
Pertandingan segera dilakukan kembali. Kali ini kelompok kelas kelas Dua A melawan kelompok kelas Tiga Tingkat Unggulan. Mereka saling memberi hormat sebelum pertandingan dimulai. Pertandingan cukup sengit di antara kedua kelompok. Mereka saling melesatkan serangan dengan kerja sama tim yang baik. Bahkan dalam sekejap, arena pertandingan sudah dibuat dibakar habis oleh kekuatan Bena. Penonton dibuat gaduh menonton pertandingan yang menarik tersebut. Apalagi Cakra yang mendominasi pertandingan. Serangannya tidak main-main. Kebanyakan penonton menyerukan nama Cakra.
Kemenangan kelompok kelas Satu C berarti nanti akan masuk langsung ke babak final. Setelah tiga pertandingan lagi selesai, maka babak final akan dimulai. Pertandingan babak final, dilakukan dengan cara siapa pun kelompok yang dengan cepat berhasil mengambil bendera yang telah ditunjukkan, maka dia adalah pemenang. Benderanya hanya ada satu dan untuk itu mereka harus bertarung untuk memperebutkannya.
"Untuk babak final, apa kita bisa memperebutkan juara satu?"
Tiba-tiba saja Dirgan berujar. Dia membuat teman-temannya terdiam memikirkan apa yang dia ucapkan. Mereka tahu bahwa kemenangan selalu didapatkan oleh para senior yang jelas-jelas mereka bekerja sama dengan baik dan memiliki kekuatan serta jurus hebat. Mengalahkan mereka rasanya sangat mustahil.
"Aku tidak yakin untuk babak final ... tapi setidaknya kita sudah masuk babak final untuk pertama kali saja sudah membuat Guru Aneh bangga, bukan?"
Kata Atma mencoba membuat teman-temannya tidak putus semangat. Yang dikatakannya memang benar, tapi ada saja yang mengganjal di benak mereka.
"Tidak peduli seberapa kuat lawan. Intinya jika kita bisa bekerja sama dengan baik dan saling melindungi itu yang lebih penting sejak awal."
Aray menambah. Dia membuat teman-temannya mengangguk setuju.
"Baiklah, apa pun yang terjadi nanti. Kita tidak boleh berpencar," pesan terakhir Dirgan sebelum dia kembali memperhatikan pertandingan. Sepertinya Dirgan tidak lagi memikirkan cahaya yang keluar dari tangannya. Dia tidak ingin mengambil kesimpulan begitu saja.
Amdara sendiri asik memperhatikan pertandingan. Kemenangan pertandingan ini tidak terlalu membuat Amdara berpikir pusing. Walaupun begitu, pikirannya masih tertuju pada perkataan Roh Hitam dalam jurus mata Lasi. Beberapa kali Amdara menghela napas panjang bersamaan dengan Dirgan. Keduanya saling memandang, Dirgan terlihat tersenyum sebelum mengalihkan pandangan.
Entah para penonton sadar dengan kekuatan asing atau tidak ketika tepat Dirgan mengangkat tangan, sebuah kekuatan muncul bersamaan Amdara yang mengeluarkan kekuatan. Bahkan seolah Aray, Atma, dan Rinai tidak melihatnya. Terbukti ketiganya tidak mempertanyakan keanehan pada Dirgan. Entah dengan kelompok kelas Dua I.
"Luffy, apa yang kau rasakan ketika tidak sadarkan diri?"
Dirgan bertanya penasaran dengan yang dialami temannya itu. Amdara menoleh dan berdehem sebelum menjawab.
"Mn, seperti berada dalam mimpi."
Setidaknya itu yang dapat dikatakan Amdara. Dia tidak mungkin mengatakan gambaran-gambaran mengerikan karena jurus Lusi.
Dirgan mengangguk mengerti. Dia kemudian berkata, "Luffy, apa kau tahu pil buatanmu sungguh luar biasa?"
Amdara menaikkan sebelah alisnya. Dia bertanya apa yang membuat Dirgan berkata demikian. Dirgan lalu mengatakan bahwa pil bau yang dibuat Amdara cukup bagus untuk membunuh konsentrasi lawan waktu itu. Sementara pil yang digunakan agar mereka tidak merasakan bau pil tersebut, mereka juga merasa pil itu walaupun aneh tapi cukup keren dan yang terakhir adalah pil penawar Racun Kalajengking Merah.
"Yah, walaupun reaksinya agak lambat. Tapi itu penawar mujarab," kata Dirgan sambil berdecak kagum.
