Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
46 - Malam Mencekam


__ADS_3

Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada dibuat panik bukan main saat Amdara tiba-tiba ambruk. Telinga, hidung, dan mulut Amdara mengalirkan darah. Ketika Amdara dipanggil berulangkali pun tidak menjawab, padahal Amdara tidak menutup mata. Yang ada wajah pucat, walaupun ekspresinya tidak berubah tetapi jika dilihat dengan teliti bocah berambut putih itu tengah menahan sakit luar biasa.


Salah satu warga menghampiri dan membantu Amdara agar terduduk dengan menyenderkan kepala pada dadanya. Beruntung seorang pria ini di keadaan seperti mau membantu. Dia terlihat menepuk-nepuk pipi Amdara, berharap bocah itu akan sadar.


Angin tiba-tiba saja berhembus kencang membawa abu entah dari mana. Dinginnya luar biasa seperti angin dari tempat es. Semua orang menggigil, mereka berkerumun menghangatkan tubuh tetapi sia-sia. Tak ada yang masuk ke rumah, terlalu takut.


"Tamat sudah riwayat kita ...."


"Kita akan lenyap secara massal."


"Desa ini benar-benar terkutuk! Tidak ada bantuan dari pemerintah sekali pun. Mereka menikmati uang kita tanpa tahu warganya tengah sengsara!"


Salah satu warga mengutuk pemerintah. Dia bahkan menyumpahi para pejabat juga yang tutup mata dan telinga melihat kondisi warga desa yang tanahnya mati ini.


Dirgan terlihat mengepalkan tangan. Dia memalingkan wajah tak suka. Entah apa yang dia pikirkan sekarang.


Kabut putih entah dari mana muncul, membawa suasana yang bertambah mencekam. Semua orang merasakan ketakutan luar biasa. Tidak ada yang menenangkan mereka seperti sebelumnya.


Amdara masih membuka mata, tubuhnya mat* rasa. Perlahan, matanya mulai tertutup.


"Lemah."


Kata itu yang terus terpikir olehnya. Tak bisa melindungi siapa pun, malah dia yang saat ini harus dilindungi.


"Kabut apa ini?"


Atma menelan ludah susah payah, pandangannya tak jelas karena kabut putih tersebut. Sama halnya dengan yang lain. Mereka saling berpegangan tangan takut.


"Huhuhu. Nada, jangan tinggalkan aku. Aku takut, huhuhu." Rinai terus saja menangis, dia memeluk Nada erat.


"K-kenapa kita tidak bisa membantu sedikit saja?" Nada mengepalkan kedua tangan. "L-lemah. P-payah. T-tak berguna."


Bukan hanya Nada yang merasa demikian, tetapi Dirgan, Atma, dan Rinai juga. Mereka mengutuk diri sendiri yang tidak bisa berbuat apa-apa. Andai saja kekuatan mereka muncul walaupun sedikit dan dapat membantu warga, perasaan lara yang telah lama terpemdam kembali melukai dan mulai membenci diri sendiri.


Di sisi lain, Senior Fans baru saja melesatkan serangan terakhir dari jurus khusus melenyapkan roh. Makhluk yang dilawannya secara bersamaan juga melesatkan serangan.


BAAM!


Blaaar!


Ruangan bawah tanah bergetar hebat, dan hampir runtuh. Makhluk mengerikan terpental, begitu pula dengan Senior Fans yang menabdak dinding tanah sampai berlubang besar. Darah mencuat dari telinga, hidung, dan mulutnya. Tulang Senior Fans seperti remuk, tubuhnya benar-benar terasa sakit. Akibat serangan barusan juga membuat Inay terpental. Dia sampai tidak sadarkan diri.


Berbeda dengan Raja Roh yang hanya tergores, dia mengaum. Dan menggetar-getarkan tanah. Warna matanya berubah hitam, tubuhnya mengeluarkan tekanan hawa membunuh begitu besar hingga orang yang berada pada jarak lima puluh meter saja langsung menghembuskan napas terakhir. Beruntung Amdara dan yang lain berada di jarang yang cukup jauh, jadi mereka hanya merasakan tekanan pada tubuh. Banyak yang memuntahkan darah, dan tidak sadarkan diri tetapi mereka masih hidup.


Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada menekan dada mereka yang teramat sakit. Mereka terduduk, seperti ada beban berat di pundak sampai mereka tidak sadarkan diri. Orang yang memangku Amdara juga sama halnya. Hanya beberapa warga yang masih mempertahankan kesadaran.

