendengar suara barusan. Sadar, dia mengedarkan pandangan. Segera dia menghilangkan kekuatan angin.
__ADS_1
"Suara barusan. Siapa?"