
Bagai sambaran petir di siang bolong Amdara mendengar perkataan barusan. Seolah dirinya berada di gua bernuansa semua putih. Di hadapannya sekarang, dua orang ini mengatakan hal yang membuat Amdara tidak lagi merasakan deguban jantung.
Angin dingin menerpa wajah putih bersih Amdara. Rambut dan ikat rambut terambai-ambai angin. Dia menatap kedua orang di depan bergantian dengan perasaan entah berantah.
Wanita bernama Dewi itu masih tersenyum cantik. Melihat reaksi Amdara yang bungkam, membuatnya mengulurkan tangan. Mengusap lembut pipi gadis muda di depannya.
"Kau sudah mengingat?" Dewi menaikkan sebelah alis. Auranya berwibawa dan penuh kasih sayang. Dia bersuara kembali, "aku ibumu, Dewi. Dan dia adalah ayahmu."
"Selama ini kau mencari kami, 'kan? Maaf, sudah membuatmu dalam banyak kesulitan," tutur Langit. Dia juga mendekat. Mengusap-usap kepala Amdara lembut.
Amdara membeku. Tidak tahu harus berkata apa. Seperti mimpi yang selalu dia harapkan. Melihat secara langsung wajah orang tua yang selama ini dia cari. Merasakan secara langsung usapan lembut dari tangan hangat mereka.
Teringat wajah wanita di depannya pernah muncul di alam mimpi. Dari penampilan, dan suaranya masih sama. Sementara pria bernama Langit ini, Amdara hanya pernah mendengar suara. Sama di dalam mimpi berbeda.
"Sekarang kita sudah berkumpul seperti keluarga. Kita bisa mulai saling mengenal. Bercerita, dan tertawa bersama."
Perkataan Dewi membuat Amdara menatapnya. Tanpa aba-aba, buliran air hangat mengalir dari pelupuk mata. Dadanya sesak tanpa tahu apa penyebabnya.
Melihat Amdara menangis, Dewi dan Langit saling bertatapan bingung. Dewi kemudian mendekap tubuh gadis itu penuh kasih sayang. Diciumnya pucuk kepala Amdara.
*
*
*
Pemandangan di sekeliling masih sama. Padang rumput hijau menyejukkan. Perasaan Amdara jauh lebih lega setelah menangis di pelukan wanita yang telah melahirkannya. Dia tidak pernah menyangka akan bertemu secara tidak terduga. Banyak pertanyaan yang sedang berlangsung di kepala, ingin dia keluarkan, akan tetapi rasanya sangat canggung.
Di samping kanan, ada ibunya. Di samping kiri, ayahnya juga ada. Perasaan bahagia ini membuat Amdara kesulitan berkata-kata. Dia tidak ingin percaya begitu saja jika dua orang ini adalah dua orang tuanya, akan tetapi hati Amdara merasakan hal berbeda. Ada kehangatan aneh.
"Kau pasti tidak percaya kami orangtuamu, Dara. Itu wajar. Karena sejak kecil kau tidak pernah melihat kami."
Perkataan Dewi membuat Amdara menoleh, tapi dia masih bungkam. Dewi tersenyum dan berkata, "tapi kami selalu melihatmu."
"Kau lihat jepit rambut bangau di rambutku," Dewi melepas jepit rambut itu.
Menyodorkannya pada Amdara yang tersentak, baru mengingat bahwa jepit rambut itu sangat mirip dengan miliknya.
"Kau juga memilikinya, 'kan? Kau tahu, itu adalah pemberianku."
Kembali, Amdara dibuat tersentak. Dia ingin mengeluarkan jepit rambut yang sama, akan tetapi entah mengapa tidak bisa mengeluarkannya.
__ADS_1
"Nak, kau tahu ikat rambut bercorak naga yang kau pakai itu?" Dewi buka suara lagi. Tangan Amdara lalu melepas ikat rambut di kepala. Rambut panjangnya terurai begitu saja.
"Ikat rambutnya kau dapatkan dari Ang, bukan?"
Amdara mengangguk pelan dengan menautkan kedua alis. Entah dari mana wanita di sampingnya tahu hal tersebut.
Amdara berkata, "Ang, dia mengatakan ini peninggalan ibu."
"Ini memang peninggalanku. Tapi sebenarnya ini adalah milik ayahmu."
"Apa?" Amdara terhenyak.
"Ikat rambutnya memang milikku."
Kata Langit yang sedari tadi hanya mendengarkan. Dia tersenyum ke arah Amdara ketika membalikan badan.
