Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
239 - Bukan Tanpa Alasan


__ADS_3

Amdara menunggu Naga Air kembali melanjutkan ucapan, akan tetapi sampai sepuluh menit terakhir tidak kunjung buka suara. Hal tersebut membuat Amdara mendecakkan lidah kesal.


"Ceritakan seperti apa mereka."


Amdara menatap Naga Air dingin. Tapi subjek di sampingnya malah balik menatap sinis. Lalu berucap, "bukankah kau itu anaknya? Kenapa menanyakan orangtuamu kepadaku?"


Ucapan tersebut cukup menohok. Amdara mengepalkan kedua tangan. Dia menjawab tanpa ekspresi sama sekali.


"Jika aku tahu, aku tidak akan bertanya."


"Tsk. Apa maksudmu tidak tahu tentang mereka? Mana mungkin ada anak yang tidak mengetahui tentang orangtua sendiri."


Kerongkongan Amdara terasa kering saat hendak berbicara. Napasnya mulai nail turun. Dirinya sama sekali tidak mengetahui banyak hal mengenai orangtua sendiri. Mengetahui nama dan beberapa hal saja dari orang lain.


"Aku memang tidak tahu,"


Naga Air menatap Amdara cukup lama mendengar perkataan barusan. Matanya semakin membesar seolah menyadari sesuatu.


"Hei, manusia kecambah! Serius kau tidak mengetahui apa pun?!"


Anggukan singkat lawan bicara membuat Siluman itu membuka mulut lebar, menunjukkan gigi besar tajam.


"Dia tidak mengetahui identitas orangtuanya? Apa tidak ada yang menjelaskan apa pun kepadamu, hah?!"


"Aku ... hanya mengetahui nama, tempat ayah, kehebatan ayah, dan hanya beberapa hal tentang ibu."


"Apa kau tahu siapa ibumu selain nama?"


"Aku ... tidak tahu."


Siluman Naga Air benar-benar mendelik ke arahnya. Sangat tidak menduga hal ini. Gadis muda di hadapannya tampak menyedihkan. Sesaat dirinya terdiam, tidak ingin menjelaskan.


Setelahnya bertanya, "siapa yang merawatmu?"


Amdara menaikkan sebelah alis dan menjawab, "Tetua Bram dari Organisasi Elang Putih."


Siluman Naga Air terlihat mengangguk-angguk seolah mengerti dan mulai berpikir banyak hal. Dia memalingkan tubuh, hampir saja tubuh besar nya menyambar tubuh mungil anak manusia itu. Amdara kontan langsung menghindar. .


Naga Air sedikit menurunkan pandangan tanpa diketahui anak manusia yang sedang bersamanya. Perasaan kasihan menyelimuti ketika teringat beberapa keping masalalu.


"Dia meninggalkan bukan tanpa alasan." Siluman Naga Air menyelam ke kedalaman air. Sontak Amdara berkedip, dan langsung mengekor.


"Jika kau tahu banyak, tolong katakan padaku," pintanya sedikit penuh harap.


Tanpa menghentikan gerakan, Siluman Naga Air mengeluarkan kalimat yang bukan keinginan Amdara.


"Kau tidak mengetahui apa pun tentang orangtuamu bahkan dari manusia yang merawatmu." Nada bicaranya sedikit menurun. Lalu berucap lagi, "itu berarti kau harus mencari tahu semuanya sendiri. Kau pikir saja mengapa orangtuamu tidak mengatakan apa pun tentang dirinya pada si pengasuh."


Amdara menghentikan gerakan. Memikirkan ucapan Naga bersisik hijau tersebut. Memang benar, mengapa tidak ada penjelasan sama sekali dari Tetua Bram sendiri? Pasti ada alasan yang kuat.


Dia menunduk. Perasaan sedih campur aduk di dalam hati. Bibirnya bergetar saat bertanya dengan nada lirih.

