Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
259 - Air Terjun


__ADS_3

"Beliau ... orang baik. Tapi aku tidak bisa lagi berkomunikasi dengannya karena dia mendapatkan luka parah sampai sekarang."


Api Biru menjelaskan, dia juga tidak mengetahui siapa Tuannya. Dia hanya menuruti perintah.


Penjelasannya membuat Amdara kembali merenungi banyak hal. Entah mengapa selalu ada kejadian tidak terduga dari dirinya sendiri.


Cahaya biru dari kejauhan melesat sangat cepat dan berhenti di hadapan Amdara. Itu adalah Api Biru yang sebelumnya diperintahkan.


"Nona, aku sudah menemukan lokasi air terjunnya!"


Amdara tersentak dan segera berdiri. "Tunjukkan jalannya."


Api Biru itu melayang-layang dan menunjukkan jalan dengan terbang cepat.


*


*


*


Suara gemericik air terdengar begitu tenang mengalir. Air terjun itu tampak seperti air terjun biasa. Genangan air mengalir dari sela-sela bebatuan yang sudah berlumut. Udara di sana cukup membuat tulang seperti ditusuk dinginnya malam. Pepohonan yang cukup rimbun menghalangi keberadaan air terjun tersebut. Suara air mengalir dari tebing sama sekali tidak terdengar jika sudah melewati pepohonan yang menutup air terjun tersebut.


Hal yang membedakan lagi adalah, aura di sana tidak biasa. Cukup mencekam, membuat merinding siapa pun.


Dinginnya air ini tidak seperti biasa. Ketika Amdara mencelupkan tangan kanan ke air, bisa dirasakan dingin sampai ke tulang-belulangnya.


Saat ini dia sudah sampai di Air Terjun yang dikatakan oleh salah satu Api Biru. Dalam tiga jam perjalanan, dia bisa melihat langsung Air Terjun ini. Amdara bisa langsung yakin jika di sini, menyimpan Permata Air.


Gadis itu membuat tangan berbentuk mangkuk. Mengambil air, dan membasuh wajah begitu saja. Terasa sangat dingin memang, sampai membuat wajahnya membiru sesaat. Namun, Amdara bisa merasakan kesejukan setelah sepuluh menit berlalu.


Pantulan wajah dirinya dari air karena cahaya Api Biru, dia memandang sejenak dalam diam.


Dia menyentuh pipi kanan pelan. "Apa wajah orangtuaku mirip seperti ini?"

__ADS_1


Entah mengapa, tiba-tiba dia merasa ingin sekali bertemu orang tua kandung. Ingin merasakan kehangatan keluarga, kasih sayang, dan juga dekapan hangat dari mereka.


"Ibu Dewi, Ayah Langit, sebenarnya di mana kalian?" Amdara menurunkan pandangan. "Sampai kapan aku harus mencari kalian. Kapan aku bisa melihat sendiri wajah kalian. Kalian masih di dunia, 'kan?"


Perasaan sesak tiba-tiba menyeruak ke dada. Dia menelan ludah susah payah. Tanpa peringatan, bulir air dari pelupuk mata mengalir. Jatuh di atas genangan air mengalir.


"Banyak hal yang aku lewati selama ini. Sampai nyaris nyawaku melayang. Namun, selalu ada keajaiban yang membuatku bisa melihat dunia lagi. Ibu, Ayah, sekarang pun aku masih terlilit banyak masalah. Salah satunya Benang Merah ini."


Amdara menyentuh pergelangan tangan kiri dan kembali berucap lirih, "aku lemah dan semakin melemah karena Benang Merah. Apa keajaiban akan datang lagi? Melepas Benang Merah ini."


Untuk pertama kalinya, Amdara mengaku lemah dengan menyertakan nama orang tuanya. Merasa malu dan takut jika suatu saat nanti mereka di takdirkan bertemu, Amdara belum bisa membuat bangga.


Amdara menyeka air mata. Mengusapnya dan menarik napas pelan. Melihat pantulan wajah di air kembali. Kepalanya menggeleng. Dia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Menenangkan hati dan pikiran.


Pandangannya beralih ke air terjun yang cukup gelap. Tidak ada sinar rembulan dan anehnya, bintang-bintang di langit tidak terlihat. Hanya ada awan gelap.


Api Biru semakin membesar, membuat sekitar terlihat terang.


Dia berdiri dengan seulas senyum hangat di bibir. Angin mendadak meniup-niupkan jubah, rambut beserta ikat rambutnya.


