
Amdara tidak menjawab, masih fokus membuat pil dan memasukkan kepingan es yang baru saja dia buat.
Aray yang bertambah marah mengeluarkan kekuatan besar, dan melempar isi cairan di dalam periuk dengan kecepatan tidak terlihat oleh mata. Bahkan Amdara sampai tidak menyadari.
Cairan hitam nan berbau menyengat benar-benar tumpah ke tanah.
Atma dan Amdara tersentak menatap cairan berharga itu.
"T-tidak."
Atma beruha mengambil cairan yang sudah mulai menyerap ke tanah. Matanya berkaca-kaca karena kehilangan sesuatu yang berharga ini.
Tangan Amdara terkepal kuat, matanya memerah karena marah. Cairan yang berisi tanaman herbal langka dan sangat tua itu hilang dalam sekejap.
Tatapan amarah di dalam mata biru dinginnya mengarah ke Aray yang juga marah. Tanpa di duga melesatkan serangan besar berupa rantai es.
"Pengganggu."
Rantai es dengan cepat melilit tubuh Aray yang tidak bisa mengelak walau berusaha sekuat tenaga.
Amdara melesatkan kekuatan berbentuk tinjuan ke arah perut Aray yang langsung terpental.
Amdara melayang cepat ke arah Aray. Suaranya tajam dan dingin.
"Apa kau tahu cairan itu?"
Amdara mengangkat tangan, tubuh Aray terangkat. Dirinya kembali berkata jauh lebih keras.
"Cairan yang kau tumpahkan adalah untuk menyembuhkan Tetua!"
Lesatan tinjuan kembali melayang ke wajah Aray sampai terpental. Tapi rantai es menarinya kembali ke hadapan Amdara.
"Dan kau menumpahkan karena hal sepele? Memuakkan!"
Suara teriakkan Aray akibat tekanan rantai es membuat Atma dan Nada yang sedari tadi melihatnya tidak bisa berkata-kata. Dua teman Amdara juga terlalu syok. Kekuatan Amdara benar-benar mengerikan bagi mereka.
"A-apa itu benar-benar Luffy?"
Nada menelan ludah susah payah. Tubuhnya turut merasakan tekanan besar dari aura bocah berambut putih.
Atma menggeleng tidak percaya. "D-dia sudah benar-benar berubah. K-kekuatannya mengerikan. Tidak. Jika Aray tidak bisa melepaskan diri, dia akan mati! L-luffy, hentikan! Waktu kita tidak banyak. Cepat buat ulang penawarnya!"
Amdara mendengar, menoleh dan segera melesat tanpa melepaskan Aray yang kesakitan terlilit rantai es. Mulut Aray telah disumpal oleh kain putih. Walau rantai ini dibuat biasa saja tidak melukai terlalu 'serius'.
"K-kau masih memiliki tanaman herbal?"
Tanya Atma saat Amdara sudah berada di hadapannya. Atma mengambil napas lega karena bocah rambut putih ini tidak melenyapkan Aray.
Atma tahu Amdara hanya terlalu kesal karena ramuan untuk Tetua hangus begitu saja. Dia juga marah, tapi tidak sampai menyerang Aray. Dia menatap Amdara yang sudah banyak berubah.
__ADS_1
"Mn."
Amdara kemudian mengeluarkan banyak herbal, memasukkannya ke dalam periuk yang masih panas akibat api biru dan putih. Banyak jenis tanaman herbal yang dia masukkan. Bahkan Atma juga tidak terlalu paham jenis tanaman tersebut.
Aroma khas mulai tercium. Kepulan asap dari periuk mulai muncul tiga menit setelah diaduk. Kali ini Amdara tidak membuat pil seperti biasanya, tetapi dia mencampurkan kekuatan butiran es dan api merah ke dalam periuk. Tidak beku, dan tidak terbakar. Sangat unik dilihat Atma dan Nada yang sekarang berdiri di belakang Atma.
Kedua teman Amdara merasakan dingin dan panas sekaligus yang tidak biasa. Bahkan keduanya sampai termundur tidak kuat merasakan.
Tidak ada yang berani bersuara lagi. Hanya ada bunyi letupan-letupan kecil di periuk.
Keringat dingin mulai menetes di dahi Amdara karena terlalu banyak mengeluarkan kekuatan. Dia juga harus menjaga api biru dan api putih agar panasnya pas.
Suara letupan semakin besar dan nyaris mengeluarkan ledakkan. Amdara segera meneteskan darah dari jari ke dalam periuk.
Nada dan Atma tersentak melihat kejadian itu. Keduanya bahkan berdecak kagum karena teknik mengolah Amdara yang sangat tidak biasa ini. Apalagi Amdara masih bertahan di suhu dingin dan panas tidak biasa itu.
Cahaya hitam, putih, dan keemasan muncul dari dalam periuk. Menyilaukan mata.
"Menghindar!"
