Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
155 - Pemusatan Kekuatan


__ADS_3

Ketiga bocah itu diminta untuk melakukan gerakan yang sama seperti Tetua Haki. Tanpa basa-basi ketiganya melakukan hal yang serupa sambil menutup mata.


Pemusatan kekuatan merupakan inti dari kekuatan yang harus bisa dicapai. Jika bisa melakukan pemusatan kekuatan dalam penyerangan, satu jurus saja kekuatannya akan sangat dahsyat. Sangat berbeda jika melakukan serangan namun tidak memaksimalkan pemusatan kekuatan. Walau dinamakan pemusatan kekuatan, bukan berarti sekali menyerang kekuatan kita tersedot habis. Akan tetapi hanya menghabiskan kekuatan sesuai jurus yang dilesatkan.


Tekhnik melakukan pemusatan kekuatan di Akademi Magic Awan Langit memang hanya diperuntukkan kelas Tiga Tinggi dan kelas Tiga Atas yang mana karena mereka sudah mencapai di tahap Tingkat Tahap Akhir. Sebenarnya setiap tingkatan kekuatan, ada pemecahan lagi. Namun, banyak orang yang tidak terlalu mengerti dan juga mengajarkan kepada orang lain. Setiap tingkatan kekuatan, akan dipecah menjadi tiga di setiap tingkatannya, yakni tahap awal, menengah, dan puncak.


Namun, dengan pengajaran serta terkecuali tiga murid perwakilan Akademi Magic Awan Langit ini dikhususkan sendiri oleh Tetua Haki dan mendapat pengajaran langsung yang tentunya dengan metode pengajaran berbeda di Akademi. Walau nantinya mungkin akan memakan waktu lama hanya untuk menguasai pemusatan kekuatan ini.


Selain inti spiritual tempat penyimpanan kekuatan, di dalam tubuh jika berhasil memasuki pemusatan kekuatan, maka dia akan bisa mengendalikan alam bawah sadar sendiri. Maksudnya orang tersebut dapat berlatih di alam bawah sadar sendiri dengan waktu yang singkat. Tentu ada perbedaan waktu di alam bawah sadar dan alam nyata.


Angin berhembus kencang di sekeliling, bocah berambut putih tidaj terbang seperti kedua temannya. Dia berusaha semaksimal yang dia bisa untuk menyerap kekuatan alam, memasukkannya ke dalam inti spiritual. Sambil menghirup udara segar, dia perlahan menutup mata. Nyatanya tubuhnya hanya dapat merasakan sedikit kekuatan yang mengalir. Namun, Amdara terus berusaha melakukan teknik yang diajarkan Tetua Haki.


Tetua Haki terus saja menjelaskan bahwa kekuatan yang terkumpul di satu titik dalam tubuh, nantinya harus dikeluarkan secara serentak ketika melakukan serangan. Hal ini memang sulit, apalagi untuk Amdara yang masih berada di Tingkat Tahap Bumi Tahap Awal.


Berbeda dengan Shi yang sudah pernah mendapat pengajaran ini, tanpa menunggu lama, dia berhasil melakukan gerakan serta serangan dahsyat ke langit. Debamannya tidak kira-kira bahkan Mo yang sedang memegang nampan di dapur sampai terlonjak kaget.

__ADS_1


Mo langsung keluar dapur untuk melihat apa yang terjadi di luar tanpa memedulikan nampan yang terjatuh ke lantai. Tatapan Mo terlihat terkejut melihat cahaya merah muda di atas sana sedang menyambar-nyambar tidak karuan. Dia berdecak kagum dan menggelengkan kepala.


Lantas berujar, "dia memang tidak salah memilih murid."


Mo menarik napas dalam. Menghilangkan kedua tangan depan dada sambil bersandar di bibir pintu. Senyuman kecut terlihat. Dia berkata dengan nada jengkel, "tsk. Bocah itu pasti akan merepotkan jika sampai bisa menguasai pemusatan kekuatan, apalagi menggunakannya secara bersamaan dengan Seluring Putih."


Cahaya merah muda masih terlihat. Mo terus memperhatikan dengan gumaman tidak jelas.


Sementara orang yang melesatkan serangan baru saja membuka mata, menatap Tetua Haki yang mengangguk bangga. Shi kemudian turun, perhatiannya beralih ke Amdara yang belum ada reaksi, hanya menutup mata.


