
Dan benar, kabar mengenai Siluman Naga Air di Laut Hitam serta seorang gadis muda yang dapat mengendalikan siluman ganas itu tersebar dalam hitungan menit.
Ada yang tidak percaya, tapi banyak saksi mata. Mulut-mulut para penggosip mulai membahasnya. Tidak sedikit orang yang ingin bertemu langsung dengan si gadis pengendali Naga Air.
Sayang sekali, gadis berambut putih belum sampai di Pelabuhan Kota Pelita. Dia sekarang bahkan entah berada di kedalaman laut berapa.
Di depannya, Siluman Naga Air masih senantiasa memandangi dari bawah sampai atas. Rasa ketidakpercayaan masih membayangi.
"Tapi itu sudah sangat lama. Bagaimana mungkin anak ini adalah anak dari si Langit dan Dewi?!" Siluman Naga Air membuang napas kasar. Bahkan kepala sekarang terasa pusing memikirkan hal yang tidak pernah dia pikirkan selama hidup. Dia kembali membatin, "wajah serta rambut mirip dua orang itu dan ada dua aura yang saling berhubungan. Haih ...! Tsk. Jika itu benar ... tamat sudah dunia akan kembali di guncang perangkat."
Dia melihat mata Amdara yang belum kembali seperti semula. Naga Air buka suara, "Hei! Dari mana kau mengira orangtuamu adalah Langit dan Dewi?"
Pertanyaan sensitif. Tapi Amdara menjawab tanpa ragu, "kekuatan keturunan berupa angin, dan sudah dipastikan oleh sesepuh Klan Ang. Langit berasal dari Klan Ang."
"Dewi ... ibuku bernama Dewi. Itu yang dikatakan oleh Are."
Jawaban tersebut membuat Siluman Naga Air terdiam sekaligus terkejut. Kumis panjang nya berkedut ke atas. Entah mengapa jawaban Amdara terasa sangat kurang.
"Dengar, anak manusia. Si Langit memang dari Klan Ang. Dan apa katamu? Seorang sesepuh Klan Ang sudah memastikan kau adalah keturunan Langit?" Naga Air berdecih. Setelah nya kembali buka suara dengan nada seolah mengejek, "apa hanya karena kekuatan anginmu hebat, lalu sesepuh itu mengatakan bahwa kau adalah keturunan Langit?"
Amdara masih diam tidak menjawab. Siluman bersisik hijau muda tersebut bergerak mengelilingi gadis berambut putih.
"Dengar anak manusia kecambah! Kau percaya dengan perkataan si Are bahwa kau adalah anak dari Dewi? Hah! Yang benar saja. Kau berpikir terlalu dangkal, atau kau tidak berpikir saat mereka mengatakannya?"
Siluman Naga Air menghentikan ekor ke belakang. Gelombang besar tercipta dengan suara khas dari air. Dia berhenti di samping anak manusia.
"Dasar bocah dungu. Kau punya bukti apa pula membuat ku percaya?"
__ADS_1
Siluman Naga Air tersenyum remeh. Dari penjabarannya, sudah terlihat bahwa dia mengetahui siapa Langit dan Dewi. Dia bahkan tidak menyadari kepalan tangan terlihat dari lawan bicara.
Amdara menoleh. Ada perasaan kesal, tapi dia tahu Naga Air pasti tidak mempercayai begitu saja. Gadis tersebut awalnya memang tidak percaya dengan penjelasan Are mengenai Dewi, ibunya. Tapi saat Are menjelaskan, Amdara langsung percaya. Mungkin Are bisa saja berbohong karena dia bukanlah manusia. Tapi hatinya memaksa untuk percaya.
Sementara Sang Langit, Amdara yakin dia adalah anaknya. Sebab penjelasan tiga sesepuh sebelumnya cukup menyakinkan serta diterima akan oleh sesepuh itu sendiri.
Amdara hanya mengandalkan perasaan kuat untuk saat ini. Dia angkat bicara, "apa kau tahu ikatan orang tua dan anak itu sangat erat? Aku menggunakan keyakinan hati. Dan juga penjelasan dari mereka sudah cukup."
Amdara membalikkan badan, menghadap Siluman Naga Air tanpa gentar. Dia tidak perlu menjawab panjang lebar kepada lawan bicara.
