Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
241 - Sampai di Tempat Tujuan


__ADS_3

Di tempat yang sangat jauh. Gedung hitam besar terlihat menyeramkan karena di kelilingi oleh pepohonan menjulang tinggi. Gedung yang membentuk lingkaran serta ukiran aneh di bagian atas nampak berbeda. Bahkan ada aura mencekam dari gedung tersebut yang menyeruak.


Di salah satu ruangan paling besar, seseorang yang mengenakan topeng hitam tidak berbentuk tengah duduk di singgasana kebanggaannya. Kaki kanan nya dia letakkan di atas kaki kiri. Jari-jari tangan bergerak mengetuk-ngetuk paha. Tidak terlihat ekspresi pria tersebut, akan tetapi aura yang dia keluarkan sangat membuat orang di hadapannya bertekuk lutut ketakutan.


Suasana di ruangan itu sangat sunyi. Tidak ada barang bagus yang terlihat. Hanya satu singgasana itu, dan satu lukisan seorang pria tampan bersama wanita cantik.


Satu lilin sebagai penerang ruangan tersebut tidak cukup untuk memperlihatkan detail ruangan. Api tersebut tiba-tiba saja bergoyang, padahal tidak ada angin yang menerpa.


"Jadi ... anaknya sudah memunculkan diri?"


Suara dari pria yang duduk di singgasana menggema. Suaranya terdengar berat dan menekan.


Orang yang di depannya mengangguk ketakutan dan mengeluarkan suara gugup, "b-benar, Tuan. Dari kekuatan, serta aura nya sama persis. Anak itu sudah memunculkan diri di Negeri Nirwana Bumi. Dari informasi yang bawahanku katakan, anak itu masih lemah."


"Tidak seperti ayahnya saat dulu masih muda. M-menurutku, bagaimana jika kita habisi sekarang?"


Masih dengan gemeter dia memberi pendapat. Pakaiannya adalah jubah dan bercaping dengan kain biru. Untuk membuang napas saja rasanya sangat sulit dia lakukan dihadapan orang bertopeng di depannya. Tentu karena aura yang tidak biasa.


Sang Tuan nya itu diam beberapa detik. Salah satu tangan kanan dia angkat untuk menyangga dagu. Seolah tengah berpikir sendiri.


"Hmph. Menarik. Dia benar-benar membuat seorang anak dengan Makhluk itu." Dibalik topeng, dia menyeringai. Menekan dua kata terakhir. Bibirnya kembali buka suara, "kekuatan ku akan bertambah tiga kali lipat jika menyerapnya. Walaupun dia terlihat lemah, tapi tetap saja dia adalah keturunan langsung dari Langit dan Dewi. Tidak bisa dipandang remeh."


Sesaat terjadi keheningan. Jelas sekali dia mengetahui jelas siapa Langit dan Dewi. Dan anak yang dimaksud tentu adalah Amdara.


Pria yang menggunakan caping tidak berani berbicara. Dia menunggu orang yang duduk di singgasana itu mengeluarkan kalimat kembali.


Pria itu kembali berkata dengan nada sinis, "tapi bukan masalah. Aku akan tetap menyerap dan memusnahkannya dalam sekali serangan."


"T-tuan memang sangat hebat. Tuan pasti akan menjadi manusia paling kuat di dunia."

__ADS_1


"Tentu saja. Sekian lama menunggu, akhirnya kesempatan emas ini datang juga. Tunggu waktu yang tepat, aku akan merancang rencana."


Pria tersebut menjentikkan jari. Detik selanjutnya api lilin padam.


"Sampaikan pada anak ku, dia mendapatkan misi besar."


"Baik, Tuan."


Bawahannya menghilang, di gelap nya ruangan tersebut. Persamaan dengan angin dingin di ruangan berhembus dan membawa perasaan tidak mengenakan bagi orang luar.


Burung-burung di luar gedung tiba-tiba saja mengeluarkan suara keras, terbang cepat ke arah selatan cepat. Sang mencari memang masih menyinari, tapi di sana suasana nya sudah sangat berbeda. Cahaya matahari bahkan sama sekali tidak membawa perasaan tenang.


Angin yang berhembus kembali diterpa wajah Amdara yang melesat cepat menuju Kota Ujung Bumi. Dedaunan akibat hembusan angin berguguran. Sesaat Amdara merasakan tubuhnya menggigil tanpa alasan. Dia menoleh ke belakang, tapi tidak menemukan siapa pun.


