
Amdara terduduk di atas kursi. Pikirannya sedang melayang ke arah bagaimana dirinya bisa sembuh tanpa bantuan orang lain. Walau tubuhnya istimewa, rasanya masih tidak percaya bisa sembuh dengan sendirinya luka sebesar itu. Seorang wanita cantik berpakaian hitam terlintas dipikiran Amdara, di dalam mimpi sebelum dirinya sadarkan diri.
Amdara menahan napas. Mengingat bagaimana sikap wanita dalam mimpinya. Dia terus memikirkan wanita di dalam mimpi, sampai hari gelap. Bahkan ketika hendak tertidur pun, bocah itu berharap bisa bermimpi bertemu dengannya lagi. Namun, harapan itu tidak terjadi.
Pagi kembali dengan mentari menyinari bumi. Amdara terbangun dengan perasaan yang masih terasa tidak enak. Dia menghela napas panjang, pergi ke arah sekat kayu untuk membersihkan diri. Dia menggunakan pakaian dari Akademi Magic Awan Langit, dirinya memunculkan sebuah cermin besar. Amdara menatap diri sendiri di cermin itu. Mata biru langit yang tajam, sekaligus menenangkan dan wajah putih bersih. Dia akan tumbuh menjadi gadis cantik.
Amdara mengeluarkan ikat rambut bercorak naga, dia mengikatnya di rambut. Terlihat sangat bagus menurutnya. Setelahnya dia duduk di ruang depan sambil memakan buah apel dari hutan.
Amdara berniat tidak mengatakan mengenai Benang Merah kepada Tetua Haki, karena merasa dirinya hanya akan terus merepotkan orang lain. Dia juga akan mengatakan hal ini kepada Cakra dan Shi. Dia tahu seharusnya lebih baik mengatakan kepada Tetua Haki agar dirinya bisa digantikan, tapi tentu saja memiliki resiko sendiri. Resikonya yaitu, tubuh lemahnya akan terus diperbincangkan dan pasti para Tetua Akademi Magic Awan Langit akan berusaha mengobati. Amdara tidak mau merepotkan orang lain lagi untuk saat ini.
Satu-satunya yang dia tahu untuk melepas Benang Merah adalah seseorang bernama Ketu di Akademi Nirwana Bumi, tentu saja setelah mengetahui sedikit informasinya, Amdara mungkin cepat atau lambat akan pergi ke sana. Ini berkaitan dengan masa depannya.
Suara ketukan pintu terdengar, Amdara terkejut karena sedang melamun. Dia bergegas membuka pintu, mendapati Shi dengan senyuman manis menyapa dan mengajaknya pergi ke halaman kediaman Tetua Haki untuk berlatih.
Amdara memberikan buah apel yang langsung diterima oleh Shi. Keduanya lantas pergi ke halaman Tetua Haki. Amdara menarik napas sejenak, melirik teman baru di sampingnya yang masih menikmati apel.
"Senior," panggilnya pelan. Shi menoleh, sambil menaikkan alis kebingungan. Amdara terus berkata, "jangan katakan masalah tubuh lemahku."
Shi menghentikan langkah, menatap Amdara kemudian buka suara, "apa maksudmu? Kau harus mendapat pengobatan dari Tetua Haki agar bisa berlatih dengan baik! Haih, bagaimana kau bisa menjadi perwakilan Akademi jika kau lemah seperti ini? Luffy, maaf saja. Aku sangat khawatir kepadamu. Kau bisa digantikan oleh murid lain dengan keadaanmu sekarang. Apa kau mau hal itu terjadi?"
Amdara juga menghentikan langkahnya. Mendengar penuturan Shi, membuat dirinya menurunkan pandangan. Sejujurnya dia tidak ingin mengikuti Turnamen Magic Muda, tapi Senior Fans telah setuju. Dia yakin Senior Fans memiliki tujuan lain. Tapi, dia sudah menekadkan hati bahwa tidak akan merepotkan siapa pun lagi.
__ADS_1
"Aku akan mencari jalan keluar sendiri," katanya yang langsung membuat Shi berkedip dan menghela napas.
"Kau yakin? Kondisi tubuhmu ini sangat aneh. Tidak apa-apa, Tetua tidak akan marah kepadamu." Shi menepuk-nepuk pelan punggung Amdara yang tersentak, menatap Shi dalam.
"Terima kasih, Senior. Tidak perlu. Apa kau bisa menjaga rahasia ini?"
Shi lagi dan lagi hanya bisa menghela napas. Dirinya juga tidak bisa memaksa Amdara untuk saat ini. Dia mengangguk pelan mengakhiri perbincangan. Amdara mengatakan terima kasih, sebelum keduanya melanjutkan perjalanan.
Di halaman luas kediaman Tetua Haki, Cakra sudah sedari tadi berdiri menunggu kedua temannya untuk mendapatkan pelatihan pertama dari Tetua Haki. Cakra belum mengatakan kondisi Amdara kepada Tetua Haki, bocah itu berniat mengatakannya setelah mendapat izin dari Amdara sendiri.
