Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
112 - Pertandingan Antar Kelompok


__ADS_3

Amdara tidak istirahat karena dirinya akan membuat penawar Racun Kalajengking Merah. Beruntung dalam kitab dijelaskan ada penawar jenis racun tersebut. Bahannya pun masih ada di Cincin Ruang.


Amdara berpikir akan menanam tanaman herbal sendiri suatu saat nanti. Untuk lokasi, dia belum menemukan tempat yang cocok.


Di hutan yang pernah dirinya gunakan sebagai tempat uji coba membuat pil, di hadapannya telah ada sepuluh jenis tanaman herbal. Periuk sederhana, yang sudah diberi kekuatan Amdara agar nantinya tidak meledak. Api biru menyala, melayang-layang di udara.


Amdara memasukkan semua jenis herbal yang ada, kemudian mengaduknya menggunakan kayu. Api biru mulai membuat tanaman herbal dalam periuk meleleh. Sesuai dengan aturan dalam kitab, Amdara juga memberikan kekuatan anginnya pada campuran herbal tersebut.


Ramuan yang akan dia buat akan berbentuk pil lagi seperti yang dijelaskan. Pil ini jika diledakkan, maka akan bercampur di udara dan Racun Kalajengking Merah tidak akan berpengaruh walaupun terkena kulit. Pil tersebut selain bisa diledakkan, juga bisa dimakan langsung untuk menetralisir racun dalam tubuh.


Tidak tahu benar atau tidak, tapi Amdara akan mencobanya. Suara letupan-letupan di dalam periuk terdengar. Amdara segera membuat perisai pelindung dan memundurkan langkah.


Semakin lama letupan tersebut semakin besar hingga terdengar ledakkan besar. Asap hitam mengepul di udara, suara periuk yang berdenging mulai reda.


Amdara segera mendekat setelah merasa aman. Dia tersentak ketika melihat hanya ada tiga pil warna hitam tergeletak di periuk. Amdara mengambilnya, mencium aroma asli herbal. Dia mendengus, dan berkata tidak akan cukup untuk melawan Racun Kalajengking Merah jika hanya tiga butir saja.


Untuk persiapan tidak terduga, Amdara berniat membuat pil lagi sebanyak yang dia bisa. Dia kemudian mengeluarkan tanaman herbal yang sama, memasukkan secara bersamaan ke dalam periuk. Setelahnya mulai membuat pil dengan cara yang sama.


Beberapa kali Amdara harus menahan napas ketika takut pil yang dia buat salah. Dua jam sudah dia gunakan untuk membuat pil penawar racun. Hasil yang dia peroleh mendapat 24 pil.


"Hmph. Masih ada tanaman herbal."


Amdara mencampur semua sisa tanaman herbal, dia bahkan mencampurkannya dengan air dan juga wortel perak yang tersisa. Kali ini dia tidak tahu pil seperti apa yang akan dia buat. Bahan-bahan yang tidak sesuai aturan, serta cara pengolahan yang berbeda.


Pertama sebelum memasukkan tanaman herbal tersebut ke dalam periuk, Amdara menghancurkan tanaman tersebut menggunakan kekuatan. Dia menambahkan air, jika dilihat sekarang seperti ramuan berwarna hijau tua. Amdara kemudian memasukkannya ke dalam periuk, dan mulai membakar menggunakan api biru miliknya dengan suhu yang sangat tinggi.


Tidak butuh lama sampai periuk tersebut mulai berdenging dan mengeluarkan suara letupan besar. Amdara sudah siap menggunakan perisai pelindung, tapi ketika letupan besar terjadi, setelahnya tidak ada suara ledakkan bahkan Amdara sampai menunggu lima menit.


Merasa ada yang aneh, Amdara mendekat. Dia menaikkan sebelah alis melihat lima pil berwana perak tergeletak di periuk. Ada aroma harum menyeruak dari dalam periuk. Amdara mengambilnya. Entah apa fungsi dari pil yang dia buat asal itu, Amdara langsung memasukkannya ke dalam Cincin Ruang.

__ADS_1


*


*


*


Pagi ini acara Pertandingan Antar Kelompok juga belum dimulai jua. Padahal para peserta sudah duduk rapi di tempat yang disediakan. Raut wajah mereka kurang bersemangat, entah karena kurang istirahat atau khawatir dengan lawan yang kuat.


Bangku penonton juga belum terisi penuh. Mungkin mereka akan datang setelah pertandingan dimulai agar bisa menyaksikan langsung pertandingan menarik tanpa harus menunggu.


Terlihat para Tetua baru saja sampai dan langsung duduk di bangku yang disediakan. Tetua Wan sudah berdiri di arena pertandingan. Dia melebarkan senyum dan memberikan hormat sebelum memulai pembicaraan.


"Baiklah, semuanya. Tentunya kalian sudah tidak sabar menunggu acara yang dinanti-nanti sejak semalam bukan? Pertandingan Antar Kelompok yang pasti lebih menarik dan seru. Mereka harus bekerja sama dengan baik untuk membuat lawan kalah. Tanpa kerja sama tim yang baik, aku yakin suatu kelompok akan sulit menghadapi kelompok lain yang memiliki kemampuan kerja sama tim yang baik."


Tetua Wan mengedarkan pandangan sambil terus mengembangkan senyuman. Dia menggunakan kekuatannya untuk mengeraskan suara. Suara riuh oleh tepuk tangan terdengar meriah.


"Dan yang aku dengar, hadiah pemenang pertama sangatlah menarik dan sungguh luar biasa. Untuk itu, aku tidak akan berlama-lama menunda pertandingan ini. Namun, sebelum itu kita sambut Tetua Haki yang akan memberikan beberapa arahan."


