Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
116 - Perlawanan Sengit


__ADS_3

Di arena pertandingan, Amdara yang tidak sadar terus dipanggil oleh teman-temannya. Mereka sangat cemas dengan keadaan Amdara.


Atma menoleh ke belakang dan seketika matanya terbelalak melihat Rara dan Lusi yang berlari ke arah mereka. Sontak Atma berseru dan membuat teman-temannya langsung mengambil sikap waspada.


Aray dan Inay berdiri dan menatap tajam Rara juga Lusi yang kini menggerakkan tangan seperti sedang melakukan jurus.


"Dirgan, buat perisai. Inay, serang mereka."


Dirgan berdiri di belakang keduanya dan memberikan perintah. Dia mengepalkan tangan. Teringat Amdara yang tidak ingin kalah begitu saja di pertandingan kelompok ini.


"Tidak. Luffy sudah berkorban. Aku tidak boleh menyerah begitu saja." Dirgan meminta Nada agar berdiri di sampingnya dan mengganggu konsentrasi Rara juga Lusi.


Aray langsung membuat perisai pelindung sesuai perintah ketua. Namun, serangan dari hantaman tanaman merambat milik Opi langsung hancur begitu saja. Aray terpental dibuatnya dan memuntahkan darah segar.


Tanaman merambat milik Opi berkeliarkan secara liar dan menarik kaki Nada, Rinai, Dirgan, dan Atma kemudian membanting tubuh mereka. Darah langsung keluar dari dalam mulut mereka. Tubuh mereka rasanya teramat sakit sekarang.


Sementara Inay yang terlihat marah karena Amdara tidak sadarkan diri menggunakan rambutnya menyerang Rara dan Lusi secara brutal. Keduanya hanya bisa menghindar tidak bisa melakukan perlawanan balik. Apalagi konsentrasi mereka dibuyarkan oleh suara-suara mengerikan entah milik siapa.


BAAM!


Rambut sekeras baja milik Inay baru saja menghantam arena pertandingan yang sudah tidak lagi terbentuk. Dia marah besar sampai begitu ada angin lewat, dia padatkan dan melemparnya ke lawan.


Tidak sampai di sana, Inay mengambil awan dan memadatkannya lalu meleparkannya pada wilayah lawan. Terpental, awan yang dipadatkan Inay terpental begitu saja oleh perisai pelindung milik Kic dan Koc.


Inay menggeram kesal. Dia berteriak keras sambil mengutuk. "Kalian akan kuberi pelajaran karena membuat Luffy tidak sadarkan diri ...!"


Inay menerjang perisai pelindung yang dibuat lawan menggunakan rambutnya. Dia menghantam-hantamkan rambut beberapa kali sampai terdengar suara retakkan. Melihat peluang besar itu, selagi membuat perisai pelindung, Atma melesatkan serangan kuat hingga membuat perisai pelindung lawan hancur. Kic dan Koc yang terkena hantaman rambut Inay terlempar tapi tubuh keduanya langsung dililit oleh tanaman merambat milik Opi.


Pertandingan semakin sengit. Tidak ada yang mau menyerah begitu saja. Mereka membuat para penonton berdecak kagum. Angin kecut lagi-lagi terbuat ketika Inay menghantamkan rambut.


Inay yang sudah terbakar emosi melesat menargetkan Rara dan Lusi tanpa tahu dedaunan milik Yaji sudah berada di belakangnya.


Dirgan berteriak keras memperingati Inay. Teriakan tersebut didengar Inay yang langsung membuat perisai pelindung menggunakan rambut. Suara debaman keras terdengar. Bahkan kali ini rambut Inay dibuat rusak.


Belum sempat Inay mengambil langkah, sesuatu melilit kakinya dari bawah. Sontak dia ditarik dan dihantamkan ke bawah tanpa bisa melakukan perlawanan karena terlalu cepat.


Aray yang melihatnya membelalakkan mata terlambat menolong. Dengan sisa kekuatan dia melesatkan serangan berupa asap hitam ke lawan yang lansung menghasilkan ledakkan besar.


Tanaman merambat yang melilit tubuh Inay terlepas. Dia mengalami pendarahan pada bagian kepala dan mulutnya baru saja memuntahkan darah segar. Aray segera membawa Inay ke kelompoknya walaupun kondisinya juga sedang kesakitan.


Nada masih meringkuk kesakitan. Melihat Inay yang sudah bekerja keras membuat hati Nada bergerak. Dengan tertatih-tatih, dirinya segera membantu agar Inay berbaring di pahanya. Wajah Inay sudah pucat, dia mengeluarkan terlalu banyak kekuatan. Tubuhnya juga terasa sakit. Bila dilanjutkan, yang ada dia menambah sakit di dalam tubuh.


