
Ian berkedip, saat sadar dia menatap Amdara yang tersenyum simpul. Apa maksudnya barusan?! Jadi orang yang mengirim pil ke Asosiasi Sinar Dunia?! Bukankah itu artinya dirinya akan menjadi orang penting?
"N-nona---"
"Apa kau lapar? Ajak teman-temanmu ke Penginapan Seribu Rasa aku akan mentraktir makan."
Ian kembali terkejut dengan ucapan tidak terduga itu. Dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi hari ini. Suara perutnya berbunyi, dia menunduk dan menyentuh perut. Dua hari tidak makan membuatnya benar-benar lemas. Mendengar Amdara akan mentraktir makan, dia tidak bisa menolak.
Senyuman yang lama tidak mengembang itu kini terbit.
"Apakah doaku selama ini baru terkabul? Ada orang yang masih peduli ...." Ian mendongak. Dia mengangguk bersemangat. Dan berteriak, agar Amdara mendengar suaranya, "Nona, aku akan kembali dan membawa semua teman-temanku untuk kau traktir makan ...!"
Dari kejauhan, Amdara hanya mengangguk. Ian langsung melambaikan tangan dan berlari secepat yang dia bisa. Perasaan senang ini sudah lama dia rindukan.
"Nona Luffy memang berbeda. Dia tidak mengatakan secara langsung menolong tapi tindakannya itu jelas-jelas ... aku yakin dia orang baik!"
Ian terus berlari, sampai air matanya mengalir. Dia benar-benar bersyukur untuk hari ini.
Amdara yang melihat Ian sudah jauh langsung pergi ke Penginapan Seribu Rasa. Penginapan ini berlantai tiga, terlihat sangat bagus di antara penginapan besar lainnya. Penginapan ini memang besar, tapi jarang ada bangsawan yang mau menginap di tempat ini.
Saat masuk, tidak banyak orang yang duduk di lantai dasar yang merupakan tempat makan. Aroma daging dan beberapa makanan lain langsung terendus.
Seorang pelayan menghampiri Amdara setelah Amdara duduk tenang.
"Nona Muda, kau mau menginap atau makan?"
"Makan. Berikan semua hidangan lezat kalian."
Mendengar hal itu, pelayan langsung senang. Dia meminta Amdara agar menunggu beberapa saat lagi. Pelayanan di sini memang cukup baik.
Amdara mengedarkan pandangan. Dia memilih Penginapan Seribu Rasa tentu memiliki tujuan lain.
*
*
*
Tidak lama kemudian, beberapa pelayan membawakan hidangan yang masih panas. Mereka bahkan sampai menggabungkan meja-meja hanya untuk menampung semua makanan.
Seorang pemilik penginapan tersenyum ramah menghampiri bocah berambut putih yang memiliki aura tidak biasa itu. Dia kemudian memperkenalkan diri dengan nama Dau.
"Nona Muda, terima kasih sudah mau mampir di Penginapan Seribu Rasa. Suatu kehormatan bagiku bisa menyambut bangsawan murah hati sepertimu."
Pemilik Penginapan memberikan hormat, tapi lawan bicara hanya diam. Amdara menaikkan sebelah alis. Apa menurut orang tua di depannya ini dirinya seorang bangsawan? Amdara hanya menghembuskan napas panjang.
"Paman, berdirilah. Aku bukan bangsawan."
Ucapan Amdara membuat Pemilik Penginapan tersentak. Dia berkedip tidak percaya. Dirinya malah menggelengkan kepala dan tertawa.
"Nona Muda, kau tidak perlu menyangkal. Jelas-jelas kau memiliki aura berwibawa yang hanya dimiliki seorang bangsawan, terlebih pakaianmu bagus."
"Terserah kau saja. Aku bukan bangsawan." Amdara melihat begitu banyaknya makanan yang disajikan dan terlihat enak. Dirinya berkata, "apa kau berniat menjual penginapan ini?"
Ucapan Amdara membuat Pemilik Penginapan terkejut bukan main. Dia menatap Amdara yang terlihat tidak bercanda. Pemilik Penginapan yang bernama Dau itu terdiam, mengedarkan pandangan. Yah memang tidak banyak yang masuk ke penginapan ini. Bahkan bisa dikatakan dirinya hampir bangkrut.
