Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
268 - Aura Kegelapan


__ADS_3

Teriakan Amdara yang tiba-tiba membuat Ketu tersentak kaget. Jelas gadis itu tengah kesakitan luar biasa sampai tidak bisa menahan teriakan.


Salah satu cahaya merah keluar dari tubuh Amdara menambah sakit. Seketika darah mencuat. Seperti rantai duri yang ditarik paksa keluar dari tubuh.


Hampir dia ambruk tidak kuat, jika saja Ketu melakukan gerak totok pada punggungnya hingga dia tersadar.


Ketu kemudian mengeluarkan dua bangkai Siluman Landak Ungu. Mengalirkan darah itu tepat di atas kepala Amdara yang mengeluarkan asap lebih seketika.


Amdara kembali berteriak kesakitan. Panas dan dingin dalam tubuh sekaligus, lalu seperti ada hantaman keras berton-ton di tubuh. Tidak sampai di sana, tekanan berat entah apa membuat luka luar dan dalam semakin menggila.


Satu persatu Benang Merah mulai keluar dari tubuh. Ketu melayang di udara, tangannya bergerak mengeluarkan kekuatan, seperti tengah menarik cahaya merah di dalam tubuh Amdara. Kekuatan yang dia keluarkan juga tidak main-main. Setengah kekuatan sudah dikeluarkan.


Aura gelap yang kental semakin keluar dari tubuh Amdara.


Pola di bawah Amdara semakin bercahaya terkena darah Siluman Landak Ungu. Cahaya itu membentuk kurungan. Dalam lima menit selanjutnya, cahaya itu semakin besar. Hingga ledakan terjadi. Bersamaan darah begitu besar mencuat saat akar Benang Merah merah benar-benar tercabut. Asap hitam langsung menguat di sana.


Ketu dibuat menghantam dinding sebab ledakan itu. Dia terkejut bukan main merasakan kekuatan gelap di depan sana yang tengah meledak-ledak.


"Aura kegelapan!"


Aura itu menyeruak di ruangan tersebut. Bahkan perlahan menembus dinding dan dalam waktu tidak lama keluar dari kediaman. Melewati hutan, yang seketika suasana menjadi mencekam. Pohon-pohon langsung layu. Siluman-siluman di sana mengeluarkan suara memekakan telinga. Burung-burung berterbangan tidak tentu arah dan dalam sepuluh detik mereka berjatuhan.


Kekuatan kegelapan itu sampai di kota Ujung Bumi. Orang-orang terkejut bukan main. Tekanan hebat jelas mereka rasakan. Beberapa orang memuntahkan darah, merasakan tubuh kesakitan. Orang-orang yang tidak memiliki kekuatan cukup besar dibuat pingsan begitu saja.


Aura ini menggemparkan semua orang. Terutama para Tetua Akademi Nirwana Bumi yang langsung keluar gedung dan memandang langit malam. Tidak ada bintang terlihat, tidak ada cahaya setitik pun di sana. Hanya awan gelap menyelimuti bumi.


"Apa ini aura Roh Hitam?"

__ADS_1


Salah satu Tetua menerka-nerka. Tangannya terkepal kuat. Jika tebakannya benar, maka akan terjadi hal tidak terduga.


"Auranya lebih dari itu, Tetua. Ini ... aku tidak terlalu yakin. Tapi, bisa saja benar," Tetua lain menanggapi dengan perasaan gelisah. Dia kembali buka suara lirih, "kegelapan ini sama seperti perang dahulu. Perang antar manusia dengan ...."


Rasanya tenggorokannya terasa sakit saat ingin melanjutkan ucapan. Tetua di sampingnya menoleh, cukup terkejut mengingat sesuatu.


Perasaan tidak mengenakan terasa di benak semua orang di sana. Mereka bertanya-tanya apa yang tengah terjadi. Bertanya-tanya dari mana aura gelap begitu kental ini.


Aura ini memasuki kota Pelita. Sama hal nya dengan orang-orang di kota Ujung Bumi, di sana juga terjadi hal yang sama. Perasaan takut menyelimuti. Tubuh terasa ditekan begitu hebat sampai membuat sebagian dari mereka muntah darah dan tidak sadarkan diri.


Tiga orang bertudung dengan kain biru menutupi wajah dibuat terkejut. Mereka menekan dada dan berusaha melawan tekanan itu.


"Sialan. Dari mana aura ini berasal?! Uhuk."