__ADS_1


"Baik, jika begitu jawab satu pertanyaanku." Jika yang dikatakan Siluman Naga Air benar, bahwa dirinya harus mencari tahu sendiri mengenai orangtuanya, Amdara akan berusaha. Tapi satu pertanyaan ini sungguh tidak bisa ia tahan lagi.


Naga Air berhenti, tanpa menoleh sedikit pun mengangguk dan berkata, "katakan."


"Apa mereka ... menyayangiku?"


Lebih lirih dari sebelumnya. Amdara sama sekali tidak mendongak. Berharap Siluman Naga Air dapat menjawab pertanyaan tidak terduga ini.


Beberapa saat siluman itu tidak berkutik. Sampai dia membalikkan badan, menghadap manusia yang bertanya.


"Jika tidak, mengapa mereka ingin kau hidup?"


Hening. Amdara tidak mampu berkata-kata. Mencerna ucapan Naga Air.


Perasaan Amdara sudah membaik dari sebelumnya setelah mendengar penuturan lawan bicara. Bahkan dia sekarang sudah bisa mengembangkan sedikit senyuman lega.


Dia tidak bertanya lagi setelah mendengar perkataan siluman itu. Dia percaya dengan yang didengar. Di mana pun kedua orangtuanya berada, mereka menyayanginya. Itu sudah lebih dari cukup membuat rasa penasaran yang menggebu sebelumnya hirap. Setelah nya dia akan mencari tahu sendiri identitas dua orang itu.


"Sekarang apa yang akan kau lakukan?"


Siluman Naga Air membuyarkan lamunan Amdara yang sejak lima menit hanya bergeming. Sekarang dia berani mendongak.


*


*


*


Setelah tubuhnya membaik, dia baru sadar jika junior berambut putih yang seharusnya menaiki Siluman Naga Air belum sampai ke Pelabuhan. Padahal sudah cukup lama mereka di sana.


"Atau jangan-jangan Luffy dimakan oleh siluman itu?!"


Shi menghentikan langkah. Menelan ludah susah payah. Memikirkan hal yang bukan-bukan.


Sontak kepala nya langsung diberi jitakan keras dari Tetua Rasmi yang gemas dengan pikiran Shi. Tetua Rasmi juga khawatir melebihi Shi, tapi dia masih bisa berpikir jernih.


"Jaga ucapanmu! Dia pasti baik-baik saja. Jangan membuat ku bertambah khawatir."


Shi merintih sambil mengusap-usap kepala. Dirinya berkata, "aku bukan nya ingin membuat Tetua bertambah khawatir. Tapi sudah cukup lama dia belum kembali. Hah ... aku takut dia kenapa-kenapa."


Shi memandangi laut lepas, berharap gadis muda berambut putih muncul. Sama seperti Cakra yang terus memandang ke sana penuh harap.


Banyak pasang mata yang sekarang menatap ke laut juga. Menantikan seseorang naik di atas kepala Siluman Naga Air. Mereka ingin melihat langsung bagaimana Amdara bisa mengendalikan seekor siluman Laut Hitam.


"Kenapa lama sekali? Atau sebenarnya dia sudah mati karena melawan Siluman Naga Air?"


"Tidak mungkin! Siluman yang kulihat jinak terhadap Gadis berambut putih!"


"Tenanglah. Dia pasti datang. Kita tunggu saja."


Orang-orang yang penasaran itu terus menunggu sambil mengeluarkan pendapat masing-masing.

__ADS_1


Sementara itu, tidak ada yang tahu bahwa Amdara sudah sampai di pelabuhan dengan bantuan Naga Air entah bagaimana caranya. Penampilan nya sedikit berbeda. Dia mengenakan jubah hitam, mengenakan topeng kucing hitam , dan mengubah warna rambut menjadi cokelat. Perubahan penampilan inj jelas dia lakukan agar tidak mengundang banyak perhatian.


Dia berjalan mendekati Tetua Rasmi, sedikit membungkuk dan berkata, "maaf, aku terlambat."