"Yah, aku memang sudah tua dan berniat pensiun. Tapi bagaimana aku menghabiskan masa tuaku tanpa uang?"
Dau tertawa kecut. Dirinya menghela napas berkali-kali. Dia menunduk kecewa pada diri sendiri yang tidak bisa mengembangkan penginapan ini, makanya kalah telak dengan penginapan lain.
"Apa aku bisa membeli penginapanmu, Paman?"
Perkataan Amdara membuat Dau langsung mendongak, tersentak tidak percaya. Dia pikir pendengarannya salah, tetapi Amdara mengulang ucapannya sekali lagi.
"Nona, apa kau benar ingin membeli penginapan ini? Tapi ... Penginapan Seribu Rasa sudah sangat kuno. Makanya tidak banyak yang datang. Jika kau membelinya, hanya akan merugikanmu."
Dau tersenyum simpul. Pandangan mengenai bocah di depannya mulai berubah. Dia merasa bocah berambut putih ini bukan bocah biasa seperti pada umumnya.
Amdara terdiam. Memang benar penginapan ini sudah cukup kuno. Tapi itulah letaknya Amdara tertarik dengan penginapan ini!
"Aku akan membelinya. Paman Dau, berapa yang harus kubayar?"
Dau masih tidak percaya. Tapi tidak ingin kehilangan kesempatan ini, dia akhirnya menyetujui penginapannya dijual.
__ADS_1
"Satu lantai lima ribu koin emas. Jadi tiga lantainya adalah lima belas ribu emas. Dan untuk para pelayan yang akan diberhentikan ...."
Dau menghentikan ucapannya. Dia menggelengkan kepala dan berkata, "Nona Muda hanya perlu memberikan lima belas ribu koin emas saja kepadaku."
Dau tersenyum ramah. Wajah keriputnya terlihat jelas. Amdara memandangnya dan mengangguk, dia langsung melibaskan tangan dan saat itu juga satu gunung emas terpampang jelas di samping Dau. Dau menghentikan napas sesaat melihat segunung emas ini. Pertama kali dia melihat begitu banyak emas ... ah, lebih tepatnya emas-emas itu sekarang menjadi miliknya!
"Dua puluh ribu."
Kata Amdara tanpa nada, dia juga mengatakan Dau bisa menghitungnya sendiri. Dau menoleh, tidak percaya Amdara bisa memiliki uang sebanyak ini.
Dau menelan ludah susah payah. Tubuhnya sampai bergetar lemas. Dia berkata, "N-nona, bukankah aku meminta lima belas? Mengapa kau memberiku sebanyak ini ...?"
"Itu sebanding dengan penginapanmu."
Dau sampai menangis mendengarnya. Dia tidak menyangka ada orang yang sangat murah hati. Dia melibaskan tangan, menyimpan uang di dalam Cincin Ruang. Dia tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada orang yang dianggapnya bangsawan ini.
"Nona Bangsawan, aku sangat berterima kasih kepadamu. Kau benar-benar murah hat---"
"Namaku Luffy, dari Akademi Magic Awan Langit. Paman Dau, berhenti menyebutku bangsawan. Aku dari kalangan biasa."
Amdara berkata dingin. Bahkan dia membuat Dau tersentak dan kembali menangis entah karena apa.
Dau mengeluarkan sebuah kunci yang mana kunci tersebut merupakan kunci Penginapan Seribu Rasa. Dia juga memberikan sebuah segel pengenal berukiran makanan kepada Amdara. Bocah itu menerimanya dengan senang hati.
Suara bocah-bocah berisik mengalihkan perhatian Amdara. Terlihat Ian, dan sekitar lima belas bocah lagi berjalan ke arahnya. Tatapan Amdara tertuju pada Nuki, Nuri, Pandu, dan Gan yang ternyata keempat bocah itu menghentikan langkah, menatap Amdara terkejut.
"Nona Luffy, aku datang membawa teman-temanku."
Ian menghampiri Amdara yang langsung menatapnya dan mengangguk. Mempersilakan Ian untuk duduk.
Kini Dau yang dibuat terkejut, pasalnya dia tahu bocah-bocah yang masuk ke penginapan ini adalah bocah-bocah pengemis. Dan dia cukup akrab dengan mereka.
