Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
162 - Serangan Spiritual


__ADS_3

Di daerah barat, menyerang memang menggunakan kekuatan spiritual. Namun, ada juga yang memilih bertarung fisik secara langsung. Sama seperti yang dilakukan Siluman Burung Rajawali dan Siluman Burung Phoenix.


Amdara mengedarkan pandangan. Dia mendarat, melihat tanaman cukup aneh. Berdaun hitam, memiliki tangkai berduri, dan berbunga lancip dengan warna tosca. Melihatnya, membuat Amdara teringat jenis tanaman yang pernah dilihat di dalam kitab pemberian Are. Amdara memetik dengan hati-hati, dia yakin tanaman ini termasuk tanaman herbal. Dia kemudian memasukkannya ke dalam Cincin Ruang.


Dia jadi teringat dengan kitab yang dipinjamkan kepada Atma. Entah sudah seberapa perkembangan Atma dan teman-temannya yang lain di Akademi. Namun, Amdara berharap mereka baik-baik saja dan ketika kembali ingin melihat teman-temannya yang sudah berubah dari segi kekuatan.


Beralih mencari tanaman herbal lain. Kembali melesat dengan penglihatannya yang tajam. Nyatanya di tempat ini ada tanaman herbal yang cukup membuat Amdara terkesan. Sudah sampai lima jenis tanaman herbal yang dimasukkan ke dalam Cincin Ruang.


Mentari pagi kembali dari ufuk barat, membawa cahayanya menyinari dunia. Mengawali aktivitas setiap makhluk hidup di dunia. Harusnya seperti itu. Namun, di hutan yang sedang Amdara jelajahi sekarang tidak ada satu pun binatang yang melintas di hadapannya. Bahkan dari suaranya saja tidak terdengar. Hutan ini sangat sepi menurutnya, tapi bukan berarti itu menenangkan tapi malah membuat Amdara jadi lebih waspada akan bahaya mendadak. Angin yang berhembus sejak tadi bukanlah petanda baik, Amdara dapat merasakannya.


Dia memilih mendarat dengan baik di dahan pohon. Menyapu pandang sekitar yang terlihat tidak wajar. Ketika dirinya menyentuh batang pohon di samping, dari teksturnya sangat lembut dan ketika Amdara menggunakan sedikit kekuatannya untuk merobohkan, sesuatu tak terduga terjadi. Batang pohon itu tumbang, tapi di dalamnya tidak ada isi yang ada hanya kulit, terlihat seperti pohon kokoh. Pun ketika dirinya menginjak, batang pohon ini tidak tumbang.


Amdara menaikkan sebelah alis. Ini bukan kejadian biasa. Dia berjongkok, mematahkan sedikit kulit pohon yang cukup keras dan menghirup aroma yang tidak biasa. Tangan Amdara terkepal, tatapan matanya berubah tajam. Dia mengambil kekuatan alam kemudian memfokuskan indera penglihatan, dan pendengaran ke sekitar. Sama seperti sebelumnya. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Akan tetapi perasaan bocah itu mengatakan ada sesuatu yang salah.


Amdara dengan cepat melesatkan energi spiritualnya ke dalam sekitar. Sebuah debaman keras seperti bertabrakan sesuatu langsung membuat Amdara mengambil ancang-ancang waspada.


Beberapa detik kemudian Amdara terduduk. Tubuhnya seperti ditekan oleh sesuatu hingga membuatnya lemas. Untuk bernapas saja rasanya sangat sulit.


"Serangan Spiritual," gumamnya. Dia berusaha bangkit susah payah, akan tetapi langsung kembali terjatuh dengan posisi kurang elegan.


Serangan Spiritual bisa terjadi masuk ke dalam kekuatan inti spiritual langsung dan menghancurkannya. Sangat berbahaya bagi manusia lemah yang tidak mampu memberi perlawanan. Sementara ada yang menyerang lewat alam bawah sadar, jika sampai terjadi maka dia akan dikendalikan oleh si penyerang. Kasus Amdara sepertinya berada di antara pikirannya yang diganggu tetapi memiliki akibat membuat pemikirannya menjadi tidak terkendali dan dapat melakukan apa-pun tanpa disadari, jelas ini juga sangat berbahaya.

__ADS_1


Sebuah suara masuk ke dalam telinga. Padahal jelas, Amdara sedang sendirian. Suara itu menggema di telinganya sangat keras, "hei, manusia ...! Berani sekali kau mengganggu konsentrasiku ...!"


