
Kapal mulai bergerak saat sudah cukup penumpang. Nahkoda atau kapten kapal memberikan instruksi pada awak kapal yang menjalankan tugas.
Beberapa penumpang memilih memandang laut di sisi kapal. Menikmati desiran angin pagi yang menyejukkan. Matahari pagi memberikan sinar serta kehangatan untuk bumi. Laut Hitam nampak tenang saat dilewati kapal.
Kapal berlayar tanpa gangguan sampai mulai menutupkan diri di ufuk barat. Angin laut mulai terasa lebih dingin. Kenyamanan dan ketenangan ini memang pantas untuk sepuluh keping emas.
Selama perjalanan, Amdara sama sekali tidak keluar ruang istirahat. Walaupun seorang pelayan membawakan makanan, tapi tidak ia sentuh sama sekali. Masih dengan tenang bermeditasi selama dua hari berlalu. Sampai suara ketukan pintu mengganggu konsentrasi.
Matanya terbuka, menuju pintu untuk mengecek siapa dalang dari ketukan pintu.
Pintu terbuka, menampakkan remaja tampan nan berkarisma, dan memiliki wajah yang khas, mudah diingat. Dia tidak lain adalah Cakra.
"Senior?"
Tersentak, ternyata yang mengetuk adalah Seniornya yang langsung mengangguk dan tersenyum tipis.
Dia berujar tanpa nada, "apa kau sibuk?"
Pertanyaan Cakra disambut gelengan kepala lawan bicara. Subjek di depannya merasa bingung atas kedatangannya. Masih dengan nada datar, dia buka suara kembali.
"Mau menikmati laut malam?"
*
*
*
Di tepi kapal, Amdara berjejer dengan Cakra menikmati laut di depan. Angin menerpa wajah keduanya, terasa dingin. Keduanya menghirup udara malam dengan tenang.
Bintang-bintang yang seharusnya generlap di langit tidak terlihat karena tertutup awan gelap. Cuaca memang kadang tidak menentu. Amdara harap masih bisa memperoleh ketenangan pada malam ini.
Ajakan Cakra diterima Amdara dengan senang hati. Dia pikir Shi, dan Tetua Rasmi akan ikut menikmati pemandangan di atas kapal di tengah-tengah laut. Tapi ternyata Cakra hanya mengajaknya seorang diri.
"Apa kau merasa lebih baik?"
Pertanyaan mendadak dan tidak terduga itu membuat Amdara menoleh. Cakra juga menoleh ke arahnya dengan wajah tenang. Nampaknya Cakra sudah tahu apa yang telah dia lakukan di hutan gunung, walaupun sudah dua hari berlalu.
__ADS_1
Amdara ragu mengangguk. Dia berkata, "lebih baik dari sebelumnya."
"Syukurlah." Cakra menghela napas lega. Dia memandang ke depan dengan mata menenangkan.
Beberapa saat tidak ada yang berbicara lagi. Hingga, Cakra mengatakan sesuatu sampai Amdara tersentak.
"... Keinginanmu akhirnya akan tercapai."
Amdara menaikkan sebelah alis. Tidak mengerti maksud ucapan senior ini. Masih menatap Cakra dalam bingung. Apalagi dirinya cukup merasa Cakra tengah mencari topik pembicaraan. Padahal yang dia tahu, senior ini hemat bicara. Berbicara seperlunya saja.
Cakra menatap Amdara. Bibirnya tersenyum tipis sambil mengeluarkan suara khas laki-laki remaja.
"Kau ingin mendatangi Akademi Nirwana Bumi, bukan?"
Masih teringat ucapan Amdara ketika pertandingan antar kelas. Amdara memang tidak mengatakan ingin pergi ke Akademi Nirwana Bumi. Akan tetapi, Cakra mengartikan pertanyaan Amdara saat itu, bahwa gadis muda berambut putih ini ingin pergi ke Akademi tersebut.
Cakra menarik napas dalam. Dengan nada bicara datar, ucapan kali cukup menohok subjek di samping.
"Tapi kau belum dewasa."
Amdara mendengkus. Padahal umurnya sudah 12 tahun lebih. Apalagi tinggi badannya tidak seperti anak umumnya. Pemikiran dewasanya jelas sudah bisa dikatakan dewasa, 'kan? Pikir Amdara.
"Benarkah? Berapa umurmu sekarang?"
Cakra menaik-turunkan alis. Seolah tengah mengejek junior berambut putih. Raut wajahnya membuat Amdara sedikit kesal. Ini pertanyaan konyol yang sangat tidak perlu dijawab.
