Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
166 - Kekuatan Baru


__ADS_3

Cahaya putih tersebut menghilang, terganti dengan hawa panas bercahaya api. Seseorang melayang, dengan sayap layaknya burung Phoenix. Tatapan wajahnya dingin, tapi matanya berbinar dengan kekuatan yang dirasakannya. Amdara sampai menahan napas sendiri karena perubahan kekuatan di dalam tubuh yang sekarang seolah tidak lagi bergejolak atau saling menolak. Yang ada, ketiga kekuatan elemennya seolah sekarang saling mendukung hingga menciptakan kekuatan lebih besar. Dia menatap kedua tangan tidak percaya.


Sedangkan Siluman Burung Phoenix membeku di tempat merasakan aura tidak biasa yang menyeruak dari tubuh bocah itu. Dia menelan ludah susah payah, bukan kekuatan baru yang dirasakannya, melainkan kekuatan yang membuatnya sedikit gentar.


Siluman Rubah Merah juga demikian. Dia sampai dibuat menahan napas tidak berkutik merasakan kekuatan yang lebih terasa mengerikan. Kekuatan yang benar-benar sudah sangat lama menghilang bak ditelan bumi, sekarang perlahan tapi pasti mulai muncul kembali. Siluman Rubah Merah mengepalkan kedua tangan, entah yang dilakukannya sekarang benar atau tidak akan tetapi dia berusaha membuat bocah itu untuk lebih kuat sebisanya. Tentu dengan memiliki tujuan tersendiri.


Amdara mendekati kedua siluman yang tidak membuka mulut. Dia tersenyum dan memberikan hormat kepada kedua siluman yang sudah dianggapnya senior, berterimakasih karena sudah melatihnya dan memberikan pengetahuan baru. Amdara masih belum sadar bahwa di punggungnya sudah muncul sepasang sayap mengagumkan. Dia baru sadar ketika Siluman Burung Phoenix mengeluarkan suara khas yang sontak mengejutkan Siluman Rubah Merah yang juga baru sadar akan hal tersebut. Siluman Rubah Merah langsung mengutarakan apa yang disampaikan Siluman Burung Phoenix.


Mendengarnya membuat Amdara langsung menolehkan pandangan ke belakang. Begitu terkejut dengan sepasang sayang di punggungnya. Dia menelan ludah kesulitan. Ini bukan kabar baik, melainkan sesuatu yang aneh baru saja memasuki tubuhnya. Padahal Amdara yakin tidak akan ada efek memunculkan sayap dari pil yang dimakan. Lalu mengapa ...?


Siluman Rubah Merah mendekat, berjalan mengelilingi Amdara yang masih syok atas apa yang terjadi. Dari yang Siluman Rubah Merah ketahui, anak manusia ini memiliki tubuh istimewa. Dia menghela napas panjang, hendak menyentuh sayap itu tetapi energi spiritual panas tingkat tinggi langsung menguar. Walau begitu, Siluman Rubah Merah lebih kuat dan berhasil menyentuhnya. Merasakan bagaimana kekuatan yang dimiliki Siluman Burung Phoenix mengalir di dalam tubuh istimewa ini. Pertama kali bagi siluman ini melihat manusia asli memiliki sayap dan itu terjadi setelah meminum pil. Dirinya jadi penasaran seberapa luas pengetahuan anak manusia ini mengenai obat-obatan.


Dia menanyakan apakah Amdara dapat memasukkan kembali atau menghilangkan sayap tersebut. Jawaban gelengan dari lawan bicara langsung membuatnya berpikir dan menjelaskan bahwa sayap baru ini sekarang merupakan bagian dari tubuh Amdara. Mengenai cara menghilangkan dan memunculkannya kembali bisa dilakukan oleh Amdara sesuka hati jika dia sudah bisa menguasai tekniknya. Dia juga menjelaskan bahwa sayap ini tidak akan melukai dan membahayakan. Jadi Amdara tidak perlu merasa cemas berlebihan.


Siluman Burung Phoenix mengeluarkan suara, berbicara dengan Rubah Merah yang setelahnya berdiri di depan Amdara sambil mulai mengucapkan bahwa teknik yang baru saja dikatakan harus segera Amdara lakukan, jika gagal maka Amdara benar-benar tidak akan bisa menghilangkannya. Dengan kata lain, Amdara hidup dengan kedua sayap.