Kakinya berjalan mendekati air terjun. Percikan air mengenai wajahnya yang langsung terasa ngilu akibat dingin. Tangannya terurur, berniat menyentuh air tersebut. Namun, tiba-tiba gelombang angin muncul dan membuat gadis itu terdorong mundur.


"Mn. Ini tempatnya."


Pusaran angin memutari tubuh, ketika tangan kanan terangkat, lesatan pusaran angin biru melesat ke air terjun.


Gelombang angin dahsyat bertemu air terjun yang tiba-tiba mengeluarkan kekuatan, membuat keduanya saling bertubrukan dan menghasilkan ledakan besar. Bahkan Amdara sampai harus menghindar dengan cepat.


Amdara jelas baru saja melesatkan serangan besar, tapi tidak disangka air terjun itu membalas serangan jauh lebih kuat.


Air yang mengalir di sela-sela bebatuan tampak masih tenang. Bebatuan yang harusnya terkena dampak serangan juga tidak lecet secuilpun.


Dua Api Biru langsung menyerang ke Air Terjun. Antara serangan air dan api saling bertubrukan, membuat percikan ledakan dan sambaran petir.

__ADS_1


"Nona, ini jelas bukan air terjun biasa."


"Mn. Seolah di balik air terjun ada seseorang yang memainkan kekuatan airnya."


Amdara mengepalkan tangan. Dia kembali membuat gerakan tangan, kali ini dia menggunakan pemusatan kekuatan pada angin beliung yang diciptakan. Angin beliung nya sangat besar, Amdara melayang di atasnya. Rambutnya menerpa wajah, tatapan mata birunya tidak lepas pandang ke depan.


"Kilatan angin aliran pertama!"


Angin dahsyat itu kembali melesat ke depan. Harusnya menerbangkan benda-benda sekitar, akan tetapi baik air, batu, atau pun pohon sama sekali berkutik. Seperti ada perisai pelindung di sana.


Air terjun kembali bereaksi dengan memunculkan gelombang air besar. Kembali saling menyerang jauh lebih kuat. Dua Api Biru juga tidak tinggal diam. Pertarungan jenis kekuatan itu saling bertarung sengit. Ledakan terus terjadi begitu keras.


Amdara terdorong mundur. Tangannya terus berkutik, melakukan serangan. Sebuah tekanan membuatnya hampir terjatuh jika saja tidak segera menstabilkan kekuatan.


Disela-sela serangan, Amdara tidak luput menyerap kekuatan alam dengan perlahan. Pusaran angin tipis, sejuk mengelilingi tubuhnya.


Sebuah serangan air dingin menusuk tulang menyerang Amdara dari bagian bawah dan langsung menarik ke dalam. Sontak Amdara yang kurang cepat tertarik ke bawah. Air itu terasa sangat dingin dari sebelumnya bahkan seperti gumpalan es yang sedang menyelimuti tubuh.


Amdara berontak sebab, kepalanya nyaris tenggelam jika dirinya tidak membuat perisai pelindung. Tubuhnya mati rasa karena dingin luar biasa. Kulit tubuh mulai membiru akibat sulit mengontrol hawa dingin itu.


Gadis itu berontak sekuat tenaga. Namun, kedua tangan, dan kaki seolah terlilit sesuatu yang sangat tajam. Darah mulai mengalir, mengubah warna air.


Ombak dari arah belakang menerjang kepala Amdara yang langsung tenggelam. Gadis itu menahan napas sekuat tenaga. Melihat sebuah rumput laut berduri berwarna hitam tengah melilitnya begitu kencang.


Konsentrasi Amdara sedikit buyar ketika tubuhnya mulai melemah dan sulit di gerakan.


"Ada apa dengan tubuhku?!"


Dia mulai kesulitan menahan napas. Kepalanya terasa pusing. Matanya muram memburam.


Di luar, pusaran kekuatan angin miliknya masih melawan air yang mulai berubah dahsyat. Walau sudah dibantu Api Biru, adu kekuatan itu belum juga reda. Hingga ledakan besar terjadi kembali. Angin kejut tercipta. Namun, sama seperti sebelumnya tidak ada apa pun yang tergores. Dua Api Biru terpental ke belakang.


Seluring Putih tiba-tiba saja muncul dan melayang-layang. Mengeluarkan bunyi irama ketenangan tanpa siapa pun yang meniup.

__ADS_1


__ADS_2