__ADS_1


Dahi Amdara secara tiba-tiba memunculkan cahaya biru, ukiran angsa terlihat. Namun, tidak ada yang melihat hal tersebut.


Cahaya biru dari dahi Amdara memunculkan angin beliung besar. Angin beliung yang membawa cahaya biru di malam gelap, terlihat indah. Beberapa warga yang melihatnya sampai menahan napas. Seakan mereka sedang bermimpi dengan kejadian di desa mereka.


Angin beliung masuk ke lubang besar tepat ruang bawah tanah yang kacau balau. Tepat ketika Raja Roh nyaris melesatkan serangan ke Senior Fans dan Inay, angin beliung biru menahannya dan memutar serangan pada Raja Roh. Tidak sampai di sana, seakan angin beliung itu memiliki pikiran sendiri untuk menyerang sampai membuat makhluk itu kewalahan. Lawan yang tak bisa diserang, serangan Raja Roh malah selalu berbalik padanya.


BAAM!


Tidak membutuhkan waktu lama sampai Raja Roh lenyap menjadi abu oleh serangan beruntun angin beliung. Di saat ruang bawah tanah nyaris runtuh, angin beliung itu membawa Senior Fans dan Inay keluar dan menurunkannya tepat di samping Amdara.


Gemuruh petir seketika berhenti, begitu juga derasnya hujan. Hanya saja kabut putih tak kunjung hilang.


Warga yang sebelumnya mempertahankan kesadaran, kini tidak sadarkan diri karena melihat beliung begitu besar.


Semua warga desa tidak sadarkan diri. Jika dilihat, desa itu seperti desa mat*. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Udara menenangkan tidak seperti sebelumnya tidak dirasakan siapa pun.


Banyak rumah yang roboh dan hancur. Keretakan tanah besar hampir menguasai desa. Bau anyir, dan maya* yang belum sempat dikuburkan masih berada di jalan desa. Tongkat bambu hitam yang rusak, dan tanah yang becek karena diguyur hujan. Desa tersebut benar-benar kacau.


Malam yang penuh kejadian tidak terduga. Malam mengerikan bagi warga dan Amdara serta teman-temannya tidak akan dilupakan dengan mudah. Sampai pagi esok menyapa, mereka pasti akan mengalami trauma luar biasa.


Ketika sinar matahari sudah tepat di atas langit, beberapa warga baru sajarkan diri. Mereka memijat kepala yang terasa pusing dan mencoba mengingat kejadian apa yang mereka timpa semalam.


Amdara perlahan membuka mata, sakit di tubuhnya belum sepenuhnya menghilang. Mencoba duduk bersila, dia memandang sekeliling. Banyak yang masih belum sadarkan diri padahal matahari telah lama menemani.


Kepala Amdara terasa sakit ketika kejadian malam mengerikan semalam terlintas begitu saja. Dia memegang kepala, mencoba menenangkan diri sendiri. Dirinya melihat Senior Fans dan Inay yang terbaring lemah di sampingnya. Tentu dia merasa tersentak karena baru menyadari. Bukankah semalam Senior Fans dan Inay pergi? Lalu, bagaimana bisa mereka berada di sebelahnya? Semakin mencoba dia berpikir, semakin sakit juga kepalanya.


Dirinya sama sekali tidak mengetahui bahwa guncangan tanah, hujan deras disertai gemuruh petir adalah ulah Raja Roh. Dia bahkan tidak mengetahui Senior Fans dan Inay melawan Raja Roh sendiri. Yang diketahui Amdara adalah semalam ada fenomena langka.


Saat Amdara bermeditasi, dia mulai menyerap kekuatan alam walaupun sangat sulit. Kekuatan alam kali ini terasa berbeda, ada seperti asap hitam tipis yang mengelilingi tubuh bocah berambut putih itu tanpa diketahui siapa pun.


Dirgan pelan membuka mata, hal yang pertama kali dia lihat adalah wajah Atma yang begitu dekat dengan wajahnya. Di saat yang bersamaan pula, mata Atma terbuka. Dua bocah laki-laki itu saling memandang diam, sebelum akhirnya berteriak terkejut dan sontak menjauhkan diri.


"Dirgan, apa yang tengah kau lakukan padaku?!"


"Harusnya aku yang bertanya demikian!"


Keduanya mengusap-usap dada dan lalu menggeleng. Merasa merinding sendiri.


"Kau! Katakan yang sebenarnya. Apa yang kau lakukan sampai wajahmu begitu dekat denganku?!"


Atma masih tidak terima. Dia berteriak dan menatap tajam Dirgan yang juga sama kesalnya.


