
"T-tidak akan kubiarkan kau menyentuh Nona kami!"
"Hm? Lihatlah dirimu yang lemah ini. Aku bisa menghancurkan mu dalam satu detik. Tidak tahu kekuatan sendiri rupanya. Ha ha ha.
"S-sialan!!"
Wex menggeram marah. Mengeluarkan aura kegelapan besar, hingga udara di sekitar membuat Elito menahan napas, cukup merasakan tekanan.
Wex menendang perut Elito dengan sisa kekuatan yang bahkan masih mampu membuat musuh terdorong mundur dan melepas cengkraman. Wex segera berdiri dengan napas tersenggal.
"Kau lebih menji*jikan dari kami. Tidak akan kubiarkan kau menyentuh anak Nyonya dan Tuan!!" Wex menyerang Elito dengan membabi-buta dengan kekuatannya. Kemarahannya membuat Wex semakin kuat.
Elito berdecak dan menghindar. Dia juga melakukan serangan balasan tidak kalah kuat. Keduanya kembali bertarung sengit.
"Tidak ku sangka kau yang sudah terluka parah dengan suka rela melindungi anak yang tidak lain adalah dosa dari dunia manusia dan dunia roh."
Elito melentingkan tubuh, berhasil menghindar dari serangan Wex yang cepat.
"Tutup mulut rendahmu itu, manusia busuk! Kau tidak tahu apa-apa mengenai mereka!!"
"Ha ha ha. Benarkah? Setahuku Dewi dan Langit melakukan hubungan terlarang dan melanggar dua dunia. Bukankah mereka sudah selayaknya mendapatkan hukuman langit dengan tidak akan pernah muncul kembali ke dua dunia?"
"Sudah kukatakan tutup mulut bau mu!! Mereka akan muncul kembali setelah Nona Muda sadarkan diri. Dan setelah itu, ketiga orang itu akan menghancurkan dunia manusia untuk Kami!"
"Heh. Bagaimana kau bisa seyakin itu jika mereka akan menghancurkan dunia ini? Dan kau sama sekali belum sadar, ya. Ha ha ha. Aku yang akan terlebih dahulu mengambil kekuatan anak dosa itu! Dan membuat Dewi dan Langit tidak akan muncul kembali ...!"
Elito menyerang secara beruntun. Kali ini mengeluarkan kekuatan tidak main-main hingga Wex kewalahan menghindar dan menyerang balik. Elito kemudian menambah jurus yang langsung mengarah ke Wex.
Lesatan cahaya hitam pekat bercampur merah darah, membentuk panah muncul yang langsung meluncur ke arah Wex. Serangan itu berhasil dan membuat Wex mengerang kesakitan dan ambruk.
Elito lalu kembali melakukan serangan besar sampai benar-benar menghancurkan tubuh Wex. Api besar langsung membakar tubuh Wex.
__ADS_1
"Lihat, kau bahkan tidak bisa memegang ucapan sendiri. Tsk. Merepotkan sekali." Elito.mengusap rambutnya yang berantakan. Dia mendengkus.
"Sekarang aku harus lebih cepat mencari anak itu sebelum kemunculan Dewi dan Langit yang akan lebih merepotkan."
Elito terbang dengan cepat. Memikirkan tempat yang kemungkinan keberadaan anak yang dicari.
*
*
*
Drake masih sangat dengan tenang duduk di batu besar selama seminggu tanpa bosan. Dia selalu semangat ketika menyaksikan petir menggelegar. Tiba-tiba dirinya ingin bertemu dengan gadis berambut putih.
"Hm. Kira-kira di mana gadis itu berada? Apa dia sudah bertarung habis-habisan seperti manusia lain? Tapi sepertinya tidak mungkin. Hm, jadi di mana dia, yah."
Drake berdiri dan memandang sekitar yang sudah hancur akibat kobaran api miliknya. Dia melayang di udara, tersenyum senang.
"Kemungkinan ada di rumah megah itu." Drake memikirkan rumah yang tidak jauh dari tempatnya.
