
Senior Fans dibuat tersentak oleh perkataan orang di depannya yang mengaku seorang Kepala Desa. Belum sempat Senior Fans berucap, Kepala Desa menangis membuat Fans bertambah bingung.
"Berkat kau, hiks. Kami masih bisa, hiks. Menghirup, hiks. Udara segar, hiks. Terma kasih, Tuan Muda. Hiks."
Kepala Desa membungkuk, tanpa di duga, dia mencium kaki Senior Fans yang langsung mundur. Tentu saja Senior Fans tersentak, dia membantu Kepala Desa berdiri dengan baik.
"Kepala Desa, tak seharusnya kau bersikap demikian."
Kepala Desa mengusap air matanya menggunakan punggung tangan. Dia menatap tersentuh ke pemuda di hadapannya. Pemuda tampan dan baik hati, sungguh orang yang langka di pandangannya.
"Tuan Muda, biarkan Tua Bangka ini membayar sedikit saja atas apa yang kau lakukan."
Kepala Desa memerintahkan dua pria di belakangnya untuk melakukan sesuatu. Belum sempat Senior Fans menolak, dia diajak berkeliling sambil berbincang.
Senior Fans tak enak menolak, dia berharap Amdara ditemukan oleh teman-temannya segera.
Di sisi lain, Dirgan, Atma, Rinai, Nada, dan Inay belum juga menemukan teman mereka. Setengah jam berlalu, sampai Dirgan yang tengah berjalan sendiri ke arah gerbang desa melihat seorang bocah yang tengah duduk bersila memejamkan mata.
Dirgan berlari ke arah bocah yang tidak lain adalah Amdara yang tengah bermeditasi. Ketua Kelas itu khawatir jika temannya itu tidak baik-baik saja. Masih teringat semalam Amdara lah yang lebih dulu tidak sadarkan diri, dan di saat Amdara terluka parah sampai harus menunggu lama untuk sadar membuat Dirgan mulai berpikir Amdara malah semakin lemah. Entah mengapa perasaannya mengatakan tengah terjadi sesuatu pada bocah berambut putih itu, akan tetapi Amdara tidak mengatakan apa pun. Begitu pula dengan Senior Fans, dan Inay yang mungkin tahu tapi tidak memberitahukan pada yang lain.
Dirgan tahu dirinya belum bisa mengeluarkan kekuatan. Dia tahu saat ini masih lemah, tak berguna bagi siapa pun bahkan di saat temannya membutuhkan pertolongan.
"Darah keturunan apanya? Aku bahkan tidak berbakat seperti saudaraku yang lain."
Dirgan tersenyum kecut. Jika mengingat masalalu malah membuatnya semakin benci diri sendiri.
Saat sampai di hadapan Amdara yang tak kunjung membuka mata, Dirgan tersentak ketika darah ternyata mengalir di mulut Amdara.
"Luffy, kau kenapa?"
Dirgan dibuat panik sendiri.
Amdara membuka mata, dia baru menyadari seseorang memanggilnya. Dia bahkan tidak menyadari Dirgan yang berjalan ke arahnya.
"Mn? Kau sudah sadar?"
Amdara malah balik bertanya. Membuat Dirgan menarik napas dalam.
"Aku sudah sadar. Apa kau baik-baik saja? Mulutmu berdarah."
Amdara berkedip, dia mengusap darah yang mengalir menggunakan jari tangan. Dirinya tidak menyadari sampai berdarah.
Amdara kemudian mengatakan dirinya baik-baik saja.
Dirgan duduk di samping Amdara, dia menyenderkan kepala ke dinding gerbang. Matanya terpejam, dia menarik napas dalam. Harusnya dia segera kembali membawa Amdara pada teman-temannya tetapi saat ini dia ingin bercerita sedikit saja pada Amdara untuk melegakan perasaan.
"Maaf."
Amdara tidak mengerti maksud Ketua Kelas Dirgan, dia bertanya mengapa Dirgan mengatakan maaf.
"Untuk semuanya. Aku tak bisa melindungimu saat kau dalam bahaya. Sebagai Ketua Kelas, harusnya aku bisa membantu murid sekelas. Tapi aku benar-benar tidak berguna."
Dirgan tersenyum kecut. Dia membuka mata, dan menoleh ke arah bocah yang lebih muda darinya tetapi pemikirannya lebih dewasa.
"Kau beruntung bisa mengaktifkan kekuatan. Kau pintar, memiliki pemikiran tajam diusia mudamu ini pasti keluargamu bangga." Dirgan kembali berkata, "berbeda denganku. Aku bocah dengan banyak kekurangan dan sama sekali tidak memiliki kelebihan sedikit pun. Bukankah takdir ini tidak adil?"
