
"Apa?!"
Sontak teman-teman Amdara berkata serempak masih tak percaya. Pandangan mereka segera teralih pada Nada yang berwajah pucat bak mayat hidup tetapi tangan kirinya masih saja memegang boneka seramnya. Dia terlihat kelelahan dan juga masih berteriak tidak jelas.
Aray yang juga terlonjak kaget bertanya pada Amdara dengan serius. "Luffy, apa Nada juga sama sepertiku saat pertama kali bisa mengaktifkan kekuatan?"
Amdara yang masih menutup mata mengangguk dan menjawab sekenanya. "Hanya saja kekuatan Nada tidak terlalu membludak."
Namun, karena ketahanan fisik Nada tidak kuat seperti Aray, dia jadi kesulitan mengendalikan kekuatan. Mungkin juga karena tubuhnya terlalu syok mendapat kekuatan tiba-tiba.
"Kau waktu itu tidak bisa membantuku, dan sekarang mau membantu Nada? Luffy, kau jangan keras kepala. Sebaiknya kita serahkan saja pada Guru Aneh. Dia yang lebih mengerti."
Pangkas Aray pada Amdara yang hanya mengembuskan napas panjang. Mau bagaimana pun, Amdara memang awam dalam hal ini. Jika saja ada kesalahan, maka kesalahan itu pastilah fatal.
"Aku tahu. Beri aku kesempatan," kata Amdara dingin. Dia masih fokus membantu Nada.
"Luffy, apa kau yakin? Jika benar kekuatan Nada aktif, maka dia harus bisa mengontrol kekuatannya."
Perkataan Inay diselingi raut wajah khawatir.
"Aku sedang membantu." Amdara jadi mulai tidak fokus karena terus saja ditanyai.
Dirgan menatap kasihan pada Nada yang tengah merasakan sakit. Dirinya jadi merinding jika sampai kekuatannya juga aktif dan merasakan sakit.
"Jika kau tak sanggup lagi, kita bawa Nada ke Guru Aneh," usul Dirgan menengahi.
Atma yang duduk jongkok menatap Nada menggeleng. Ada banyak pertanyaan pada kepalanya saat ini. "Apa benar tiba-tiba begitu saja?"
"Itu benar, Ketua Kelas. Nada, bertahanlah. Semuanya akan baik-baik saja, oke?"
Atma mencoba menghibur. Namun, Nada sama sekali tidak peduli karena tubuhnya malah semakin sakit.
Rinai yang masih menangis menatap Nada iba. Dia berkata, "huhuhu. Nada, kau ini sedang diobati karena kekuatanmu aktif. Tapi kau terlihat seperti wanita yang sedang berteriak karena melahirkan. Huhuhu."
Dirgan, Atma, Amdara, Aray, dan Inay dibuat tersentak mendengar perkataan pedas Rinai. Bahkan Atma sampai tersedak napas sendiri, lalu terbatuk-batuk.
"Rinai, mulutmu memang tak pernah berubah, ya."
__ADS_1
Dirgan menggeleng-gelengkan kepala. Dia membuat Rinai seketika menatapnya sebelum kembali membenamkan wajah pada kedua lutut lagi.
"Aiya, Rinai. Kau ini lebih baik diam saja. Nada bukan terlihat sedang melahirkan, tetapi lebih ke mengeluarkan anak."
Sontak kepala Atma langsung digilas keras oleh kuku buku Dirgan yang kepalang kesal mendengarnya. Dia mengapit leher Atma di ketiaknya.
"Kau juga lebih baik diam, Atma. Tsk. Mulutmu benar-benar perempuan." Dirgan berkata kesal. Entah mengapa Atma kadang-kadang membuat emosinya tidak terkontrol seperti saat ini.
Atma berteriak kesakitan dan meminta ampun, tetapi Dirgan sama sekali tidak peduli.
"Aduh! Ketua Kelas, lepaskan aku! Ini sakit dan ketiakmu itu bau! Ya ampun, singkirkan ketiakmu. Bisa-bisa aku mati dibuat tak kuat menahan bau ketiakmu ...!"
Atma memberontak, tetapi yang ada Dirgan semakin mengencangkan lengannya mengapit leher Atma yang langsung berteriak kesakitan.
"Bau?! Aku ini orang yang suka kebersihan, Atma. Tidak sepertimu yang jarang mandi!"
"Apa? Aku jarang mandi, tapi aku masih tampan, tahu ...!"
"Apanya yang tampan? Kau ini terlalu percaya diri."
Aray dan Inay yang melihat tingkah keduanya menarik napas dalam dan segera mengembuskannya perlahan. Suasana tegang dan cemas berangsur menghilang karena mereka. Nada juga tidak lagi berteriak, dia menggigit bibir bawah mencoba tidak berteriak.
Nada mengangguk sebagai respon. Rasanya mulut Nada selalu ingin berteriak dengan suara-suara aneh keluar.