Tidak ingin hal tersebut terjadi, dia mengikuti instruksi Siluman Rubah Merah yang mendadak jadi baik. Entah mengapa ketiga makhluk itu sudah seperti keluarga yang saling membantu.


Hal pertama yang harus dilakukan dalam teknik ini adalah berkonsentrasi merasakan keberadaan sayap di punggung. Membayangkan sayapnya merupakan bagian dari tubuh yang dapat dihilangkan serta dimunculkan kapan saja. Bayangan akan memasukkan sayap ke dalam tubuh sendiri mulai dilakukan, tubuh Amdara terasa terbakar hingga tidak kuat menahannya dan langsung terduduk lemas.

__ADS_1


Siluman Rubah Merah mendengus, sambil menyilangkan kedua tangan berujar bahwa sampai gagal berarti Amdara belum menerapkan atau menerima sayap ini sebagai bagian tubuh.


Sekali lagi Amdara mencoba dengan menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan melalui mulut. Perlahan, mulai menerima sayap di dalam tubuhnya. Membayangkan sayap tersebut menghilang, masuk ke dalam tubuhnya.


Siluman Burung Phoenix dan Siluman Rubah Merah bertambah terpana melihat bocah berbakat ini. Dalam dua kali percobaan saja, Amdara berhasil menghilangkan sayap di punggung. Siluman Rubah Merah mengangguk, dia berkata Amdara harus bisa menguasai. Dia meminta bocah itu untuk mengeluarkan dan memasukkan kembali sayap itu.


Amdara mengangguk mengerti. Dia berhasil memunculkan sayap, dan menghilangkannya dalam sekali pernapasan. Perasaan lega menyelimutinya.


Masih penasaran dengan kekuatannya, Siluman Rubah Merah meminta agar Amdara menunjukkan kekuatan baru. Amdara mengangguk, mulai terbang merasakan kekuatan di dalam tubuhnya yang dahsyat.


Dia mengeluarkan sayap, melakukan gerakan pada kedua tangan hingga sebuah energi spiritual yang jauh lebih besar dirasakan. Gelombang api tiba-tiba muncul dengan panas bagi manusia sudah sangat luar biasa. Tepat ketika Amdara menghentakkan pelan tangan, gelombang api tersebut meledak dalam jangkauan 25 meter. Menghanguskan pepohonan, serta tanah menjadi gersang.


Tidak sampai di sana, dia kembali memunculkan kekuatan atau jurus berupa rantai api yang keluar dari tanah. Mencambuk segalanya dalam jangkauan. Salah satu pohon terikat oleh rantai api hingga langsung menjadi abu.


Amdara menyerap kekuatan alam. Dingin, menyejukkan, menenangkan, serta kobaran semangat dalam jiwanya bercampur tapi bisa dikendalikan dengan baik. Dia menutup mata, mengangkat kedua tangan dan melakukan gerakan aneh. Kedua kakinya turut bergerak, terlihat seperti sebuah tarian indah.


Rantai api yang sebelumnya bergerak tidak karuan, sekarang mulai tenang. Udara di sekitar mulai berubah arah, angin biru bercampur bunga mengelilingi tubuhnya. Hujan turun tiba-tiba, yang entah bagaimana berubah menjadi es turun ke bawah yang ketika menyentuh sesuatu, seperti tanah maka tanah tersebut langsung dibuat membeku. Bahkan ada yang terkena pohon langsung hancur karena tidak tahan dengan kekuatannya. Suasana menjadi amat dingin, perubahan cuaca ini dalam skala tidak terlalu besar. Kemudian rantai api mulai mengeluarkan cahaya api, hingga panasnya bercampur dengan udara dingin. Bukannya saling menjatuhkan, tapi kedua elemen hebat tersebut malah saling mendukung hingga membuat udara dingin seperti es dan panas layaknya api dari neraka.


Kedua Siluman yang melihatnya sudah sejak tadi mengeluarkan perisai pelindung. Keduanya tidak dapat berkata apa-apa mengenai kengerikan kekuatan bocah itu. Di usia muda sudah dikatakan menguasai empat elemen sekaligus yakni air, angin, api, dan es. Bahkan kekuatan yang keduanya dirasakan sudah melampaui tingkat kewajaran seorang bocah.

