
Dari ufuk timur, sang mentari mulai beraksi. Memperlihatkan diri untuk memberi kehangatan pada bumi. Nabastala turut memberi warna indah di sana disertai payoda putih.
Kedatangan baskara mulai membuat para insan melakukan aktivitas. Menghirup udara dingin nan menyejukkan. Apalagi di Akademi Magic Awan Langit, tepat di depan gedung Akademi, banyak netra telah disuguhkan pemandangan amat memanjakan.
Di sana, dua orang dengan pakaian khas Akademi dengan keindahan rupa membuat siapa pun tidak mengenali. Pemuda berumur 15 tahun yang memiliki ciri khas berupa ikat kepala warna biru tengah dengan tenang menunggu kedatangan seseorang.
Banyak murid perempuan meneriakkan nama serta diberi gelar, 'tampan', 'malaikat', 'pangeran', dan lain sebagainya. Dia masih terlihat tenang, tanpa merasa terganggu sedikit pun. Sementara, di sampingnya seorang gadis berambut biru tengah tersenyum manis ketika ada yang memanggil.
Gadis itu telah berumur 17 tahun, kecantikannya mampu memikat lawan jenis. Mungkin hanya lelaki di sampingnya yang tidak goyah.
Gadis itu menyenggol sedikit lengan temannya, tanpa memudarkan senyuman.
"Cakra, kenapa Tetua dan Luffy sangat lama? Haih, aku sudah bosan menunggu."
Benar. Lelaki itu bernama Cakrabuana yang akan mengikuti Turnamen Magic Muda. Cakra menarik napas dalam, sedikit melirik lawan bicara tapi langsung menatap ke depan lagi.
"Kita baru menunggu lima menit, Senior Shi."
Gadis itu tidak lain dan tidak bukan adalah Shi, yang juga telah melakukan latihan tertutup. Dia mendengus kesal sambil mengerucutkan bibir. Lima menit baginya sama dengan satu jam.
Keduanya telah siap pergi ke Akademi Nirwana Bumi. Hanya menunggu Tetua dan tentunya Luffy.
Nampak, Tetua Rasmi dan tiga Tetua lain berjalan ke arah mereka.
Cakra dan Shi segera memberi hormat ketika keempat Tetua telah berada di depan mereka.
"Di mana Luffy?"
Tetua Rasmi bertanya. Dia mengedarkan pandangan mencari murid berambut putih.
Shi menggeleng, dan berkata, "dia belum kemari. Aku tidak melihatnya, Tetua."
Pandangan Tetua Rasmi beralih ke Tetua Genta dan Tetua Haki yang semalam melihat.
"Dia mungkin sedang bersiap-siap," kata Tetua Genta menenangkan.
Di sisi lain, orang yang tengah mereka tunggu masih memejamkan mata. Darah telah mengering di dagu, dan bibir. Wajahnya pucat, tubuhnya terasa tidak enak.
Bulu matanya bergetar, mencoba untuk terbuka walau sulit. Sampai, netra itu benar-benar terbuka. Amdara berkedip, tubuhnya belum pulih karena terlalu memaksakan diri. Perlahan dia duduk, sambil menyentuh kepala yang terasa pening.
Sadar sang matahari telah terbit, dengan susah payah dia melangkah ke arah sekat untuk membersihkan diri.
Setelah selesai, Amdara mengenakan pakaian khas Akademi. Dia mengikat rambut seperti biasa. Kemudian melesat pergi.
Saat melesat pun, dia tidak cepat seperti biasanya. Netra biru bertemu dengan netra hitam milik Cakra. Keduanya saling pandang, tanpa mengeluarkan sepatah kata.
Amdara mendarat di sana, memberi hormat kepada keempat Tetua.
"Maafkan aku, Tetua."
Keempat Tetua mengangguk. Mereka memperhatikan wajah Amdara yang terlihat pucat, apalagi dia juga nampak kelelahan.
"Nak, apa kau baik-baik saja?"
Tetua Rasmi mendekat, menyentuh dahi Amdara yang terasa dingin.
Amdara tersentak, dia lalu mengangguk.
"Aku baik."
"Tapi wajahmu pucat sekali."
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, Tetua."
Amdara memaksakan senyum. Dia tidak tahu apa yang dipikirkan para Tetua sekarang mengenai dirinya adalah anak dari Legenda Sang Langit.
Cakra dan Shi juga memperhatikan wajah Amdara yang terlihat pucat. Shi segera memeriksa tubuh juniornya itu dengan menyentuh wajah, bahu dan tangan.