Dibanding kelompok kelas Satu C yang kini memiliki kekuatan tiga puluh persen, kekuatan lawan masih besar. Tidak bisa berimbang. Dilihat sekilas saja kelas Satu C akan pasti kalah. Tetua Wan masih memerhatikan jalannya pertandingan sambil bertanya dalam hati apa yang membuat kelompok Satu C ini bertahan dengan kekuatan lemah. Menarik perhatian? Tentu saja. Bahkan Tetua Wan terus memerhatikan mereka satu persatu dengan decakan kagum. Kerja kelompok yang cukup baik, ada perasaan ingin melindungi satu sama lain.


Aray yang melihat teman- temannya sudah terluka menggeram marah. Dia berniat melesatkan serangan tetapi dicegah Dirgan.


"Jangan lakukan serangan sia-sia. Kita harus buat siasat." Dirgan berjongkok. Dia mengepalkan tangan, pikirannya tidak boleh kacau. Dia harus bisa mengendalikan teman-temannya agar bisa memenangkan pertandingan.


"Ketua Kelas, apa rencananya? Kau jangan buang-buang waktu!"


Aray yang sudah kepalang kesal menghentakkan kaki. Tidak peduli dengan rasa sakit yang sedang menggerogoti tubuhnya saat ini. Sementara Dirgan mengangkat tangan agar Aray tenang dan berpikir jenih.

__ADS_1


"Pertahanan lawan kuat, kita tidak bisa menyerang mereka sekaligus. Jadi kita buat jebakan." Dirgan meminta teman-temannya mendekat agar mengetahui trik yang dia buat. Mereka tersentak mendengarnya kemudian mengangguk.


Opi dan teman-temannya memberikan waktu lawan agar berdiskusi. Tindakan ini menyulut emosi Yaji yang kembali bertindak gegabah melesatkan serangan dedaunan sebanyak tiga puluh helai ke arah lawan.


Aray yang mengetahui serangan itu langsung membuat perisai pelindung tapi tidak menyerang balik. Ledakan besar akibat benturan jurus Yaji dan perisai milik Aray terjadi begitu hebat. Membuat angin kejut dahsyat.


Kali ini Rara dan Lusi berlari ke arah lawan. Dirgan mengeratkan kepalan tangan dan juga ikut berlari bersama Atma yang juga sedang menahan sakit disekujur tubuh. Bahkan Atma sampai terhuyung ketika berlari. Kepalanya terasa sakit karena benturan. Sebagai laki-laki Atma dan Dirgan tidak ingin memperlihatkan kelemahan mereka. Keduanya saling pandang sebelum akhirnya mengangguk.


Terlihat Rara langsung menyatukan kedua tangan, melakukan gerakan-gerakan aneh dan tiba-tiba berjongkok menyentuh tanah yang langsung menjadi gersang. Dia menyeringai, tanaman merambat milik Opi membawa Racun Kalajengking Merah yang disengaja dimasukkan oleh Rara.


Dalam pertandingan peraturannya tidak boleh ada niat saling membunuh, membuat lawan cedera parah, melumpuhkan, dan menggunakan racun untuk menyerang lawan. Mereka tahu itu. Namun, Rara menyembunyikan racunnya pada tanaman rambat Opi. Sehingga bahkan Tetua Wan tidak mengetahui hal tersebut.


Tanaman merambat itu bergerak liar, bersiap menyerang Dirgan dan Atma yang tanpa di duga melemparkan benda kecil yang langsung diledakkan menggunakan kekuatan Aray.


BAAM!


Asap putih menyeruak begitu saja. Aroma khas tanaman herbal sangat terasa di indera penciuman.


Tepat ketika tanaman merambat yang sudah dipenuhi racun oleh Rara menancap ke lengan Dirgan dan Atma, mereka tercengang dan mundur perlahan menyentuh tetes demi tetes darah mengalir. Rasa nyeri tentu dirasakan.


Rara dan rekan-rekan tersenyum melihat reaksi Dirgan dan Atma yang tiba-tiba ambruk.


Tanaman merambat itu menghancurkan perisai Aray. Dia juga tertusuk tanaman merambat itu sampai dirinya dibuat tidak berdaya dan ambruk seperti dua temannya.


Nada dan Rinai mencoba menangkis dan menghindari tanaman tersebut, tetapi keduanya kalah cepat. Alhasil mereka juga terkena dan langsung ambruk.


Seketika pertandingan menjadi tegang. Para penonton penasaran dengan apa yang membuat kelas Satu C tiba-tiba ambruk. Mereka jelas bertanya-tanya apa yang terjadi.