Dia menapak di dekat perisai pelindung itu. Senyumnya mengembang. Drake berjongkok, sambil memandang gadis berambut putih yang tertidur dengan tenang di saat dunianya sedang diporak-porandakan. Ketika tangannya hendak menyentuh kepala Amdara, perisai pelindung itu bereaksi. Drake dibuat merasakan sakit pada tangan dan tanpa diduga angin kejut sangat besar tercipta yang membuat dirinya terpental jauh.
"Sial. Ternyata aku tidak bisa menyentuhnya." Drake menekan dadanya. Kembali terbang ke tempat semula.
"Dara, apa yang akan kau lakukan setelah melihat peperangan ini?" Drake menarik napas dalam. "Kau pasti akan terkejut melihat dunia sedang kacau. Aku jadi penasaran ekspreaimu nanti. Tapi kuharap kau memilih kami. Karena kami akan memberikan segalanya kepadamu. Melindungi, dan menjaga. Memberikan kasih sayang yang nyata, bukan omong belaka."
"Tapi jika kau memilih kebohongan para manusia ... itu akan melukai kami. Kau hanya akan mendapat luka dan rasa kecewa dari mereka. Kau hanya akan kesepian di dunia ini."
Drake berbaring agak jauh dari Amdara. Memandang langit malam. Matanya kemudian terpejam.
"Jika kau memilih manusia, kami harus dilenyapkan. Dan jika kau memilih sebaliknya, kau yang harus melenyapkan manusia. Apa kau mampu melakukan hal itu?"
__ADS_1
Tidak ada sahutan sama sekali dari Amdara. Dia juga tidak mendengar apa pun. Tapi Drake tahu Amdara masih hidup. Hanya saja tidak sadarkan diri.
Di alam bawah sadar milik Amdara saat ini. Dia seperti berada di tempat yang sangat indah. Di tempat padang rumput hijau. Angin sepoi-sepoi menerpa wajahnya. Di sana, dia berlarian seperti anak kecil. Perasaannya sangat bahagia entah karena apa.
Seperti tidak memiliki beban hidup. Amdara menikmati suasana yang damai itu. Dia berbaring menatap langit cerah saat itu.
"Ini pertama kalinya aku merasa senang." Amdara memejamkan mata.
Sampai lima menit berlalu begitu saja.
"Jadi selama ini kau tidak senang, ya?" suara seorang wanita yang membuat Amdara kontan membuka mata.
Hal pertama yang dia lihat adalah pria dan wanita yang tengah tersenyum kearahnya. Senyuman tulus dan hangat. Sontak Amdara segera terduduk, berkedip melihat kedua orang ini. Terasa familiar tapi juga asing.
"Aduh, aku jadi membangunkan tidurmu, yah. Maaf sekali."
Kali ini wanita berparas cantik, berambut putih bergelombang tersenyum ke Amdara. Ada jepit bangau biru yang terpasang di rambutnya. Dia mengenakan cadar tipis, tetapi wajah cantiknya masih terlihat. Mata hitam pekatnya bertatapan dengan mata biru langit Amdara. Sesaat Amdara seperti dekat dengan wanita ini.
"Siapa kau?"
Perkataan itu lolos dari bibirnya. Sontak wanita itu tersentak, tapi masih tersenyum.
"Hm. Kita pernah bertemu. Aku pernah memintamu agar mengingatku. Tapi kau tidak mengingatku yah, Dara."
"Apa?" Amdara seketika berdiri.
Dia bisa melihat wanita di depannya mengenakan jubah bercorak naga.
"Kau juga pasti melupakanku." Kali ini pria di samping wanita tersebut bersuara.
Amdara sontak mengalihkan pandangan. Pria itu juga berambut putih, wajahnya tampan. Terlebih saat ini dia sedang tersenyum ke arahnya. Dia juga mengenakan pakaian yang sama dengan wanita cantik itu. Warna mata pria ini berwarna biru, dingin tapi juga menenangkan . Amdara sampai dibuat tidak berkedip melihatnya.
__ADS_1
"Tapi tidak masalah. Sekarang kita bisa saling berkenalan lagi," kata wanita itu.
Pria di sampingnya mengangguk setuju dan berujar, "benar sekali. Nah, namaku Langit. Dan wanita cantik ini Dewi."