Amdara tersenyum tipis. Dia juga tidak menyangka pil yang pertama kali dia buat berhasil.
"Luffy, apa kau mengetahui banyak mengenai obat-obatan?" Sela Atma yang sedari tadi mendengarkan percakapan mereka.
__ADS_1
Amdara menggeleng dan menjawab tanpa nada, "tidak. Hanya sedikit."
Atma menarik napas panjang. Dia mengutarakan perasaannya yang lumayan tertarik pada obat-obatan atau ramuan. Mendengar Amdara tidak terlalu banyak mengerti, Atma menghela napas kecewa.
"Ya sudah, tidak apa-apa, Luffy."
"Hmph, sejak kapan kau tertarik membuat ramuan, Atma?" Aray tiba-tiba menerobos percakapan mereka.
Atma mendengus kesal mendengar perkataan Aray yang seolah sedang mengejek. Apalagi Aray kini malah menaikkan sebelah alisnya. Atma jadi bertambah kesal.
Dirgan yang sedang memerhatikan menggelengkan kepala. Dia juga tidak tahu ternyata Atma tertarik membuat ramuan.
"Sejak pertama kali melihat tanaman herbal yang tiba-tiba berubah menjadi pil. Bukankah itu keren? Haih, jika aku bisa menjadi alkemis, aku akan membuat ramuan awet muda agar kelak jika aku sudah tua, wajah tampanku tidak akan memudar."
Atma menyentuh kedua pipinya. Membayangkan ramuan yang dia buat benar-benar bisa terjadi. Bukan hanya keuntungan bagi dirinya, tapi bagi banyak orang juga. Apabila berhasil membuat ramuan tersebut, Atma yakin bisa menjadi kaya mendadak.
Seketika tawa Aray pecah membuyarkan bayangan Atma yang mengedutkan sebelah mata melihat Aray tertawa sambil memegang perut.
Dirgan sendiri hanya tertawa kecil, tapi sebenarnya cukup kagum pada Atma yang memiliki pemikiran seperti ini. Amdara sendiri menggelengkan kepala mendengarnya.
Tiba-tiba saja suara tawa Inay juga terdengar. Dia menanyakan kembali apa yang dirinya dengar tidaklah salah? Menurut Inay, apa tidak sekaligus saja Atma membuat ramuan agar tetap tua?
Wajah Atma memerah saat itu juga. Dirinya mencubit pinggang Aray dan berkata kesal, "memangnya ada yang salah, hah?!"
Aray menempis tangan Atma dari pinggangnya. Dia kemudian berdecak kesal.
"Tentu saja yang salah adalah otakmu. Hei, Atma memangnya ada ramuan aneh seperti itu?"
"Tentu saja ada. Aku akan membuatnya suatu saat nanti. Sesuatu yang dibilang mustahil, aku akan mewujudkannya!"
"Ohoho. Benarkah? Jika begitu buatkan aku ramuan agar bisa berubah menjadi naga yang mengeluarkan api!"
Aray malah semakin meledek Atma habis-habisan. Dia sampai mendapat injakan kaki dan gilasan pada kepala oleh Atma yang sudah benar-benar kesal. Tingkah kedua bocah itu membuat teman-temannya yang lain menggelengkan kepala tidak habis pikir.
Ramuan yang dimaksud Atma memang aneh dan sangat mustahil jika dibuat. Namun, ketika diingat-ingat lagi, Amdara seperti pernah membaca mengenai ramuan awet muda di kitab. Tidak hanya itu, bahkan ketika membaca kitab itu, Amdara sampai memegang kepala karena isinya ada yang tidak masuk akal.
Amdara mengeluarkan pil putih yang belum diuji coba. Dia mengedarkan pandangan, mencari mangsa untuk pil buatannya itu. Tatapannya tertuju pada orang yang sedang duduk memperhatikan pertandingan. Senyuman simpul Amdara terbit ketika ide cemerlang muncul.
*
__ADS_1
*
*
Suara Tetua Wan terdengar mengatakan pemenang pertandingan barusan dari kelompok kelas Tiga Tingkat Unggulan Mereka bertepuk tangan setelah beberapa saat melihat pertandingan sengit. Cakra bersama kelompoknya terlihat melayang di udara dengan penampilan memprihatinkan. Melawan kelompok Bena benar-benar merepotkan. Teman-teman Cakra memberikan hormat dan tersenyum senang di sana, sementara Cakra masih dengan tatapan datar.
