
Angin sekitar berhembus kencang. Kabut hitam semakin banyak, Amdara merasa dirinya ditekan sampai dia merasakan sesak. Cahaya sebelumnya mulai pudar, Amdara menurunkan tangannya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Di hadapannya sekarang bukanlah bocah berumur 5 tahun. Melainkan bocah berusia 15 tahun dengan senyuman penuh pesona itu membuat Amdara tersentak.
"Kau ...?"
Ang melibaskan pelan rambut depan penuh gaya. Dia mengangguk dan berkata, "benar. Ini aku, Ang."
Amdara berkedip, memastikan apakah penglihatannya salah atau memang Ang berubah jadi bocah seusianya?
"Bagaimana bisa?"
Ini benar-benar tak masuk akal. Bahkan Amdara sendiri tak sedikit mengerti jurus yang menambah atau menurunkan usia. Tingkat kesulitan pada jurus ini sangat tinggi hingga hampir tidak ada yang bisa melakukannya selama ini bahkan di Negeri Elang Bulan sendiri. Namun, Ang benar-benar berubah.
"Sebenarnya aku memang berumur lima belas tahun. Hanya saja kadang tiba-tiba berubah menjadi bocah kecil." Ang menggelengkan kepala pasrah. "Itu di saat kekuatanku banyak berkurang. Tapi, saat ini aku bisa menjadi diriku sendiri saat telah mengumpulkan banyak kekuatan."
Penjelasan Ang membuat Amdara kembali tak menyangka bertemu orang yang memiliki kekuatan langka. Apalagi Ang mengatakannya dengan ringan tanpa mewaspadai apa pun.
"Bagaimana? Bukankah aku bukan anak kecil lagi? Sekarang kau yang kecil." Ang menyentil dahi Amdara sampai bocah berekspresi datar itu tertegun dibuatnya.
"Hahaha. Kau tahu mengapa aku berbicara gamblang padamu?" Ang tiba-tiba berbicara serius. Dia menengadah menatap rembulan malam. Dia berkata, "itu karena kau menganggapku teman dan aku juga. Jadi aku tak merasa keberatan bercerita."
Amdara masih tidak mengalihkan pandangan. Dia bergumam, dan memandang ke depan. Masih ada satu pertanyaan mengenai pusaran angin hitam dan mengapa mayat hidup atau segala keanehan di desa Bumi Selatan ini tidak diketahui atau dilihat dari luar. Seperti Senior Fans sebelumnya. Ang dengan santainya menjawab semuanya masih berkaitan dengan kutukan. Amdara tidak tahu jelasnya, tetapi penjelasan Ang cukup membuatnya tak perlu memikirkan banyak hal lagi.
Dirinya jadi teringat Senior Fans dan Inay yang mungkin sedang mengkhawatirkannya.
"Sebaiknya aku kembali."
Amdara berdiri, Ang mengikuti dan mengangguk setuju. "Tapi aku meminta bantuan padamu sebelum kau pergi."
Amdara menaikkan sebelah alis sebelum mengangguk. Misteri desa Bumi Selatan terkuak oleh cerita dari Ang. Namun, dirinya sama sekali belum membantu apa-apa.
__ADS_1
Setelah menyetujui permintaan Ang, mereka langsung menuruni gedung tinggi. Mencari keberadaan Senior Fans dan Inay yang entah pergi ke mana. Di depan gerbang desa tidak ada, membuat Amdara menarik napas dalam.
Ang sepertinya mengetahui sesuatu, dirinya memainkan seluring dengan nada irama kematian. Amdara terperana, dia langsung menutupi telinga menggunakan tangan. Nada seluring acak-acakan itu membuat telinga Amdara terasa sakit.
Tak tahan, Amdara merebut seluring Ang.
"Ang."
"Kutarik kata-kata sebelumnya." Amdara menggeleng. Yang dimaksudnya adalah Ang yang pandai bermain seluring. Namun, mendengar kali ini benar-benar membuat Amdara menyesal karena telah memuji Ang.
"Kau bisa memainkan nada lain."
Ang tersenyum saat Amdara terlihat kesal. "Yah, baiklah."
Amdara memberikan seluring Ang yang langsung memainkannya dengan nada berbeda tetapi masih menceritakan kisahnya yang menderita. Kali ini Amdara dibuat tersentak karena tiba-tiba ikut merasakan kesedihan dari nada yang dimainkan.
