Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
231 - Bukan Sosoknya


__ADS_3

Amdara membuat es yang membekukan setengah tubuh mereka menjadi hawa panas, tapi es itu tidak mencair. Bahkan Shi terhenyak merasakan hawa panas di depan, kontan dirinya termundur.


"Katakan. Siapa kalian?"


Suasana malam itu cukup menjadi tegang bagi Shi sambil menatap Amdara. Apalagi aura yang keluar dari bocah berambut putih itu sangat berbeda.


"Arggghhh!! Hentikan. Ini sangat panas. Arggh!"


Mereka terus berteriak sampai kerongkongan terasa kering. Salah satu dari mereka sudah tidak berdaya dan nyaris tiada.


Amdara baru menghentikan aksi saat Shi menepuk pundaknya pelan. Wajah Shi terlihat lebih pucat, dan takut pada Amdara yang langsung mendengkus.


"Mereka tidak mengatakan apa pun. Kubunuh saja."


Ucapannya sungguh-sungguh. Tapi Shi tidak setuju, tetap kekeuh untuk mengetahui identitas mereka.


Amdara tanpa ragu langsung menyibak jubah yang menutup wajah mereka dengan cepat.


Wajah pria itu sangat sangar walau sudah hampir sekarat. Terdapat tanda ukiran ular di bagian dahi. Apalagi ternyata mereka malah menyeringai ke arah dua gadis di depan ini.


Shi dan Amdara tersentak. Tidak menyangka lawan ternyata bukan orang biasa. Apalagi darah hijau tua yang tiba-tiba mengalir dari mulut dan mata.


Tatapan mereka tertuju pada bocah berambut putih yang memiliki aura tidak biasa. Seringai mereka bertambah.


Amdara memundurkan langkah. Perasaannya mendadak tidak enak. Seperti ada sesuatu yang lebih kuat sedang mengintainya dan berniat membunuh.


"Hei, gadis. Kau bunuh kami pun, kami tidak akan mengatakan siapa kami sebenarnya," ujar salah satu dari mereka. Seolah kematian bukanlah perkara besar.


Suara tawa pelan mereka kembali. Kali ini musuh dengan tahi lalat di pipi kanan berkata sinis sambil menatap Amdara.


"Kupikir kau lebih kuat, tapi ternyata hanya ini kemampuanmu." Dia memandang Amdara dari atas sampai bawah sambil menggelengkan kepala remeh. "Hah, benar-benar anak payah."


"Kau ...!"


Siluet orange melesat mengarah tepat di mata dia. Darah mencuat ke mana-mana. Suara teriakkan kesakitan membuat Amdara sadar, bahwa Shi telah melakukan hal ini.


Shi bersungut-sungut tidak terima. Dia hendak menyerang lagi, tapi tangan Amdara menghentikan. Padahal jelas dia sebelumnya yang melarang juniornya ini.


Rekan musuh yang melihatnya tampak biasa saja. Mereka malah semakin nyalang menatap Amdara.


"Hmph. Mati pun tidak masalah sekarang. Karena kami telah mengetahui siapa orang yang kami cari," tuturnya.

__ADS_1


"Anak iblis. Nyawamu akan kami renggut dalam waktu dekat," satu lagi tertawa menatap Amdara yang bergeming.


Amdara sama sekali tidak mengatakan apa-apa. Tapi saat ini perasaannya sedikit takut, serta menahan amarah. Tangannya mulai terkepal mendengar penuturan musuh. Tatapan matanya berubah memutih sejenak.


Satu musuh lagi meludah. Dia berkata, "sama seperti ayahmu. Kau juga akan kehilangan kekuatan iblis itu!"


Classsh!


Kepala pria tersebut terpisah dengan anggota badan lainnya. Menggelinding ke belakang. Darah muncrat ke tanah, sampai ke jubah Amdara yang hanya menggunakan jentikan jari untuk memenggal.


Napas Amdara naik turun tidak karuan. Dirinya menghempaskan sebuah ledakan ke arah orang yang telah tidak berkepala.


Tindakannya ini diluar dugaan Shi. Bahkan musuh yang tersisa. Aura membunuh dari Amdara begitu pekat sampai membuat mereka merasa tertekan.


Amdara mendekati musuh dengan mata putih. Dia berucap dingin dan menekan, "kau mengetahui tentang ayahku?"


Musuh beberapa saat mulai menitikkan keringat dingin. Kali ini mereka merasakan adanya ketakutan. Tapi mancoba menyangkal dengan tertawa. Sebuah aura mengerikan terpancar serta sangat menekan.


"Apa kau takut? Kau memang seharusnya kehilangan kekuatan. Ayahmu? Cih. Bukankah dia adalah pembawa aib bagi man---akkhh!"


Tercekik lehernya oleh tangan Amdara sendiri. Aliran kekuatan begitu dahsyat masuk ke dalam tubuh musuh yang tercekik. Wajahnya mulai menghitam, dengan suara tertahan kesakitan.