"Apa yang akan terjadi? Perasaan ku sangat tidak enak."


Terus terbang dengan kecepatan tinggi tanpa istirahat memang melelahkan. Tapi bagaimana pun, mereka harus segera sampai di Akademi Nirwana Bumi. Tidak ada yang mengeluh, karena baik Amdara, Shi, maupun Cakra mengetahui hal ini dengan baik.


*


*


*


Sebuah gapura besar sudah nampak di depan mata. Tampak agak berbeda karena bentuk nya yang sangat tinggi dan memiliki ukiran bola dunia. Berwarna hijau dan biru terang, lalu hitam yang mewarnai bawah nya. Di atas nya terdapat tulisan Kota Ujung Bumi. Lima bukan penjaga biasa sudah berdiri tegak di depan gapura. Aura yang terpancar bahkan bisa membuat orang biasa gemeter ketakutan. Beberapa orang sudah tampak sibuk mengurus surat izin untuk masuk ke kota tersebut.


Kota Ujung Bumi, merupakan kota yang selalu didukung penuh oleh Kekaisaran. Apalagi Akademi Nirwana Bumi nya yang didirikan langsung oleh Kekaisaran, jelas mendapatkan sumber daya tetap bukan main. Selalu dipandang tinggi oleh Akademi mana pun, bahkan tidak ada yang berani membuat masalah dengan murid-murid Akademi tersebut karena tahu resikonya terlalu besar. Terkecuali orang pemberani sekaligus bodoh dalam melakukannya.


Pagi ini perwakilan dari Akademi Magic Awan Langit baru saja tiba. Keempat orang itu berdecak kagum hanya melihat gapura nya saja yang sudah terlihat megah.

__ADS_1


Tetua Rasmi menarik napas panjang. Dia memperkenalkan kota Ujung Bumi yang sudah di depan mata kepada ketiga muridnya yang juga tengah terperangah.


Shi bahkan sampai melebarkan senyum dan menghembuskan napas lega. Matanya berbinar-binar karena tidak menyangka dia akan memasuki Akademi terbesar di Negeri Nirwana Bumi.


Dia merentangkan kedua tangan. Menikmati Desir angin setelah mencopot topeng. "Ini seperti mimpi. Aku benar-benar berada di tempat ini sekarang Aaah. Aku sangat senang ...!"


Terharu. Shi merasakan kebahagiaan tersendiri di hati.


Sementara Cakra menatap ke depan dengan tenang. Ekspresinya nyaris tidak berubah. Tapi dia juga menarik napas lega. Setelah perjalanan lama, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


Dari depan, kota ini sudah terlihat besar dan indah. Jika masuk ke dalam, Amdara yakin pemandangan nya jauh lebih indah dari kota Pelita sebelumnya. Dia juga membuka topeng untuk menikmati angin. Angin berhembus, menyapa wajah bersih Amdara. Segar dan terasa menenangkan untuk beberapa menit.


Sarang Monster Jenius. Itu yang dia tangkap saat mendengar cerita dari Cakra dan Shi. Seulas senyum terpampang jelas di wajah Amdara, hanya saja tidak ada yang melihatnya.


"Aku harus segera menemukan orang bernama Ketu."


Amdara tidak boleh melupakan niat awal. Dia harus segera mencabut Benang Merah di inti spiritualnya sebelum pertandingan pertama dimulai.


Tetua Rasmi tampak menghampiri penjaga untuk mengurus surat izin masuk. Sementara itu, Amdara, Shi, dan Cakra menunggu dengan tenang.


Shi tiba-tiba merangkul Amdara. Dengan senyuman seolah tidak berdosa dia berbisik, "Luffy, kau jangan lupa ceritakan tentang Naga Air nanti saat di penginapan. Oke?"


Amdara berkedip dan menarik napas dalam. Dia harus mengurus satu hal ini dulu sebelum mencari tujuannya.


"Mn. Tentu, Senior."


Amdara mengangguk pelan. Dia sudah memikirkan jawaban yang tepat.


Shi tersenyum semakin lebar. Dia berucap, "kau memang luar biasa. Aku sangat tidak sabar menunggu ceritamu."

__ADS_1


__ADS_2