Kedewasaan seseorang sebenarnya tidak hanya dilihat dari segi umur. Akan tetapi dari pola pikir, ataupun fisik sudah bisa dibedakan. Seperti Amdara yang memiliki pola pikir orang dewasa, dia memang terlihat dewasa. Akan tetapi ketika melihat wajahnya, seseorang akan tersenyum manis dengan ucapan seorang gadis kecil.
"Tiga tahun di bawahmu. Bukankah sudah termasuk dewasa?"
"Tidak. Kau masih anak-anak."
"Apa? Aku sudah tumbuh dewasa."
"Tidak. Masih belum."
Tangan Amdara terkepal kuat. Kesal berdebat dengan senior tidak kalah dingin dan keras kepala. Dirinya mengalihkan pandangan tidak suka. Sangat tidak adil jika dirinya dikatakan belum dewasa. Padahal Amdara berasa bukanlah anak-anak lagi.
__ADS_1
Dirinya mendengkus kesal dan berkata dingin, "menyebalkan."
Tanpa Amdara sadari, bahwa Cakra menambah lengkungan senyum. Cakra nampaknya berhasil membuat Amdara agar tidak terlalu memikirkan hal saat di hutan gunung.
Cakra juga memandang ke depan dengan tarikan napas dalam. Berbicara dengan sosok Amdara memang terasa berbeda. Ini untuk kedua kalinya mereka berbicara santai dan hanya berdua.
Waktu terasa sangat cepat baginya. Cakra sudah sampai di titik ini. Dia akan segera melihat betapa besarnya Akademi Nirwana Bumi. Mengingat banyak cerita dari orang mengenai Akademi tersebut membuatnya sedikit menurunkan pandangan sambil berpegang pada pinggiran kapal.
"Luffy, saat di Akademi Nirwana Bumi, jangan berpisah." Tanpa menoleh, dia kembali melanjutkan ucapan, "... atau kau akan mendapatkan masalah."
Amdara melirik sekilas. Raut wajahnya sedikit berubah saat Cakra mengganti topik pembicaraan.
"Kita harus bertindak hati-hati di sana. Jangan pernah mencari masalah dengan murid Akademi Nirwana Bumi."
Cakra juga mewanti-wanti agar Amdara tidak perlu ikut campur urusan orang lain saat di sana. Dirinya juga mengatakan banyak hal yang pada intinya mengenai Akademi Nirwana Bumi yang tidak biasa.
Amdara mendengarkan dengan serius. Masih ingat ucapan Cakra saat di jembatan sungai Akademi Magic Awan Langit. 'Murid-murid Monster', karena kekuatan mereka yang luar biasa dan keunikan pada diri masing-masing, serta tanpa tata krama yang baik.
Sekarang ... mereka akan menuju sarang 'Para Monster.'
Bukan perasaan takut atau khawatir, Amdara malah tidak sabar dan ingin menyaksikan sendiri betapa hebatnya orang-orang Akademi Nirwana Bumi. Tempat itu pasti akan dijadikan renungan bagi Amdara jika dirinya lebih lemah dari mereka.
Gadis muda itu menoleh ke arah Cakra yang masih menurunkan pandangan.
"Senior," panggilnya. Cakra menoleh. Amdara tersenyum, dengan wajah polosnya berkata, "kau ternyata bisa cerewet."
Detik itu juga Cakra bergeming. Menatap netra biru langit milik lawan bicara. Tanpa bisa berkata-kata untuk membalas.
Cakra mengalihkan padangan dan berdehem. Telinganya terlihat memerah, tapi Amdara tidak memperhatikan. Amdara masih berusaha menahan tawa agar tidak terlepas.
"Huhuhu. Ibu, aku ingin pulang. Aku tidak mau di kapal. Ayo, kita pulang saja."
Suara tangis seorang anak mengalihkan perhatian Amdara. Terlihat anak perempuan itu sedang merengek ingin pulang pada ibunya. Sang ibu hanya bisa mencoba menenangkan, akan tetapi anak berusia 6 tahun itu malah bertambah kencang menangis. Dan itu cukup menggangu penumpang lain dengan suara cempreng tangisan itu.
Amdara menarik napas dalam. Tangannya bergerak ke atas, jari-jari bergerak naik-turun. Detik berikutnya air di depannya melayang membentuk seekor kupu-kupu, terbang mendekati anak perempuan tersebut.
Bukan hanya satu. Tapi Amdara menciptakan lima air berbentuk kupu-kupu yang terbang mengelilingi anak tersebut yang langsung terdiam. Mata yang sebelumnya dipenuhi air kini berbinar-binar senang. Kagum dengan kupu-kupu air ini. Tangisnya hirap, dia bermain dengan kupu-kupu itu.
__ADS_1
Amdara yang melihat tersenyum kecil. "Aku tidak menolongnya. Hanya saja dia mengganggu pendengaranku."