
Menyusuri jalan kota sambil menikmati pemandangan memanjakan mata memang sama sekali tidak membosankan. Beberapa jenis burung mengepakkan sayap menyebrangi rumah-rumah sambil mengeluarkan suara khas. Suasana damai walau ramai dirasakan oleh Amdara.
Dia menarik udara, masuk ke hidung hingga paru-paru. Kemudian mengeluarkan napas perlahan-lahan. Sejenak pikiran nya seolah tidak ada ketegangan. Perasaan tidak enak sebelumnya sempat hirap sebab terbawa suasana indah kota Ujung Bumi.
Dirinya melihat beberapa orang remaja mengenakan pakaian Akademi berjalan santai. Nampak nya mereka juga baru sampai di kota ini. Amdara mengikuti salah seorang murid Akademi Nirwana Bumi.
Murid perempuan tersebut berumur tiga tahun lebih tua darinya. Berpenampilan cukup mencolok, dengan rambut merah panjang terurai. Tinggi, dan cantik di pandangan siapa pun.
"Dia akan ke mana?"
Amdara mengerutkan alis saat melihat murid itu berjalan berbelok dari gedung tinggi. Tanpa rasa curiga, Amdara terus mengikuti dengan langkah pelan.
Amdara hanya memejamkan mata sedetik, tapi orang yang diikuti di depan tidak ada. Sontak Amdara menautkan kedua alis bingung dan langsung menghentikan langkah.
Lesatan serangan merah dengan kecepatan tinggi nyaris mengenai wajah dari samping jika Amdara tidak segera menghindar. Angin berhembus begitu kencang, sampai memain-mainkan rambut putih nya.
Aura menekan langsung terasa begitu sesosok orang yang di ikuti tiba-tiba muncul tepat lima langkah dari gadis muda itu.
Netra biru dan netra merah saling bertemu. Tidak ada yang buka suara. Tetapi tatapan mata keduanya menyiratkan sesuatu.
"Penguntit."
Kata gadis berambut merah itu. Menatap tajam Amdara, tidak suka. Aura yang keluar jelas diperuntukkan untuk menekan lawan bicara. Tangannya bahkan sampai mengeluarkan api merah, per tanda siap menyerang kembali.
Mereka masih berada di kota, walau ada orang yang melihat serangan barusan. Akan tetapi tidak ada dari mereka yang berniat melerai. Seolah itu memang bukan urusan mereka.
Angin berhembus memainkan pakaian serta cadar yang dikenakan Amdara. Gadis muda tersebut masih melihat dengan tatapan tenang.
Amdara menaikkan alis ketika subjek di depan mengatakan satu kata itu. Dengan polos Amdara malah bertanya, "siapa?"
"Kau."
"Aku bukan penguntit."
"Lantas?"
"Aku hanya mengikutimu."
Gadis berambut merah itu diam, tapi masih menatap lebih tajam. Api di tangannya mulai berkobar lebih besar. Semakin besar, sampai sebuah bola api tercipta dan langsung dia lesatkan ke arah Amdara.
Blaaar!
__ADS_1
Amdara dengan cepat menghindar, tapi lawan nya kali ini lebih gesit dan melakukan serangan beruntun.
Api berkobar pada salah satu pohon. Pertarungan kedua nya terjadi sangat cepat. Amdara masih terkesan menghindar dan membuat perisai pelindung, belum mengeluarkan kekuatan besar nya.
Responnya membuat lawan geram dan semakin gencar menyerang. Gadis berkekuatan api itu bernama Fie.
"Kau akan kuhabisi."
Kalimat itu masih sempat didengar oleh Amdara. Fie membuat bola api amat besar di atasnya dengan kedua tangan terangkat. Matanya menatap tajam Amdara. Bola api semakin membesar, dalam kecepatan tinggi dia lempar ke arah lawan.
Amdara masih terlihat tenang. Perlahan mengulurkan tangan kanan, membuat perisai pelindung berkekuatan es. Saat bola api hampir menyentuh, perisai pelindung segera membesar.
BAAM!
Asap mengepul di udara. Amdara benar-benar membuat perisai pelindung es, ketika kekuatan kedua lawan bertemu, ledakan besar tak terelakkan.
Bak kembang api meletus ke udara. Pecahan es, tapi ketika bersentuhan dengan benda langsung meleleh. Kejadian itu menarik perhatian banyak orang.
Fie membukatkan mata sempurna. Tidak percaya kekuatan besarnya dapat ditahan. Dia semakin mengepalkan kedua tangan kuat.
"Sialan. Apa yang kau inginkan?"
Fie tidak bisa tahan bertanya lagi. Api di sekelilingnya semakin membara.
Amdara dengan tenang buka suara. Dan tanpa diduga membungkuk, memberi hormat.
"Maafkan Junior yang bertindak lancang dengan mengikutimu, Senior. Tapi sungguh aku tidak memiliki niat buruk."
Kontan ucapannya membuat lawan bicara mengerutkan alis bingung.