__ADS_1


Amdara membuka mata, tersenyum tipis. Namun, senyuman itu malah disalah artikan oleh kedua siluman sebagai seringai mengerikan. Amdara lantas menatap kedua siluman tersebut, mendekat dan bertanya apakah jurus yang dikeluarkan baik atau tidak. Sontak kedua siluman itu mengangguk tanpa memberikan komentar.


Amdara menghilangkan kekuatannya. Membuat suasana jadi lebih tenang. Terlihat pepohonan di sini sudah hangus, tanah dibuat retak dan gersang.


Siluman Rubah Merah mendengus. Pertama kalinya melihat hutan daerah barat dibuat seperti ini oleh anak manusia.


Amdara membungkuk memberi hormat dan mengatakan terima kasih kepada kedua siluman di depannya yang sudah mengajarkan banyak hal. Dia bahkan tidak tahu lagi harus membalasnya dengan apa.


Siluman Rubah Merah bertanya apa yang dilakukan Amdara sekarang. Jawaban Amdara adalah pergi kembali ke kediaman Tetua Haki. Sontak jawaban tersebut membuat Siluman Rubah Merah memelototkan kedua mata dan langsung melarang Amdara kembali karena di sana ada seekor siluman ular yang berjaga dan tentunya sangat membahayakan juga picik.


Amdara menaikkan sebelah alis. Selama ini dia tidak pernah melihat siluman yang dikatakan di kediaman Tetua Haki. Hanya saja pernah bertemu Siluman Ular yang ditaklukkan oleh Seluring Putih di hutan.


Perkataannya sungguh mengejutkan Siluman Rubah Merah. Dia meminta Amdara memperlihatkan Seluring Putih yang mengeluarkan kekuatan misterius. Bahkan siluman berwajah menggemaskan ini sampai menahan napas melihat Seluring Putih bergantian dengan Bocah Berambut Putih. Dalam hatinya bertanya-tanya seberapa kuat sekarang bocah ini, berapa banyak lagi kejutan yang belum diperlihatkan. Namun, di sisi lain dia bisa bernapas lega dengan adanya Seluring Putih yang dapat melindungi diri Amdara dari Siluman Ular. Dia jadi tidak melarang kembali Amdara pergi.


Amdara mengangguk setelah diberi izin. Dia berkata akan membalas kebaikan kedua siluman ini suatu saat nanti. Dia melesat pergi dengan kekuatan lebih kembali. Yang sebenarnya Amdara akan mencari tempat lain untuk berburu, tidak mungkin dirinya berburu di tempat ini. Tentu setelah berburu dia akan kembali ke kediaman Tetua Haki.


Di tingkat kecepatan, juga bertambah. Apalagi menggunakan sayap barunya. Dia mengepalkan kedua tangan, ini sangat bagus untuk. Setiap saat sebelum pertandingan magic muda, dia harus lebih kuat. Dengan begitu dapat melenyapkan Roh Hitam dengan mudah, serta dapat melindungi diri sendiri untuk mencari kedua orang tuanya dan mencari sosok bernama Ketu.


Sangat lama Amdara pergi mencari hutan lain. Matanya melihat seseorang sedang kualahan bertarung dengan Siluman Lintah Ungu. Dia mendarat di salah satu batang pohon. Menyaksikan bagaimana orang yang dikenalnya sudah nyaris diambang batas.

__ADS_1


Amdara memunculkan sebuah pusaran angin biru yang membuat Siluman Lintah itu terganggu untuk sejenak. Kemudian lesatan seratus pedang menyerbu, pedang tersebut terbuat dari es dan dialiri kekuatan api di dalamnya. Teriakan Siluman Lintah menggema, memilukan tepat saat seratus pedang tersebut menancap di tubuhnya. Dia menggeliat tidak karuan, walau tubuhnya licin yang terlumur oleh racun, tapi dapat dijatuhkan dengan mudah oleh Amdara. Darah bercampur racunnya berceceran di mana-mana.


Orang yang sebelumnya bertarung membeku di tempat. Dia mengedarkan pandangan mencari sang penyelamat. Matanya terpaku di seseorang bocah berambut putih sedang berdiri tenang di dahan pohon. Dia sontak menyerukan nama bocah berambut putih itu, tetapi langsung terbatuk dan ambruk tidak sadarkan diri karena kekuatan sudah benar-benar habis hanya untuk melawan Siluman Lintah.


__ADS_2