
Amdara membuka peta dan mencari titik kemungkinan adanya Raja Roh. Untungnya peta tersebut ada memiliki tanda tertentu, Amdara segera melesat dengan kecepatan tinggi dan menuju hutan cukup jauh dari toko Nenek Tema. Tidak disangka, Amdara mulai merasaka kekuatan yang menekan dan aura gelap yang hampir membuat Amdara terjatuh.
Dirinya mendarat di depan gua Angin yang begitu besar. Seperti namanya, tempat ini memiliki angin yang cukup besar bahkan Amdara harus menggunakan perisai pelindung. Perlahan Amdara mulai menyerap kekuatan alam, dan memasuki gua. Semakin masuk, semakin besar angin berhembus padahal berada di dalam gua. Angin di dalam gua terasa berbeda, angin ini merupakan angin yang diciptakan kemungkinan oleh Raja Roh
"Dia makhluk lemah."
Amdara tanpa rasa takut terus maju dan mengeluarkan api birunya untuk menerangi jalan. Gua gelap nan terlihat menyeramkan tidak membuat langkah Amdara berhenti malah dia semakin semangat tidak sabar bertemu dengan Raja Roh. Selama ini Amdara tidak berpikir ada Raja Roh, ini kali pertamanya akan berhadapan dengan yang namanya 'raja roh'. Walaupun Amdara sering berburu Roh Hitam yang kadang-kadang memiliki kekuatan besar.
Aura gelap semakin padat, Amdara segera menghindar ketika sebuah serangan melesat cepat dari depan.
BAAM!
Serangan barusan membuat tembok gua bergetar hebat. Amdara hampir saja terjatuh ketika serangan angin besar mengenainya. Bocah berambut putih itu menggunakan kekuatannya untuk memperkuat perisai pelindung.
"Hei, tunjukkan wujudmu?" Amdara berucap tanpa takut dia bahkan langsung melesatkan serangan berupa elemen air ke dalam gua. Sesuatu tidak terduga terjadi, angin hitam mengepul di atas.
Graa!!
Mata besar merah menyala dan sebuah asap hitam muncul. Suara geramaan terdengar membuat telinga Amdara berdenging.
"Mn, bagus." Amdara tersenyum ketika melihat wujud yang katanya Raja Roh yang begitu besar bahkan hampir setara dengan gua Angin ini.
Tubuh yang dipenuhi bulu-bulu, mata merah menyala serta taring besar merah, lima tanduk besar di atas kepala dan bah kuku panjang dan tajam tidak membuat Amdara gentar sama sekali. Amdara malah merasakan semangat dan tidak sabar bertarung.
Raja Roh menggeram dengan tatapan ingin melenyapkan. Amarahnya memuncak, dia tahu bocah di hadapannya adalah orang yang telah melenyapkan anak-anaknya. Dengan cepat Raja Roh melesat menyerang Amdara yang kini lebih memperkuat perisai pelindung dan menyerang balik menggunakan elemen air. Angin kejut muncul ketika serangan mereka berbenturan.
Blaar!
Topeng Amdara retak dan membuat wajah putih bersihnya terlihat. Dia sampai terpental jauh dan tidak menyangka level Raja Roh ini seperti pernah dilawannya ketika berada di Organisasi Elang Bulan.
Angin yang semula biasa saja kini dalam kendali Raja Roh yang terlihat amat marah. Raja Roh kembali melesatkan serangan dengan elemen angin yang berubah mengelilingi Amdara.
Angin semakin kuat dan mendorong Amdara ke belakang yang belum sempat mempersiapkan diri. Angin yang dikendalikan Raja Roh membuat Amdara merasakan ratusan pedang menusuk ke organ dalam. Darah mengalir di sudut bibir Amdara yang bersusah payah membuat perisai pelindung. Wajahnya nampak datar seperti biasa, tidak ada teriakan sedikit pun yang keluar.