Wajahnya terlihat khawatir. "Luffy, apa benar kau baik-baik saja?! Dahimu sangat dingin. Ini tidak seperti biasanya."
Amdara berkedip saat diperlakukan seperti anak kecil. Dirinya mendengus dan menggeleng.
"Aku baik-baik saja, Senior."
Amdara menurunkan tangan Shi yang menyentuh dahi. Memaksakan senyum.
Shi menatap Amdara curiga, tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Sejenak dirinya terpesona dengan kecantikan Amdara.
"Baiklah, sebaiknya kita berangkat sekarang," ujar Tetua Rasmi.
Tetua Widya tersenyum, dan menggelengkan kepala. Dia berkata, "sepertinya kalian harus menunggu para murid memberikan perbekalan."
Sontak pandangan mereka beralih ke banyak murid dengan membawa banyak bungkusan, siap diberikan kepada murid yang akan pergi. Mendapatkan izin dari Tetua Widya, para murid berhamburan memberikan perbekalan.
Keempat Tetua berkedip dan menggelengkan kepala melihat tingkah para murid.
Tentunya para guru juga turut menyaksikan bagaimana para murid memberikan bekal untuk Cakra dan Shi.
Di sana, Guru Aneh menyaksikan sendiri Amdara yang terlihat tidak baik-baik saja. Dirinya mendekat, dan tersenyum ketika Amdara menoleh dan segera memberi hormat.
Guru Aneh memberikan sebuah bungkusan kain hitam yang isinya entah apa.
"Guru, apa ini?"
Amdara menaikkan sebelah alis. Menatap bungkus kain hitam di tangan. Bentuknya tidak terlalu besar, tapi dia yakin isinya berbentuk persegi panjang.
Guru Aneh mengelus-elus kepala Amdara pelan sambil tersenyum dan meminta Amdara untuk memasukkan benda tersebut ke tempat aman.
Amdara tidak tahu benda seperti apa itu. Tapi dia memasukkannya ke dalam Cincin Ruang.
"Terima kasih, Guru."
Guru Aneh mengangguk. Dia menghadiahkan benda tersebut karena merasa bangga dengan murid dari kelas Satu C ini.
"Luffy ...!"
Suara beberapa orang memanggil. Amdara menoleh, melihat Aray, Atma, Dirgan, Rinai, dan Nada berlari menghampiri. Mereka terlihat tersenyum semringah, dengan hadiah di tangan masing-masing.
"Luffy, kau akan pergi? Haih, baru kemarin kau datang ke Akademi dan sekarang harus pergi lagi."
Atma menggelengkan kepala dengan napas ngos-ngosan. Tangannya memegang lutut saat sudah di depan Amdara.
Hanya Atma lah yang nampak sangat kelelahan. Sementara Aray, Dirgan, Nada, dan Rinai terlihat biasa saja. Akan tetapi raut muka mereka terlihat sedih karena Amdara akan pergi lagi.
Aray sampai mendengus melihat Atma yang terlihat seperti itu. Dirinya menendang pelan kaki temannya sambil mengedutkan sebelah alis.
"Khakhaa. Waktu memang mengubah kita. Semakin bertambah umur, semakin banyak kesibukan."
Nada tertawa, tapi tatapan matanya jelas sedang nestapa karena temannya akan pergi entah akan sampai berapa lama. Dirinya masih memeluk boneka seram dengan erat.
Rinai yang berada di samping mendekati Amdara. Buliran air mata mengalir begitu saja. Tangannya bergerak menarik tangan lawan bicara.
"Hiks. Luffy, kapan kau akan kembali dan bersama kami lagi?"
__ADS_1
Amdara tersentak dengan tindakan Rinai. Dirinya sampai berkedip dengan keadaan ini. Walau sudah sampai setahun lebih berteman dengan mereka, rasanya mendapatkan kecemasan dan kekhawatiran dari seorang teman agak aneh.
Dirinya menerbitkan lengkungan senyum sambil mengelus pelan telapak tangan Rinai yang terasa dingin.
"Aku tidak tahu." Dia belum berpikir apa yang akan dilakukan setelah turnamen ini selesai. Perlahan tangannya mengusap buliran air hangat yang mengalir di pipi Rinai.
Dia telah mengetahui orangtuanya memang dari Negeri Nirwana Bumi. Dia telah menjalankan misi dari Tetua Bram untuk melenyapkan Roh-roh Hitam. Banyak hal yang terjadi di negeri ini. Banyak kenangan yang dia ukir bersama orang asing di negeri ini.
