
Di sisi lain, Drake berhasil membuat Ai menghantam ke tanah dengan kondisi cukup parah. Air terjun sudah mulai memanas akibat kekuatan Drake.
Drake berjalan menuju Ai yang berusaha bangkit.
"Jangan remehkan aku, Ai. Di dunia manusia, kekuatanku memang berkurang. Tapi di dunia kita, kau lemah di hadapanku. Dan sekarang pun sama." Drake menendang salah satu batu hingga pecah. Pecahan-pecahan kecil itu mengarah ke Ai yang langsung berubah menjadi arang merah darah. Ai berusaha menangkis, tetapi ada lima kepingan yang berhasil mengenainya dan membuat luka bakar.
"Sebelum aku menghabisimu, cepat kau keluarkan Dara," ancamnya penuh penekanan.
Ai menekan dada yang terasa sakit. Dia menggerakkan gigi marah. Matanya memandang tidak suka ke Drake yang sekarang mulai mendekat.
Kondisi Ai sekarang sudah memprihatinkan. Perlawanan sengit sebelumnya menguras kekuatan. Apalagi tiba-tiba Permata Ai yang dia simpan tiba-tiba tercabut dari akarnya.
Tangannya mengepal kuat. "Sial. Dia memang kuat walau di dunia manusia."
"Kenapa kau membantunya?" tanya Ai tiba-tiba kepada Drake yang menghentikan langkah saat sudah berada di jarak sepuluh langkah darinya.
Terjadi keheningan saat itu juga. Langit telah berubah warna menjadi gelap sempurna. Suasana sepi. Cahaya di air terjun tampak lebih terang akibat kobaran api di tubuh Drake.
"Kau tahu suatu saat nanti perang akan terjadi kembali. Uhuk." Ai menahan rasa sakit di tubuh yang sudah ada beberapa luka bakar. Dia kembali berkata, "dia sudah hidup di lingkungan manusia. Dia memiliki banyak hal di dunia ini. Tapi saat dia tahu siapa jati dirinya, apa mungkin akan menghancurkan dunia manusia. Lalu kembali ke dunia yang tidak pernah dia pikirkan dalam hidupnya?"
"Tidak. Bukan dunia manusia yang akan dia hancurkan. Melainkan dunia kita!"
Suara Ai meninggi. Sangat marah saat ini. "Sekarang dia mendapat Benang Merah. Jika anak itu berhasil menghilangkan Benang Merah, kekuatannya membludak dan hanya dalam satu hari dunia bisa dia hancurkan."
"Lalu?" Drake bertanya. Pertanyaan yang membuat Ai tersentak.
"Jangan biarkan dia melepas Benang Merah. Jika tidak, biarkan dia terkurung dalam dimensiku. Biarkan dia tidak muncul lagi di dunia man---"
Ai memelototkan mata. Lehernya dicengkeram Drake begitu kuat. Dia berusaha berontak. Tapi semua itu sia-sia.
"Sifatmu memanipulasi perkataan tidak pernah berubah. Mulut busukmu sangat bau akibat banyak berbohong." Drake mendengkus.
"Kau begitu yakin dia akan memilih dunia manusia. Kau ternyata tidak tahu apa-apa, Ai. Kau tahu sebab Dara dibiarkan hidup di dunia manusia oleh Nyonya?" Drake menyeringai. Kian mengeratkan cengkraman di leher lawan. Dirinya kembali buka mulut, "itu untuk memancing 'Manusia Sialan' yang telah merebut kekuatan Tuan. Setelah Benang Merah Dara terlepas, aura 'bangsa' kita akan mulai keluar dari tubuhnya. Dan itu jelas mengundang musuh lama. Saat itulah, kita bertarung melawan manusia-manusia sampah kembali."
__ADS_1
Drake melepas cengkraman. Membuat Ai terhempas begitu saja.
"Cepat kau keluarkan Dara. Setelah itu jangan muncul kembali di hadapannya," kata Drake. Setelahnya dia melesat pergi meninggalkan air terjun yang sudah memanas sepenuhnya.
Ai memegang lehernya kesakitan. Bekas cengkraman lawan membuat luka di leher putihnya mulai menghitam. Ai mendengkus kesal. Namun, tetap melakukan apa yang diperintahkan.
Cahaya hitam muncul. Seorang gadis muda terlempar ke arah hutan begitu kencang hingga keluar dari tempat air terjun.
