
Malam datang seperti biasa. Di hutan itu, seseorang duduk di bawah rimbunan pohon dengan mata terpejam. Dia merasakan seseorang datang menghampiri, tetapi matanya tak coba dibukanya. Beberapakali dirinya mengembuskan napas, beberapakali pula perkataan seseorang terngiang di kepalanya.
Orang yang menghampiri tak bukan adalah temannya sendiri. Teman yang se-misi. Benar, dia adalah Amdara yang kini duduk di sebelahnya.
Inay tak menyalahkan diri atas dia yang mau menjalankan misi ini. Dia juga tak menyalahkan Amdara yang memaksa terus melanjutkan misi dari Akademi. Dia hanya terlalu tertekan atas kejadian yang menimpa. Hari-hari baru dari Negeri Nirwana Bumi, membuatnya sedikit berubah. Lebih sensitif pada manusia daripada Roh Hitam yang seharusnya dia segera melenyapkan. Di umurnya yang masih terbilang muda, dia juga merasakan kerinduan mendalam pada orangtua dan saudara seperguruannya. Rindu suasana dan segala hal di Negeri Elang Bulan.
Tak ada yang berbicara dari dua orang seorganisasi itu. Mereka tengah berpikir masing-masing.
Cahaya ungu dari rambut Inay sebagai penerang di gelapnya gulita. Dinginnya udara, dan suara auman Siluman dari kejauhan. Tak juga ada yang mengeluarkan sekata saja. Hingga ke delapan menit, Amdara memutuskan berbicara.
"Maaf."
Hanya itu yang keluar dari bibir pucatnya. Tak ada sahutan, hanya terdengar hembusan napas panjang.
"Kak Inay, aku tidak meninggalkan misi kita." Amdara membenarkan duduk bersilanya. Dia kemudian berbicara, "di desa Bumi Selatan ada Roh Hitam."
Hal tak terduga yang baru diketahui Amdara adalah desa Bumi Selatan pernah ditandai dalam peta sebagai salah satu wilayah yang memiliki Roh Hitam. Ini akan menjadi satu misi tetapi akan mendapat dua keuntungan sekaligus.
Amdara menjelaskan apa yang dia ketahui dan mengatakan dirinya tidak akan pernah lupa dengan misi dari Tetua Bram. Inay tetap diam tak merespon, tetapi dia mendengarkan.
"Aku tak akan melibatkanmu." Amdara menarik napas dalam sebelum kembali berkata, "kau akan kembali ke akademi."
"Hanya sendiri?"
"Mn. Aku akan membuat portal."
Inay seketika tertawa, dia membuka mata dan menoleh ke samping. Terlihat Amdara yang tersentak saat Inay kembali berbicara.
"Apa katamu? Kau akan membuat portal? Portal? Hahaha!" Inay semakin keras tertawa. "Kau bahkan kesulitan menyembuhkan luka sendiri! Kau lupa bahwa sekarang kau memiliki Benang Merah di inti spiritualmu? Lalu bagaimana kau akan membuat portal yang harus berkekuatan?!"
Inay mengakhiri tawanya dengan gelengan kepala. "Kau tahu kenapa aku menolak melanjutkan misi dari Akademi? Itu karena aku memikirkanmu, Dara. Aku tak bisa melindungi diri sendiri, lalu bagaimana akan melindungi dirimu yang lemah ini?"
__ADS_1
"Hei, kau bukan Amdara yang dulu. Sekarang kau benar-benar lemah. Tapi kau malah ingin melanjutkan misi, dan melibatkan bocah-bocah tak berkekuatan itu. Hah ... aku tidak tahu jalan pikiranmu."
Inay kembali tertawa, tetapi kali ini tawanya terdengar seperti dipaksakan. Amdara diam, mengepalkan tangannya erat. Ada sesuatu yang mengguncang batinnya sekarang. Kenyataan pahit dia tak bisa mengeluarkan kekuatan dengan baik. Kenyataan dia malah membuat orang lain kerepotan karena dirinya sendiri. Amdara benar-benar melupakan Benang Merah ini. Pembawa masalah bagi kehidupan selanjutnya.
Amdara berdiri, dia membuat Inay kebingungan. Dia memejamkan mata, menarik perlahan kekuatan alam yang melimpah ruah. Dia merasakan sakit pada seluruh tubuh. Wajahnya mulai pucat, petanda dia kesulitan merasakan kekuatan.
Suasana senyap. Bahkan Inay kini hanya memandang Amdara sinis. Entah apa yang dilakukan bocah berambut putih itu sampai beberapa lama kemudian terduduk dengan lutut menyentuh tanah. Inay tak membantu apa pun, dia hanya diam tak ada niat membantu. Dia masih memerhatikan Amdara dengan jelas.
Angin berhembus kencang, Amdara diam dengan pandangan menunduk. Sesak di dadanya semakin menjadi. Pikirannya kosong, begitu pula dengan tatapannya.
"Lemah."
Satu kata itu keluar dari mulutnya untuk diri sendiri. Dia menutup mata, menahan diri agar tidak sampai menitikkan air mata.
Amdara seorang bocah yang sangat muda. Namun, sudah menanggung kepahitan dan kesulitan hidup selama ini. Dia merasa tak ada tempat berpegang saat dirinya terjatuh. Tak ada tempat menyembunyikan tatapan matanya yang terlihat nestapa. Dia tak memiliki seseorang untuk hanya sekadar memeluknya saat dia merasakan guncangan batin.