Sama halnya dengan Shi yang termundur. Dia juga merasakan aura tidak biasa serta ketakutan yang mulai merambat. Tangannya sontak menutup mulut yang terbuka, terkejut. Amdara seperti bukan sosok yang pernah dia lihat. Gadis berambut putih ini terlihat seperti sosok yang kejam, dan berdarah dingin.


"Mulut busuk."


Dalam sekali cekikan lebih kuat, Amdara berhasil memutuskan urat nadi dan organ tubuh itu dari tempat asalnya. Darah muncrat mengenai wajah dan jubah, bersamaan suara teriakkan tiga bocah.


Dia menurunkan tangan. Sejenak menatap tangan kiri yang penuh darah segar. Dia memejamkan mata dan membuka kembali dengan warna mata biru.


Melirik satu musuh tersisa, dalam sekejap es langsung membekukan seluruh tubuh. Jarinya tergerak sedikit, menghancurkan tubuh beku itu.


"Omong kosong."


Gigi bergemerutuk keras. Tangan terkepal kuat dengan pandangan mendongak menatap langit malam. Perasaannya sedang dilanda keanehan, begitu pula dengan pikirannya saat ini.


Api Biru segera membakar semua tubuh musuh sampai habis menjadi abu dalam beberapa detik. Sangat dahsyat kepanasannya, melebihi panas dari kekuatan Shi.


Shi menatap Amdara gemetar. Menelan ludah sangat sulit. Melihat kejadian di depan mata sendiri membuatnya syok berat. Padahal dia pikir, Amdara anak baik. Tidak pernah terpikir olehnya tentang kejadian malam ini tidak akan terlupakan baginya.


Shi menarik napas pelan dan memberanikan diri berbicara.

__ADS_1


"L-luffy, tidak seharusnya kau melenyapkan mereka semua. K-kita."


"... Maaf." Amdara menunduk, berjalan ke arah lain. Tanpa peduli bagaimana tiga bocah yang masih ketakutan. Dirinya berkata dingin, "lanjutan perjalanan. Di sini hanya membuang waktu."


Dia melesat cepat tanpa menghiraukan ekspresi Shi. Diikuti oleh Api Biru di samping, Amdara tidak menoleh ke belakang. Dia terbang sangat cepat, melebihi kecepatan sebelumnya.


Terbang cepat, menurutnya sangat baik untuk kondisi pikiran dan perasaan yang tengah kacau.


Saat ini Shi hanya bisa membuka mulut lebar tidak habis pikir.


"A-apa yang sebenarnya terjadi pada gadis kecil itu?"


Dirinya mencoba menenangkan diri. Melirik tiga bocah yang ketakutan. Dia pergi ke sana dan tanpa bertanya mengajak mereka untuk melanjutkan perjalanan.


"T-tidak."


Tolak salah satu gemetaran sampai bersimpuh. Dia menggelengkan kepala, tangisnya tidak kunjung berhenti walau temannya mencoba menenangkan.


Shi menarik napas dalam. Walau dia sudah menjadi gadis dewasa, dan terbiasa melihat darah, tetap saja pelenyapan barusan cukup menguras mental.


Shi berjongkok, dan menarik senyum paksa. Dengan suara lembut berucap, "tidak apa-apa. Dia sebenarnya gadis baik."


Mereka kontak mendongak dan bertanya, "b-baik? Apakah membunuh adalah perbuatan baik?"


Shi mengedipkan mata dan berdehem. Dirinya berkata lagi tanpa pikir panjang, "nak, kalian harus tahu dunia adalah tempat yang kejam. Tidak ada tempat untuk orang tidak berlumur darah. Tidak semua yang berlumur darah adalah orang jahat. Apa menurut kalian orang-orang berjubah hitam yang telah membunuh pria itu ...."


Shi menunjuk satu pria tergeletak tidak bernyawa. Semua pandangan mengarah ke sana.


"Tidak pantas mendapat pembalasan?"


Ketiga bocah langsung tertunduk. Pikiran mereka mulai berubah. Terdiam, memikirkan ucapan Shi.


Beberapa saat Shi juga diam. Membiarkan mereka berpikir sendiri. Dirinya berdiri, dan berkata, "apa yang akan kalian lakukan untuknya sekarang?"


Bocah-bocah itu memutuskan untuk mengubur pria tersebut yang ternyata adalah guru mereka. Shi juga baru mengetahui bahwa mereka juga adalah peserta Turnamen Magic Muda dari sebuah sekolah kecil di desa.


Nama dari mereka adalah Habi, Jero, dan yang paling muda adalah Ici.


Seseorang dari arah belakang baru saja mendarat setelah mayat telah terkubur. Shi dan ketiga bocah menoleh ke belakang.


"Cakra?"

__ADS_1


__ADS_2