Amdara menatap Ketua Kelas Dirgan dengan ekspresi yang sulit diartikan. Kalimat Dirgan ada yang menyinggung Amdara. Keluarga? Siapa yang dia buat bangga? Orang-orang yang dekatnya kah, atau orang yang melahirkan dan seharusnya merawat sejak kecil, apa itu yang disebut keluarga? Amdara tidak tahu jelas siapa keluarganya. Yang terpikir saat ini adalah Tetua Bram yang merawatnya. Lalu bagaimana dengan orang tuanya yang masih belum ditemukan? Apakah mereka juga disebut keluarga Amdara? Bocah berambut putih itu menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan.
"Semua orang memiliki kekurangan dan kelebihan. Jika mereka bisa menerima kekurangannya, maka kelebihannya akan muncul."
Amdara berkata dengan ekspresi datar kembali. Dia melihat perubahan pada wajah Dirgan.
"Bukankah orang yang menerima kekurangannya berarti dia orang lemah sepertiku?"
Menurut Dirgan, dirinya begitu lemah. Kekurangannya sama dengan kelemahan sendiri.
Amdara menggeleng. Dia lalu berkata, "kau tidak lemah. Jika kau lemah, bagaimana kau bisa menghadapi perjalanan selama ini?"
__ADS_1
Dirgan terdiam, dia memikirkan semua yang diucapkan Amdara. Bijak.
"Semua tergantung tekadmu."
*
*
*
Para warga dibantu oleh Senior Fans dan yang lain mengubur maya* warga, dan mendirikan rumah yang roboh. Dengan menggunakan kekuatan, pekerjaan lebih cepat selesai. Senior Fans menutup kembali tanah yang retak, tekhnik ini merupakan tekhnik dasar yang dikembangkannya dalam skala besar.
Ruang bawah tanah juga disamaratakan dengan tanah lain, sesuai permintaan Kepala Desa. Senior Fans berharap cepat selesai, dengan begitu dirinya dan yang lain bisa segera menuju desa Bumi Selatan.
Untuk sampai ke desa Bumi Selatan, maka harus melewati dua desa dahulu. Dari yang Amdara dengar, bahwa tidak ada yang mengambil misi ini sejak lama. Mungkinkah desa ini juga memiliki tanah yang mati sejak lama juga?
Setelah lenyapnya makhluk mengerikan, semua orang nampak mengembuskan napas lega. Mereka sampai merayakannya kecil-kecilan bersama para pendatang yang tidak lain adalah Senior Fans, Inay, Amdara, Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada.
Beberapa warga yang melihat Senior Fans dan Inay, mereka langsung menghampiri dan mengucapkan terima kasih karena dua orang itu telah melenyapkan makhluk mengerikan dan menyelamatkan warga desa.
Senior Fans tahu yang sebenarnya melenyapkan adalah angin beliung biru yang dilihatnya. Jika bukan karena angin beliung itu, Raja Roh dan nyawanya sudah melayang. Berbeda dengan yang Inay pikirkan, dia berpikir jurus Senior Fans berhasil melenyapkan Raja Roh. Tentu dirinya tidak akan mengatakan pada Kepala Desa dan warga karena memungkinkan mereka tidak akan percaya dan berpikir bahwa angin beliung yang diceritakan adalah kekuatannya.
Amdara, Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada yang baru mengetahui bahwa guncangan hebat disebabkan oleh makhluk, dan kepergian Paman Amdara dan Inay adalah melenyapkan makhluk tersebut membuat mereka tersentak. Kabar ini bahkan baru diketahui mereka.
Mega merah menampakkan diri dari ufuk barat. Angin berhembus tenang. Di depan rumah kepala desa, warga berkumpul duduk sambil menikmati hidangan yang dijamukan untuk Senior Fans, dan Inay yang telah berhasil melenyapkan makhluk mengerikan itu dijamu dengan begitu baik.
Dirgan duduk di sebelah Amdara, dia terlihat memperhatikan sekitar.
"Kenapa tanahnya seperti mat*?"
Tanah hitam pekat tetapi sebenarnya sangat kering itu membuat pertanyaan di benak para pendatang tentunya dan tidak adanya tumbuhan yang hidup membuat bertambah penasaran.
Kepala Desa yang mendengarnya di sebelah Senior Fans berwajah sedih. Dia menjawab, "ini semua karena makhluk itu."
