
49 - Pertandingan Antar Kelas Dimulai!
Perjalanan kembali ke Akademi Magic Awan Langit beruntung tidak ada kendala. Senior Fans mempercepat terbang membawa enam bocah bersamanya. Beberapa kali mereka istirahat karena Senior Fans yang harus memulihkan kekuatan.
Saat melewati hutan pun, sama sekali tidak ada binatang yang melintas. Yah, keberuntungan ini benar-benar patut disyukuri.
Dan sepertinya mereka lupa bahwa hari ini ada pertandingan antar kelas.
Di Akademi Awan Langit, setiap kelas akan memakai pakaian berbeda. Ini ditentukan agar dapat dilihat dari kelas mana murid tersebut. Untuk kelas Satu C sendiri, memakai seragam dari bahan biasa. Jelas kasar dan tidak nyaman dipakai. Berwarna hijau tua, dan bermotif akar. Tidak ada yang melakukan penolakan, karena mereka tahu kondisi keuangan Guru Aneh. Kecuali saat pemilihan yang mengikuti pertandingan antar kelas, ada beberapa yang menolak dengan alasan tidak berguna dan pasti akan kalah seperti tahun sebelumnya. Mereka juga takut dengan tatapan meremehkan kelas lain, cem*oh dan berbagai macam kalimat menyakitkan. Namun, dengan Aray yang terus memaksa dan mengancam mereka, alhasil tidak memiliki pilihan lain lagi.
Di lapangan latihan, murid-murid yang mewakili kelas telah berbaris rapi. Di depan mereka, lima Tetua dan Tiga Guru Besar berdiri gagah menatap ke depan. Para Guru biasa berbaris di samping kiri dan kanan, terkecuali Guru Aneh yang tidak ada entah pergi ke mana. Sementara murid yang tidak mengikuti acara, mereka berdiri tidak jauh dari lapangan untuk mendukung teman-temannya.
Acara diawali dengan pembawa acara oleh Guru Kawi, dia menjelaskan sedikit mengenai diadakannya pertandingan antar kelas ini.
"Perlu kalian ketahui, diadakannya pertandingan antar kelas ini bukan untuk saling bermusuhan, melainkan mengeratkan sebuah persahabatan kita."
Guru Kawi yang biasanya mensyairkan segala sesuatu, kali ini dia berbicara dengan normal. Tegas dan gagah, membuat para murid merasakan aura wibawa. Dia menggunakan suara dalam, dan menggunakan kekuatannya agar lebih keras.
Kalimat terakhir membuat Aray menyinggungkan senyuman. "Sepertinya selama ini kau yang malah menyalah artikan hal ini, Guru."
Yang Aray katakan bukan bohong belaka. 5 tahun yang dia rasakan memang tidak adanya persahabatan, melainkan pertandingan yang saling menj*tuhkan dan juga permusu*an. Apalagi terhadap kelas yang kalah, dan itu selalu kelas Satu C.
"Untuk memahami kekuatan teman. Untuk saling menguji kekuatan agar kita tidak memandang remeh dunia luar. Dunia yang ke*am, di mana tidak ada orang lemah. Di mana kita harus mem*ela kebenaran walaupun harus berta*ng dengan orang-orang. Kalian harus dijadikan pertandingan ini sebagai pembelajaran."
Pertandingan ini diadakan setahun sekali. Dari kelas satu, tingkat A, B, dan C mengirimkan tujuh peserta dalam satu kelompok. Kelas dua, tingkat A, B, I, dan Z juga mengirimkan tujuh peserta. Dan kelas tiga juga mengikuti pertandingan ini, yang mana dari kelas tingkat A, tingkat Unggulan, tingkat Atas, dan tingkat Tinggi. Ke sebelas kelompok itu telah berlatih selama ini, dan kini adalah waktu yang tepat menunjukkan kemampuan sebenarnya.
Para Tetua dan Guru mengharapkan dengan adanya acara ini akan membuat para murid bisa belajar lebih giat dan siap jika berhadapan dengan dunia luar.
