
Sementara itu, murid yang sebelumnya terkurung dalam kekuatan Aray mulai bisa meretakkan. Karena bantuan murid lain. Mereka berdecak kesal karena sudah sangat lama berusaha menghancurkan perisai pelindung tetapi amat sulit.
"Aray benar-benar keterlaluan! Dia pikir kita ayam?! Tsk."
"Diamlah. Mereka pasti sudah sampai di tempat Luffy karena ada Rinai."
"Hmph. Mereka benar-benar pantas menjadi teman. Teman penuh kenakalan, dan tak habis-habisnya membuat masalah."
Satu murid lagi memijat kening dan berkata, "haih. Mereka saling melengkapi."
"Hng. Sebaiknya kita pergi ke sana. Perasaanku mengatakan Aray dan kawan-kawan akan membuat masalah."
Ucapan murid tersebut diangguki oleh empat murid lain dan bergegas menuju ruang bawah tanah di mana Amdara tengah mendapatkan hukuman.
*
Mata keempat murid penjaga Balai Hukuman terbuka lebar, menyaksikan tujuh orang yang tengah merasakan Cambuk Iblis. Genangan air listrik benar-benar telah kental oleh darah. Suara cambuk memilukan telinga, apalagi darah yang terus mengalir tanpa henti di tubuh mereka.
Melihatnya saja sudah membuat merinding. Walau cambuk masih terus berlanjut, tetapi tidak ada teriakkan atau tangis yang keluar. Hanya desisan pelan menahan sakit luar biasa.
Satu murid itu menelan ludah susah payah. Dia langsung mengalihkan pandangan.
"A-apa yang mereka lakukan? Bukankah yang mendapat hukuman hanya Luffy?"
Satu temannya yang sudah lemas terduduk. Menunduk tak berdaya. Dia menanggapi, "e-entahlah. A-apa mereka berniat membantu Luffy?"
"T-tapi cambuk iblis ini bukan cambuk biasa. Mereka akan merasakan sakit dua kali lipat. B-bagaimana mereka mau melakukannya?"
Rasa-rasanya pemandangan di sana sesuatu yang baru. Ada rasa iri melihat pertemanan Amdara yang begitu kental sampai mau berkorban demi teman. Sangat jarang ada pertemanan seperti ini.
Mungkin sudah sampai dua jam mereka merasakan cambuk iblis. Tubuh mereka sebenarnya sudah tidak kuat. Tapi hati dan pikiran mereka memaksa untuk kuat sebab tidak melihat pergerakan dari Amdara. Jika salah satu dari mereka mengeluh, berarti dia jauh lebih lemah.
Entah sadar atau tidak, tapi empat murid penjaga tak tega lagi melihatnya. Apalagi darah yang terus keluar dari punggung, perut, mulut, serta telinga mereka membuat siapa pun merasa ngeri.
Alat cambuk benar-benar berhenti. Jelas Amdara dan yang lainnya tersentak. Mengalihkan pandangan ke arah empat murid.
"L-lebih baik kalian pulihkan diri dan beristirahat sejenak."
Ucapan murid itu membuat Amdara menarik napas dalam. Dia mengangguk, dirinya tidak bisa berhutang budi pada teman-temannya terlalu banyak.
"Hei, jika kami pulihkan diri akan menyia-nyiakan wak---"
Suara Atma terpotong. Tubuhnya ambruk, tidak sadarkan diri. Air listrik langsung menyetrum seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Inay yang berada di sampingnya terkejut, dia baru akan menolong. Tapi tubuhnya sama-sama sudah tidak berdaya. Sampai berakhir pandangannya memburam.
Bukan hanya dirinya, melainkan Rinai, Nada, Dirgan, dan Aray yang terakhir tidak sadarkan diri.
*
*
*
Sebuah rantai es yang tidak membahayakan muncul dari tanah tiba-tiba. Kemudian melilit tubuh Dirgan, Aray, Atma, Inay, Rinai, dan Nada untuk melayang.
Amdara menarik napas dalam. Dia mencoba mengambil kekuatan alam ke dalam tubuh. Tangannya terangkat, menciptakan sebuah portal.
Pemandangan ini kembali mengejutkan empat murid yang terbelalak menyaksikan rantai es serta portal yang membuat Amdara dan teman-temannya menghilang.
Satu murid menunjuk lemas. "A-apa itu?! Bukankah seharusnya dia juga tidak sadarkan diri karena cambuk iblis?! T-tapi kekuatannya barusan ...."
Dia menelan ludah susah payah. Menyenderkan tubuh ke dinding. Ketiga temannya juga terlalu lemas melihatnya.
