
Gelombang kekuatan alam serentak menerpa tubuh gadis muda berambut putih. Di dalam hutan, angin dingin terus menghantam ke tubuh kecil itu. Angin yang semula tenang mulai berputar tidak karuan hingga membuat pepohonan tumbang dan hangus. Kekuatan dalam tubuh kian meningkat, disertai tekanan dari tubuh ke sekitar.
Langit malam terus mengintai dari atas. Ditemani lintang tanpa dewi malam. Mata gadis itu terbuka cepat saat merasakan gerakan melesat ke arahnya.
Dia melibaskan tangan ke belakang, saat itu juga di belakang langsung membeku. Di saat bersamaan pula, Siluman Landak Ungu sesaat turut tidak berkutik.
Kesempatan itu langsung digunakan gadis yang tidak lain Amdara menerjang dan menghantamkan kepalan tangan tepat di mata Siluman Landak Ungu. Es yang membeku di tubuh binatang tersebut pecah berkeping-keping. Silumannya terdorong mundur dengan jeritan memekakkan telinga.
Amdara hendak melesat lagi tapi duri-duri tidak terhitung melesat ke arahnya dari lawan yang langsung marah bukan main. Perisai pelindung dia buat, hampir saja pecah karena salah satu duri. Dia kontan membuat serangan pusaran angin agar duri-duri tajam tidak mengarah kepadanya.
Tanah bergetar hebat, tiga belas rantai es muncul dan langsung melilit tubuh Siluman Landak Ungu. Dia memberontak dengan sekuat tenaga, mengeluarkan lebih banyak duri.
Amdara menerjang dengan kegesitan. Mata birunya tak lengah sedikitpun saat ada duri yang hampir mengenainya, tangan kanan melibas ke depan saat itu juga durinya berubah hancur karena udara dingin layaknya es.
Sebilah pedang dia buat dan langsung ditancapkan ke satu mata lawan dengan keras. Bahkan lebih kuat dari mata sebelumnya. Darah berwarna ungu mencuat, membasahi cadar dan jubah.
Amdara melepas pegangan pada pedang dan termundur kaget. Darah dari Siluman Landak Ungu yang mengenai pakaian langsung membuat pakaian itu terbakar. Kontan dia mengeluarkan kekuatan air untuk menghilangkannya. Namun, api itu tidak padam.
Dia segera melepas cadar, melempar ke sembarang arah. Melapisi tubuh menggunakan kekuatan es agar tidak terbakar.
Sebelum api kian membesar, dia menghilang dan melepas seluruh pakaian dan menggantinya dengan cepat.
Malam itu, dia seorang diri di hutan. Memburu Siluman Landak Ungu atas pria yang telah menyelamatkan dari serangan Mitsu. Dia tidak menyangka bisa langsung bertemu orang bernama Ketu.
Tetua Ketu tidak mengatakan apa pun setelah mendengar penjelasannya mengenai Ang. Namun, Tetua Ketu menerima surat itu dan menyimpan. Benang Merah di inti spiritual Amdara akan dicabut jika dia bisa melakukan tiga hal, yaitu mendapatkan lima Siluman Landak Ungu, mengambil Bunga Api, dan membawakan Permata Air.
Amdara hanya diberi petunjuk sedikit tempat ketiga benda itu harus ditemukan. Dalam waktu sepuluh hari, harus bisa kembali ke kediaman Tetua Ketu dengan membawa benda-benda tersebut.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Amdara menyetujui. Ini kesempatan yang tidak boleh disia-siakan.
Malam ini, dia akan menghabisi Siluman Landak Ungu. Dia berdecih, mengusap darah di dahi.
"Siluman ini sangat bermanfaat tapi sulit ditaklukkan."
Siluman Landak Ungu memiliki banyak manfaat. Jika berada di tangan seorang alkemis hebat. Darah yang bisa membakar apapun, sulit dipadamkan. Duri-duri kuat dan licin. Daging yang penuh kekuatan bisa dimasak. Dan yang paling bermanfaat adalah permatanya.
Walau banyak manfaat, tapi memang sulit di tewaskan. Amdara kembali melesat setelah mengikat rambut lebih kencang. Tangan kanannya terayun sedikit, sampai hantaman keras berhasil mengenai Siluman Landak Ungu yang terpental menghantam pepohonan hingga roboh.
Amdara menghilang, muncul kembali di atas tubuh lawan yang terlentang. Lalu sebilah pedang tajam nan panjang muncul dari ruang hampa. Amdara memegang dan mengayunkan ke depan, tepat di leher musuh.