Amdara kembali melanjutkan, "aku Luffy, dari Akademi Magic Awan Langit. Aku sedang mencari letak Akademi Nirwana Bumi. Melihatmu memakai pakaian Akademi tersebut, kupikir mengikutimu akan membawaku ke sana."
Amdara kemudian berdiri tegak setelah menjelaskan. Angin meniup-niupkan rambut coklatnya.
Fie menggemerutukkan gigi kesal. Tidak percaya dengan perkataan subjek di depan ini. Dia kemudian berkata, "kau pikir aku percaya? Hei, katakan saja. Dari kelompok apa kau di kirim?!"
Amdara berkedip, mendengar ucapan lawan bicara. Dirinya menarik napas panjang. Jika tidak segera diselesaikan, masalah akan semakin besar.
"Apa kau tidak melihat pakaian khas dari Akademi Awan Langit ini?"
Fie menaikkan sebelah alis. Memperhatikan pakaian lawan jenis. Api di sekeliling mulai reda, tapi Tetap saja Fie merasa sangat kesal.
__ADS_1
"Senior, sekali lagi aku meminta maaf."
"Hmph. Pergilah. Jangan muncul di hadapanku lagi atau kau tidak akan selamat."
"Terima kasih. Senior, bisa kau tunjukkan di mana Akademinya?"
"Tch." Fie melipat kedua tangan depan dada, angkuh. Dia berkata dingin, "ikuti jalan utama itu. Kau akan menemukannya."
Amdara memberi hormat dan lantas mengucapkan terima kasih. Dia segera pergi ke arah yang ditunjuk Fie.
Keadaan sudah lebih baik, bahkan pohon yang sebelumnya terbakar kini mulai hidup kembali karena seorang petugas menggunakan kekuatan untuk menghidupkan kembali. Jadi, ketika terjadi pertarungan, dan ada kerusakan maka seorang petugas langsung membersihkan dan membereskan agar kota terlihat baik-baik saja setelahnya.
Amdara masih mengikuti jalan utama. Dirinya menghela napas lega karena masallah barusan dapat diselesaikan tanpa masalah besar.
Tidak berselang lama, sampai gedung besar menyambut kedatangannya. Bahkan gerbangnya tinggi nan lebar. Gedung tersebut nampak kokoh dan mewah.
Begitu Amdara melewati gerbang, dia sampai menahan napas saking terpananya melihat Akademi Nirwana Bumi ini. Luasnya sepertinya melebihi besar gedung Organisasi Elang Putih tiga kali lipat.
Amdara sekarang seolah hanya seperti semut di rumah raksasa. Dirinya mulai terbang untuk melihat sekeliling. Banyak murid Akademi Nirwana Bumi yang berlalu-lalang, termasuk murid dari Akademi lain yang akan mengikuti turnamen.
Amdara tersenyum tipis. Semua berjalan begitu saja. Banyak hal yang tidak pernah dia duga.
"Aku tidak menyangka sudah sampai sejauh ini. Sebentar lagi, aku akan benar-benar mengetahui siapa orang tua ku."
Perasaan tak sabar itu menyelimuti hati kecilnya. Sedikit lagi, dia akan benar-benar mengetahui siapa sebenarnya orangtuanya. Entah baik ataupun tidak. Setidaknya, dia sudah berusaha keras.
Angin melambai-lambaikan ikat rambut Amdara. Dia mulai terbang ke arah depan, mencari informasi tentang si pencabut Benang Merah.
Di sana, gadis muda itu merasakan kekuatan murni. Bahkan terasa sangat segar dan menyejukkan. Perlahan dia menyerap kekuatan murni.
Keadaan di Akademi Nirwana Bumi dari luar terlihat baik-baik saja dan terkesan damai. Tapi tiba-tiba saja dari arah atas, siluet hijau menyambar tanah hingga hancur membentuk lubang besar. Sontak kejadian itu mengagetkan semua orang, termasuk Amdara yang langsung membuat perisai pelindung.
Serangan nyasar berupa petir dari langit juga hampir merusakkan salah satu pilar Akademi. Beruntung, ternyata gedung Akademinya memiliki pelindung kuat. Hanya saja, ada beberapa titik tidak diberi perisai pelindung.
"Menghindar!"
Seruan seseorang kontan direspon baik oleh orang-orang yang berada di sekitar. Dua orang berpakaian khas Akademi Nirwana Bumi langsung melesat turun saat salah satu serangan meleset.
Dua murid perempuan Akademi tersebut kembali saling menyerang dengan kekuatan dahsyat tanpa mempedulikan sekitar. Sambaran petir dan kekuatan aneh kembali bergesekan, menimbulkan ledakan besar dan angin kejut.
Blaaar!
__ADS_1
Orang-orang yang melihatnya segera menghindar. Tidak ingin ikut campur karena sebagian tahu konsekuensi jika sampai terlibat.
Bahkan murid lain Akademi Nirwana Bumi juga tidak ada yang menengahi kedua gadis remaja yang masih bertukar serangan.