Perisai Pelindung lagi-lagi pecah karena tidak kuat menahan serangan elemen angin Raja Roh. Amdara memfokuskan pikiran menyerap kekuatan alam di saat tubuhnya benar-benar terasa sakit.
"Kau bukan penguasa elemen angin." Mata Amdara menatap tajam Raja Roh.
Sebuah angin ****** beliung biru semakin besar ditambah angin dari yang dihasilkan Raja Roh membuat gua bergetar hebat. Anehnya gua ini sama sekali tidak runtuh ketika terkena serangan dahsyat. Amdara menatap tajam Raja Roh dengan seluruh kekuatan elemen angin miliknya ditambah menggunakan kekuatan alam yang melimpah. Amdara melesatkan serangan terkuatnya.
BAAM!
Blaaar!
Serangan elemen angin bocah berambut putih itu tepat mengenai Raja Roh. Seketika angin yang sebelumnya dikendalikan Raja Roh kembali seperti angin biasa. Dengan kecepatan tinggi Amdara melesat mendekati Raja Roh yang tubuhnya amat besar sekarang terpental jauh menggetarkan gua.
"Mn, kau lemah." Amdara tersenyum tipis. Tidak! Lebih tepatnya terlihat seperti menyeringai.
Raja Roh tergeletak, sama sekali tidak menduga bocah di hadapannya bisa membuat dia seperti ini. Raja Roh menggeram dan langsung menyemburkan api dari dalam mulut. Untung saja Amdara cepat menghindar dan membuat perisai pelindung.
Amdara harus cepat menyelesaikan ini karena kemungkinan Nenek Tema akan kemari dan tentunya Amdara akan menggunakan jurus dari organisasi untuk melenyapakan Raja Roh ini.
"Jurus Elang Abadi Pemusnah Roh."
Cahaya emas membentuk pola elang di bawah Raja Roh muncul cahaya emas langsung perlahan melahap dirinya.
__ADS_1
Gua Angin mulai runtuh ketika serangan terakhir Amdara dilesatkan. Raja Roh terbakar, dan menggeram begitu keras sebelum akhirnya lenyap menjadi abu dan api berkobar di tempat Raja Roh.
Amdara memgembuskan napas lega dirinya terduduk di atas reruntuhan dengan perasaan sedih.
"Kapan aku bertemu orangtuaku?"
Rasa-rasanya setelah melenyapkan Raja Roh seperti ada yang mengganjal di hati Amdara tidak seperti biasanya saat berhadapan dengan Roh Hitam biasanya. Dia merasa ingin segera bertemu orang tuanya.
Perlahan air mata Amdara mengalir, dadanya terasa sesak. Dia sangat ingin bertemu orang tuanya. Amdara mengambil benda kenang-kenangan yang diberikan Tetua Bram.
"Tetua ...."
Bagaimanapun Amdara adalah seorang anak kecil berusia 11 tahun. Kehidupannya yang penuh bahaya selama ini perlahan membuat dewasa dan merubah pola pikir tetapi ada kalanya Amdara merasa kesepian dan menangis. Ya, Amdara menangis ketika mengingat hal-hal sepele seperti senyuman Tetua Bram dan kisah-kisah yang diceritakan Tetua Bram mengenai orang tuanya yang begitu hebat.
*
Para murid sekolah Akademi Magic Awan Langit kini berkumpul di lapangan, mereka nampak kebingungan ketika Tetua Haki mengumpulkan semua murid di lapangan tanpa penjelasan.
"Ya ampun, ke mana Luffy pergi? Dia benar-benar akan mendapat masalah jika sampai terlambat."
Inay mengedarkan pandangan, dan mencoba mencari keberadaan Amdara tetapi tidak ditemukan. Ketua Kelas Dirgan dan yang lain sudah ikut mencari tetapi Amdara tidak ditemukan. Ketua Kelas Dirgan meminta agar memberitahukan hal ini pada Guru Aneh tetapi dilarang Inay.
