Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
77 - Tatapan Meremehkan


__ADS_3

Tetua Genta menaikkan sebelah alis dan terlihat mengangguk mendengar salah dari perwakilan kelompok yang kini di depan meja mengangkat tangan dan berteriak.


"Periuk, alat tumbuk, air, kayu, dan api."


Atma tersenyum kikuk. Dia harap permintaannya bisa diberi oleh Tetua Genta. Jika hanya mengandalkan tiga tanaman herbal, dia tidak bisa melakukan apa pun.


Beberapa perwakilan kelompok nampak menatapnya, seakan penuh tanya dengan hal yang diinginkan perwakilan kelas Satu C.


"Kalian boleh meminta barang atau alat lain untuk membantu."


Ujaran Tetua Genta membuat perwakilan setiap kelompok langsung heboh. Tanpa basa-basi mereka meminta alat maupun barang yang akan digunakan. Dan tentunya barang tersebut hanya diberi oleh Tetua, tanpa ada campur tangan para murid.


Jari-jari Atma mengetuk-ngetuk meja risau. Dia menelan ludah susah payah karena kembali tak sengaja bertatapan dengan Tetua Genta yang seolah ingin memakan dirinya hanya dengan tatapan mata.


"K-kurasa tatapan Luffy lebih baik."


Tatapan Atma beralih ke kelompok yang ternyata tengah tersenyum. Dirgan, Inay, Rinai dan Nada mengangkat tangan dan melambai-lambai seakan memberi semangat.


Lengkungan bulan sabit muncul di wajah Atma. Dia membalas dengan melambaikan tangan, membuat beberapa murid yang melihatnya mendengus.


Keramaian tak terelakkan ketika seorang Senior yang tengah melakukan sesuatu dengan sebuah besi besar yang masih tak terbentuk. Api yang panasnya luar biasa itu membakar besi tersebut. Dia melayang, sebuah kapak besar dipegangnya erat. Angin berhembus menerbangkan jubah putih dan ikat rambutnya.


Tampan. Satu kata itu berhasil keluar dari Atma tanpa sadar. Rasanya jika disandingkan dengan Senior itu, nyali Atma menciut. Namun, ketika Atma terus memerhatikan dengan serius, ada perasaan aneh yang menyelubungi hatinya. Perasaan sakit sekaligus rindu seseorang. Atma segera mengalihkan pandangan, hatinya tiba-tiba saja melemah. Matanya berkaca-kaca saat terlintas kejadian tak mengenakan di pikiran.


Suara dentuman terdengar karena kapak yang berbenturan keras dengan besi berkualitas yang tengah dibenturkan sengaja. Nampaknya Senior Cakra itu tengah menempa barang temuan kelompoknya.


Seruan-seruan terdengar meriah menyemangati. Bahkan murid-murid yang tak mengikuti pertandingan segera menyusul untuk melihat sosok tampan yang tengah menempa dengan kekuatan dahsyat. Angin kejut tercipta akibat benturan keras tersebut. Seperti seorang pandai besi, Cakra lihai dalam praktik penempaan. Dibuat kagum Tetua dan para guru yang menyaksikan.


Sementara itu, perwakilan kelompok lain tengah berkutat dengan kerjaan sendiri. Ada yang menggunakan kekuatannya sampai hawa dingin menyebar. Beberapa perwakilan kelompok masih kebingungan untuk apa pada barang di atas meja. Tak heran jika mereka berteriak meminta saran dari kelompoknya. Tetua Genta, Tetua Widya dan Tiga Guru Besar tak mempermasalahkan. Selagi hal itu tidak melanggar peraturan.

__ADS_1


Barang yang diminta Atma belum juga sampai, padahal Tetua Genta memberi mereka waktu tiga jam saja. Sangat mustahil meracik obat yang benar dalam waktu singkat. Apalagi Atma masih terbilang pemula dalam hal ini. Dirinya hanya pernah membaca buku, dan mempraktikkan sedikit yang hasilnya malah gagal total.


"Tak apa. Kau sudah berusaha. Itu lebih baik." Atma memejamkan mata. Bibirnya bergetar saat berkata, "ayolah, kau tidak lemah. Kau bisa. Sama seperti saudaramu dahulu. Bahkan kau bisa menjadi lebih darinya. Tak ada lagi pandangan remeh, tak ada lagi cibiran dari orang-orang jika aku berhasil."


Atma mengepalkan tangan dan membuka mata perlahan saat seseorang mendatanginya dan menaruh benda yang diinginkan terkecuali api yang belum disiapkan. Orang yang merupakan suruhan Tetua Genta itu segera undur diri dan mengambil barang yang diminta kelompok lain.


Atma menatap barang-barang di depannya ragu. Tetapi dia segera menggeleng saat terlintas dukungan dari teman-temannya.


"Baiklah, mari kita buktikan."


Hal pertama yang dilakukan oleh Atma adalah meletakkan periuk di bawah. Dia mengambil ginseng merah, dan segera menumbuknya pelan di alat penumbuk.