Amdara segera melesat menjauh dari periuk. Nada dan Atma spontan juga melakukan hal yang sama.
BAAM!
Blaaar!
Dia segera melesat mendekat saat yakin pilnya sudah selesai. Di dalam periuk, terdapat lima pil berukuran sangat kecil seperti biji sawi dengan warna putih, hitam, dan emas tergeletak. Aroma wangi tidak dapat dijelaskan masuk ke rongga hidung.
Amdara langsung mengambilnya, meletakkan di tangan. Kerutan di dahi jelas menandakan dirinya sedang bingung.
"Apa itu pilnya?!"
Tanya Atma saat sudah berada di samping Amdara yang mengangguk sebagai jawaban.
Atma menggeleng tidak percaya. "Hanya lima pil berukuran biji sawi dari banyaknya herbal?!"
"Kita uji saja."
Amdara mengeluarkan portal, dan masuk dengan cepat tanpa peduli ekspresi pucat Atma dan Nada.
"H-hah, aku tidak menyangka."
Atma menelan ludah. Dia baru akan pergi, tetapi suara teriakan Aray membuatnya dan Nada segera menoleh. Baru ingat si Aray pemarah. Keduanya langsung mendekat.
Lebam dipipi terlihat jelas, rambut acak-acakan dan luka kecil luar. Aray mengepalkan tangan marah, dia menatap Atma meminta penjelasan.
Atma menggigit bibir bawah. Jika sampai tidak cepat-cepat menjelaskan, sekarang dirinyalah yang akan tewas di tangan Aray.
"Aray, kau tenanglah. Aku akan menceritakan semuanya."
__ADS_1
*
*
*
Suara tangis terdengar, serta suara-suara kemarahan di dalam ruang pengobatan Tetua. Di sana semua orang sudah mengeluarkan air mata.
Amdara muncul tiba-tiba, tetapi yang melihat pun nampak tidak peduli. Mereka sekarang tengah mengerumuni Tetua Genta dan Tetua Rasmi yang tubuhnya seluruhnya telah menghitam.
"Tidak mungkin."
Amdara mendekat, meminta ruang agar dia bisa mendekati Tetua Rasmi.
Tetua Widya melihat Amdara kembali hanya diam. Dia melihat Amdara yang perlahan memasukkan sesuatu ke dalam mulut Tetua Rasmi yang jelas-jelas telah kehilangan napas.
"Nak, apa yang kau lakukan? Percuma saja kau memasukkan pil. Dia telah pergi."
Perkataan Tetua Rasmi membuat Amdara menoleh dan menunduk, dia juga tahu bahwa Tetua Rasmi tidak lagi bernapas. Namun, Amdara tetap ingin memasukkan pil buatannya.
Dia pergi ke tempat tidur Tetua Genta, menyaksikan hal yang sama. Di sana Guru Kawi telah bercucuran air mata, sambil memegang lengan Tetua Genta.
Perlahan tangan Amdara terurur, memasukkan satu pil kecil lagi ke dalam mulut Tetua Genta.
"Kumohon bangunlah." Dia sangat berharap masih ada keajaiban.
Tindakannya sama sekali tidak ditegur Guru Kawi yang sedang berduka. Dia ingat Amdara yang keluar dari portal setelah dua Tetua. Dia yakin Amdara mengetahui banyak hal. Namun, saat ini bukan saatnya bertanya.
Dia berkata lirih, "kalian pergilah. Kabarkan kabar duka kepada seluruh murid untuk mempersiapkan acara pemakaman."
Murid-murid yang mendengar segera pergi dengan tangis. Mereka juga menyesal dan sangat sedih karena tidak bisa menyelamatkan nyawa Tetua Genta dan Tetua Rasmi.
Amdara mengepalkan tangan. Perasaan sedih mulai menyelimuti. Guru Kawi menyadari hal itu, dia juga sedang bersedih hati.
"Nak, semua hal memang tidak bisa kita lakukan. Kita juga tidak bisa mencegah sesuatu yang mutlak, seperti kematian."
Amdara hanya diam. Tetapi dalam hati berkata, "sekali lagi kumohon bangunlah."
Mata tenang dan tajamnya mulai berkaca-kaca. Dia menyentuh lengah Tetua Genta.
Perasaan bersalah itu kembali datang. Perasaan sesal karena lagi-lagi terlambat menyelamatkan. Padahal dirinya telah berusaha secepat mungkin membuat pil ini. Namun, sekarang tidak lagi berguna.
Lima menit berlalu tanpa memperlihatkan tanda-tanda reaksi dari pil.
"Ini semua juga karena orang Aliran Hitam itu." Tatapannya tiba-tiba berubah.
Amdara segera pergi setelah tiba-tiba memberi hormat Guru Kawi dan Tetua Rasmi tanpa suara.
Tujuannya sekarang adalah ruang bawah tanah. Dia ingin melakukan sesuatu kepada orang-orang Sekte Tengkorak Racun.
__ADS_1