Amdara menahan napas sambil menutup mata. Sepertinya dia sudah masuk ke dalam masalah yang lebih besar. Kemungkinan besarnya keberuntungan tidak akan berpihak kepadanya.


Suara itu terus menggema hingga membuat Amdara sangat terganggu dan nyaris tidak sadarkan diri. Walau sudah menyerap kekuatan, tapi kekuatan besar yang menyerang spiritualnya sungguh luar biasa hebat. Dia menggenggam rumput. Napasnya sudah tidak beraturan sejak tadi.


"Siapa kau?"


Tidak ada jawaban hanya suara-suara aneh mengatakan bahwa Amdara telah masuk ke dalam masalah besar dan akan segera lenyap dalam beberapa saat lagi.


Bayangan akan melenyapkan Roh Hitam di sebuah gurun terlihat. Di sana seorang bocah berambut putih baru saja menghancurkan Roh Hitam secara membabi-buta bahkan terlihat serigai mengerikan. Di hadapannya, masih ada lima Roh Hitam yang bersiap menyerang. Dalam sekedipan mata, bocah itu kembali menyerang dengan sengit. Matanya hitam pekat, tidak ada kegentaran sama sekali. Malah seperti menikmati pertarungan itu.


Amdara menelan ludah dengan bayangan entah dari mana barusan. Dia menggeleng mencoba mengambil kesadaran kembali. Dengan memfokuskan pikiran, memusatkan kekuatan hingga mengeluarkan energi spiritual secara besar-besaran. Di saat itu juga suara yang mengganggu pikirannya menghilang.


"Keluar."


Satu kata itu keluar dari mulutnya. Tanpa ada rasa takut pun. Udara di sekitar sudah benar-benar terasa berbeda. Walau tidak yakin akan bisa membuat lawan bicara, tapi Amdara akan berusaha mencari celah.


"Manusia kotor sepertimu sama sekali tidak pantas melihat wujudku. Argggghhh."


Suara besar itu entah keluar dari mana menggema. Pepohonan sekitar hangus seketika. Amdara sampai dibuat menahan napas.

__ADS_1


Masih dalam ekspresi tenang, Amdara berkata, "tidak. Kau yang tidak pantas keluar menemuiku."


"Apa?! Ha ha ha. Pandai sekali kau berbicara anak manusia ...! Dasar manusia lemah berani sekali sampai ingin melihat wujudku ...!"


Amdara kembali dibuat terjatuh dengan mendapat serangan energi spiritual yang jauh lebih besar. Amdara memutar kembali otaknya, dia harus bisa melawan atau paling tidak pergi dari masalah ini.


Berusaha memasukkan udara ke dalam paru-paru. Amdara berujar tanpa nada walau suaranya pelan, "hmph. Siapa pun kau, pasti berwajah buruk. Tidak memiliki keberanian berhadapan langsung denganku."


Suara geraman sangat besar terdengar di pikiran serta telinga Amdara yang sampai meneteskan darah. Bahkan saking tidak kuatnya, bocah itu memuntahkan darah dan hidungnya pun mengalirkan darah segar.


Dia menggigit bibir bawah. Perlahan pandangan matanya memburam dan sebelum benar-benar menggelap total sebuah angin kejut besar menerbangkan pepohonan sekitar.


*


*


*


Di sebuah gua kecil cukup gelap walau sang matahari berada tepat di atas langit, masih di daerah barat. Langit-langit gua tersebut sudah berlumut dan meneteskan air semerah darah. Suara percikannya terdengar merdu bagi sosok yang duduk bersila di atas batu besar sambil menutup mata. Udaranya sangat dingin, melebihi es yang ada di dunia manusia. Di gua itu, bebatuan runcing tertanam langsung di dinding guanya.


Beberapa kali sosok yang memakai jubah hitam dan menggunakan tudung senada menghela napas. Untuk pertama kalinya dia membuka mata oleh seseorang yang sangat berani mengganggunya yangs sedang melawan musuh. Dia melirik ke arah belakang, di mana manusia yang tidak sadarkan diri terbaring tidak berdaya.

__ADS_1


Entah siapa sosok itu, tetapi jelas memiliki niat tidak baik terhadap anak manusia berambut putih yang tidak lain dan tidak bukan adalah Amdara.


__ADS_2