"Kalian ...."
Dau sampai berkedip, begitu pula dengan Ian, dan bocah-bocah yang lain. Baru menyadari adanya Dau. Sontak mereka menghampiri Dau dan tanpa diduga memeluk orang tua itu. Ian pun baru sadar langsung memeluk Dau.
"Paman Dau,"
"Ho ho. Apa kabar dengan kalian? Hei, jangan menangis. Orang tua ini akan penyek jika kalian memeluk dengan erat."
Dau menggeleng-gelengkan kepala sambil mengelus satu persatu kepala bocah-bocah yang bisa dijangkaunya. Senyumnya mengembang, air matanya mendadak mengering melihat keberadaan bocah-bocah ini.
Amdara mengedipkan kedua mata. Nampaknya bocah-bocah pengemis cukup mengenal Pemilik Penginapan. Itu bagus!
"Paman juga merindukan kalian. Apa kalian datang untuk menemuiku, hm?"
"Tidak. Kami datang untuk makan!"
"Ho ho. Jika begitu kalian duduklah, aku akan menyiapkan makanan untuk kalian. Hari ini kalian makan sepuasnya gratis!"
Kata Dau dengan bangganya dan tertawa. Dia sampai mengelus-elus jenggot putih.
Perlahan bocah-bocah itu mulai melepas pelukan dan memberikan ruang untuk Dau. Mereka menaikkan sebelah alisnya, sambil menatap Ian.
"Ah, terima kasih Paman Dau. Tapi hari ini sudah ada yang mentraktir kami."
Ucapan Ian membuat Dau menghentikan tawanya. Dia menatap Ian, dan bertanya bingung, "oh ya? Siapa yang akan mentraktir kalian? Haih, orang baik mana yang mau mentraktir bocah seperti kalian?"
Ian tanpa ragu menunjuk Amdara menggunakan jari telunjuk, tetapi dia langsung menurunkannya dengan cepat dan memberi hormat dengan menyantukan kedua tangan menghadap Amdara.
"Nona Luffy yang mentraktir."
Sontak kini semua pandangan beralih ke bocah berambut putih yang masih dengan tenang duduk walau banyak pasang mata yang menatap tidak percaya.
Bocah-bocah pengemis merasakan adanya ketenangan dan kenyamanan saat melihat bocah berambut putih itu. Bahkan aura wibawa terasa jelas bagi mereka.
Dau sampai membuka lebar mulut.
"N-nona Muda, apa itu benar?"
"Mn."
"Ya ampun. Kau benar-benar orang yang murah hati, Nona. Aku sangat berterimakasih kepadamu."
__ADS_1
"..."
"Nona, aku akan ingat ini sebagai hutang orangtua."
"..."
Amdara menghembuskan napas. Dau terlalu menjunjung dan memujinya. Dia tidak butuh itu semua. Dia menatap Ian dan mempersilakan Ian untuk makan bersama teman-teman yang lain.
Awalnya teman-teman Ian ragu, tetapi melihat hidangan yang tersaji membuat air liur menetes dan langsung mengambil tempat duduk berebut untuk makan.
Dau sampai berkedip melihat kejadian ini.
"Paman Dau, tolong sajikan lebih banyak makanan."
Amdara menyadarkan Dau, dengan cepat Dau mengangguk dan pergi untuk memerintah para koki masak lagi. Walau penginapan ini sudah dibeli, tapi Dau masih memiliki kewajiban untuk melayani Amdara untuk saat ini.
Bocah-bocah yang tidak mendapat bagian duduk mengambil tempat duduk yang lain. Mereka tanpa ragu menyerbu makanan di atas meja secara berebut. Amdara yang melihatnya hanya diam dan tersenyum tipis.
Ada perasaan senang saat melihat bocah-bocah pengemis ini makan dengan lahap. Entahlah, sekarang bocah ini lebih banyak ikut campur urusan orang lain.
Nampak di meja lain, Nuki, Nuri, Pandu dan Gan masih tidak berkutik tapi tatapan mereka masih tertuju pada Amdara. Keempat itu masih dilanda syok. Amdara menyadari tatapan tersebut, dan kembali menatap datar. Mereka saling pandang namun tidak ada yang buka suara.
