
Di pelabuhan kota Pelita, masih banyak orang yang menunggu kedatangan Siluman Naga Air dan gadis muda berambut putih yang tidak lain telah mengendalikan Siluman ganas itu.
Mereka sama sekali tidak berhenti menunggu. Sama seperti tiga orang berjubah dengan caping berwarna biru tua yang tengah makan sore di sebuah penginapan.
"Sial. Waktu kita dibuat sia-sia untuk menunggu gadis berambut putih."
Salah satu dari mereka menenggak minuman. Sangat kesal sebab seperti ditipu.
"Hmph. Sebaiknya kita cari di Akademi Nirwana Bumi. Kemungkinan gadis itu berasal dari sana, berhubung murid di sana memang monster." Rekan wanita menanggapi. "Atau bisa saja dia mengikuti Turnamen Magic Muda di sana."
Pria itu mengangguk setuju dan berkata, "misi kita juga ada di Akademi itu. Jika bisa menangkap keduanya, Tuan akan memberikan imbalan tambahan. Benar-benar keberuntungan."
"Jangan bertindak gegabah. Kita harus ingat misi dari Tuan. Walaupun mendapat mangsa berkualitas, kita harus tetap berhati-hati. Gadis itu akan merepotkan saat tidak ditangkap dengan cerdik."
Satu pria sebagai rekan itu buka suara. Bawaannya tenang, tidak seperti dua rekannya ini. Dia berpikir ke arah lain. Akademi Nirwana Bumi sudah jelas memiliki penjagaan yang ketat. Akan sulit keluar jika sudah masuk.
"Masuk ke Akademi Nirwana Bumi sama seperti masuk ke sarang naga. Jika kita bisa masuk, akan sulit keluar dengan membawa mangsa," ujarnya penuh pemikiran.
"Kita lalukan sesuai perintah Tuan dahulu. Jika berhasil, menangkap gadis itu tidak terlalu merepotkan."
Kedua rekannya menatap penuh keyakinan dan mengangguk mengerti. Rencana mereka harus dibuat benar-benar matang.
*
*
*
Di Akademi Magic Awan Langit, lima murid baru saja keluar dari gerbang Akademi. Mereka mengenakan pakaian Akademi tersebut. Akan tetapi dalam jarak tiga puluh meter, pakaian itu berganti dengan jubah hijau tua. Mereka juga mengenakan caping dengan kain hitam untuk menutup wajah.
"Menyebalkan. Aku sedang asik membuat ramuan. Tapi kau malah menyeret ku pergi."
__ADS_1
Suara disertai hembusan napas kesal dari laki-laki muda itu membuat rekan di sampingnya menoleh dan spontan menoyor kepala teman di sampingnya.
"Misi ini diberikan Tua Bangka itu! Jika kita tidak segera melaksanakan, kepalamu hilang dalam sekali kedip!"
"Aduh! Itu misi dari ayahmu sendiri, Aray. Harusnya kau jalankan sendiri!"
"Hei, Atma. Hati-hati dengan mulut busukmu itu. Kau juga harus ikut karena kita satu Organisasi! Hmph. Jika tidak mau, pergi saja ke Akademi itu lagi sana!" Aray mengusir Atma kesal.
Atma mengerucutkan bibir kesal, tidak bisa membantah. Dia menoleh ke belakang dan bertanya, "ini persiapan saja. Aku membuat racun mematikan. Ledakan pil ini jika kalian dalam keadaan membahayakan."
Atma melemparkan enam pil yang berisi racun jika diledakkan kepada ketiga orang rekan. Dia juga memberikannya kepada Aray dengan kesal.
"Hmph. Tanpa ini pun, aku bisa menghabisi musuh dalam satu menit," ujar salah satu rekan Atma yang terlihat menimang-nimang benda di tangan.
"Kau sia-sia memberikan ini padaku, Atma. Hujan yang kubuat bahkan bisa melumpuhkan banyak orang hanya terkena setetes airnya," ujar satu orang lagi. Dari suaranya, jelas dia perempuan.
Atma yang mendengar suara rekan-rekannya berkedip sebelum berdecak kesal. "Banyak omong! Kalian tahu berapa banyak tanaman berharga yang kuambil tanpa izin itu?! Dan berapa lama aku memurnikan racun berkualitas ini?! Kalian harusnya bersyukur karena aku bisa membuat racun hebat. Tidak akan ada yang bisa menemukan di pasar mana pun!"