"Ini mengerikan. Apa ... orang yang akan kita tangkap sudah bereaksi?!"


Mereka manatap langit gelap. Suara gemuruh petir tiba-tiba datang. Ketakutan tidak biasa menyelimuti para warga.


Dalam beberapa menit, aura gelap itu sudah sampai di kota Awan Langit. Angin berhembus, membawa perasaan tidak mengenakkan. Bagi orang-orang yang mengetahui aura ini, mereka dibuat ketakutan memandang langit. Aura mencekam yang tidak biasa dan membuat jantung rasanya mau melompat dari tempat.


Di Akademi Magic Awan Langit, Tetua Haki membelalakkan mata dan segera keluar dari ruangan bersama Tetua Widya, dan Tetua Genta yang melemparkan pandangan ke langit. Pemandangan yang tidak jauh berbeda di kota-kota lain saat ini.


"K-kekuatan mengerikan apa ini?!" Tetua Widya menelan ludah kesulitan. Dia dan yang lain merasakan tekanan hebat. Kecemasan terlihat di wajah mereka.


Tetua Besar Moksa muncul di sana, wajahnya dilanda kecemasan luar biasa. Pucat dan sedikit perasaan takut datang di hatinya.


"Aura ini ... aura yang pernah kurasakan. Aura mengerikan yang membuat gentar dunia manusia."

__ADS_1


Napas Tetua Moksa tidak beraturan. Kedatangannya tidak membuat kaget tiga Tetua lain. Mendengar perkataan Tetua Besar Moksa, Tetua Haki kontan bertanya.


"Tetua, apa 'iblis' bangkit?"


Ucapan Tetua Haki membuat tersentak Tetua Widya dan Genta. Mereka mengingat Tetua Besar Moksa yang pernah menceritakan mimpinya mengenai 'kebangkitan iblis'.


"Tidak ada waktu. Kita persiapkan segala kemungkinan. Aku yakin negara lain juga merasakan aura kegelapan yang sangat kental ini."


Di sisi lain, di tempat yang auranya sudah dingin dan menyeramkan. Salah seorang pria yang tengah duduk di singgasana mengepalkan tangan. Tatapan matanya lebih tajam dari sebelum merasakan tekanan hebat ini.


"Sialan. Bukankah kekuatannya lemah? Kenapa jadi seperti ini!"


Dia semakin dibuat marah. Ruangannya dibuat terguncang karena kekuatan yang dikeluarkan. Dia tidak merasakan tekanan seperti orang lain. Namun, tetap saja tekanan aura kegelapan ini membuatnya merasakan sesuatu yang tidak mengenakan.


"Jika seperti ini, lebih cepat menghisap kekuatannya akan lebih baik. Kau, kau pasti akan tewas tidak lama lagi!"


Kepalan tangannya menghancurkan dinding di sebelah kiri. Angin kejut tercipta dan keluar dari tempat itu.


Di Negeri Elang Bulan, kejadian sama tengah terjadi saat ini. Awan gelap menyelimuti langit. Sambaran petir tidak biasa di atas langit menambah kesan mengerikan. Angin yang berhembus membuat orang-orang ketakutan dan berjatuhan.


Dalam sekejap, mereka merasakan akan ada hal mengerikan akan terjadi. Di Organisasi Elang Putih, seorang pria keluar dari ruangannya. Memandang langit dengan perasaan gelisah. Keringat dingin sudah bercucuran di tubuh. Wajahnya mendadak pucat.


"Tidak. Apa perang akan kembali terjadi?" Dia Tetua Bram mengepalkan tangan. Merasakan tekanan hebat sampai membuatnya terduduk. "Dara, apa kau sudah bertemu orang tuamu? Bagaimana keadaanmu sekarang? Apa yang akan kau pilih?"


Tetua Bram memejamkan mata erat. Perasaan takut sudah menyambar ke hati.


"Apa pun yang akan kau pilih, pada akhirnya kita akan bertemu. Ya, dalam situasi tidak mengenakan. Perang yang tidak pernah kau sangka."

__ADS_1


Tetua Bram tidak menyangka merasakan aura yang sudah sangat lama tidak dia rasakan. Aura yang membuat semua manusia terduduk lemah, gemetar ketakutan. Aura yang mengguncang dunia manusia. Hingga memporak-porandakan dunia manusia tanpa ampun. Tanpa belas kasih.


__ADS_2