Amdara menatap ikat rambut di tangan, lalu menyodorkannya pada pria di depannya. Langit tertawa melihat ekspresi anaknya, dia lalu mengusap-usap kepala Amdara.
"Tapi sudah menjadi milikmu, pakailah."
"Kau memberikannya padaku?"
"Benarkah?"
Langit mengangguk. Seulas senyum terbit di bibir Amdara tanpa sadar. Dia lalu memakai ikat rambutnya kembali.
"Terima kasih, a-ayah." Amdara menatap Langit yang seketika terdiam sebelum akhirnya wajahnya terlihat berseri-seri. Nb
"Kau memanggilku ayah? Yah, aku memang ayahmu. Ayahmu ini bernama Langit." Langit tertawa bangga. Dia kembali berkata, "istriku, kau dengar barusan 'bukan? Amdara menyebutku ayah, ha ha ha. Aku senang sekali."
Amdara berkedip melihat reaksi tidak terduga ini. Apalagi tiba-tiba Dewi juga mengeluarkan suaranya.
"Hm, Dara, apa kau tidak mau menyebutku ibu?"
Amdara menoleh ke arah Dewi yang sedang berharap. Amdara tersenyum dan tanpa ragu berkata, "terima kasih, ibu."
Dewi tersenyum senang. Dia mengusap-usap pucuk kepala Amdara yang sama sekali tidak berontak. Tidak seperti saat pertama mereka bertemu dalam mimpi.
Melihat dua orang di sampingnya membuat Amdara merasakan kehangatan. Dia juga tersenyum senang. "Aku percaya, mereka adalah orangtuaku."
*
__ADS_1
*
*
Di dunia nyata, Drake membuka mata dan langsung berdiri ketika merasakan aura membunuh begitu kuat. Pandangannya mengarah ke lesatan cahaya hitam yang tengah mengarah ke arahnya.
"Pengganggu. Dia akan kuhabisi karena berani mengganggu."
Tubuh Drake secara tiba-tiba mengeluarkan energi api sangat besar. Di sana yang seharusnya terlihat gelap, kini bersinar terang akibat kekuatan Drake.
Roh hitam itu melesat dengan meluncurkan kekuatan besar untuk menyerang lesatan cahaya hitam itu. Kedua kekuatan bertemu, mengakibatkan ledakan besar dan angin kejut dahsyat hingga jarak seratus meter lebih.
"Pengganggu sekali."
Suara Elito sama sekali tidak mengejutkan Drake yang sudah bersiap kembali menyerang. Elito terlihat menatap bengis..
Drake tidak kalah tajam saat memandangnya. Dia berdecih dan berkata, "kau yang mengganggu."
"Hmph. Roh hitam menjengkelkan sekali. Kubiarkan kau melarikan diri sekarang, dari pada tewas mengenaskan."
"Kata-kata itu pantas untukmu, Manusia Bedebah."
"Ha ha ha. Roh hitam memang tidak tahu ukur kekuatan sendiri, yah. Baiklah kau sudah memilih. Biarkan manusia ini membuatmu merasakan sakit seperti di neraka."
Elito mengeluarkan aura membunuh lebih kaut. Dia juga mengumpulkan kekuatan dalam jumlah besar di jurus yang akan dihantamkan ke lawan.
Angin beliung dari bawah tanah muncul. Mulai membesar, hingga membuatnya bisa berdiri di atas angin itu.
Api dari tubuh Drake semakin berkobar. Dia juga mengeluarkan aura membunuh begitu pekat. Tidak main-main dirinya juga menyiapkan jurus mematikan.
"Hng. Kau juga melindungi anak iblis itu ya." Elito melirik ke arah cahaya yang melindungi Amdara. Dirinya menyeringai, "kalian seperti budaknya.saja."
"Tutup mulut busukmu, sialan. Aku tidak tahu siapa kau, tapi sepertinya kau ingin melukai gadis itu."
"Ha ha ha. Aku tidak akan melukainya. Aku hanya akan menyantapnya saja."
Drake membuka mata lebar. Kobaran kemarahan terlihat jelas dari riak wajahnya.
"Kaulah iblis itu, bre*gsek! Akan kurobek perutmu itu!" Drake menyerang dengan kecepatan tinggi. Udara di sekitar berubah sangat panas. Bahkan jujur lawan merasakan udara panas itu.
Keduanya bertarung dengan sengit dalam waktu beberapa detik. Setiap serangan mampu membuat tanah retak panjang dan menghasilkan sambaran petir di langit malam.
__ADS_1