Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
69 - Dua Makhluk Penghuni Hutan Arwah


__ADS_3

Amdara melihat benda di tangannya bersinar merah, ini petanda dari Inay. Dia baru saja akan bicara saat tiba-tiba sesuatu melesat mengenai benda itu dan langsung meledakkannya. Jelas Amdara tersentak, dia bahkan belum sempat bereaksi.


"Kenapa kau keluarkan cahaya? Itu akan menarik perhatian makhluk di sini."


Aray segera memegang tangan Amdara yang kembali tersentak. Napas Aray terdengar di telinganya, Aray berkata, "kita harus pergi. Ada makhluk yang tengah mengincar."


Tanpa peringatan, Aray menarik tangan Amdara dan mulai berjalan hati-hati.


Amdara tak menolak, karena berpikir ini cukup membahayakan diri jika sampai lepas dari pengawasan Aray. Mendengar ada makhluk yang tengah mengincar mereka, Amdara menambah kewaspadaan. Dia teringat dengan benda yang dipegang Inay, bukankah dia tidak tahu akan menarik perhatian suatu makhluk penghuni Hutan Arwah?


"Bagaimana dengan yang lain?"


Aray menghentikan langkah, dia lupa mengatakan hal ini sebelumnya. Aray berkata, "sebaiknya kita cepat ke tempat titik kumpul. Tidak peduli dengan tanaman herbal, nyawa kita sekarang terancam."


Amdara mengembuskan napas. Wajahnya yang tanpa ekspresi di keadaan seperti ini bisa membuat orang lain salah paham.


"Kupikir mengambil resiko ke hutan ini dengan caraku, kita tidak akan ketahuan. Namun ... kita tidak cukup beruntung."


Aray mengeratkan genggaman tangan pada Amdara. Telinganya memerah sejak tadi, nada bicaranya ditekan agar terdengar biasa saja.


Aray menajamkan pendengaran, dia membelalakkan mata dan segera merunduk dengan menarik Amdara hingga bocah itu ikut merunduk kebingungan. Aray membisikkan sesuatu pada Amdara dan mengatakan ada aura aneh yang tengah mendekati mereka.


"Tahan napasmu selama mungkin."


Perkataan Aray langsung diangguki Amdara. Dia menahan napas, dan mengedarkan pandangan. Tidak ada yang aneh, tetapi sesaat berikutnya aroma wangi khas tanaman herbal begitu menyengat dan bercampur dengan bau busuk yang kian menjadi.


Semakin aroma itu mendekati Amdara dan Aray yang sebelumnya telah menduga, keduanya melihat cahaya putih dan merah yang saling beriringan persis di depan mereka. Amdara menahan napas, dia merasakan tubuhnya yang ditekan kuat. Hawa dingin nan mengerikan membuat bulu kuduk Amdara berdiri.


"Makhluk apa?" Amdara membatin. Dia hanya melihat cahaya putih dan merah membentuk tubuh manusia, tetapi sama sekali tidak terlihat ada wajah yang jelas. Cahaya itu melayang dan seakan tengah mengelilingi kedua bocah yang masih merunduk dengan lemas.


Aray semakin mengeratkan genggaman tangan. Dia memejamkan mata sesaat, dan menatap takut pada dua cahaya yang tak kunjung pergi.


"Bagaimana sekarang? Apa dua makhluk ini menyadari keberadaan kami?" Aray tak bisa melihat ekspresi wajah Amdara karena gelap. Walaupun dua cahaya yang membentuk diri seperti tubuh manusia, tetapi sama sekali tidak bisa membantu gelapnya pagi yang masih gelap.


Kengerian Hutan Arwah terasa sampai ke tulang Amdara yang dingin. Dia tidak tahu apakah cahaya ini makhluk atau apa pun itu, Amdara sampai sulit menjelaskan. Jika dua cahaya ini adalah Roh Hitam, seharusnya sudah mengetahui keberadaan mereka dan langsung menyerang tetapi dua cahaya ini diam dan melayang-layang di atas mereka.


Suara angin tiba-tiba terdengar, dan membawa suara dedaunan khas hutan. Udara kian dingin, aura mencekam tak kunjung hilang. Bau bangkai amat menyengat disertai aroma tanaman herbal tercampur jadi satu. Siapa pun yang mengirupnya akan langsung merasakan kepala seperti dunia diguncang, hidung akan mengalirkan darah deras.


Wangi yang campur aduk itu tidak sampai pada jarak lima belas meter dari dua cahaya yang tak melakukan apa pun selain melayang dan terus mengelilingi Amdara dan Aray yang hampir tidak kuat menahan napas.


