Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
153 - Kebenaran yang Baru Terungkap


__ADS_3

Ketiga murid perwakilan Akademi Magic Awan Langit sangat tidak menyangka akan tinggal di rumah yang sangat sederhana. Rumah itu hanya terdiri dari tiga ruangan, satu ruangan untuk tidur, satu untuk ruang tamu, dan satunya untuk tempat membersihkan diri. Bahkan tidak ada ranjang empuk seperti bayangan indah, hanya ada tempat tidur yang terbuat dari kayu biasa.


Awalnya Shi menolak dan meminta beristirahat di dalam kediaman Tetua Haki yang besar, tapi Tetua Haki mengatakan bahwa mereka tidak pantas masuk ke dalam. Jawaban itu jelas menohok ketiga bocah itu. Namun, ketiganya tidak lagi meminta tempat tinggal di dalam kediaman Tetua Haki.


Sekarang Amdara sudah memberishkan diri. Dia duduk di ruang depan sambil memikirkan mengenai kekuatannya yang seolah tersumbat sesuatu. Bocah itu berniat menanyakannya kepada Tetua Haki tapi saat itu juga seseorang mengetuk pintu.


Amdara segera membuka pintu, mendapati seorang pria berumur kisaran 39 tahun membawa nampan berisi beberapa makanan yang disiapkan untuk Amdara.


Pria itu bernama Mon, seorang pelayan satu-satunya dikediaman Tetua Haki. Dia baru diangkat hari ini untuk mempersiapkan makanan untuk ketiga murid Tetua Haki. Dengan senyuman ramah, dirinya memberi salam.


"Nona Muda, aku mempersiapkan makanan ini. Kau makanlah," katanya sambil menyodorkan nampan. Mon memiliki wajah khas dengan mata hijau, dan rambut panjang diikat. Auranya sedikit terasa familiar menurut Amdara, seperti keduanya telah bertemu. Tapi jelas-jelas keduanya baru saja bertemu kali ini.


Amdara menerimanya dan mengangguk. "Terima kasih, paman."


"Nona, jika kau membutuhkan sesuatu, katakan saja kepadaku," ujar Mon yang langsung diberi anggukan oleh Amdara.


Teringat ingin menemui Tetua Haki, Amdara akhirnya berkata tanpa nada, "apa paman tahu di mana Tetua sekarang berada?"


Mon berkedip, dia berkata bahwa seharusnya Amdara sekarang beristirahat karena pastinya kelelahan selama perjalanan kemari. Namun, Amdara malah menjawab bahwa sekarang bukanlah waktu dirinya untuk istirahat. Melainkan harus menemui Tetua Haki karena suatu hal. Mon hanya menghela napas, dia tidak bisa memaksa murid ini untuk istirahat. Akhirnya dia buka suara,


"Beliau ada di dekat sungai."

__ADS_1


Amdara berterima kasih setelah dia tahu keberadaan Tetua Haki. Mon mengangguk dan pamit pergi tanpa mengatakan sesuatu lagi.


Amdara meletakkan nampan di dalam ruangan, dia duduk sambil menatap beberapa makanan yang sepertinya cukup lezat. Dua Minggu tanpa makan sesuatu yang memiliki asin membuat perutnya seketika lapar melihat makanan di hadapannya. Bocah itu memakan semua hidangan, setelahnya dia membersihkan nampan serta wadah makanannya.


Jarak antara rumah yang ditinggali Amdara dan kedua temannya sedikit berjauhan. Di depan halaman rumah bocah itu, ditumbuh rumput hijau dengan aroma khas ketika tertiup angin. Beberapa tanaman unik juga tumbuh, Amdara mendekati salah satu tanaman yang memiliki bunga berwarna hitam dengan bentuk kerucut. Dia menaikkan sebelah alis ketika mengingat jenis tanaman herbal di kitan pemberian Are.


Bunga hitam berbentuk kerucut itu jika tidak salah adalah tanaman herbal yang cukup langka. Dan bisa dijadikan obat atau racun. Amdara sampai tidak menyangka jika dia memerhatikan sekitar dengan teliti maka ada banyak jenit herbal yang tumbuh subur. Sepertinya Tetua Haki menyukai tanaman herbal.


Amdara kembali melanjutkan perjalanan tanpa berniat mengambil tanaman herbal tersebut. Setelah beberapa lama berkeliling, akhirnya dia melihat seorang pria sedang menatap sungai yang mengalir tenang itu.


Begitu sampai di belakang Tetua Haki, Amdara segera memberikan hormat dan mengatakan maaf kepada Tetua Haki karena telah mengganggu waktu santainya.