Tetua Haki menanyakan banyak hal kepada Cakra. Seperti bagaimana ketika baru memasuki hutan, sampai bagaimana ketiganya bisa sampai di tempat ini padahal mereka tidak tahu jalannya.
Cakra menjawab dengan tenang. Bercerita awal ketika bertemu Siluman yang berumur 10.000 tahun, dengan kerja sama tim bisa mengalahkannya walau harus mengeluarkan kekuatan terakhir. Berlanjut ketika sadar bahwa pepohonan di hutan memiliki air yang aneh. Ketika mendengar air aneh, Tetua Haki nyaris dibuat tersedak napas sendiri sebelum dirinya berdehem sambil mengalihkan perhatian tetapi masih mendengarkan cerita Cakra.
Siluman Ular yang menjadi lawan terberat, tapi berakhir dengan suara seluring Amdara yang bisa mengendalikannya serta berakhir membawa mereka ke tempat kediaman Tetua Haki.
Tetua Haki berkedip mendengar 'Siluman Ular' yang takluk oleh suara seluring. Dirinya bertanya irama apa yang digunakan sampai bisa membuat siluman hebat itu takluk.
Cakra menjawab bahwa selain Amdara menggunakan benda pusaka Seluring Putih, Amdara juga menggunakan irama ketenangan. Sontak Tetua Haki terdiam memikirkan irama ketenangan yang dimaksud.
Suara benda jatuh membuat keduanya langsung menoleh ke arah kiri, di mana ternyata Mo menjatuhkan nampan. Mo yang mendapat tatapan dari Tetua Haki dan Cakra segera mengambil nampan, dan dengan gugup menghampiri Tetua Haki dan langsung meminta maaf atas ketidak sopanannya.
__ADS_1
Tetua Haki mengangguk, tapi dia tersenyum aneh kemudian buka suara, "ternyata tetap memiliki kelemahan, yah."
Mo seketika menjadi tegang. Tatapan matanya berubah. Dia memegang nampan erat.
Cakra yang tidak mengerti hanya diam, tapi dirinya memerhatikan ekspresi Mo yang sedikit berubah.
Suara Shi melengking menyerukan nama Cakra. Ketika Shi dan Amdara sampai di hadapan ketiga orang itu, langsung memberikan hormat kepada Tetua Haki dan meminta maaf atas keterlambatannya.
"Beruntung suasana hatiku sedang baik. Jika tidak, kalian sudah mendapatkan hukuman." Tetua Haki mendengus, dia berujar, "gunakan waktu sebaik mungkin untuk berlatih. Kalian adalah murid yang terpilih menjadi perwakilan Akademi. Jangan pikirkan pertandingan di arena, tapi pikirkan proses berlatih kalian terlebih dahulu."
Amdara, Shi, dan Cakra mengangguk paham. Ketiganya sudah siap mendapatkan latihan pertama dari Tetua Haki. Pandangan Tetua Haki beralih ke Mo yang masih diam.
"Dan untuk Mo, apa kau juga akan ikut berlatih? Sepertinya kau memerlukan itu," kata Tetua Haki sambil tersenyum miring.
Amdara, Shi, dan Cakra langsung menoleh ke arah Mo. Mo sontak mendengus, dan menggelengkan kepala. Dia buka suara, "terima kasih atas tawarannya, Tetua. Tapi aku masih memiliki pekerjaan."
Mo izin undur diri begitu saja dengan raut wajah sulit diartikan. Amdara yang melihatnya menaikkan sebelah alisnya, dia memikirkan sesuatu sebelum Tetua Haki akhirnya mulai mengarahkan mereka untuk melakukan suatu gerakan aneh.
Tetua Haki merentangkan kedua tangan, dia meminta ketiga muridnya untuk memperhatikan dengan baik apa yang akan dilakukannya. Jari-jari tangannya terkepal, matanya terpejam sebelum menarik udara segar. Dia melayang ke atas dengan tenang, angin berhembus meniup-niupkan jubahnya. Kedua tangannya kemudian menyatu, bersamaan matanya yang terbuka.
Sebuah siluet cokelat muncul di depan jari-jari tangannya sebelum cahaya cokelat muncul yang langsung naik ke atas dengan cepat. Ledakkan besar terjadi, bahkan belum sempat Amdara dan kedua temannya bereaksi, Tetua Haki sudah memutar tubuh sebelumn tangannya kembali bergerak-gerak mengalirkan kekuatan ke cahaya tersebut yang masih meledak-ledak di udara. Bahkan dari atas angin dan awan terpecah.
__ADS_1
Amdara yang melihatnya kagum, dia belum pernah melihat cara kekuatan itu bekerja hanya dengan gerakan tangan. Sama halnya dengan Shi dan Cakra yang menatap siluet cahaya di atas.
Tetua Haki menurunkan pandangan, menatap ketiga muridnya dan lantas berujar, "latihan pertama kalian adalah memusatkan kekuatan ke suatu benda."