Suasana seketika tegang ketika Tetua Haki, Tetua Widya, Tetua Rasmi, dan Tetua Genta melayang di depan semua murid. Para guru berjejer rapi di barisan samping, mereka juga turut bingung dikumpulkan di lapangan.
"Kalian pasti bertanya-tanya kenapa kami mengumpulkan kalian di sini." Tetua Haki menggunakan energi spiritualnya untuk mengeraskan suara. "Langsung saja, hari ini kita akan bertemu Tetua Besar Moksa."
Mendengar Tetua Besar Moksa, baik para guru maupun murid nampak riuh. Mereka terlihat senang, tetapi ada juga yang tidak mengetahui Tetua Besar Moksa untuk para junior. Selama ini Tetua Besar Moksa tinggal di Gedung Suci dan sangat jarang turun hanya untuk melihat keadaan akademi. Kali ini Tetua Besar Moksa ingin melihat keadaan sekolah tersebut dengan tenang.
Para guru terlihat tersenyum senang tak siap menantikan kedatangan Tetua Besar. Bahkan Guru Aneh tersenyum dibalik topeng.
Para murid kelas satu C nampak berbisik-bisik termasuk Inay. Dia penasaran dengan Tetua Besar yang dimaksud sampai semua orang diharuskan menyambut.
Dirgan menggelengkan kepala. "Aku hanya tahu sedikit. Tetua Besar itu--"
"Tetua itu sudah tua. Sama sekali tidak tampan sepertiku."
Atma menyela perkataan Dirgan sambil melibaskan rambut depannya percaya diri membuat Inay mengedutkan bibir atas. Dirgan menggelengkan kepala, dia tahu betul kepribadian teman laki-laki yang satu ini.
"Hah, kau ini." Dirgan menepuk bahu Atma pelan kemudian berujar, "jangan bicara seperti itu. Kau harus menghormati Tetua Besar."
Atma menyingkirkan tangan Dirgan tidak suka. Dia mengembuskan napas kesal. Dia memang tampan, mana bisa dibandingkan dengan Tetua Besar itu? Walaupun Atma juga tidak pernah melihat Tetua yang dimaksud.
"Huhuhu, apa Tetua Besar itu sama seperti yang lain?" Rinai tiba-tiba saja menangis, dia menunduk dalam.
Dirgan, Atma, dan Nada tersentak mendengarnya. Mereka memikirkan hal yang baru saja dikatakan Rinai. Ada setitik kepedihan di hati kecil mereka, ingatan tentang para guru dan tetua yang sama. Sama-sama tidak peduli pada mereka terkecuali Guru Aneh. Sama-sama memberi luka yang sampai sekarang belum juga sembuh.
Dirgan mengepalkan tangan kuat, dia berusaha tetap tenang walau tidak dengan tatapan matanya. Begitu pula dengan Atma yang seketika merasakan dadanya panas dan ingin segera pergi dari sini. Nada sendiri hanya dia dan memeluk boneka.
Inay yang melihat reaksi teman-temannya jadi kebingungan. Apa yang dimaksud Rinai barusan sampai membuat mereka terlihat berbeda.
"Hei, ada apa?" Inay bertanya pada Dirgan tetapi Ketua Kelas tersebut diam tidak menjawab.
Inay mengembuskan napas, dia rasa ada masalah di antara mereka dengan para guru dan tetua. Untuk hal ini tentu Inay tidak bisa membantu apa pun.
