Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
127 - Roh Hitam (2)


__ADS_3

Cermin besar yang seharusnya memperlihatkan para peserta yang sedang memperebutkan bendera seketika pecah. Bahkan cermin setinggi orang dewasa yang dibuat Tetua Wan juga terlihat gelap.


Semua orang terkejut bukan main, bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Bahkan para guru juga terkejut dengan kejadian tiba-tiba itu.


Tetua Wan terduduk lemas, kepalanya teramat sakit saat ini. Tetua Haki yang terkejut langsung menanyakan apa yang terjadi. Namun, Tetua Wan yang tiba-tiba merasakan sakit tidak menjawab.


Rasa-rasanya kepala Tetua Wan akan meledak. Di dalam pikirannya sedang ada gangguan. Roh Hitam dengan kekuatan besar berhasil memasuki pemikirannya. Bahkan sekarang jurus ilusi yang dia buat untuk pertandingan babak final mungkin dalam masalah besar.


Tetua Wan baru pertama kali merasakan sakit luar biasa ini. Keempat Tetua terkejut, dan segera mendekati Tetua Wan. Bahkan para penonton dibuat khawatir.


"Ada Roh Hitam yang menyusup dalam jurus ilusiku." Tetua Wan berusaha menyadarkan diri sendiri dari kekuatan besar dalam otaknya. "Para peserta dalam bahaya!"


Tetua Wan mengeratkan kepalanya. Dia berusaha menahan teriakkan. Keempat Tetua kembali dibuat kaget. Tetua Haki menyalurkan kekuatan dan merasakan adanya kekuatan jahat yang perlahan melahap tubuh Tetua Wan.


"Roh Hitam?! Bagaimana bisa terjadi?!"


Tetua Rasmi membuka mata lebar mendengar penuturan Tetua Wan. Dia melihat tidak ada cahaya sedikitpun pun di cermin itu. Jika cermin sebelumnya sudah hancur, maka bisa dikatakan peserta yang terjebak dalam jurus ilusi tidak bisa keluar.


Keterkejutan jelas menyelimuti semua orang. Bagaimana bisa Roh Hitam memasuki jurus ilusi milik Tetua Wan dan sekarang mulai menghancurkan pikiran Tetua Wan? Ini kasus pertama ada Roh Hitam yang auranya sangat tipis sehingga para Tetua tidak menyadarinya.


Tetua Genta berpikir, berarti di antara para peserta ada Roh Hitam yang menyamar sehingga bisa memasuki jurus ilusi Tetua Wan.


Kecemasan terlihat diwajah keempat Tetua. Tetua Widya menanyakan kepada Tetua Haki, yang dijawab dengan nada tidak kalah cemas.


"Ada aura hitam yang sangat besar dalam tubuh Tetua Wan. Aku akan melawannya menggunakan kekuatan spiritual."


Angin tipis putih menyelimuti tubuh Tetua Wan. Sementara Tetua Wan sedang berusaha melawan Roh Hitam dalam pikirannya.


"Lalu bagaimana kita bisa masuk ke ilusi Tetua Wan?


Tanya Tetua Widya. Keselamatan murid-muridnya dalam bahaya sekarang. Bisa saja mereka dimakan oleh Roh Hitam.


Tetua Genta menjawab, "Tetua Wan, tolong bertahan. Kami harus masuk ke cermin pemindah itu."


Tetua Wan masih bisa mendengar perkataan Tetua Genta. Dia berusaha melakukan apa yang diminta Tetua Genta.

__ADS_1


Jika Tetua Wan saja kesulitan melawan Roh Hitam dalam pikirannya, apalagi para murid yang terjebak dalam jurusnya pasti sedang melawan Roh Hitam. Cara satu-satunya maka harus ada orang kuat memasuki jurus ilusi tersebut dan melawannya di dalam ilusi itu.


Sebuah cahaya putih kembali muncul dari cermin setinggi orang dewasa itu. Tetua Rasmi, Tetua Widya, dan Tetua Genta mengangguk dan langsung melesat masuk ke dalam. Sementara untuk urusan Tetua Wan, akan dibantu oleh Tetua Haki.


*


*


*


Dari para peserta tidak ada yang tahu mengenai mereka terjebak dalam jurus ilusi Tetua Wan tidak akan bisa keluar. Saat ini mereka masih terkejut dengan perubahan pada tubuh Qi. Perubahannya berawal ketika dia malah meledakkan bendera dan seketika menyerang para peserta hanya dengan jentikkan jari. Berulangkali, dia mendapat perlawanan besar. Para peserta sampai kehilangan kekuatan setengah karena mencoba menyerang Qi tapi selalu gagal. Masih tidak percaya, salah seorang peserta mencoba menyadarkan temannya, Qi yang menyeringai mengerikan.


"Qi, sadarlah! Apa yang kau lakukan ini tidak benar ...!"


Qi yang mendengarnya malah tertawa. Darah keluar dari sudut bibirnya. Dia lalu mengusapnya menggunakan punggung tangan.


"Makanan segar~" Qi atau Roh Hitam itu menatap satu persatu murid-murid Akademi Magic Awan Langit ini penuh gairah ingin malahap mereka. Dia berkata sambil menjilat bibir bawah dan atasnya. "Karena kalian masih muda dan memiliki kekuatan besar, pasti rasanya akan lebih lezat~"


Para peserta menelan ludah susah payah. Keringat dingin bercucuran di tubuh mereka. Tubuh mereka yang tidak bisa digerakkan menambah ketakutan.