Kepala Desa kemudian mengatakan bahwa selama ini tanah desa yang seharusnya ditanami sayuran malah mat*. Tidak ada tumbuhan yang bisa hidup. Mereka mengandalkan daging peternakan sebagai makanan. Tak tanggung dan merasa terbebani, Kepala Desa mengatakan awal mula kejadian di desa ini.
Namun, bukankah sekarang makhluk itu telah lenyap? Maka tanah di desa ini akan subur seperti sebelumnya 'kan?
"Apa ini betulan juga kalian tidak menggunakan kekuatan?"
Pertanyaan Inay mewakili Amdara. Padahal seharusnya para warga bisa melenyapkan Raja Roh jika bekerja sama.
Nampak Kepala Desa menunduk. Dia menarik napas dalam sebelum menjelaskan.
"Kekuatan kami ... diserap paksa oleh makhluk itu. Melewati tanah mat* ini, benda apa pun yang memiliki kekuatan akan terserap dan menjadikan kekuatan untuk makhluk itu."
Kepala Desa menjelaskan juga bahwa warga desa sebenarnya memiliki kekuatan dan kemampuan dalam pengembangan kekuatan tetapi seperti yang dikatakan sebelumnya, kekuatan mereka diserap. Beruntung mereka masih bisa hidup, akan tetapi banyak anak-anak muda yang kehilangan nyawa.
Mendengar cerita demi cerita, membuat Amdara merasa kasihan sekaligus ingin segera melenyapkan Roh Hitam lain yang sangat membahayakan manusia. Namun, kekuatannya sekarang terlilit oleh Benang Merah.
"Makhluk itu tidak memiliki perasaan. Apa dia tidak berpikir keegoisannya malah membuat manusia mat*?"
Atma jadi kesal sendiri mendengarnya. Secara spontan dia berkata demikian.
Dirgan yang duduk di depan Atma tersentak begitu juga orang-orang yang mendengarnya.
Inay mengambil kerikil kecil di sampingnya, lalu melemparkan tepat ke arah dahi Atma yang langsung merintih.
"Kau pikir makhluk mengerikan itu memiliki pikiran? Haih, pengetahuanmu kurang luas."
Inay menggeleng-gelengkan kepala. Sementara Atma yang masih mengusap-usap dahinya berdecak.
"Huhuhu. Setiap pelajaran umum, kau selalu tidur. Pantas saja jadi bod*h."
Kali ini yang lain dibuat tersentak oleh perkataan Rinai yang tiba-tiba berkata demikian. Bahkan Amdara yang baru akan menegukkan air, hampir memuncratkannya.
Nada tertawa cekikikan dan menyetujui perkataan Rinai. Dirgan juga tertawa, bahkan Kepala Desa sampai menggeleng-gelengkan kepala. Anak-anak unik, pikirnya.
__ADS_1
"Kau keterlaluan sekali, Rinai."
Atma membuang wajah kesal. Telinganya memerah, pertanda dirinya sangat malu.
Beberapa wanita meletakkan hidangan yang baru saja matang. Aroma wangi daging membuat perut mereka keroncongan. Sejak semalam mereka memang belum makan apa-apa. Bahkan untuk ingat makan pun tidak di saat malam mencekam itu.
"Ini hanya hidangan sederhana. Mohon maaf, karena sejak lama kami juga menghemat persediaan makanan."
Kepala Desa tersenyum. Dia terlihat tidak enak karena apa yang dihidangkan sangat sederhana.
"Ini sudah sangat merepotkan anda, Kepala Desa."
Senior Fans tersenyum. Kepala Desa dengan cepat menggeleng dan berkata, "tidak sama sekali, Tuan Muda. Hidangan ini bahkan tidak bisa membayar apa yang telah Anda lakukan pada desa ini."
Senior Fans, "Anda tidak perlu membayar apa pun. Kami hanya ingin melewati desa ini saja."
Perkataan Senior Fans membuat Kepala Desa tersentak. Dia mendekat, dan setengah berbisik bertanya tujuan Senior Fans dan bocah-bocah ini. Kepala Desa memastikan kembali dan bertanya sekali lagi. Dirinya dibuat terkejut dengan jawaban dari Tuan Muda di hadapannya. Raut wajah Kepala Desa memburuk, dia menatap lekat Senior Fans.
"Tuan Muda, dari Akademi mana?"
Senior Fans melirik Amdara yang juga tengah menatapnya. Dia mengatakan dari Akademi Awan Langit.