Di sisi lain, sebuah portal baru saja muncul di belakang gedung sekolah menampakkan seseorang yang keluar dari portal. Orang itu tidak lain dan tidak bukan adalah Amdara yang masih mengenakan topeng kucing hitam dan bukan pakaian sekolah. Sebelum meninggalkan kota Angin, Amdara menenangkan pikiran sejenak. Mata Amdara terlihat sembab, dirinya mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya berjalan. Tidak ada suara apa pun, bahkan para murid yang biasanya berkeliaran sekarang tidak nampak satu pun tentu ini membuat Amdara bingung. Dirinya berniat pergi ke asrama, tetapi seketika Amdara menghentikan langkah ketika matanya bertemu dengan mata hitam milik Cakrabuana yang entah sejak kapan tengah menatapnya di depan. Bahkan Amdara tidak merasakan kehadiran anak itu.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu, keduanya diam dan saling pandang. Amdara merasakan jantungnya berdegup keras, dia baru saja ketahuan keluar sekolah menggunakan portal. Jelas ini akan membuat masalah lagi jika sampai Cakra mengatakan hal ini pada Tetua. Namun, untung saja Amdara menggunakan topeng jadi Cakra kemungkinan tidak akan mengenalinya.
"Di belakangmu." Amdara menunjuk arah belakang Cakra.
Cakra terlihat menaikkan sebelah alis, dia sama sekali tidak merasakan bahaya apa pun dari belakang tetapi entah mengapa kepalanya mengikuti instruksi bocah bertopeng asing itu.
Dengan kecepatan kilat Amdara melesat terbang, berniat melarikan diri sebelum Cakra menanyakan sesuatu atau bahkan mungkin membawanya ke Tetua. Sialnya, dia tidak bisa menghentikan kecepatan itu ketika tiba-tiba saja muncul sosok pria berjubah putih di hadapannya.
Amdara jelas langsung menabrak keras pria itu dengan mata tertutup. Hampir saja Amdara kehilangan keseimbangan dan jatuh tetapi seseorang dengan cepat memegang jubahnya dari belakang.
Amdara segera membuka mata, terkejut bukan main saat di bawahnya banyak orang yang tengah menatapnya aneh. Amdara bahkan sampai berkedip beberapa kali sebelum akhirnya sadar posisinya sekarang belum berdiri tegak. Bocah bertopeng itu tersedak napasnya sendiri ketika merasakan tekanan kuat di bahu. Dia mencoba terbang dengan tenang, tetapi seseorang masih memegang jubahnya dari belakang.
Inay tersentak ketika detik-detik menegangkan sebelumnya malah jadi kacau akibat bocah bertopeng yang baru saja menabrak kemunculan Tetua Besar Moksa yang terlihat berumur 80an padahal sebenarnya berumur kisaran 200 tahun. Inay membuka mata lebar ketika ingat bahwa Amdara pernah menggunakan topeng itu ketika keluar sekolah dan sepertinya Inay tahu bocah berambut putih yang tidak mengenakan jubah sekolah itu adalah Amdara yang pasti keluar untuk berburu.
"Ya ampun, Luffy! Apa yang bocah itu lakukan?!"
Dirgan, Atma, Rinai, Nada dan murid yang mendengar teriakan Inay menoleh. Terlihat Inay berwajah pucat dan nampak menjambak rambut sendiri.
"Kau jangan bicara sembarangan. Luffy anak baik-baik." Dirgan menggelengkan kepala, dia tentu tidak percaya bahwa bocah bertopeng itu Luffy.
Atma mengangguk menyetujui Dirgan. "Ck. Walaupun kami tidak menyukai Tetua Besar, tapi itu bukan urusan Luffy sampai berani menabrak Tua Bangka itu untuk membalas dendam. Lagi pula, Luffy mana mungkin dia!"
Inay tidak menanggapi keduanya, dia hanya fokus pada Amdara yang diam mematung.
"Huhu, itu bagus sekali. Siapa pun dia, aku menyemangatinya untuk berbuat demikian lagi." Rinai terlihat tersenyum. Entah mengapa dirinya senang ketika ada yang berani pada seorang 'Tetua'.