"Tarik napasmu dan hembuskan perlahan."
Amdara kemudian memberi arahan setelah yakin kekuatan dalam tubuh Nada tidak terlalu bergelombang.
Nada dengan kesulitan mengikuti arahan Amdara. Setelahnya Amdara dengan suara tenang kembali mengarahkan.
"Alihkan rasa sakit itu dengan merasakan kekuatan yang mengalir dalam tubuh."
Nada menggeleng karena merasa tidak sanggup mengikuti arahan Amdara barusan. "S-sulit."
Detik-detik Nada mencobanya perlahan, dia mulai paham apa yang dimaksud Amdara. Nada mencoba tidak peduli pada rasa sakit pada tubuh, dia menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan.
Sesuatu yang aneh dirasakan Nada. Berisik dan cukup membuat terusik, tetapi di sisi lain Nada merasakan kehangatan.
__ADS_1
"Tenanglah. Jangan terfokus pada sakit." Amdara kembali berkata, "kontrol kekuatan dalam tubuh perlahan."
Setiap kekuatan seseorang, jika tidak bisa dikontrol dengan baik, maka akan mengakibatkan hal yang fatal. Meledaknya tubuh, atau bahkan membuat tubuh merasakan sakit luar biasa seperti yang dirasakan Nada.
Amdara masih memberikan arahan dengan tenang.
"Satukan pada inti spiritualmu. Perlahan, kau rasakan mereka bagian dari tubuh bukan musuh."
Nada mulai tidak lagi merasakan sakit pada tubuh. Walaupun kesulitan, tetapi Nada sudah cukup lebih baik. Dia memejamkan mata, dan mulai berkonsentrasi melakukan hal yang diarahkan Amdara berulang-ulang.
Di arena pertandingan yang sudah benar-benar hancur, dua peserta nampak terpental dan nyaris keluar dari arena pertandingan jika saja keduanya tidak segera berhenti menggunakan kekuatan.
Tatapan dan decakan kagum dari para penonton yang antusias karena pertandingan sengit barusan cukup menghibur dan menarik.
Kelompok Puli dan kelompok Cakra masing-masing berteriak dan memberi semangat. Namun, yang terdengar dari Puli adalah sebuah teriakkan memaksa agar dirinya bisa memenangkan pertandingan.
Terlihat Puli mengeluarkan darah dari mulut. Dia mencoba berdiri, tetapi kembali terjatuh.
"Tsk. Cakra rupanya berlatih keras selama ini." Tatapan Puli tertuju pada Cakra yang juga terjongkok dengan wajah yang tidak terlihat lelah sama sekali. Jelas Puli langsung tak terima. Dia berkata, "aku tidak akan kalah dengan bocah sepertinya. Mau diletakkan di mana wajah kelompok jika sampai aku kalah?"
Puli bangkit dan mengelap darah yang keluar menggunakan punggung tangan. Seringainya terlihat, tetapi kecantikannya masih saja tidak pudar.
Sebuah gelombang hijau dan biru mengelilinginya. Aura menekan dapat dirasakan Cakra yang sebenarnya sudah kewalahan. Kekuatan Cakra terkuras banyak. Nyaris saja Cakra terjatuh, tetapi dia mencoba mempertahankan kesadaran.
Sebuah mikrofon besar tercipta setelahnya. Puli menatap Cakra dengan kebencian mendalam. "Cakra, sekeras apa-pun usahamu, kau tetaplah yang akan kalah."
Puli menarik napas dalam. Dia mulai membuka mulut perlahan dan bernyanyi. Lebih tepatnya adalah melakukan serangan menggunakan suaranya yang amat sangat merdu.
Lagu yang dinyanyikan Puli merupakan lagu yang dia buat dengan genre sedih. Siapa pun yang mendengar akan merasakan kesedihan yang teramat dalam.
Para penonton tentu tidak tahu apa yang dinyanyikan Puli karena mereka membuat perisai pelindung. Yang mendengarnya Para Tetua, Tiga Guru Besar, Tetua Wan dan Cakra sendiri yang tiba-tiba merasakan hatinya yang sedih.
Terlintas bayangan orang tua Cakra, dan adiknya yang seumuran. Lalu sebuah serangan dari musuh merusak semuanya. Membuat keluarganya hancur. Adiknya menghilang, kedua orang tuanya lenyap karena dibunuh.
Cakra mengepalkan tangan. Dia menutup mata agar genangan air mata tak tumpah. Ketika membuka mata, dia bukan berada di arena pertandingan. Melainkan di sebuah hutan dengan kabut biru tua tipis.
"Hutan ini."
__ADS_1
Cakra menelan ludah kesulitan. Dia mengedarkan pandangan. Kenal betul dengan hutan itu.
Segerombolan pria memakai jubah hitam dengan gambar tengkorak di belakang terlihat melayang di udara. Cakra yang melihatnya menahan napas, dia segera berlari mengejar gerombolan orang-orang itu.