Shi mengembuskan napas, rasa kasihan terus menyelimuti kepada adik kelasnya yang satu ini. Kalau untuk Cakra, dia yakin cepat atau lambat bisa menguasainya. Shi memutuskan kembali melakukan pemusatan kekuatan, rasanya belum benar-benar menguasainya jika tidak berlatih dengan rutin.


Sambil terus memperhatikan, mulut Tetua Haki tidak berhenti memberikan arahan.


Arahan itu didengar dan diterapkan oleh Cakra, dia terus berusaha melakukan yang terbaik. Dalam alam bawah sadarnya masih berusaha mengeluarkan kekuatan. Hingga sore menjelang terasa cepat, Cakra baru bisa melesatkan serangan ke atas. Tapi belum maksimal.

__ADS_1


Cakra mengatur pernapasan yang kurang baik. Keringat dingin sudah bercucuran sejak siang. Dia melihat Tetua Haki yang mengangguk, kemudian mengatakan bahwa Cakra sudah cukup bagus untuk latihan pertama tapi harus sering melakukan latihan ini secara mandiri. Cakra mengangguk dan mengatakan terima kasih setelahnya.


Satu bocah masih belum melakukan teknik yang diajarkan. Bahkan dia belum membuka mata, padahal keringat dingin sudah membasahi seluruh tubuhnya. Angin yang berhembus terasa menusuk setiap tulangnya. Dadanya terasa sesak, kekuatan yang mengalir di tubuh sangat tipis. Tetua Haki sendiri tidak bisa mengeceknya karena tubuh Amdara yang istimewa.


Di dalam tubuh Amdara, inti spiritualnya masih sama. Terlilit oleh Benang Merah yang nampak sudah sangat banyak. Sebuah kekuatan berwana biru memutarinya sejak siang tadi. Namun, tak mampu masuk ke dalam inti spiritual itu. Kekuatan biru itu terus saja berputar di dalam tubuh Amdara. Semakin berputar tidak jelas, semakin rasa sakit yang dirasakan Amdara amat terasa. Nyaris bocah itu dibuat ambruk jika tidak mempertahankan kesadaran.


"tidak. aku bisa." batinnya yang terus berputar di otak dan hati kecilnya.


Malam sampai datang, membawa sinar rembulan. Amdara belum juga bisa melakukan apa yang diinginkan Tetua Haki. Cakra dan Shi yang sudah selesai menatap Amdara cemas. Keduanya saling pandang sebelum Shi menggelengkan kepala sebuah pertanda.


Tetua Haki mengizinkan Cakra dan Shi untuk istirahat dan berlanjut latihan besok. Awalnya Cakra dan Shi menolak karena ingin menemani Amdara, tapi akhirnya setelah Tetua Haki mengatakan bahwa Amdara membutuhkan waktu sendiri untuk berlatih, kedua bocah itu hanya mengehela napas panjang sebelum pergi untuk beristirahat.


Tetua Haki juga menarik napas, dia tidak akan membantu karena ingin Amdara berusaha sendiri. Tetua Haki kemudian melesat pergi entah ke mana.


Di malam dengan hembusan angin dingin, Amdara masih kokoh berdiri di depan halaman kediaman Tetua Haki tanpa ada niat membuka mata dan beristirahat sejenak. Dia bertekad akan terus berdiri walau sampai beberapa hari. Dan benar saja, tiga hari Amdara tidak berkutik di tempat awal dia berdiri. Kakinya mati rasa, tubuhnya sudah sangat lemas. Namun, dia masih berusaha mempertahankan posisi dan mengatur kekuatan dalam tubuh.

__ADS_1


Tiga hari itu tentu membuat Cakra dan Shi bertambah khawatir. Namun, Tetua Haki mengatakan bahwa mereka harus fokus terhadap diri sendiri. Tiga hari itu keduanya mendapat pelatihan lagi yang sungguh menguras emosi. Tiga hari itu pula, setiap malam Tetua Haki akan terus memperhatikan Amdara dari dalam kediaman.


Malam ke empat, Amdara ambruk tidak kuat menahannya. Matanya masih tertutup, tapi pernafasannya tidak beraturan. Untuk menarik udara segar ke paru-paru rasa rasanya sangat sulit. Nyaris saja dirinya tidak sadarkan diri sebelum sebuah tangan dingin menyentuh pipi. Perlahan dia membuka mata, samar-samar melihat seseorang berpakaian putih sedang tersenyum ke arahnya sebelum pandangan Amdara menggelap total.


__ADS_2