Penilaian akan dilakukan oleh para Tetua dan Guru. Pertandingan kali ini tentu berbeda dari tahun sebelumnya. Para Tetua dan Guru telah berdiskusi mengenai apa saja acara yang akan dilakukan.
__ADS_1
"Acara ini berjalan selama satu minggu. Setiap harinya akan ada pertandingan yang berbeda. Jadi, kuharap kalian menyiapkan mental."
Untuk yang tidak mengikuti pertandingan, para murid diberi kesempatan untuk bebas melakukan apa pun selain tidak menggangu kenyamanan para peserta pertandingan.
Guru Kawi kembali berkata, "untuk selanjutnya akan ada penjelasan lebih dari Tetua Haki, Tetua Genta, dan Tetua Rasmi."
Guru Kawi membungkuk, dan Tetua Haki langsung terbang. Dengan aura wibawanya mampu membuat para murid menatap kagum. Siang hari itu, terasa meriah dengan beberapa hiasan yang dibuat sengaja oleh beberapa murid.
"Kuharap kalian memahami apa yang disampaikan Guru Kawi dan mengamalkan suatu saat nanti." Tetua Haki mengedarkan pandangan sebelum kembali berbicara, "di Akademi ini, kalian dilatih dengan harapan besar dapat melindungi diri dan orang yang ingin dilindungi."
Sambutan dari Tetua Haki cukup lama, bahkan beberapa murid mulai menguap kebosanan. Apalagi terik matahari menambah lelah kaki mereka yang terus berdiri. Sampai pada kalimat terakhir, di mana sekarang Tetua Genta yang terbang dan memberi sabutan sedikit.
"Akanku katakan apa saja peraturannya." Tetua Genta langsung ke poin dan lalu membuka sebuah gulungan yang mana isi dari peraturan. Dia berkata, "peraturan pertama, peserta tidak boleh ada niatan mem*unuh di mana nanti pertandingan di mulai. Tidak boleh sampai membuat peserta lain cedera parah atau membuat peserta lain kehilangan kekuatan Dan melakukan kecurangan. Jika hal ini terjadi, maka peserta akan didiskualifikasi."
Semua murid membeku. Tatapan dingin Tetua Genta membuat mereka menelan ludah kesulitan. Apalagi Tetua Genta sebenarnya adalah Tetua yang mereka takuti daripada Tetua Haki sendiri. Aura yang para murid rasakan berbeda dari Tetua lain.
"Tatapan Tetua Genta benar-benar mengintimidasi." Aray menggeleng pelan. Dia mengedarkan pandangan sambil menyilangkan kedua tangan. Dirinya juga mendengar beberapa murid yang berkata bahwa Tetua Genta walaupun tampan tetapi juga menyeramkan.
Teman di sampingnya adalah Daksa berdecak pinggang. Dan lalu berujar, "kau pikir aku tidak bosan? Kurasa semuanya juga merasa bosan. Hah, telingaku sampai sakit mendengar hal-hal tak penting ini."
Kenes juga menanggapi dengan anggukan kepala. Beberapa murid nampak mulai merenggangkan otot kaki.
Tetua Rasmi maju ke depan setelah sambutan dari Tetua Genta.
"Baiklah. Karena sudah cukup siang, jadi aku akan langsung mengatakan bahwa kali ini hanya ada dua sang juara. Kalian sudah menantikan hadiah yang akan dimenangkan para juara, bukan? Tenang saja. Kali ini hadiah lebih menarik dari acara tahun lalu." Senyuman Tetua Rasmi tak pernah pudar. Dia kemudian menjentikkan dari yang mana sebuah kotak besar muncul di hadapannya.
Para murid yang melihatnya serentak bertepuk tangan. Kebosanan mereka tiba-tiba hilang saat mendengar kata 'hadiah'. Tidak sabar melihat isi hadiah. Tebakan-tebakan mereka, serta saling sahut menyahut siapa yang akan menang bergemuruh di lapangan latihan itu.
