
Siluman Ular berakhir membawa ketiga manusia di atas kepalanya pergi ke rumah yang pernah dia lihat selama hidup di hutan ini. Ini merupakan penghinaan bagi dirinya yang seorang Siluman Ular yang sudah hidup ribuan tahun, tapi ditaklukkan oleh seorang bocah yang bahkan sebelumnya tidak tahu fungsi Seluring Putih. Sangat konyol! Siluman Ular terus saja menggerutu dalam alam bawah sadar milik bocah berambut putih. Namun, bocah itu sama sekali tidak mempedulikan. Hanya membalas dengan gumaman yang langsung membuat lawan bicara naik pitam.
Seperti ketika Siluman Ular mengatakan bahwa dirinya pernah melihat satu rumah di hutan ini yang dihuni oleh seorang pria aneh, lawan bicara hanya mengangguk tanpa mengeluarkan satu kata pun. Atau ketika dirinya menanyakan apa hubungan Amdara dengan pria aneh itu, bocah tersebut hanya bergumam. Tentu siluman tersebut sangat ingin menelan hidup-hidup bocah hemat bicara itu.
Di dunia nyata, Amdara masih memainkan seluring dengan irama ketenangan. Dia mendengarkan ocehan Siluman Ular, tapi di luar juga mendengar Shi terus berceloteh karena masih tidak menyangka bisa menaiki seekor siluman. Hal tersebut sama sekali tidak mengganggu Amdara, dia masih tetap dengan tenang meniup Seluring Putih.
Shi berdecak kagum dengan siluman ini. Berulangkali dirinya memuji dengan mengatakan bahwa Siluman ini sangat cantik dan juga baik hati. Perkataan Shi nyaris membuat Amdara tersedak, dirinya menggelengkan kepala pelan. Sementara Siluman Ular yang mendengarnya terbatuk-batuk. Siluman Ular langsung protes di alam bawah sadar Amdara karena dirinya bukan betina, melainkan jantan. Dikatakan 'cantik' oleh manusia sungguh membuatnya marah. Dan satu hal lagi, baik hati? Siluman Ular sebenarnya tidak baik. Tapi karena dirinya terjerat oleh Seluring Putih, dirinya terpaksa melakukan ini semua.
Nyatanya aura dari Siluman Ular benar-benar hebat, ketika ada siluman lain yang hendak mendekat atau menyerang langsung mengurungkan niat karena melihat Siluman Ular mengeluarkan aura tidak biasa. Bahkan ketika ada satu siluman kera yang umurnya lebih tua, dia juga tidak mengambil tindakan menyerang entah karena alasan apa.
Shi dan Cakra tentu merasa lega karena hal ini. Kedua bocah itu jadi tidak perlu membuang tenaga untuk memberi perlawanan.
Selama perjalanan tujuh hari dengan menaiki Siluman Ular, mereka akhirnya terpana melihat bangunan besar di tengah-tengah hutan yang dikelilingi oleh tanaman herbal di sekitar bangunan tersebut. Selama tujuh hari dengan kecepatan tinggi Siluman Ular, mereka tidak menyangka sampai di tempat tujuan. Mungkin jika mereka mengandalkan terbang sendiri, tidak sampai selama tujuh hari. Jika dihitung, maka hanya untuk datang ke kediaman Tetua Haki adalah selama empat belas hari atau dua minggu penuh.
Shi masih sangat tidak percaya, ternyata Siluman Ular membawa mereka ke tempat kediaman Tetua Haki. Amdara dan juga Cakra juga berpikir demikian.
Bangunan tersebut terpancar aura agung. Berwarna ungu bercampur putih. Di bagian sisi kanan, nampak pohon besar menyambung sekaligus dengan bangunan besar itu. Di sekelilingnya ada sungai mengalir tenang yang ditumbuhi oleh tanaman teratai.
Baik Amdara, Cakra, dan Shi langsung terkesima melihatnya. Walau Shi sudah pernah melihatnya, tapi dia masih saja dibuat kagum. Bahkan ketiganya lupa untuk turun dari kepala Siluman Ular. Amdara menghentikan permainan seluringnya, beberapa kemudian Siluman Ular dapat mengendalikan dirinya kembali. Melihat ketiga bocah di atas kepalanya masih berdecak kagum, Siluman Ular sontak langsung menjatuhkan ketiga manusia itu dengan cara menggoyang-goyangkan kepala.