Kontan Tetua Rasmi, Shi dan Cakra yang berada di sana terkejut. Mereka sama sekali tidak mengenali Amdara karena mengenakan topeng.


Amdara sedikit membuka topeng sebelum ketiga nya bertanya. Dia berkata lirih, "ini aku. Tetua, sebaiknya kita lanjutkan perjalanan."


Tetua Rasmi tersentak melihat Amdara yang sudah berada di depannya. Shi bahkan sampai membulatkan mata sempurna. Dia baru akan bertanya banyak hal, tetapi Tetua Rasmi mengetahui pemikiran Amdara.


"Kita lanjutkan perjalanan."


Tetua Rasmi berjalan di ikuti oleh tiga muridnya. Sementara tiga bocah sebelumnya yang Shi selamatkan mereka tinggal begitu saja.


Dalam perjalanan pun, tidak ada yang tahu Amdara sudah kembali. Suashal Kota Pelita walaupun sudah gelap masih cukup ramai. Gedung-gedung tinggi yang di hias lampion merah bergelantungan. Lampu-lampu warna juga terpasang di beberapa toko, menambah suasana hidup di kota tersebut.


Beberapa pedagang dengan kereta besar membawa barang dagangan ke tempat yang disebut pasar. Mereka mulai melakukan transaksi dan melakukan aktivitas lain.


Beberapa suara masih panas memperbincangkan tentang Siluman Naga Air dan gadis pengendali. Mereka terus menyebarkan gosip itu tanpa henti.


Tetua Rasmi mulai khawatir, mereka akan dalam bahaya karena bisa saja musuh datang dan membawa Amdara pergi. Tentu dia tidak bisa membiarkan murid berharga ini terluka, apa lagi dirinya berhutang nyawa. Banyak pertanyaan pula yang ingin dilontarkan, tapi kini bukan saat yang tepat.


"Dia memang penuh kejutan." Sekilas dirinya menoleh ke belakang. "Benar. Mengubah penampilan."


Ada beberapa orang saat di Kapal Re yang mulai.tahu bahawa Tetua Rasmi dan Shi mengenali Amdara. Jika kedua nya tidak mengubah penampilan seperti Amdara, mereka juga akan dalam masalah.


Amdara sama sekali tidak menoleh ke kanan-kiri. Pandangannya terus lurus. Dia jelas mendengar omongan beberapa orang yang dilewati. Dia menarik napas lega karena Naga Air mengingatkannya agar mengubah penampilan jika tidak ingin mendapatkan masalah.


Shi mendekati Amdara dan langsung merangkul. Dengan berbisik, "kau harus menjelaskan nya padaku nanti."


Amdara menoleh, sedikit mengangguk tanpa buka suara. Mereka tidak bisa berbicara sembarangan untuk saat ini, sebab banyak pasang telinga yang akan mendengar. Itu akan sangat berbahaya.


Shi tersenyum. Dia memperhatikan topeng yang dikenakan juniornya.


"Ngomong-ngomong, topeng kucing ini mengingatkanku pada sesuatu." Shi mencoba mengingat-ingat.


Amdara menghentikan langkah, membuat Shi juga menghentikan langkah sambil menaikkan sebelah alis.


"Apa?" tanyanya.


"Mn ... ah, benar! Topeng ini seperti yang dikenakan oleh bocah yang pernah menubruk Tetua Besar Moksa!"


Perkataan Shi langsung di tangkap baik Tetua Rasmi dan Cakra yang kontan menatap ke arah Amdara aneh.


Shi dengan polosnya mengatakan hal tidak terduga ini membuat wajah Amdara sedikit pucat. Mengapa Shi masih mengingat hal yang sangat memalukan bagi Amdara itu?!


"Itu benar. Sangat mirip."


Tambah Tetua Rasmi yang diangguki Cakra. Ketiga nya menatap topeng Amdara mulai curiga.


"Topeng nya memang pasaran."

__ADS_1


Berusaha tenang detak jantung Amdara. Jika sampai ketahuan, tamat sudah.


__ADS_2