Tetua Rasmi terbang, lalu kembali berbicara, "kalian akan terkejut saat melihat isi hadiahnya. Di dalamnya ada tujuh hadiah untuk masing-masing kelompok pemenang. Juara pertama akan mendapat hadiah spesial. Sementara juara ke dua akan mendapat lima ribu keping emas. Tidak ada juara ketiga dan seterusnya seperti tahun lalu."
__ADS_1
Saat itu juga para peserta menjadi tegang sendiri. Menjadi juara satu di antara banyaknya kelompok?! Kemungkinan menang sangatlah kecil di benak beberapa kelompok. Apalagi mereka harus melawa para Senior yang jelas lebih unggul dalam hal kekuatan dan pengetahuan. Persaingan ini terlalu ketat!
Tetua Rasmi menjelaskan bahwa juara satu ini mendapat hadiah tak terduga. Ketika semua orang merasakan detakan jantung yang berpacu lebih cepat, tak sabar melihat isi hadiah. Tetua Rasmi melebarkan jari-jari tangan yang mana saat itu juga tujuh benda melayang.
Para murid tersentak, detik berikutnya berteriak kesenangan karena hadiah kali ini benar-benar istimewa.
"Seperti yang kalian lihat. Ketujuh benda ini merupakan pusaka tingkat menengah."
Benda pusaka adalah benda yang berkekuatan tinggi sesuai tingkatan. Benda pusaka ini bisa dibilang cukup terkenal, terlebih sulit untuk mendapatkan benda pusaka ini. Benda pusaka memiliki beberapa tingkatan, yaitu tingkat bumi, tingkat menengah, dan tingkat langit. Setiap tingkat pusaka memiliki tingkat kekuatan juga.
Tetua Rasmi dengan bangga kembali berbicara, "pertama ada benda pusaka bernama Busur Es, Kapak Phoenix, Tongkat Pusaka, Seluring Ketenangan, Periuk Pusaka, Senjata Lotus, dan Teratai Penghisap Energi Murni."
Benda-benda pusaka itu melayang satu demi satu. Memperlihatkan aura kekuatan yang terpancar. Para murid dibuat terpukau dan tak sabar memenangkan acara.
Termasuk Aray sendiri yang menelan ludah karena melihat barang-barang pusaka itu. "Mengerikan. Bagaimana jika kita yang memenangkan juara?"
Perkataan Aray disambut gelengan kepala teman sekelas. Mereka sama sekali tidak ada harapan. Walaupun Aray telah mengaktifkan kekuatan, tetapi lawan mereka bukan hanya kuat, tetapi juga cerdas. Aray yang melihat ketidakberdayaan semangat teman-temannya dibuat mendengus kesal.
Salah satu murid dari kelas lain yang mendengar perkataan Aray nampak tertawa kecil dan berbicara, "kalian yang menang? Hah, mimpi. Tanpa kekuatan mana bisa menang? Lihatlah, kawan. Mereka memiliki mimpi yang besar tetapi tidak bisa menggapai."
Teman-teman kelompok itu tertawa bersama. Mereka selalu memandang remeh kelas Satu C.
"Bahkan mereka tidak mampu membeli seragam yang lebih baik. Sangat buruk."
Aray mengepalkan tangan. Dia ingin sekali berta*ung melawan murid-murid itu. Namun, dirinya tahan karena tidak ingin mengacaukan jalannya acara. Walaupun sering menjadi bahan cemo*han, akan tetapi Aray masih memiliki hati yang merasakan. Begitu pula dengan keenam teman kelasnya yang hanya menunduk tanpa melakukan apa pun.
"Maka dengan ini bersemangatlah ...!"
Sebuah letusan kembang api di atas serta bunga persik yang berjatuhan memeriahkan suasana. Dengan ini pertandingan telah disahkan.
__ADS_1
"Baiklah. Dengan ini pertandingan persahabatan dimulai ...!"
Serentak tepuk tangan dari para murid dan guru bergemuruh ramai memicu semangat para peserta.