Dari para peserta belum juga merasakan aura Roh Hitam, termasuk Inay yang sedang menggeremutukkan gigi tidak menyangka. Inay melihat asap tipis pada kaki Qi, dan asap tipis itu bukanlah asap biasa, tetapi ciri khasnya Roh Hitam.


Inay menatap tajam Roh Hitam itu. Dirinya membatin, "gagal sudah strategi yang Luffy buat. Kekuatan Roh Hitam ini sangat besar. Bagaimana aku dan Luffy bisa mengalahkannya?"


Tubuh mereka yang tidak bisa digerakkan, juga tidak bisa mengeluarkan kekuatan ataupun jurus untuk menyerang. Seolah spiritual mereka tersegel oleh kekuatan Roh Hitam yang menyamar sebagai Qi itu.


Suara tawa menggelegar membuat merinding. Mata merah darah milik Qi membuat siapa pun yang melihatnya tidak berdaya dan bertekuk lutut.


Roh Hitam itu mengangkat sebelah tangan sambil berkata dengan mata yang melotot hampir jatuh.


"Hmph, dasar anak-anak polos. Apa kalian tidak mengerti juga? Aku ini bukan Qi teman kalian, bodoh!"


Asap hitam semakin bertambah yang kemudian menyelimuti tubuh Qi. Aura hitam sangat besar dirasakan para peserta yang merasakan dada sesak serta tubuh mereka yang seperti ditekan benda berat berton-ton.


Asap tersebut perlahan menghilang, dan memperlihatkan wujud Raja Roh Hitam sesungguhnya. Bertubuh besar, berwarna hitam serta memiliki rambut kribo dengan mata besar merah menyala.

__ADS_1


Para peserta menahan napas mereka melihat wujud mengerikan itu. Seketika mereka yakin bahwa selama ini telah ditipu oleh Roh Hitam yang menyamar sebagai salah satu teman mereka.


Amdara yang melihat wujud tersebut mengepalkan tangan. Ini merupakan Raja Roh Hitam yang paling kuat dari yang pernah dia temui. Walaupun Amdara juga merasakan tekanan besar tersebut, tetapi Amdara dan Cakra masih bisa menggerakkan tubuh.


"Keselamatan mereka dalam bahaya. Jika Raja Roh Hitam ini tidak segera dilenyapkan, hal buruk akan terjadi." Amdara membatin. Sambil berpikir apakah para Tetua melihat kejadian ini atau tidak di cermin besar. Harusnya ketika Amdara mencabut bendera, pasti Tetua Wan sudah memberi tanda pemenang sudah ada tetapi malah tidak ada tanda-tanda atau pengumuman dari Tetua Wan ataupun wasit itu yang masuk ke dunia ilusi itu. Pasti terjadi sesuatu pada Tetua Wan, pikir Amdara.


Amdara menarik napas dalam, selagi Raja Roh Hitam tidak menyadari dia berada di belakang. Ini kesempatan Amdara melesatkan jurus pemusnahan Roh. Tidak peduli apa tanggapan para senior yang mungkin akan semakin mencurigainya, tapi saat ini nyawa mereka sedang terancam.


"Tidak ada cara lain." Kekuatan Amdara memang hanya tinggal setengah. Tapi Amdara yakin bisa melenyapkan Raja Roh Hitam itu.


"Jurus Elang Abadi Pemusnah Roh."


Cahaya emas membentuk pola elang di bawah Raja Roh Hitam muncul cahaya emas langsung memerangkap Raja Roh Hitam.


Semua orang yang melihatnya terkejut dengan kejadian itu. Mereka menatap satu anak yang sedang melakukan gerakan pada tangan serta seperti sedang melakukan jurus. Bahkan Cakra sendiri dibuat terkejut ketika Amdara yang sedang menutup mata.


Raja Roh Hitam sendiri terkejut bukan main. Kini dirinya terperangkap oleh pola cahaya emas elang yang begitu kuat. Mata Raja Roh Hitam membesar dan mencoba memberontak.


"Sialan! Siapa yang berani menyerangku diam-diam?!"


Geraman Raja Roh Hitam membuat angin kejut besar sampai para peserta terpental, dari mereka tidak ada yang bisa berbuat apa-apa.


Cakra melesat, menggunakan kekuatannya dia membuat teman-temannya tidak terjatuh.


Tatapan mata penuh kebencian Raja Roh Hitam tertuju pada Cakra yang mengira dialah yang telah mengucinya pada jurus tersebut.


"Kau ...! Berani sekali kau. Apa kau pikir jurus seperti ini bisa melenyapkanku?! Ha ha ha. Dasar pemikiran dungu."


Raja Roh Hitam memberontak sejadi-jadinya, sampai Amdara yang sudah mengeluarkan kekuatan kesulitan menahan pemberontakan tersebut. Darah keluar dari sudut bibir Amdara yang mencoba berkonsentrasi.


Jurus pamungkas Organisasi Elang Putih itu seharusnya langsung melahap Roh Hitam, tapi kali ini bahkan perlahan retakkan mulai terdengar petanda Raja Roh Hitam ini memiliki kekuatan lebih besar dari bayangan serta kemungkinan jurus tersebut kekurangan kekuatan sehingga kurang mengekang Raja Roh Hitam.


Amdara terus mengeratkan jurus nya walaupun Amdara tahu kekuatannya sekarang tidak sebanding dan sulit menyempurnakan jurus tersebut.


"Tidak."

__ADS_1


Hingga akhirnya jurus andalan itu tiba-tiba retak besar dan Raja Roh Hitam semakin mengeluarkan aura besar sampai membuat Amdara dan Cakra terbatuk darah begitu pula dengan yang lainnya.


__ADS_2