Tetua Genta mengerutkan dahi, melihat cara Atma yang terlihat paling halus tanpa sedikitpun menggunakan kekuatan.


Tetua Widya berceletuk, "apa dia tengah membuat masak-masakan?"


Guru Kawi yang sedari diam nampak menahan tawa mendengar perkataan Tetua Widya. Dirinya mengipas-ngipas wajah sambil memerhatikan sekeliling di mana perwakilan kelompok tengah sibuk. Guru Kawi sepertinya tertarik pada kelompok kelas Dua A yang mana perwakilannya adalah Bena sendiri tengah menggunakan kekuatan apinya untuk melelehkan baja. Dia menyeringai, mengeluarkan boa-bola api untuk menyerang baja tersebut yang tak kunjung meleleh. Entah benda apa yang akan dia buat. Terlihat Bena memberikan cairan hitam pada baja tersebut. Membuat apinya seketika berubah warna.


Semua orang yang melihatnya dibuat terpana. Termasuk Amdara yang tengah melihatnya. Dia berdecak kagum. Murid dari kelas lain memang berbakat.


Amdara kemudian beralih ke Atma lagi yang dengan telaten menumbuk tanaman herbal. Sepertinya Amdara berpikir Atma akan membuat sebuah obat atau pun ramuan. Itu cukup bagus.


"Mn?"


Cara yang digunakan Atma seperti yang dilakukan oleh Are di Dark World. Hanya saja Atma sama sekali tidak menggunakan kekuatan. Entah itu berhasil atau tidak, tetapi setidaknya Atma sudah terlihat keren tanpa ada terlihat pengecut.


**


Amdara tak melepaskan pandangan pada Atma yang kini meminta bantuan pada Tetua Genta untuk membuatkan api di bawah periuk. Setelahnya Atma memasukkan tiga tanaman herbal yang telah dia tumbuk hati-hati. Tak sampai di sana, Atma merasakan keringat terus bercucuran di punggung dan khawatir dia malah membuat racun atau ramuan aneh.

__ADS_1


Dengan pelan, Atma masih mengaduk-aduk isi periuk yang baru saja ditambah sedikit air. Caranya yang terlihat tengah bermain-main membuat orang yang melihatnya memandang remeh lagi dan beberapa sampai terbahak.


"Kau lihat, dia tengah bermain masak-masak."


"Hahaha. Dasar si lemah, apa dia hanya memalukan diri sendiri?"


"Kegagalan selalu menyertai mereka. Dan tak akan pernah hilang."


Amdara mengepalkan tangan saat mendengar c**iran dari kelompok Padma. Dia menahan amarah, tak terima dengan ej*kan tersebut. Sebenarnya bukan hanya dari kelompok Padma, tetapi kelompok lain juga demikian.


Beruntung kali ini Aray bisa menahan emosi. Tatapannya menajam ke arah murid-murid yang tengah berbicara.


Kilauan cahaya membuat para murid menutup mata dan menghalau cahaya menggunakan punggung tangan. Dua jam setengah telah berlalu begitu cepat bagi mereka yang tengah menjadi harapan bagi kelompok waktu tersebut amat sangat singkat.


Ketika cahaya itu tiba-tiba saja menghilang, sesuatu tak terduga terjadi. Pedang panjang nanti indah itu melayang dan memutari lapangan latihan, membawa angin kejut. Semua tatapan tertuju pada pedang itu dengan kagum. Apalagi setelah pedang itu berhenti tepat di depan Cakra. Nampaknya usaha kerasnya tak sia-sia. Pedang yang indah itu adalah hasilnya yang mengagumkan.


Sorakan dan seruan menyebut namanya. Tak hanya tampan, tetapi Cakra juga sangat berbakat. Dia meletakkan pedang itu di atas meja dengan senyuman tipis, menambah seruan para murud perempuan yang.


Hawa panas tiba-tiba menyebar, tombak warna orange dengan hawa panas yang dibuat Bena melayang. Dia tersenyum bangga, seperti yang didapatkan Cakra, sorakan dan tepuk tangan juga ditujukan untuknya.


Mengagumkan!


Kesepuluh perwakilan kelompok telah usai dengan pekerjaan mereka. Ada yang gagal, ada juga yang membuat benda aneh. Dari mereka, tak satu pun yang membuat obat atau cairan aneh. Barang-barang yang mereka cari juga bukan merupakan jenis tanaman.


Ketika Tetua Genta menghitung waktu mundur, Atma merasakan tubuhnya lemah melihat cairan hitam yang berada di periuknya. Aromanya juga menyengat tak enak di indera penciuman.


"Selesai ...!"


Tepat Tetua Genta mengatakan hal barusan, Atma buru-buru mengangkat tangan. Melihat banyak tatapan meledek ke arahnya. Nyali Atma menciut seketika.

__ADS_1


__ADS_2