Darah mencuat ke segala arah. Beruntung Amdara membuat perisai pelindung hingga tidak terbakar seperti sebelumnya. Duri-duri tajam menghempas ke berbagai arah. Suara Siluman Landak Ungu memekakkan telinga. Menjerit dan berontak, tapi tidak berdaya lagi setelah Amdara menghancurkan jantung hanya dengan kepalan tangan terlapis perisai pelindung kuat. Hanya perut Siluman Landak Ungu yang tidak dilapisi duri tajam. Jeritannya semakin memelan, sampai dia benar-benar tewas.
Amdara melayang di udara. Tersenyum tipis ke bawah, di mana satu Siluman Landak Ungu telah dia habisi.
"Criittt!!"
"Cicitcrittt!!"
Suara landak lain yang tiba-tiba muncul dari bawah tanah, menggetarkan. Lima Siluman serupa muncul. Kali ini mata merah menyala menatap nyalang ke anak manusia yang masih mempertahankan ketenangan wajah.
Kemungkin kelima siluman itu teman siluman yang baru saja dihabisi. Mereka berbondong-bondong mengeluarkan duri-duri tajam dari tubuh. Melesatkan nya ke arah anak manusia yang langsung menghilang dan memunculkan rantai-rantai es tak terhitung jumlah hanya untuk melilit tubuh kelima Siluman Landak Ungu.
Mereka tidak langsung membeku seperti Siluman sebelumnya. Berusaha terus berontak sekuat tenaga tanpa menghentikan serangan duri-duri tajam.
Amdara muncul kembali sambil terbang. Jari-jarinya terus tergerak, memainkan rantai-rantai es. Sesekali dia menghilang untuk menghindari serangan.
__ADS_1
"Jangan berontak."
Angin beliung dia munculkan. Memutari siluman-siluman itu cepat. Angin tersebut akan terasa menyayat tubuh siapa pun yang diterpa.
Dia mengangkat salah satu siluman menggunakan rantai es, menghantamkannya ke siluman lain. Angin kejut terjadi, merobohkan pepohonan sekitar. Tanah berlubang akibat hantaman keras barusan. Melihat kelima siluman hendak meloloskan diri lewat tanah, dengan cepat Amdara melesatkan serangan bertubi-tubi. Kontan darah mencuat ke mana-mana, yang langsung membakar sekitar. Api ungu membara, tidak menyebar tetapi sulit dipadamkan.
Amdara melakukan pemusatan kekuatan yang pernah dia pelajari dari Tetua Haki. Angin biru berputar-putar di atas tangan yang terangkat. Di dalam hutan itu, Amdara melakukan serangan beruntun dengan kekuatan dahsyat.
Jeritan dari siluman-siluman sama sekali tidak membuat gadis tersebut menghentikan aksi. Dia memutar tubuh, lalu melakukan serangan lagi. Hingga, kelima siluman tewas dengan darah ungu berceceran. Kulit yang kuat terluka cukup parah.
Amdara menyatukan mengangkat kedua tangan, lalu menyatukannya di depan dada sambil menunduk. Dia membayangkan tempat kediaman Tetua Ketu, lalu sebuah portal terbentuk di depannya.
Masih fokus, dia membuat enam siluman terbang, dan dilemparkan ke portal.
"Lebih cepat menemukan dua benda lagi, lebih bagus."
Amdara mengatur pernapasan. Memandang langit cukup tenang sebelum melesat mencari Bunga Api.
Di taman kediaman Tetua Ketu, cahaya muncul mengagetkan pria yang sedang duduk santai di teras. Satu Siluman Landak Ungu muncul, dan menghantam tanaman bunga indahnya. Mata Tetua Ketu terbuka lebar, berdiri kaget. Bukan hanya satu, lima siluman lagi muncul secara tiba-tiba dan menghantam tepat ke bunga-bunga taman miliknya.
Tetua Ketu sampai membuka mulut. Tangannya terkepal sebab kesal.
"Bocah dungu itu!! Setelah kau kembali biar ku lempar kau ke kandang singa!"
Tetua Ketu melibas jubah samping dan duduk kembali. Memijat kepala yang mendadak terasa pening.
"Ang, kenapa kau membawa anak manusia dungu itu kepadaku?! Kenapa kau lagi-lagi datangkan musibah untuk gurumu ini?!"
__ADS_1