Mendengar dan mengingat hadiahnya memang luar biasa, wajah para peserta dipenuhi oleh kobaran semangat. Mereka saling menyatukan tangan dengan kelompok petanda harus bekerjasama dengan baik agar memenangkan pertandingan.


Suara tepuk tangan juga tidak kalah meriah lagi. Para penonton saling menyemangati kelas masing-masing dan bertaruh siapa pemenang kali ini.


Tetua Haki melayang di tengah-tengah arena pertandingan. Dia tersenyum menyapu pandang sambil memberikan ujaran yang memicu kesemangatan bertambah. Tetua Haki tentunya sangat senang melihat bakat para muridnya yang luar biasa. Kualitas murid memang akan meninggikan nama Akademi.


Tetua Haki juga mengatakan bahwa merrka mereka dididik di Akademi untuk menempa kemampuan materi dan juga kekuatan yang nantinya bisa digunakan untuk melindungi diri dan orang-orang di sekitar. Di Akademi, mereka bertarung melawan teman sendiri yang kekuatannya belum terlalu besar dan tentunya masih bisa di atasi. Mendapatkan misi juga hanya misi yang mudah bagi mereka.


Ketika mereka lulus dari Akademi, mereka akan bertemu dunia yang sesungguhnya. Dunia kejam yang banyak dikuasai orang-orang hebat dan kuat. Di sanalah mereka baru akan bertarung dengan orang-orang yang sangat kuat dari berbagai kalangan. Untuk itulah mereka harus belajar lebih kuat selagi masih di Akademi.


Suasana seketika berubah. Para murid merasakan haru ketika Tetua Haki berbicara demikian.

__ADS_1


Sebuah kebanggaan tersendiri bagi guru yang mampu mendidik muridnya dengan baik. Tetua Haki menarik napas dalam dan melanjutkan perkataannya.


"Aku sangat senang kemampuan kalian sudah bertambah pesat, terlihat dari pertandingan antar kelas ini. Di antara kalian semua nantinya, akan dipilih oleh para Tetua untuk mengikuti Turnamen Magic Muda dua tahun lagi. Dan aku harap siapa pun yang terpilih nanti bersedia dididik langsung oleh para Tetua."


Mendengar hal tersebut, para murid sontak terlonjak kaget. Raut wajah yang sebelumnya penuh haru kini berpacu dengan semangat tinggi. Apalagi para peserta yang ingin memperlihatkan kemampuan terbaik masing-masing. Mendapat didikan langsung dari para Tetua adalah kesempatan emas dan hal yang luar biasa bagi mereka. Terlihat antusias para peserta membuat para Tetua yang melihatnya tersenyum.


Suara riuh oleh tepuk tangan terdengar, dan berakhir ketika Tetua Haki menutup sambutan dengan memberikan semangat pada para peserta.


"Baiklah, tanpa banyak mengulur waktu lama lagi dengan ini aku menyatakan pertandingan antar kelompok segera dimulai. Kelompok kelas Satu C dan kelompok kelas Dua I dipersilakan naik ke arena pertandingan."


Suara tepuk tangan dari para penonton memulai kegaduhan. Mereka masih saja ada yang menatap remeh kelas Satu C.


Amdara dan teman-temannya yang terlihat tegang saat berjalan seperti robot. Wajah mereka yang semula semangat mendadak pucat pasi layaknya mayat hidup karena melihat tatapan orang-orang di sekitar.


Berbeda dengan Amdara yang berjalan dengan tatapan tanpa ekspresi. Tanpa memedulikan sekitar yang terdengar mulai ada bisik-bisik.


Inay sendiri berjalan di samping Amdara. Dia memiliki mental cukup kuat. Walaupun wajahnya pucat karena kurang istirahat, tapi Inay yakin bisa mengeluarkan jurus terbaiknya.


Dirgan sendiri berjalan paling depan layaknya pemimpin dari kelompok tersebut. Dia mengepalkan tangan, tidak terima mendengar bisikan yang dia dengar. Dalam hati Dirgan ingin membuktikan kelas Satu C sudah berubah.


Atma sendiri yang biasanya percaya diri entah bagaimana dia berpegangan pada jubah milik Aray. Wajahnya sudah pucat pasi, bahkan dia sudah gemetar duluan sebelum masuk ke arena pertandingan. Aray yang melihatnya mendengus kesal dan berbisik pada Atma.


"Kau ini pengecut sekali. Jangan tunjukkan tampang payahmu itu. Membuat kelompok terlihat tidak keren saja."


Atma menatap Aray yang memelototkan mata. Atma mengerucutkan bibir dan berkata lirih, "ini pertama kalinya aku akan memasuki arena pertandingan dan bertarung. Kau pikir ini mudah bagiku? Tsk. Aku sedang ketakutan, dan kau malah bertambah menakutiku dengan wajahmu itu."


Aray sontak mencubit pinggang Atma keras yang langsung mendapat rintihan. Aray berdecak karena ucapan Atma yang kuranga ajar.


Di depan mereka Rinai dan Nada saling berpegangan dan menunduk. Penampilan Rinai yang seperti tidak terawat menambah bisikan-bisikan lagi. Tatapan merendahkan dan ada yang terang-terangan mengatakan mereka langsung menyerah saja sebelum pertandingan, karena hanya akan membuang-buang waktu. Nyaris saja Aray kehilangan kendali karena mendengar hal tersebut. Namun, Atma langsung mencekal lengannya dan mencoba menenangkan.

__ADS_1


__ADS_2