"Nona Luffy, terima kasih banyak. Kami akan membalas budi kepadamu suatu saat nanti."
Suara Ian menyadarkan Amdara yang langsung menoleh. Ian tersenyum tulus.
Sementara Amdara malah menyerngitkan dahi bingung. Dia berkata, "untuk apa?"
Ian berkedip, dan menaikkan sebelah alisnya. Dia pikir Amdara akan mengatakan 'terima kasih' atau yang lain, tapi tidak dengan yang ini.
"Untuk makanan ini. Kau sudah mentraktir makan kami."
"Hmph. Tidak perlu merasa hutang budi. Aku hanya kebanyakan uang dan bingung harus kuapakan uangnya."
Amdara langsung mengalihkan pandangan. Mulai menyumpit nasi ke dalam mulut. Tidak peduli dengan ekspresi Ian yang saat ini sulit diartikan.
Intinya saat ini Amdara hanya ingin mengumpulkan banyak uang. Dan bisa memberikannya secara cuma-cuma kepada orang yang diinginkannya.
Sore itu, bocah-bocah pengemis makan sampai kenyang. Mereka sangat senang, karena sudah lama tidak sekenyang ini. Mereka juga mengatakan terima kasih kepada bocah berambut putih, yang tanggapannya ternyata hanya tatapan datar dan anggukan singkat.
Amdara masih duduk dengan tenang. Sesekali dia mendengar celotehan para bocah pengemis. Jika dilihat kembali, mereka semua laki-laki.
Dia mengeluarkan sebuah kunci, dan menyodorkannya kepada Ian.
"Ubah hidupmu dan teman-teman dengan ini."
Ian menatap kunci yang disodorkan. Saat tahu kunci tersebut milik Penginapan Seribu Rasa, dirinya bingung.
Amdara menghela napas dan berkata, "aku membeli penginapan ini. Tapi aku harus belajar di Akademi. Jadi kuberikan kepadamu."
Ian membulatkan mata mendengar hal barusan. Dia menggeleng cepat, ini sesuatu yang sungguh tidak diduga. Dia langsung menolak mentah-mentah. Akan tetapi Amdara malah menarik tangan Ian, dan meletakkan kunci tersebut di genggaman tangan Ian.
"Nona, Ini ...."
"Aku benci penolakan."
Ian menatap kunci penginapan di tangannya. Dia seperti dalam mimpi sekarang.
"Nona Luffy ... kenapa kau melakukan hal baik seperti ini kepadaku?"
Amdara baru akan buka suara, tetapi suara teriakkan anak kecil mengejutkan semua orang di dalam penginapan. Tatapan semua orang kini beralih ke salah satu anak kecil yang juga bagian dari pengemis. Dia merangkak mundur sambil berteriak.
Semua orang sadar apa yang dilihat anak kecil itu. Mereka buru-buru pergi untuk bersembunyi. Dan yang lainnya segera mendekati anak kecil tersebut yang gemetar ketakutan.
Suasana di dalam penginapan mulai berubah. Aura menekan disertai dinginnya udara menyeruak. Lima belas bocah pengemis langsung bersikap waspada ke arah pintu penginapan yang tiba-tiba saja terbuka dengan cepat menghasilkan suara keras.
Ian mengepalkan tangan. Tatapannya mulai berubah. Dia menoleh ke arah Amdara, tetapi bocah berambut putih itu sudah tidak ada.
"Nona Luffy?!"
Kekhwatiran jelas menggerogoti Ian saat itu. Teriakkannya membuat keempat belas temannya tersentak. Ian segera mencari bocah berambut putih itu, dan dibantu teman-temannya yang lain. Mereka berusaha mencari di dalam penginapan tanpa keluar.
"Kenapa 'mereka' datang di saat sore ini?!" Salah satu bocah mengepalkan tangan. Dia ingin mencari bocah berambut putih, tapi saat ini dia harus waspada di depan pintu.
__ADS_1
Teman yang lain menimpali, "hmph. Tidak berguna kau merutuk. Kita hadapi sore sampai pagi. Hah, jika pun malam ini aku tewas, setidaknya aku sudah makan kenyang."
"Persetan dengan Roh Hitam!"