Amdara tersentak, beruntung dia terjatuh dengan posisi tangan dahulu yang menyentuh tanah. Dirinya menghela napas, dan segera berdiri dengan penuh wibawa. Begitu pula dengan Cakra yang mendengus melihat Siluman Ular yang telah berani menjatuhkannya.
__ADS_1
Berbeda sekali dengan Shi yang jatuhnya dengan posisi wajah mencium tanah. Bahkan tidak sengaja bokongnya terkena libasan pelan dari ekor Siluman Ular. Shi yang tidak siap terjungkal ke depan.
"Aduh! Bokongku!!"
Shi mengelus-elus bokongnya yang terasa nyeri. Dia perlahan bangun dan berdiri sambil terus merintih. Dengan kesal berkata sambil menatap tajam Siluman Ular.
"Kau Siluman ular tidak tahu malu! Kau baru saja melecehkanku, hah?!"
Siluman Ular itu mendesis dan balik menatap tajam. Bukannya merasa takut, Shi maju hendak menyerang tapi Amdara langsung mencegahnya. Amdara mengatakan bahwa Shi tidak boleh melakukan apa-pun kepada Siluman Ular yang sudah membantu mereka menemukan kediaman Tetua Haki.
Amdara mendekat ke arah siluman yang sedang menatap tajam seolah sedang memendam bara amarah.
Amdara tanpa nada berkata, "terima kasih, kau bisa pergi."
Shi berkedip mendengar ucapan Amdara yang seolah bisa berbicara dengan binatang itu. Dirinya mendekat dan berkata penasaran, "Luffy, apa kau bisa berbicara dengan siluman itu?"
Amdara menghela napas, dan hanya mengangguk pelan. Respon itu langsung membuat Shi terkejut.
"Yang benar, Luffy?! Kau benar-benar bisa berbicara dengan siluman ular itu?!" Amdara berjalan ke arah sungai tanpa menjawab. Shi berkedip, dia mencecarkan pertanyaan. "Hei, aku sedang bertanya! Jadi kau yang meminta siluman itu untuk membawa kita ke sini? Bagaimana caranya kau berbicara dengannya? Apa dengan semua siluman kau bisa berbicara kepada mereka?"
Cakra sebenarnya juga terkejut bahwa Amdara yang meminta siluman itu membawa mereka kemari. Jika seperti ini, bukankah Amdara bisa menjinakkan seekor siluman. Dia ingin bertanya, tapi masih bisa ditahan tidak seperti Shi.
__ADS_1
Amdara menghela napas. Dirinya baru hendak buka suara, tapi suara seseorang menginstruksikan mereka.
"Lama sekali untuk datang kemari."
Seorang pria dengan memakai jubah yang memiliki bulu-bulu halus dibagian kanan terbang dari atas, mendarat dengan anggun di hadapan ketiga bocah itu yang terkejut bukan main. Ketiga bocah itu sontak langsung memberikan hormat.
"Maaf, Tetua."
"Maaf, Tetua atas keterlambatan kami."
"Tsk. Maaf, Tetua. Jika bukan karena Penjaga Gerbang yang salah membawa kami, tentu saja kami tidak akan terlambat."
Ucapan Shi membuat Tetua Haki menggelengkan pelan kepalanya. Tapi sebenarnya dia sedang menyembunyikan senyuman aneh. Amdara dan Cakra hanya bisa menarik napas panjang mendengarnya.
"Berdirilah." Amdara, Shi, dan juga Cakra langsung menegakkan pandangan ketika Tetua Haki meminta. Tetua Haki kemudian mengajak ketiga bocah itu masuk ke kediamannya.
Memasuki halaman kediaman Tetua Haki yang luas, Amdara dapat merasakan sensasi dingin. Dia mengedarkan pandangan, matanya masih berdecak kagum. Jika masuk ke dalam dan tinggal di sana, pasti akan terasa sangat nyaman. Tentu itu yang dipikirkannya, Cakra, juga Shi yang sudah senyum-senyum membayangkannya sendiri.
"Kalian bersihkan diri terlebih dahulu. Tempat kalian berada di sana." Tetua Haki menunjuk ke arah tiga rumah. Amdara, Cakra, dan Shi mengalihkan perhatian yang ditunjuk. Ketiga terdiam, menatap Tetua Haki kebingungan.
"Tetua, apa kami tidak akan tinggal di kediamanmu?" tanya Shi. Namun, jawaban Tetua Haki sungguh membuat dirinya dan kedua temannya membuks mulut tak menyangka.
__ADS_1
"Tidak. Kalian tinggal di sana."