Meninggalkan teman-teman dan hal lain setelah turnamen akan terasa berat bagi Amdara sekarang. Tapi di sisi lain, Amdara juga merindukan Organisasi Elang Putih
Amdara dengan lirih berkata sambil menatap Rinai. "Setelah Turnamen Magic Muda selesai. Aku akan menyempatkan waktu bersama kalian. Walau waktunya mungkin tidak banyak."
Mendengar hal tersebut, Rinai menghentikan tangis. Dia mengusap air mata kegirangan.
"Benarkah? Kau berjanji, bukan?" Kini jari kelingkingnya terangkat.
Amdara tidak berani mengangkat jari kelingking sendiri. Dia juga tidak yakin dengan ucapan sendiri. Perkataannya barusan hanya kalimat penenang.
"Hei, Rinai. Kau bicara seolah ini pertemuan terakhir kita dengan Rambut Putih."
Aray menjentikkan tangan ke arah kepala Rinai sampai merintih. Aray mendengus kesal sambil melirik Amdara yang menatapnya bingung.
Dirgan tersenyum simpul. Dia terlihat sangat dewasa dibanding teman yang lain. Aura wibawa terpancar jelas.
Dia berujar tenang, "sejauh mana pun Luffy pergi, tapi kita akan tetap dipertemukan nanti. Karena kita sudah menjadi sahabat, bukan?"
"Itu benar. Masih ada banyak waktu untuk kita. Bahkan saat dewasa, kita tidak akan melupakan persahabatan ini."
Kata Atma yang sedari tadi hanya diam. Dirinya meletakkan tangan di bahu Aray, akan tetapi langsung ditangkis kasar.
Ucapan Atma langsung diangguki Dirgan, Rinai, Nada dan Aray. Mereka saling melemparkan senyum. Sangat percaya bahwa waktu akan membawa mereka menemukan harsa dan tawa seperti yang pernah terjadi. Padahal, semakin hal tersebut akan sulit terjadi karena beberapa hal seperti, kepribadian masing-masing yang akan berubah seiring berjalannya waktu.
Amdara termenung sejenak. Tidak menyangka dia memiliki teman-teman hebat seperti mereka. Teman yang percaya dengan dirinya untuk saat ini, dan orang-orang baik. Amdara bersyukur dengan balasan senyum tanpa mengeluarkan sepatah kata karena takut, dia tidak bisa bertemu mereka lagi. Entahlah, perasaan itu tiba-tiba saja menyerang dirinya.
Guru Aneh yang sedari tadi memperhatikan juga turut tersenyum di balik topeng. Bangga melihat murid-muridnya memiliki ikatan pertemanan baik.
Bahkan keempat Tetua juga lebih memperhatikan Amdara dan teman-temannya ketimbang melihat Cakra dan Shi yang masih dikerumuni banyak murid.
"Mereka bangkit bersama, dan harus berjuang bersama juga."
Tetua Widya tersenyum mendengae ucapan Tetua Rasmi. Turut terharu melihat dan mendengar ucapan bocah-bocah itu.
"Mereka berbeda dengan pertemanan kita dahulu."
Tetua Haki, Tetua Rasmi, dan Tetua Widya sontak terdiam. Ketiganya secara bersamaan menoleh ke arah Tetua Genta dengan tatapan aneh tanpa peduli Tetua Genta sedang melihat perpisahan mengharukan.
Amdara terlihat mendapatkan dekapan dari teman-teman sambil terus mengucapkan kalimat-kalimat bahwa mereka yakin akan bertemu lagi.
"Aku terharu. Hiks." Atma memejamkan mata. Membukanya lagi perlahan, dan melepas dekapan. Dia tersenyum dan bertutur, "baiklah, sekarang kita tidak bisa menahan Luffy lebih lama lagi."
Dirgan dan Aray juga. Dirgan kemudian mengeluarkan sebuah kotak cukup besar berwarna merah muda dihiasi pita di atasnya dari Cincin Ruang. Menyodorkan pada Amdara.
"Luffy, ini barang-barang tidak terlalu mewah dari kami. Mohon terimalah."
Amdara menatap sejenak. Dirinya jadi merasa tidak enak karena merepotkan orang lain. Akan tetapi teman-temannya memohon agar Amdara menerima.
Amdara menerimanya sambil tersenyum. Dia berkata, "ini mewah, aku melihatnya dari ketulusan kalian. Terima kasih."
Sesaat mereka tersentak sebelum jadi riuh karena mendengar ucapan Amdara. Bahkan Rinai dan Nada bertambah kencang mendekap.
Namun, seketika terdiam karena mendengar suara Tetua Rasmi.
__ADS_1
"Baiklah, kalian sudah memberikan apa yang ingin diberikan. Kami harus pergi sekarang."