Tetua Wan melayang di udara dan mendarat. Memeriksa keadaan Dirgan. Tidak ada yang salah. Aliran darah dan napasnya normal. Tetua Wan menautkan alis saat sadar ada yang salah.


Lusi juga terlihat tersenyum senang. Dia berdiri dan memundurkan langkah. Berjejer dengan Rara yang mengangguk. Sementara mereka sedang tersenyum senang atas kekalahan lawan, mereka melupakan Lasi yang berdiri mematung dengan tatapan terpejam.


"Tetua, bagaimana? Bukankah sekarang kita yang menang?" Yuji berkata kegirangan. Dia mendekati Kic dan Koc yang saling menepuk tangan.


Tetua Wan mengembuskan napas. Lawan mereka memang tidak sadarkan diri, tapi mereka sama sekali tidak keluar arena pertandingan dan juga belum mengatakan menyerah. Baru saja Tetua Wan buka suara, seseorang menyela.


"Hmph, kami belum menyerah."


Opi, dan teman-temannya membuka mata lebar melihat tiba-tiba saja Dirgan bergerak dan mulai berdiri. Bukan hanya Dirgan, tetapi Atma, Aray, Rinai, dan Nada juga demikian. Mereka tersenyum ke arah lawan. Wajah kaget Opi dan teman-temannya jelas kentara.


Dirgan menyentuh lengan yang sebelumnya terluka kini sudah tertutup dan sembuh. Tubuh mereka juga mendadak pulih tanpa rasa sakit. Ini karena sebelumnya Atma melemparkan pil buatan Amdara. Tidak disangka reaksinya lambat tapi hasilnya memuaskan.


Dirgan tersenyum ke arah lawan dan berkata, "ini baru awal, Senior."


Tangan Dirgan terangkat, memberi tanda agar seseorang maju dan melakukan sesuatu. Nada cekikan sambil berjalan ke depan membawa boneka menyeramkan miliknya.


Tahu bahwa Nada belum bisa mengeluarkan kekuatan, Opi dan rekan-rekan tidak melakukan tindakan. Mereka masih syok dengan apa yang terjadi. Racun Kalajengking Merah adalah racun mematikan. Penawarnya juga sulit ditemukan. Tapi melihat dengan mata kepala sendiri Dirgan dan teman-temannya baik saja membuat mereka bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.


"Grraooaarr ...!"


Suara geraman siluman mengerikan mampu menciptakan angin kecut begitu besar. Bahkan Opi dan teman-temannya yang tidak sadar dengan serangan dari Nada dibuat terpental termasuk Lasi menghantam tanah.

__ADS_1


Tetua Wan yang melihatnya sampai menahan napas melihat bocah berambut kepang memegang boneka tertawa cekikikan. Padahal dia kira Nada tidak bisa mengaktifkan kekuatan. Namun, yang dia lihat benar-benar mengagumkan. Kekuatan langka yang membuat siapa pun merinding!


Geraman siluman itu sangat keras. Bahkan para penonton merasakan angin kecut tersebut sekaligus merinding dibuatnya.


Para Tetua juga berkedip melihat kejadian barusan. Mereka merasakan kekuatan dari suara geraman yang dibuat Nada. Bahkan Guru Aneh sendiri sampai menahan napas tidak menyangka Nada bisa mengaktifkan kekuatan seperti ini.


Kembali ke arena pertandingan, Dirgan melangkah ke depan dengan menegakkan kepala. Aura wibawanya terasa oleh Aray. Dirgan mengangkat kembali tangannya, melihat gerakan tangan kedua, sontak Atma dan Aray mengangguk bersamaan dan berlari dengan cepat ke arah lawan.


Atma melemparkan pil hitam ke arah teman-temannya, dan langsung diledakkan oleh Aray. Suara debaman kali ini sangat besar bahkan sampai membuat gelombang. Aroma herbal kembali menyeruak, kali ini angin yang dihasilkan sekuat tenaga diambil oleh Inay yang langsung memadatkan dan melemparnya satu persatu ke arah teman-temannya.


Atma menangkap angin berwarna bening tersebut dan langsung memakannya tanpa peduli dengan tatapan lawan yang kebingungan. Setelahnya Atma melemparkan pil putih ke arah wilayah lawan yang kemudian diledakkan oleh Aray.


Asap hitam mengepul di udara. Kali ini bukan aroma herbal, melainkan bau yang sangat menyengat. Tetua Wan sendiri sampai terlonjak kaget dan segera menggunakan kekuatannya untuk membuat perisai pelindung.