Beda lagi dengan Nada yang diam menatap bocah bertopeng. Pikirannya tertuju pada malam di mana dia diselamatkan oleh bocah bertopeng sama dan tubuh bocah bertopeng juga sama persis. Namun, Nada berpikir lagi apakah benar dia Luffy yang dikatakan Inay? Tapi bagaimana bisa topeng mereka sama dengan penyelamat waktu itu?
Semua orang nampak tidak percaya ada bocah yang kurang ajar pada Tetua Besar Moksa. Bahkan para guru sampai berdecak dan mengumpati bocah itu akan tetapi berbeda dengan Guru Aneh yang dibalik topengnya dia malah tersenyum entah karena apa.
Di antara murid-murid yang heboh, Daksa nampak memerhatikan lebih jelas pada bocah bertopeng sama seperti yang malam itu dirinya diikat menggunakan tali ajaib di pohon. Pertanyaannya hampir sama dengan Nada, bagaimana mungkin ada bocah yang bisa keluar? Dan lagi, pakaian yang dikenakan bocah bertopeng bukanlah dari sekolah Akademi Magic Awan Langit ini.
Tetua Haki, Tetua Widya, Tetua Rasmi, dan Tetua Genta nampak tersentak dengan kejadian yang begitu cepat. Acara yang seharusnya dilakukan dengan tenang dan baik malah jadi kacau. Tetua Rasmi mengepalkan tangan, dia ingin sekali memukul wajah bocah bertopeng itu. Sementara Tetua Genta merasakan aura yang pernah ditemuinya.
Tetua Haki berdehem, dia merasa sedikit khawatir ketika melihat raut wajah Tetua Besar Moksa yang berbeda dari yang telahir dia lihat. Apalagi sekarang Tetua Besar Moksa masih memegang jubah belakanh seorang bocah yang berpakaian biasa.
Tetua Haki meminta maaf atas kejadian barusan dia berniat membawa bocah bertopeng itu pergi tetapi langsung ditolak Tetua Besar Moksa.
Bocah bertopeng tersebut merasakan keringat dingin mulai bermunculan di dahi. Amdara tidak mungkin melarikan diri apalagi menggunakan portal, yang ada dia akan dicurigai seperti pertama kali dia masuk ke sini. Rasa malu terus menyelimuti. Apalagi ini kecerobohan pertama kali dalam hidupnya.
Telinganya mendengar percakapan Tetua Haki dan orang yang masih memegang jubah belakangnya. Amdara mengepalkan tangan kuat. "Biarkan aku pergi." Ingin sekali Amdara berkata demikian.
"Siapa namamu, Nak?"
Pertanyaan tersebut membuat Amdara tidak merasa detak jantungnya beberapa saat. Suara besar dan menenangkan itu malah membuat Amdara merasakan bahaya.
Semua orang mendadak diam menunggu Amdara berbicara. Tentu Amdara akan diam, dia tidak akan mengeluarkan sepatah kata karena akan membuat mereka tahu bahwa dirinya baru saja melakukan hal memalukan.
Tetua Moksa sendiri merasakan aura begitu aneh keluar dari bocah bertopeng. Merasa bocah itu tidak akan buka suara, dirinya mengembuskan napas.
"Sepertinya kau tidak suka keramaian?" Tetua Besar Moksa menepuk bahu Amdara dan detik selanjutnya Amdara menghilang membuat semua orang yang melihat kembali tersentak. Padahal mereka ingin tahu siapa bocah bertopeng tersebut.
"Tetua Besar, maaf--"
"Bukan masalah."
__ADS_1
Tetua Besar Moksa menyela perkataan Tetua Haki. Melihat situasi yang cukup tidak mengenakan, Tetua Haki akhirnya menghembuskan napas panjang.
Dirinya meminta semua orang agar tenang seperti sebelumnya. Acara penyambutan dilakukan semestinya dan kedatangan Tetua Besar Moksa sangat disenangi oleh murid-murid.