Hanya demi mencari keberadaan orangtuanya, dia rela mengambil resiko tinggi. Melenyapkan Roh Hitam di Negeri Nirwana Bumi. Menjadi murid Akademi, dan melakukan hal-hal baru yang sebenarnya terasa amat sulit baginya. Dia hanya memiliki tekad, yakin bahwa akan bertemu dua orang yang kini masih dicarinya. Namun, sebesar apa pun tekadnya bahaya terus menghadang langkahnya. Bukan hanya Roh Hitam yang siap merenggut nyawa, tetapi orang-orang Negeri Nirwana Bumi pasti ada yang jahat pula walaupun kebanyakan dari Aliran Putih. Sama sekali tak menutup kemungkinan mereka jauh membahayakan.
Seorang bocah sepertinya harusnya berada dikehangatan rumah. Tertawa riang bersama keluarga, tanpa memikirkan bahaya dunia luar. Harusnya dia dilindungi oleh orang dewasa, bukan malah sebaliknya. Karena diri sendiri, Inay bahkan harus merasakan bahaya seperti ini.
Inay berdiri, dia mendekati Amdara yang tak berkutik. Dia menepuk bahu Amdara. Dia berujar, "kau sekarang memang lemah. Jika kau berhasil membuat portal, aku mohon bawa aku ke Organisasi."
Setelahnya Inay pergi entah kemana. Meninggalkan seorang teman yang dalam keterpurukan sendiri tanpa beban dan bahkan tanpa menghibur. Inay juga hanya seorang bocah, dia akan berpikir layaknya bocah pada umumnya.
Gelap. Tak ada penerang satu pun. Api biru yang biasanya menemani gelap, Amdara tak bisa mengeluarkan.
Matanya terbuka beberapa saat kemudian, cahaya biru berukir angsa putih di dahi Amdara muncul. Walau samar, tetapi Amdara tiba-tiba merasakan sesuatu yang mengalir ke tubuhnya. Sebuah kekuatan murni yang tidak melewati inti spiritual. Akan tetapi dalam sekejam ukiran angsa itu menghilang bersamaan dengan kekuatan yang mengalir ke tubuhnya.
"Lagi-lagi kau menyelamatkanku."
Amdara menyentuh dahi sendiri, sekilas dirinya tersenyum. Tubuhnya terasa lebih ringan seperti sebelumnya, tapi inti spiritual nya masih terlilit Benang Merah.
__ADS_1
Bocah berambut putih itu bersandar pada pohon besar. Perasaannya masih campur aduk. Dia memejamkan mata, mencoba menenangkan diri sendiri. Entahlah, rasanya mulai sekarang jalannya misi akan sangat berat. Rasa-rasanya dia ingin menyerah, terlalu lelah fisik dan batin. Namun, terlintas lagi perkataan Tetua Bram yang mengatakan orang tuanya berada di Negeri Nirwana Bumi.
*
*
*
Pagi-pagi buta, Senior Fans, Amdara, Dirgan, Atma, Rinai, dan Nada telah bersiap pergi ke desa Bumi Selatan. Terkecuali Inay yang dari semalam tidak kembali ke gubuk, begitu pula dengan Amdara yang baru kembali setalah dia merasa pagi menyapa.
Semua orang berkumpul di depan gubuk. Mereka tengah menunggu Inay, lima belas menit berlalu tetapi bahkan batang hidung Inay tidak terlihat jua.
"Hah, ya ampun. Ke mana perginya bocah cerewet itu?" Atma berdecak. Dia melipat kedua tangannya depan dada, sambil terus memandang hutan di depannya. Berharap Inay muncul dengan cepat.
"Apa benar dia baik-baik saja?"
Dirgan jadi khawatir. Semalam dia dicegah Senior Fans untuk mencari Inay. Katanya Inay perlu waktu sendiri, toh Inay juga bisa menjaga diri sendiri. Jadi bukan masalah.
"Khakhaa. Luffy, semalam kau mencarinya 'kan?"
Pertanyaan Nada dibalas anggukan oleh Amdara. "Tapi dia pergi lagi."
"Dan kau tidak mencegah atau mengejarnya?" pertanyaan sarkas dari Atma kembali diangguki Amdara.
"Tidak. Kupikir Kak Nana butuh waktu sendiri."
Atma memijat kening pusing. Sekarang Amdara merasa bersalah karena semalam tidak mengejar Inay dan malah larut dalam masalahnya sendiri.
Senior Fans sejak tadi hanya diam. Entah apa yang dia pikirkan.
Mereka jelas tidak akan meninggalkan Inay sendiri di hutan. Itu akan sangat berbahaya. Di pagi yang masih gelap itu, Senior Fans mengeluarkan cahaya sebagai penerang. Mereka akan menggunakan lempengan kayu yang semalam Senior Fans buat untuk digunakan sebagai alat terbang oleh Amdara, Dirgan, Atma, Rinai dan Nada. Mereka jelas tidak sabar merasakan terbang di atas.
__ADS_1
Amdara terus menghadap ke depan, tepat ke hutan sama seperti Atma. Dia sangat berharap Inay segera muncul memberi jawaban. Jika jawaban Inay adalah kembali ke Akademi atau malah kembali ke Organisasi Elang Putih, maka Amdara tak bisa mencegah. Pastinya semalaman Inay telah memikirkan jawaban dengan matang.
Seseorang yang mereka semua tunggu-tunggu akhirnya menapak pelan di depan mereka. Wajahnya terlihat kusut, penampilannya cukup berantakan. Dia berjalan pelan, dan terlihat mengembuskan napas kesal.