Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
255 - Ketu


__ADS_3

Amdara menggeleng. Hanya teringat Api Biru yang terakhir menyembuhkan racun dalam tubuh. Semakin mengingat semakin sakit kepala. Dia lalu berjalan keluar ruangan. Koridor di kediaman itu luas, Amdara sampai dibuat berkedip melihatnya. Dinding-dindingnya dibuat dari giok-giok hijau. Lantainya bernuansa mewah yang terbuat dari kaca ajaib. Amdara sampai dibuat berkedip melihatnya. Dia terus berjalan mencari jalan keluar. Ada beberapa ruangan lain, tapi dia sama sekali tidak membukanya.


Amdara hanya mengikuti jalan lurus dan beberapa belokan yang menurutnya akan membawa keluar. Sampai pintu besar dia temukan, dia mencoba membukanya. Akan tetapi tidak bisa. Ada perisai pelindung yang membuatnya tidak bisa keluar.


Amdara berdecak. Tidak mungkin dia menunggu penghuni kediaman besar ini. Dirinya mengeluarkan kekuatan, berniat menghancurkan perisai pelindung. Akan tetapi tiba-tiba pintu terbuka. Menampakkan pria mengenakan jubah coklat dan hiasan berupa sisik siluman ikan emas. Wajahnya sudah tua, terlihat dari kerutan di wajah dan jenggot putih.


Amdara sadar, dia buru-buru memberi hormat. Dia yakin pria tua di depan ini salah satu guru Akademi Nirwana Bumi karena auranya berwibawa dan bijaksana. Orang di depannya pasti yang telah menyelamatkan dia dari Mitsu.


"Tegakkan kepalamu. Kau terlihat lemah sampai memberi hormat dengan menundukan kepala."


Ucapan pria tersebut membuat Amdara tersentak. Dia menegakan kepala. Dan tanpa ragu menanggapi, "bukankah memberi hormat kepada yang lebih tua adalah bentuk kesopanan?"


Perkataan itu membuat lawan bicara tersentak dan memandang Amdara dari atas sampai bawah. Terlihat tenang tanpa ada rasa takut.


Pria itu berkata sinis, "apa kau akan sopan kepada semua orang asing?"


"Mn. Terlebih kepada orang yang telah menyelamatkanku. Aku harus lebih menghormati. Terima kasih, Tuan."


Pria itu memalingkan wajah dan tidak mengatakan apa-apa. Dia berjalan keluar lagi dan duduk di salah satu kursi.


Amdara menaikan sebelah alis. Dia mengikuti dan berdiri di depan subjek lain.


"Aku akan membalas kebaikan Tuan,"


"Memang apa yang bisa kau balas, Nak?"


Amdara menjentikan jari, saat itu juga lima ratus keping emas muncul di meja. Bukannya senang, lawan bicara malah terlihat kesal dan meminta Amdara menghilangkan kepingan emas itu.


Dengan nada sinis dia berujar, "kau pikir aku semiskin apa? Simpan saja uangmu."


Amdara berkedip dan segera menghilangkan kembali. "Apa itu kurang? Atau aku harus membalas dengan cara lain?"

__ADS_1


"Tidak perlu. Aku tidak butuh bayaran darimu. Kau sudah pulih, pergilah dari sini," pria itu mengusir.


"Baik. Sekali lagi aku berterima kasih, Tuan. Jika ada kesempatan, aku akan membalas kebaikanmu dengan cara lain."


Amdara memberi hormat dengan begitu sopan. Lalu membalikkan badan untuk pergi dari sana. Matanya memandang ke depan. Ada taman yang ditumbuhi bunga-bunga indah. Namun, bukan itu yang membuatnya diam tak berkutik. Melainkan hutan yang terlihat luas dan ada aura tidak biasa lagi.


"Ada apa lagi?"


Pertanyaan itu langsung membuat Amdara membalikan badan. Dengan ragu berucap, "apa aku harus melewati hutan itu?"


Pria itu terlihat berkedip sebelum mengangguk.


"Tentu saja. Kau hanya perlu membunuh siluman di sana jika ingin selamat."


Amdara menarik napas dalam sebelum mengangguk mengerti. Karena tidak sadarkan diri sebelumnya, dia lupa bisa menggunakan portal untuk kembali. Dia baru akan melesat, tetapi pria itu malah memanggilnya.