Amdara yang melihatnya sampai tersedak ketika mata Cakra bertemu dengannya. Seolah keduanya memiliki tatapan mata yang mirip. Amdara tajam sekaligus menenangkan. Sedangkan Cakra menenangkan dan membuat nyaman.
Kelompok berikutnya yang maju adalah dari kelas Tiga Tingkat A, melawan kelas Dua B. Pertandingan dalam sekejap mata berubah seperti pertarungan layaknya musuh. Tidak main-main saat melesatkan serangan beruntun. Melihat pertandingan para senior itu membuat Dirgan, Atma, Aray, Inay, Rinai, dan Nada menelan ludah kesulitan. Akibat dari serangan mereka bahkan mampu menggores luka penonton dari sebuah angin.
Terlihat Mega baru sebentar lagi-lagi sudah terpental karena lawan yang sedang diperhatikan Amdara saat ini hanya dengan menjentikkan tangan, seseorang dalam jarak tertentu terpental begitu saja. Amdara sampai dibuat menahan napas, melihat Roh Hitam itu nampak asik bermain-main di arena pertandingan. Sementara itu, rekan-rekannya malah senang dengan kemenangan yang sebentar lagi didapat.
Amdara mengepalkan kedua tangan. Dalam hati dia harus melenyapkan Roh Hitam itu, atau paling tidak melepaskan Roh Hitam dalam tubuh senior itu.
"Huhuhu. Apa sebaiknya kita mundur saja dari babak final?"
Suara tangisan milik Rinai membuat teman-temannya tercengang. Amdara sendiri yang sedang fokus jadi menoleh. Lantas mereka menggeleng cepat. Menolak saran Rinai.
"Apa yang kau katakan? Kita sudah sampai sejauh ini. Walaupun kekuatan lawan besar, tapi setidaknya kita harus maju melawan mereka nanti," kata Aray diiringi decakan kesal.
Atma mengangguk setuju. Dia mengatakan sebelum mereka mengikuti pertandingan antar kelas ini, mereka tahu resiko apa yang akan dihadapi.
Nada menepuk bahu Rinai. Sambil tertawa dia berkata, "tidak apa-apa. Khakhaa. Kita tahu waktu mundur ketika teman yang lain dalam kondisi tidak memungkinkan."
Inay menambah, "kau jangan takut, Rinai. Kita akan saling melindungi."
Rinai memeluk lutut erat. Membenamkan wajah di antara kedua lutut sambil bergumam, "tapi aku juga ingin melindungi kalian ...."
Gumaman Rinai tidak terdengar teman-temannya yang kini sibuk memperhatikan pertandingan. Mereka sepakat melihat dan memperhatikan kekuatan lawan, dengan begitu mereka bisa mengambil rencana.
Dari kelompok kelas Tiga Unggulan, semuanya bekerja sama dengan baik. Apalagi mereka sangat berbakat, pasti sulit mengalahkan mereka. Dari kelompok kelas Tiga Tingkat A yang baru saja memenangkan pertandingan, yang nyaris mereka semua juga memiliki kemampuan di atas rata-rata.
Menganalisis kekuatan mereka rasanya percuma saja. Amdara sampai hanya bisa mengembuskan napas, kebingungan strategi apa yang bisa mereka buat. Kali ini pikiran Amdara sedang kacau, saat pertandingan nanti, dia akan menargetkan Roh Hitam itu.
Pertandingan selanjutnya segera dimulai setelah tiga jam berlalu bergitu saja. Pertandingan terakhir adalah dari kelompok kelas Tiga Tinggi melawan kelompok kelas Tiga Atas. Mereka nyaris tidak memiliki celah satu sama lain, sehingga sulit membuat serangan telak. Apalagi kedua kelompok itu merupakan senior-senior yang hebat.
"Teman-teman, aku tahu kalian akan berpikir sulit mengalahkan lawan."
Perkataan Dirgan membuat teman-temannya segera menoleh. Mereka memang merasakan hal tersebut, tapi tidak ada yang mengutarakan. Dirgan terlihat tersenyum, dan meminta teman-temannya mendekat. Dia memiliki strategi yang akan mereka gunakan. Bahkan Dirgan terlihat semangat saat mengatakan strateginya. Bukan hanya satu, kali ini Dirgan membuat tiga strategi sekaligus. Teman-temannya melongo mendengar kecerdikan Dirgan saat menjelaskan tugas mereka masing-masing nantinya.
__ADS_1