Jarak antara Amdara dan Inay cukup jauh yang kini sudah berada di alat transportasi dan tengah menunggu cemas. Apalagi aura yang dirasakan Inay sungguh luar biasa. Berbeda dari Roh Hitam dan lebih kuat serta menekan.


"Kenapa mereka belum datang?"


Inay mondar-mandir dan menyilangkan kedua tangan depan dada dengan perasaan tak keruan. Padahal sudah cukup lama mereka menunggu, tetapi sepertinya memang terjadi sesuatu pada Amdara dan Aray.


"Apa kita hanya akan menunggu? Aku khawatir Luffy dan Aray tengah menghadapi masalah."


Atma tak kalah cemasnya. Dia sampai berniat mencari dua temannya, tetapi ditahan oleh Dirgan yang mengatakan hal itu malah akan memperkeruh keadaan. Belum tentu juga Atma menemukan Amdaran dan Aray.

__ADS_1


"Sebaiknya tunggu sebentar lagi. Kita tidak bisa melakukan apa pun selain menunggu. Jika kita sampai mencari, yang ada kita terjebak di kedalaman hutan."


Yang dikatakan Dirgan ada benarnya. Mereka tidak bisa bertindak gegabah. Di kondisi seperti ini ada baiknya diam dan berdoa agar tidak terjadi hal buruk.


Mereka masuk ke dalam alat transportasi dan duduk dengan perasaan cemas. Untung saja Inay berhasil membawa mereka ke titik kumpul. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi.


Rinai dan Nada sejak tadi diam. Keduanya tengah bergulat dengan pikiran masing-masing.


Rinai meringkuk dengan tatapan kosong saat tiba-tiba berbicara, "sudah kularang. Tapi, kalian ...."


"Apa kalian tahu ada cerita lebih mengerikan di Hutan Arwah ini?" Rinai kembali berbicara. Kali ini tidak sampai menangis. Hanya saja tubuhnya bergetar hebat. Nada memeluk, menenangkan.


Inay, Dirgan, Atma, dan Nada membeku saat Rinai yang tanpa di duga menceritakan apa yang dia ketahui.


"Hutan Arwah, bukan hanya membawa kesialan. Tapi jika ada yang menarik perhatian di antara banyaknya arwah yang bergentayangan ... maka akan dibawa ke tempat mereka."


Inay menelan ludah kesulitan saat mendengar. Dia bertanya, "tempat mereka? Apa maksudmu?"


Atma lebih mendekatkan diri ke Dirgan. Dia tidak tahu betul cerita di balik Hutan Arwah. Namun, dari sedikit cerita yang diketahui, Atma sampai dibuat merinding.


"Dunia lain. Dunia milik para arwah."


Singkat, dan padat tetapi sulit masuk ke otak keempat bocah itu. Suasana hening beberapa saat, tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata. Mereka hanyut dalam pemikiran masing-masing.


Sampai Atma bertanya ketakutan, "a-apa ada dunia arwah?"


"Aku tidak tahu kebenaran ceritamu, Rinai." Dirgan kembali berkata, "jika dipikir logika, bahkan orang yang berada di Tingkat Pengabdian tidak mungkin bisa menciptakan dunia sendiri."


"Memang apa yang bisa membuat makhluk arwah tertarik pada sesuatu?" Inay bertanya penasaran.


Terdengar helaan napas Rinai sebelum menjawab, "kalian tidak perlu mempercayai cerita ini. Hanya orang-orang yang berasal dari aliran hitam yang mempercayainya."


Rinai mengatakan bahwa itu tergantung pada makhluk arwahnya. Mereka jelas berbeda-beda, dan akan tertarik pada sesuatu yang berbeda. Rinai kembali berkata, "salah satunya adalah orang yang memiliki ikatan darah dengan sesama makhluk selain manusia."


*


*


*


Amdara hampir tidak bisa menahan napas lagi. Dia sangat berharap dua cahaya di atasnya segera pergi. Begitu pula dengan Aray, dia tidak bisa mengeluarkan kekuatan. Yang ada mereka hanya akan tertangkap oleh makhluk ini. Itu akan sangat berbahaya.


Namun, saat ini kondisi tidak memungkinkan. Jika terus-terusan menahan napas, dan akhirnya tidak kuat, bukankah sama saja akan ketahuan?


"Tidak bisa. Aku harus melakukan sesuatu." Aray menarik-narik pelan tangan Amdara sebagai kode mereka harus segera pergi. Untungnya Amdara bisa mengerti, dia kembali menarik pelan Aray sebagai jawaban.