Tetua Haki membalikkan badan. Kedatangan Amdara tentu saja mengejutkan Tetua itu yang langsung bertanya, "ada apa?"


Tetua Haki lantas buka suara, "untuk apa kau berterima kasih kepadaku, Nak?"


"Tepat ketika aku tidak sadarkan diri setelah mendapat serangan jurus ilusi. Bukankah Tetua yang menyembuhkanku?" Amdara menatap polos Tetua Haki yang langsung berubah raut wajahnya.


Tetua Haki terdiam sejenak sebelum dia mengatakan sesuatu yang sungguh membuat Amdara terkejut bukan main. Sebelum mengatakannya, Tetua Haki terlebih dahulu berkata, "tubuhmu memang istimewa, Nak. Karena keistimewaan itu tidak sembarang kekuatan dapat masuk ke dalam tubuhmu."


Tetua Haki menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan sebelum memerhatikan bocah berambut putih di depannya. Dirinya berucap, "lalu bagaimana caranya aku menyembuhkanmu?"

__ADS_1


Amdara bergeming, dia tidak memikirkan hal ini sebelumnya. Dia kira Tetua Haki dan Tetua Widya lah yang telah menyembuhkannya, dan dapat merasakan kembali kekuatan mengalir ke dalam tubuh sehingga dia bisa mengikuti Pertandingan Antar Kelas kembali. Namun, jawaban Tetua Haki barusan sungguh diluar dugaan sendiri. Jika bukan Tetua Haki dan Tetua Widya, lalu siapa? Tidak mungkin Amdara sembuh tanpa ada yang menyembuhkan.


Melihat kebungkaman Amdara, lantas Tegua Haki mengatakan bahwa dirinya dan Tetua Widya telah melakukan berbagai cara agar bisa menyembuhkan luka dalam Amdara, tapi segala cara itu gagal tanpa membuahkan hasil sedikit pun. Mereka hanya menjaga inti spiritual serta menjaga aliran darah agar tetap lancar. Untuk masalah menyembuhkan luka dalam, Tetua Haki dan Tetua Widya sama sekali tidak melakukan apa-pun. Saat mengatakannya, ada nada tidak enak.


Jika Tetua Haki dan Tetua Widya tidak menyembuhkan, apakah keduanya tidak tahu akan Benang Merah yang melilit inti spiritualnya? Itu yang sedang dipikirkan bocah rambut putih ini.


"Waktu itu kau bangun secara tiba-tiba saat aku hendak kembali memeriksamu. Suatu keajaiban kau bisa sembuh sendiri." Tetua Haki mengingat betul ketika Amdara yang terbangun dari tidur lamanya. Tetua Haki kembali memandang sungai Dia menarik napas dalam. "Aku sendiri terkejut. Tapi mengingat tubuhmu istimewa, maka itu adalah jawaban dari segalanya."


Kedua Tetua itu juga tidak menanyakan keadaan Amdara setelah dia bangun, karena yakin Amdara memang bocah beruntung memiliki tubuh istimewa ini.


Amdara masih belum buka suara. Ini masih syok atas kebenaran yang baru terungkap ini. Tubuhnya istimewa, apa benar dirinya bisa sembuh sendiri? Atau ada orang lain yang menyembuhkan dirinya? Dari semua kalimat yang dikeluarkan Tetua Haki, tidak ada satu pun yang mengaitkannya dengan Benang Merah.


"Tetua, luka apa yang kau lihat waktu itu?" Amdara berjalan mendekat, tepat di samping Tetua Haki yang sedang menoleh ke arahnya.


"Luka dalam yang cukup parah."


"Apa hanya itu?"


Anggukan kepala lawan bicara mengakhiri pembicaraan. Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Angin berhembus, sangat terasa nyaman dan dingin secara sekaligus. Tapi Amdara sama sekali tidak menikmatinya.


"Nak, beristirahatlah. Jangan berpikir hal lain untuk saat ini. Kau perlu fokus berlatih untuk turnamen."

__ADS_1


Amdara tersadar, dia kemudian mengangguk dan segera memberikan hormat, meminta izin undur diri untuk istirahat. Bocah itu mengurungkan niat meminta bantuan untuk menyembuhkan luka dalamnya.


Dalam perjalanan ke rumah yang akan ditinggali, Amdara masih memikirkan banyak hal. Benang Merah ini memang tidak sembarang orang bisa melihatnya, apa mungkin Tetua Haki dan Tetua Widya tidak mengetahui adanya Benang Merah ini dalam tubuh Amdara? Jika seperti ini ... lalu bagaimana Amdara mengatasi kekuatannya yang seolah terhalang sesuatu di dalam tubuh?


__ADS_2