Amdara masih sadarkan diri. Walau tubuhnya sudah dipenuhi luka dan darah keluar begitu deras. Tubuhnya terasa melayang di udara ketika tiba-tiba keluar dari Goa sebelumnya. Dia tidka tahu apa yang terjadi saat ini.
Dia menghantam salah satu pohon. Dia ambruk begitu saja. Tiga Api Biru tiba-tiba saja muncul.
"Nona, apa yang terjadi kepadamu?"
Amdara terbatuk darah. Tubuhnya terasa sangat dingin luar biasa. Beberapa bagian tubuh terkoyak akibat hantaman batu besar.
Kekuatan alam mendadak mengelilingi tubuh. Saat itu juga Amdara dapat merasakan kekuatan kembali. Dia berusaha berkonsentrasi, menyembuhkan luka dalam dan luka luar menggunakan kekuatan alam.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Pandangan Amdara mulai menggelap. Tapi dia berusaha terus sadar.
Pagi datang, saat itu Amdara baru membuka mata perlahan. Tubuhnya tidak terasa sakit lagi karena disembuhkan oleh kekuatan alam. Amdara terbatuk, dan duduk bersila. Mengedarkan pandangan ke sekitar. Masih berada di hutan.
Teringat ketika tiba-tiba dirinya terlempar dari tumpukan bebatuan dan menghantam pohon.
"Tunggu, di mana Permata Air?"
Amdara membuka telapak tangan dan mencari di sekeliling tapi tidak ada. Dia menyebut Api Biru, yang langsung muncul.
"Nona,"
"Di mana Permata Airnya?"
Api Biru mengeluarkan Permata Air dan juga sebuah Bunga Api. Amdara tersentak melihat Bunga Api itu.
__ADS_1
"Kau mendapatkannya?"
Api Biru naik-turun menjawab. Amdara menyentuh Bunga Api yang sama sekali tidak panas. Dia tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
"Nona, cepat bawa ke tempat Ketu."
Amdara mengangguk dan membawa kedua benda berharga dan penting itu melesat.
"Mendapatkan dua benda ini tidak mudah. Jika Tuan Ketu melihat kondisiku yang sudah membaik, dia akan curiga."
Dengan sengaja Amdara melukai tubuh sendiri menggunakan pedang air yang menusuk pergelangan tangan. Darah mencuat begitu saja. Amdara meringis menahan sakit. Tidak sampai sana, Amdara juga membuat luka parah lain.
Api Biru yang melihatnya dibuat terkejut. Namun, tidak mengatakan apa-apa. Api Biru menghilang.
Amdara memuntahkan darah dari mulut. Dia sengaja membuat luka dalam cukup parah. Dia sampai di kediaman Ketu saat matahari sudah berada di atas.
Amdara ambruk di depan kediaman Ketu. Menahan sakit luar biasa di dalam tubuh.
Ketu muncul di depannya. Terlihat tersentak melihat dua benda yang dipegang Amdara saat ini. Dia mengambilnya dengan mata berbinar.
"Tak ku sangka kau mampu mengambilnya. Kau tunggu di sini. Aku akan menyiapkan bahan lain."
Amdara dibuat berkedip melihat reaksi Ketu yang sama sekali tidak khawatir dengan kondisi tubuhnya saat ini. Amdara mendengus. Berbaring, memandang langit biru saat ini.
"Benang Merah ini akan tercabut. Kekuatanku akan kembali." Dia tersenyum sambil memejamkan mata.
Permata Air yang gadis itu dapat memiliki manfaat luar biasa selain untuk dibuat obat. Kekuatan dari Permata Air tidak kalah menakjubkan dan sering diburu oleh banyak manusia. Akan tetapi, karena memang tempatnya dan penjaga dari Permata Air sendiri yang sangat kuat membuat banyak orang yang mulai enggan mencari.
Ditambah Bunga Api juga sama memiliki keistimewaan tersendiri. Ketu tidak serta merta membutuhkan tiga bahan yang sudah dicari Amdara hanya untuk penyembuhan Benang Merah. Bukan hal mudah bagi Ketu melakukan pencabutan Benang Merah sebab akan sangat menguras kekuatan dan ... memiliki resiko tinggi bagi dirinya.
Jika bukan karena 'Ang', Ketu tidak akan melakukan hal ini.
"Jika gadis malang itu sembuh, bisakah kau kembali, Ang?" Ketu menurunkan pandangan sedih. Sedang tangannya masih berkutik melakukan sesuatu.
__ADS_1