Di ruang pengobatan, terlihat Orion tengah duduk di salah satu kursi sambil menatap ke luar jendela sembari melamun sendirian. Memikirkan kejadian yang menimpa Tetua Rasmi dan Tetua Genta yang tiba-tiba saja pulih. Padahal dia sudah memeriksa sendiri, jika kedua Tetua itu telah tiada.
Berkali-kali dia memijat kening, berusaha berpikir jernih. Dia mengedarkan pandangan ke ruangan sambil menghembuskan napas panjang.
Sebuah cahaya tiba-tiba saja muncul, membuat mata Orion menyipit. Seseorang keluar dari cahaya tersebut dengan penampilan penuh darah. Dia adalah Amdara yang langsung mendarat pelan.
Perlahan, tangan Amdara bergerak membuat rantai es tersebut mendekat ke arah satu tempat tidur dan membaringkan Inay. Rantainya langsung menghilang. Dia juga membaringkan teman yang lain menggunakan rantai es.
Melihat darah serta luka luar begitu parah membuat Orion sampai menahan napas melihat Amdara. Pikirannya jadi mengira bahwa Amdara telah melukai mereka.
"Senior, tolong sembuhkan mereka."
Tatapan dingin anak itu menusuk mata Orion. Dia langsung mengangguk dan memeriksa Inay terlebih dahulu.
Perut koyak yang mengalirkan darah segar. Serta kaki yang telah menghitam akibat setruman air listrik. Bahkan Orion sampai menahan napas tahu bahwa ada tulang yang telah patah.
Dia segera menggunakan kekuatan untuk membantu memulihkan keadaan Inay.
"Lukanya sangat parah. Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian?"
Tanyanya pada Amdara yang sudah duduk di salah satu tempat tidur.
"Mereka mendapat cambuk iblis."
__ADS_1
Ucapannya membuat Orion seketika menoleh, menatap tak percaya. Tapi dari luka yang dia lihat, memang seperti bekas cambuk yang masih baru.
Dirinya menggeleng pelan dan berucap, "masalah apa yang diperbuat kalian sampai mendapatkan hukuman paling berat di Akademi?"
Amdara terdiam. Menunduk dalam, perasaan menyesal masuk ke hatinya.
"Bukan mereka, tapi aku."
Orion berkedip, dia mengusap keringat dingin di dahi. Dia tahu Amdara adalah anak yang dulu pernah dia obati dan pernah membuat masalah di Akademi kabarnya. Namun, dia tidak menyangka jika Amdara sampai mengorbankan teman-temannya untuk membantu meringankan hukuman.
Terjadi keheningan beberapa saat. Sampai Orion berkata, "aku akan memanggil teman yang lain untuk segera membantu mengobati teman-temanmu."
Amdara mendongak. Jika Orion pergi, itu akan memakan waktu. Dirinya kemudian mendekat, dan mengatakan Orion harus kembali kemari dengan cepat.
"Senior, tolong turunkan kepalamu."
Orion berkedip melihat tingkah Amdara yang seolah tidak merasakan sakit padahal dia melihat banyak darah yang masih mengalir. Namun, dia tetap mengikuti permintaan Amdara.
Amdara tanpa ragu menempelkan dahinya ke dahi Orion yang membuka mata lebar kaget. Amdara menutup mata, mencoba berkonsentrasi penuh walau rasanya sulit.
Mata lentik itu terlihat jelas di mata Orion. Apalagi wajah putih dan cantik ini sungguh terlihat berbeda.
"Bayangkan tempat temanmu berada."
"A-apa?"
"Cepat."
"B-baiklah."
Orion juga memejamkan mata cepat. Membayangkan tempat dia yakini ada teman-temannya yang bisa membantu.
Sebuah cahaya muncul di atas keduanya. Memperlihatkan gambaran tempat di mana ada banyak murid sedang berkumpul.
Amdara membuka mata, bersamaan Orion juga. Keduanya terpaku pada mata masing-masing, dan terdiam sesaat. Sebelum Amdara mendongak, dia menunjuk menggunakan dagu.
"Masuklah dan kembali dengan cepat."
Orion mengerutkan dahi melihat gambaran di atas. Dia bisa melihat teman-temannya berada di sana, ada rasa ragu untuk masuk.
Suara batuk Amdara mengagetkannya. Terlihat darah keluar akibat batuk Amdara. Wajahnya semakin pucat.
Orion cemas, tapi Amdara langsung berkata, "cepatlah pergi."
__ADS_1
"A-ah, baiklah." Orion terbang dan masuk ke sana.
Sementara itu, pandangan Amdara mulai memburam. Tubuhnya terasa teramat sakit. Aliran darah mulai tidak lancar. Perlahan dirinya berjalan ke arah tempat tidur dan merebahkan tubuh sambil memejamkan mata.