Di sisi lain, Senior Fans dan Inay terengah-engah karena baru saja mengeluarkan banyak kekuatan untuk menyerang mayat hidup yang tiba-tiba saja mengganas. Ditambah suara seluring irama kematian membuat mereka kesakitan telinga, tetapi malah menambah kekuatan mayat hidup. Sampai akhirnya, nada seluring menyedihkan menusuk perasaan mereka. Bahkan para mayat hidup langsung bergeming dan kemudian pergi ke arah lain. Para mayat hidup itu menunduk, sebuah asap hitam tipis mengelilingi mereka bahkan Senior Fans dapat melihatnya.
Keterkejutan terlihat saat melihat dua bocah yang salah satunya mereka kenali, sementara satunya bocah laki-laki yang tengah memainkan seluring.
"Dara?!" Senior Fans dan Inay melesat ke arah Amdara.
Amdara melihat keduanya yang terlihat baik perasaan lega. Senior Fans menanyakan keadaan Amdara dan dijawab baik olehnya. Tatapan kedua orang itu beralih ke seseorang yang masih memainkan seluring tanpa terganggu.
Para mayat sebelumnya kini telah berkumpul di depan mereka. Seakan nada yang dimainkan Ang membuat para mayat patuh dengan perintahnya. Ang menghentikan memainkan seluring. Dia mengembuskan napas dan melirik dua orang yang baru saja mendarat.
"Siapa kau?" Fans bertanya sinis. Dia lebih waspada karena sebelumnya irama kematian yang dimainkan membuat telinganya hampir pecah.
Inay menarik Amdara ke belakangnya dan menatap Ang waspada.
Ang melirik Amdara yang langsung menjelaskan bahwa Ang adalah orang yang tidak tertular penyakit. Hanya saja Amdara menjelaskan secara singkat dan tak mengatakan segalanya.
__ADS_1
"Namanya Ang." Amdara memperkenalkan Ang yang terlihat segan. "Nanti akan aku jelaskan. Sekarang kita perlu membantunya menguburkan para mayat hidup ini."
Walaupun ada banyak yang ingin Senior Fans dan Inay tanyakan tetapi melihat kepercayaan Amdara pada bocah laki-laki asing itu membuat mereka hanya mengikuti permintaan. Selagi itu tidak membahayakan nyawa mereka.
Senior Fans dan Inay membuat lubang yang cukup besar. Sekiranya dapat menampung para mayat. Ya, akan menguburkan secara masal.
Rasanya Amdara merasa bersalah karena sebelumnya melenyapkan para mayat hidup ini yang tak bersalah sama sekali. Mungkin saja mayat-mayat hidup itu tidaklah memiliki niat membunuh mereka, melainkan meminta pertolongan.
Ang menjelaskan bahwa mayat hidup itu bukan dirinya yang memperdaya. Dia hanya menggunakan seluringnya untuk memanggil para mayat hidup.
Ang menepuk bahu Amdara dan tiba-tiba saja berkata, "tak apa. Mayat hidup yang sebelumnya kalian lenyapkan akan hidup lagi, dan menjadi mayat hidup. Begitu, sampai mereka dikubur baru jiwa mereka tenang."
Malam ini mereka mengubur semua mayat hidup. Tatapan Ang terlihat berbeda. Seperti ada kesedihan di dalamnya.
"Mengapa kau tidak mengubur sendiri?"
Pertanyaan Senioe Fans membuat Ang tersenyum kecut sebelum menjawab. "Jika aku bisa, mana mungkin sampai meminta bantuan orang lain?"
Amdara yang mendengar hal tersebut lantas bertanya, "apa ada alasannya?"
Ang menangguk. Namun, tidak mengatakan alasan apa pun.
Setelah menguburkan semua mayat, Senior Fans, Amdara, dan Inay bersiap pergi. Tak ada waktu menunggu sampai pagi, mereka harus cepat-cepat kembali ke akademi yang mungkin sekarang tengah mencari keberadaan mereka.
"Ang, kau yakin tak ikut?" Amdara bertanya. Berharap jika Ang ikut bersamanya membuat Amdara tidak merasa Ang sendiri di usia yang sangat muda.
Saat sebelum pergi mencari Senior Fans dan Inay, dirinya sempat menawarkan Ang untuk ikut bersamanya. Namun, Ang dengan sopan menolak. Dia berkata akan berusaha sendiri dan kelak jika berjodoh mereka dipertemukan kembali.
"Haha. Tenang saja. Aku bisa menjaga diri dengan baik. Aku sudah dewasa tau ...!"
Ang tertawa. Dia melambai-lambaikan tangan tanpa beban sama sekali di depan gerbang desa Bumi Selatan ini.
__ADS_1
Amdara hanya mengembuskan napas panjang. Dia juga tidak bisa memaksa Ang ikut bersamanya.