Tapi tiba-tiba siluman di depannya tertawa. Gelombang air tercipta di sana. Beruntung Amdara membuat perisai manusiang kuat, walaupun itu hampir retak.
"Kau memang bocah dungu, bebal, bodoh! Apa maksudmu hanya dengan 'keyakinan hati'? Manusia itu sangat pekat akan kebohongan. Kau percaya begitu saja benar-benar membuat ku tertawa!"
"Dan asal kau tahu, orang yang kau sebut bukanlah orang-orang biasa. Jika kau menyebutkan nama orangtuamu di depan para manusia, aku yakin seratus persen mereka akan tertawa tidak percaya sampai dibawa ke akhirat!"
Siluman Naga Air bukan tanpa berpikir mengatakan hal demikian. Saat mendengar nama Langit dan Dewi, dia langsung tahu bahwa orang yang di maksud adalah Legenda Sang Langit dengan kekasih nya. Pasal nya nama tersebut tidak pernah digunakan oleh para manusia. Bisa dikatakan nama Langit dan Dewi hanya satu, tidak ada yang berani menamai anak manusia yang baru lahir dengan nama tersebut, bahkan orang jahat kelas kakap. Tentu nya dengan alasan besar.
Telinga Amdara sampai berdengung mendengar suara jelek tawa subjek yang senantiasa mengelilingi. Dia mengeluarkan sebuah tusuk rambut biru berbentuk bangau emas. Aura agung dari tusuk tersebut menyeruak begitu cepat. Tetua Bram yang mengatakan bahwa ini adalah milik ibunya saat bertemu Tetua Bram.
Siluman Naga Air sampai berhenti di depan Amdara. Memperhatikan benda di tangan subjek di depannya dengan serius.
Amdara juga melepas Ikat rambut berukir naga pemberian Are, yang mengatakan ini adalah peninggalan dari Dewi, ibunya.
Dua barang peninggalan sang ibu. Detik berikutnya cahaya hitam, emas, dan putih saling bertubrukkan mengelilingi daksa Amdara. Dia baru sadar, melihat kedua tangannya. Terkejut, serta bingung apa yang terjadi.
Siluman Naga Air sampai membuka mata besar nya lebar-lebar. Keterkejutan terpampang jelas. Menatap bergantian antara ikat rambut, tusuk rambut, dan Amdara.
__ADS_1
"Dari mana kau mendapatkannya?!"
Siluman Naga Air tahu benda itu. Dia menatap tak percaya anak manusia yang dia sebut 'dungu'.
"Seseorang memberikannya padaku dan mengatakan ini milik ibu."
Spontan Naga Air menahan napas. Menatap lekat-lekat cahaya itu. Mulut pedas dan cerewet mendadak sulit berbicara. Tapi mendengar pertanyaan Amdara membuatnya gatal kembali bersuara,.
"Sebenarnya cahaya apa ini?"
"Itu adalah kekuatan dari benda tersebut. Aura dan kekuatan ini asli. Itu ... memang benda milik nya."
"Apa?"
"Hmph. Dua benda itu adalah milik Dewi. Aku yakin itu. Ingatanku masih tajam walau waktu sudah berlalu terlalu lama."
"..."
Sesaat Amdara melihat mata Siluman Naga Air menurun. Aura kesedihan terasa begitu saja. Penjelasan Naga Air membuat Amdara mulai tertarik untuk bertanya. Ini adalah kesempatan langka.
"Apa kau mengenal orangtuaku?"
Satu pertanyaan berhasil lolos dari bibirnya. Siluman Naga Air melirik, sebelum tubuhnya berlalu begitu saja dari haradapan Amdara.
Sontak Amdara berkedip, matanya berubah menjadi biru seperti semula. Dia mengikuti Siluman Naga Air, berharap mendapatkan jawaban.
Satu menit berlalu, Naga Air belum juga buka suara. Namun, Amdara tidak ingin memaksa jika memang lawan bicara tidak ingin menjelaskan. Bagi nya, Siluman Naga Air yang mengetahui nama Langit dan Dewi sudah lebih dari cukup.
__ADS_1
"... aku sangat mengenal mereka. Mereka sudah kuanggap sebagai keluarga."