"Mana aku tahu! Semalam aku tidak sadarkan diri karena ada tekanan yang aku rasakan!"


Keduanya terdiam, mereka mencoba mengingat kejadian semalam yang begitu mencekam. Seketika keduanya memalingkan wajah dan menatap sekeliling tak percaya. Kacau, sama seperti yang pertama kali Amdara lihat.

__ADS_1


Dirgan menghampiri Nada dan Rinai yang belum juga sadarkan diri. Beruntung tubuh Dirgan tidak terasa sakit lagi.


"Hei, sadarlah."


Dirgan menepuk-nepuk pelan pipi Rinai dan Nada. Dia jadi khawatir karena Rinai dan Nada tidak juga sadarkan diri.


Atma menghampiri Senior Fans dan Inay yang juga belum sadarkan diri. Ada banyak darah kering di telinga, hidung, dan mulut keduanya. Bahkan Atma dibuat tersentak saat mengingat bahwa dua orang itu semalam pergi entah ke mana dan sekarang berada di sini dengan darah yang telah mengering.


"Senior? Senior, sadarlah."


Atma khawatir jika terjadi sesuatu pada keduanya. Senior Fans terbatuk pelan, matanya perlahan terbuka. Atma yang melihatnya menghembuskan napas lega.


"Senior, kau baik-baik saja?"


Senior Fans melirik Atma, dia kemudian mengangguk. Dan mencoba duduk, dibantu Atma yang lalu beralih menepuk pelan pipi Inay dan mencoba menyadarkan Inay.


Inay membuka mata, dia menyipitkan mata saat sinar matahari yang pertama kali dia lihat. Dia dibantu duduk oleh Atma yang merasa lega karena orang terdekatnya sudah sadarkan diri.


Terlihat Rinai dan Nada juga sudah sadarkan diri. Mereka melihat sekitar, beberapa warga membantu warga lain.


Ada yang mereka rasakan. Perasaan segar dan nyaman serta tidak ada rasa sakit di tubuh. Padahal semalam banyak yang mengalami luka luar dan dalam. Dan mereka baru menyadari hal itu.


"Tubuhku terasa sehat."


Tentu sangat aneh. Bahkan Senior Fans dan Inay saling bertatapan, mencari jawaban satu sama lain. Semalam, Senior Fans merasakan tubuhnya yang teramat sakit karena kehabisan kekuatan dan mendapat serangan dari Raja Roh. Begitu pula dengan Inay. Tubuh mereka seakan terisi penuh oleh sebuah kekuatan murni. Dan hal yang membuat mereka tersentak adalah mereka tidak berada di ruang bawah tanah lagi. Terakhir sebelum Senior Fans benar-benar kehilangan kesadaran, dia merasakan sesuatu yang dingin tetapi nyaman. Angin beliung biru yang menyelamatkannya dari serangan maut Raja Roh.


Senior Fans melihat tangannya sendiri yang bersih. Dia membuat sebuah cermin, melihat wajahnya yang ada bekas darah mengering dia segera membersihkannya.


Inay menepuk-nepuk pipi, dan memukul pelan dada. Dia masih mengingat betapa sakitnya serangan Raja Roh yang mengenainya.


"Tunggu, di mana Luffy?"


Perkataan Dirgan membuat yang lain baru sadar bahwa mereka tidak melihat Amdara sejak tadi. Mereka segera mencarinya, tetapi tidak juga menemukan.


Mereka sepakat berpencar mencari Amdara. Merasa bahwa keadaan warga desa baik-baik saja, jadi mereka tidak perlu membantu.


Masih ada banyak pertanyaan di benak masing-masing dan belum diutarakan pada yang lain. Mungkin mereka akan saling berperang pertanyaan jika waktunya sudah tepat.


Senior Fans terbang jauh tetapi langsung mendarat saat melihat tempat yang sebelumnya adalah ruang bawah tanah kini telah rata dengan tanah.


Seorang pria tua membawa tongkat bersama dua orang pria berumur kisaran 40 tahunan itu menghampiri Senior Fans yang tengah berjalan mencari Amdara.


"Tuan Muda, bukankah kau yang semalam menyelamatkan kami?"


Seketika Senior Fans menghentikan langkah. Dia tidak tahu siapa pria ini.

__ADS_1


Pria tua itu tersenyum, lalu membungkuk memberi hormat. "Saya Kepala Desa Day. Sangat berterimakasih kepada Tuan Muda yang telah melenyapkan makhluk mengerikan itu, dan menyelamatkan kami semua."


__ADS_2