"Berhenti mengoceh. Lebih baik kita segera ke tempat tujuan. Nada, buat 'lubang kematian' sekarang," kata rekannya yang sedari tadi diam. Suaranya lebih dewasa dari yang lain. Bahkan auranya lebih berwibawa dari yang lain.
Nada mendengkus, dan kemudian mengangguk. Kelima murid Akademi Magic Awan Langit itu memang tidak lain rombongan Aray. Mereka sekarang berada di tempat yang cukup sepi karena matahari mulai tenggelam.
Mereka masih terbang, tetapi berhenti ketika tangan Nada bergerak-gerak aneh sangat cepat. Dia merapalkan mantra tidak kalah cepat.
Angin berhembus membawa aroma tidak enak. Sampai-sampai Atma, Aray, Dirgan, dan termasuk Rinai menutup hidung masing-masing spontan.
"Aku masih belum terbiasa dengan bau bangkai ini. Sialan. Apa dia tidak bisa mengubahnya menjadi harum?!" Satu tangan Atma memegang perut. Mulai merasakan mual. Sementara satu tangan lagi menutup hidung dan menahan napas.
Asap ungu kehitaman muncul dari dalam tubuh Nada, menambah bau tidak enak. Teman-temannya langsung memundurkan langkah. Selang dalam waktu sepuluh menit, perlahan asap itu membentuk sebuah lingkaran cukup besar di atas kepala.
"Aray, di mana lokasinya?"
__ADS_1
Nada bertanya. Kali ini tidak ada tawa cekikikan yang biasa. Bahkan suaranya terdengar dingin.
Aray menyodorkan tangan kanan. Cahaya hitam muncul, membentuk bulan. Tangannya dia letakkan di dahi Nada tanpa membuka kain pada caping.
"Dekat hutan. Tidak jauh dari Akademi Nirwana Bumi."
Nada menutup mata. Mulai berkonsentrasi penuh saat mendengar perkataan Aray. Butuh waktu lima belas menit untuk Nada buka suara.
"Ditemukan."
Di balik caping dengan kain, Nada menyeringai seram. Detik berikutnya, tubuhnya tersedot ke dalam lubang itu. Bau anyir langsung menyeruak.
Berikutnya Aray yang berdiri di bawah tempat yang Dirgan sebut sebagai 'Lubang Kematian'. Detik selanjutnya hal yang sama terjadi. Dia menghilang. Kembali bau anyir tidak biasa muncul.
Rinai, dan Dirgan melakukan hal yang sama secara bergantian. Sekarang giliran Atma yang ragu.
"Orang seperti apa yang harus kami serahkan, Tuan?" Atma menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Dia masuk ke lubang kematian. Setelahnya, lubang itu menghilang diterpa angin. Namun, bau bangkai dan anjir masih berada di sekitar sana.
Lima murid yang menduduki kelas Satu C, yang pernah dikucilkan itu sudah berubah. Baik dari cara bicara, maupun aura yang mereka keluaran. Bahkan pernah sekali, seorang murid dari kelas lain yang tidak sengaja menumpahkan air ke pakaian Nada, reaksi gadis itu di luar dugaan. Tanpa peringatan, mencekik murid itu sampai hampir kehilangan nyawa andai Rinai tidak bertindak.
Dari guru-guru maupun Tetua, mereka belum menyadari perubahan pada mereka. Padahal pernah ada yang melaporkan, tetapi mereka mengabaikan. Masalah sepele itu, tanpa mereka sadari mulai merambat ke masalah lebih besar.
*
*
*
"Hei, kembali lah. Kembali lah kemari. Kau hanya merasakan kesakitan di sana. Kemarilah. Arrrggghh!"
Sebuah suara mengerikan terus terdengar di telinga Amdara. Dia sampai menggigit bibir bawah hingga berdarah. Sadar atau tidak, tapi tubuhnya mulai kesulitan berkonsentrasi dan memusatkan kekuatan pada inti spiritual. Bukan hanya sedang diganggu suara mengerikan itu, tetapi tubuhnya yang sakit luar biasa juga.
__ADS_1