Tepat ketika Aray hendak berdiri, dia mengeluarkan aura hitam dan langsung menyelimuti sekitar menggunakan asap hitam. Dua cahaya itu melayang-layang cepat. Tidak menyia-nyiakan waktu, Aray menarik tangan Amdara dan berlari secepatnya.


Tanpa meminta izin, Aray memeluk pinggang Amdara dan langsung terbang dengan cepat. Jelas hal itu membuat Amdara terkejut tetapi tidak melakukan apa-apa. Ini juga demi keselamatan dirinya. Amdara mengembuskan napas, dia mengontrol pernapasan.

__ADS_1


Asap hitam yang dimunculkan Aray sengaja untuk mengalihkan perhatian dua cahaya tersebut.


"Mereka sudah mengetahui keberadaan kita. Cepat atau lambat, mereka akan menyusul."


Dan entah apa yang akan terjadi jika sampai mereka tertangkap. Aray membuang napas gusar, dia menoleh ke belakang yang mana dua cahaya itu masih belum mengejar. Aray mengeluarkan cahaya api untuk menerangi jalan yang mana bisa terbang sendiri.


"Sebenarnya makhluk apa itu?"


Aray menggeleng, dia juga tidak tahu. Namun, yang pasti dua makhluk cahaya itu sangat berbahaya.


Sebelah tangan Aray terangkat, dan bola hitam besar melesat ke arah dua cahaya itu.


Blaaar!


BAAM!


Debaman keras disertai sambaran petir terdengar keras. Asap hitam mengepul di udara. Amdara menoleh ke belakang, dua cahaya itu tidak terlihat. Namun, seketika mata Amdara terbuka lebar saat sesuatu dengan cepat melesat dari kepulan asap itu.


"Mereka mengejar."


Aray menelan ludah susah payah, dia pikir jurusnya barusan cukup menahan dua cahaya itu tetapi sepertinya tidak terpengaruh sama sekali.


Sepuluh bola hitam sekaligus diciptakan, dan kembali melesat ke arah lawan yang tanpa di duga tidak terpengaruh. Aray dibuat panik, wajahnya yang cemas terlihat jelas oleh Amdara yang terlihat sangat tenang.


Dua cahaya putih dan merah terus terbang menuju


ke arah dua bocah yang terbang dengan kecepatan tinggi. Entah mengapa, Amdara merasa mereka sudah cukup lama terbang tetapi tidak menemukan aliran sungai dan seperti berputar-putar pada satu tempat.


Aray menambah kecepatan, dia mengeluarkan jurus dan langsung melesat ke arah dua cahaya yang masih mengejar.


Debaman keras terdengar, tetapi dua cahaya itu sama sekali tidak terluka. Seakan serangan-serangan Aray tembus begitu saja.


"Sialan!"


Aray mengutuk dan menggeremutukkan gigi. Dia kehabisan ide untuk melarikan diri dan melakukan serangan yang sia-sia.


"Itu tidak berguna."


Aray baru saja akan melesatkan serangan kembali secara beruntun, tetapi langsung dihentikan Amdara yang berkata, "itu hanya akan menghabiskan kekuatanmu."


Aray tahu, tetapi dia bingung harus melakukan apa. "Lalu apa yang harus kita lakukan?"


Amdara tanpa nada menjawab, "berhenti. Menyerang makhluk memiliki cara sendiri."


Aray menggeleng dan menolak. Bagaimana mungkin mereka menghentikan laju terbang? Yang ada mereka akan tertangkap dan dijadikan santapan, pemikiran Aray itu membuat Amdara tertegun.


"Tubuhmu rasanya tidak enak. Mereka tidak akan memakanmu." Amdara mendengus dan kembali berkata datar, "lakukan saja. Kita akan tertangkap juga jika terus melarikan diri."


Aray tersentak mendengar penuturan Amdara. Dirinya berdecak kesal dan menghentikan terbang. Kekuatan Aray dan dua makhluk putih merah itu jelas berbeda jauh. Jika melawan pun Aray tak akan sanggup.

__ADS_1


Tiba-tiba cahaya merah dan putih dari arah depan menyambut mengelilingi dua bocah itu. Semakin, sampai Amdara kesulitan melihat dengan jelas apa yang terjadi. Yang dia rasakan adalah kekuatan dahsyat, serta bisikan yang mengatakan dia tertarik pada bocah berambut putih itu.


"Nona, kami telah lama menunggu."


__ADS_2