"Hei, Bocah Malang. Jangan menyinggung murid Akademi Nirwana Bumi lagi."


"Aku tidak peduli siapa yang pertama memulai. Tapi kuingatkan kau, jangan berurusan dengan mereka."


"Mereka yang berurusan denganku."


Pria itu berdecak dengan jawaban lawan bicara. Dia berbicara sekali lagi, "kekuatanmu sangat lemah. Tidak akan bisa melawan mereka. Jangan keras kepala!"


"Aku tidak lemah. Jangan remehkan aku." Amdara mengepalkan tangan kuat. Tidak terima dikatakan lemah. Dia yakin akan lebih kuat jika Benang Merah terlepas dari inti spiritualnya.


"Astaga. Keras kepala sekali. Jelas hanya mendapat sekali serangan kau hampir merenggang nyawa. Dan lagi, sekali pun kau melepas Benang Merah, kekuatanmu tetap tidak sebanding dengan mereka!" Pria itu mendengkus kesal. "Di tambah kau masih sangat muda. Belum banyak pengalaman bertarung! Dengarkan pria tua ini!"


Amdara baru akan angkat bicara. Namun, alisnya mengerut saat mendengar 'Benang Merah'. Dia menatap pria di depannya tersentak. Ide cemerlang muncul di kepala. Dia tersenyum tipis. Entah siapa di depannya ini, tapi Amdara harus memutar otak agar bisa melepas Benang Merah.


"Kau seperti hebat saja, Tuan."

__ADS_1


Pria itu mendelik. "Apa katamu?! Aku ini memang hebat!"


"Aku tidak yakin," sekarang gadis muda tersebut yang menatap remeh.


Sontak lawan bicara semakin geram. Wajah putih bersihnya menjadi merah akibat terbakar emosi. Dia menunjuk-nunjuk Amdara.


"Kau bocah dungu! Berani sekali bicara seperti itu padaku. Hah, kau orang pertama yang tidak mengakui kehebatanku! Kau ingin ku tunjukkan betapa hebatnya kekuatanku, hah?!"


"Tentu saja aku ingin melihat sendiri."


"Baik. Apa yang ingin kau lihat? Menewaskan siluman ratusan tahun? Atau membunuh orang di tingkat pengabdian?"


"Lepas Benang Merah ini."


Ucapan Amdara langsung membuat subjek di depan itu terdiam. Menatap lekat gadis muda berambut putih ini sebelum akhirnya mendengkus. Baru sadar dirinya dijebak. Pria itu duduk di kursi. Menyeruput teh biru untuk menenangkan diri.


"Kau tidak bisa?" Amdara menaikkan sebelah alis. Dia pikir sudah bertemu orang bernama Ketu, tapi sepertinya dia salah.


Dirinya mungkin saja bisa bertanya kepada Mitsu, tapi melihat kepribadian membuatnya ragu. Bisa saja Mitsu akan berbohong dan malah melaporkannya kepada Tetua Akademi Nirwana Bumi. Itu akan menambah masalah.


Pria itu hanya melirik sekilas. Menaruh cangkir kaca di atas meja. Suasana langit sudah mulai menggelap. Angin dingin mulai menerpa dunia. Lampu di dalam rumah tersebut menyala dengan sendiri. Termasuk tiga lampu biru di teras. Menerangi wajah pria tersebut.


Rumah megah itu tampak indah dengan lampu penerang. Menjadi rumah satu-satunya di dalam hutan tersebut.


Tiga menit terlewat tanpa jawaban. Membuat Amdara menarik napas dalam. Sedikit menurunkan pandangan.


"Orang bernama Ketu ternyata lebih hebat darimu, yah." Amdara mengepalkan tangan. Tidak boleh menyerah begitu cepat. Sebelum turnamen dimulai, Benang Merah yang melekat di inti spiritualnya harus dicabut. Dia berkata lagi dengan lirih, "katanya dia bisa mencabut Benang Merah sampai ke akarnya."


"Dari mana kau mendengarnya?"


Amdara mendongak. Ragu untuk menjawab. Dia ingat orang yang pertama kali mengatakannya adalah Ang dari desa Bumi Selatan dan Tetua Besar Moksa. Amdara tidak tahu siapa orang di depannya ini. Bisa saja setelah mengatakannya, dia akan mendapatkan masalah besar atau bahkan dibunuh.

__ADS_1


__ADS_2