Aroma yang sangat menyengat itu dirasakan oleh Opi dan teman-temannya yang merasakan hidung tersiksa dan perut terasa mual. Mereka terbatuk-batuk menutup hidung dan memegang perut yang seperti terlilit sesuatu.


"Sialan! Sebenarnya apa yang mereka ledakkan?!"


Yaji membuat perisai pelindung untuk menghalau aroma yang sungguh tidak sedap itu. Tapi dia seketika membelalakkan mata ketika perisai yang dibuatnya sama sekali tidak menghalau aroma tersebut. Bukan hanya dia, tapi Opi, Lusi, Rara, dua kembar juga yang tidak tahan lagi akhirnya memuntahkan isi perut.


"Ohok! Hah, apa-apaan bau ini?!"


Kelompok kelas Dua I disibukkan dengan merasakan hidung yang tersiksa begitu pula dengan Tetua Wan yang sudah berwajah pucat.


Kelompok kelas Satu C sendiri tidak terpengaruh. Itu karena sebelumnya telah memakan penawar aneh yang dibuat Amdara. Sebelum memasuki pertandingan, mereka sudah diberi tiga jenis pil dengan masing-masing tiga butir. Mereka juga tidak menyangka pil aneh buatan Amdara akan semujarab ini.


Dirgan dan teman-temannya saling pandang, lalu tersenyum sebelum mereka mengangguk dan kemudian berlari ke arah lawan.


"Terimalah serangan kerja tim kami ...!"


Atma berteriak kesetanan. Dia menambah laju lari, ketika berada di hadapan Kic, dia tanpa di duga menghajar Kic dengan tangan kosong. Jelas saja Kic yang sedang lemas-lemasnya tidak bisa melawan pukulan Atma. Dibantu oleh Dirgan yang juga ingin melayangkan pukulan.


"Kami akan tunjukkan kekuatan kelompok kelas Satu C ini ...!"


Aray menggunakan kekuatannya untuk melesatkan serangan ke arah Opi dan Yaji yang dengan sigap membuat perisai pelindung. Aray tiba-tiba menghilang, dan tanpa di duga menendang Koc yang sedang muntah sampai terpental keluar arena begitu saja.


Opi dan Yaji yang tidak sempat membantu Koc. Mereka dibuat terperanjat kaget. Mereka menatap tajam Aray. Yuji yang hendak menunjuk Aray, tiba-tiba saja perutnya terasa mules dan dia langsung muntah begitu saja.


Aray yang melihatnya bergidik ngeri. Dia menarik napas kesal dan mengalihkan pandangan. Dia memutar tangan, sebuah bola besar berisi kekuatannya, dia lemparkan ke arah Yaji. Opi yang melihatnya membuat perisai pelindung dan menahan serangan dari Aray menggunakan tanaman merambat miliknya.


BAAM!


Rinai dan Nada juga berlari. Nada mengeluarkan suara geraman yang membuat Rara dan Lusi terdorong mundur. Wajah mereka sudah pucat seperti mayat hidup. Nada berkali-kali mengeluarkan geraman, dia membuat Lusi menatap tajam. Dia kemudian mengangkat kedua tangan, detik berikutnya udara terasa hilang. Rinai sampai terjatuh karena menginjak kaki sendiri. Rinai tidak bisa merasakan udara, dia menyentuh dada yang sesak.


Nada, Aray, Atma, dan Dirgan juga merasakan hal yang sama. Mereka tiba-tiba ambruk dengan lutut yang menyentuh lantai. Memegang dada yang kekurangan oksigen.


Di jarak itu, Inay juga merasakan hal yang sama. Dia menggelengkan kepala. Padahal sebentar lagi mereka akan menang. Namun, dengan seperti ini terus-terusan akan membuat mereka dengan terpaksa menyerah.


Lusi membekukan udara, sehingga lawan tidak bisa merasakan oksigen yang masuk ke paru-paru. Yang tidak terkena dampak tentu saja rekan-rekannya. Jurusnya ini memang hebat sekaligus mengerikan.


"Ahaha! Apa yang kalian katakan tadi? Baru awalan? Baiklah, ini memang awalan kekalahan kalian---"

__ADS_1


Lusi yang sedang tertawa puas mendadak berwajah pucat. Dia menyentuh perut dan detik berikutnya mengeluarkan isi perut. Hingga dirinya yang tidak konsentrasi dengan benar membuat jurusnya hilang seketika.


Udara kembali seperti semula. Dirgan dan teman-temannya bisa menarik udara kembali. Mereka menarik napas lega dan langsung melakukan serangan pukulan tangan kosong. Bahkan tanpa sadar ada perubahan pada gerak tubuh Amdara yang tidak wajar.


__ADS_2