Kepala Desa menggeleng. Tidak menyangka sekian lama meminta bantuan, baru hari ini mereka mendapatkannya. Lebih keterlaluan lagi pemerintah yang sama sekali tidak bergerak untuk membantu. Namun, saat ini dia harus bersyukur masih ada orang yang peduli pada orang-orang miskin seperti mereka. Terlebih desa ini merupakan desa terpencil dan jauh dari kota.
"Apa Anda yakin akan pergi ke desa berpenyakit itu?"
Pertanyaan tersebut tentu mengandung arti tertentu. Seperti yang dikatakan dalam gulungan misi, desa Bumi Selatan memang desa yang tengah dilanda penyakit menular.
Senior Fans mengangguk membenarkan.
Amdara terus mendengarkan tanpa ikut angkat bicara. Dia belum menyentuh makanan, tidak seperti teman yang lain tengah makan dengan lahap tanpa mendengarkan penjelasan Kepala Desa.
"Kurasa sebaiknya Anda dan anak-anak ini urungkan niat. Kalian sudah tahu desa itu berpenyakit, tetapi mengapa akan pergi ke sana?"
Kepala Desa itu bertanya. Senior Fans lagi-lagi melirik Amdara karena dirinya tidak tahu tujuan sebenarnya bocah-bocah itu mengambil misi. Amdara yang tahu tatapan itu mengambil alih pembicaraan.
"Ini misi dari akademi."
Kepala Desa menoleh, dia menatap bocah yang baru saja menjawab.
"Aku tidak menyangka malah akademi yang mengambil misi ini bukannya pemerintah."
Kepala Desa mengembuskan napas kecewa. Dia sama sekali tidak berharap lagi pada pemerintahan sekarang.
"Tapi bukankah ada Senior di akademi? Mengapa kalian yang mengambil misi beresiko ini?"
Amdara berdehem. Ini pertanyaan sulit baginya. Tidak ada misi yang diberikan oleh penjaga, jadi dirinya asal mengambil gulungan misi waktu itu. "Bukankah pengalaman berbahaya akan menjadikan kita lebih kuat?"
Entah dari mana Amdara menemukan kalimat itu. Dirinya sampai menggigit bibir bawah. Sepertinya dia hanya asal berbicara.
Kepala Desa tidak menyangka dengan jawaban barusan. Dia mengangguk dan menyinggungkan senyum. Jarang sekali anak muda berani mengambil resiko besar. Akan tetapi Kepala Desa berpikir bahwa yang dikatakan bocah berambut putih itu hanya alibi menutupi alasan sebenarnya yang ingin membantu warga desa Bumi Selatan. Bagaimana pun hasilnya, setidaknya mereka akan berusaha semaksimal mungkin.
Senior Fans dibuat tersentak oleh perkataan Amdara. Dia menatap Amdara yang terlihat tengah menahan gugup tidak seperti biasanya.
"Sepertinya tekad kalian besar. Jadi aku hanya akan mengatakan sedikit mengenai desa Bumi Selatan itu yang kuketahui."
Kepala Desa menatap satu persatu pendatang yang tak lain teman Amdara sendiri. Senior Fans dan Amdara mendengar dengan serius.
"Desa Bumi Selatan, atau desa berpenyakit telah lama itu hampir musnah karena tidak ada bantuan sama sekali. Sama seperti warga desaku yang tidak bisa keluar desa karena suatu alasan, begitu pula dengan desa Bumi Selatan. Warga desa tersebut semua telah terkena penyakit menular."
Kepala Desa tidak mengetahui penyakit menular tipe apa. Namun, dirinya mengatakan bahwa siapa pun yang memasuki desa tersebut akan terserang penyakit yang sama. Sampai sekarang penyakit tersebut belum bisa disembuhkan. Tabib dari desa tersebut bahkan kehilangan nyawa sebelum meracik obat yang keberapakali gagal.
"Ada satu kejanggalan yang kudengar dari seseorang. Setiap malam, di desa tersebut akan terdengar suara seruling menyedihkan. Siapa pun yang mendengar akan merasa kesedihan yang mendalam. Bahkan sampai ingin merusak perasaan sendiri dengan cara memukul-mukul dada sendiri atau mencakarnya."
Senior Fans dan Amdara dibuat tersentak mendengarnya. Terlebih pada gulungan misi tidak ada penjelasan mengenai yang satu ini.
Kepala Desa merasa merinding sendiri saat menceritakannya.
__ADS_1
"Yang harus kalian ingat, jika kalian tak memiliki obat untuk menyembuhkan penyakit itu maka segera kembali ke akademi. Jangan membahayakan nyawa sendiri demi orang tidak dikenal."
"Dan hati-hati pada warga desa itu saat malam hari."