Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
29 Kejadian Tak Terduga


__ADS_3

"Baiklah, apa kita akan langsung ke desa Bumi Selatan?" Tanya Dirgan setelah selesai makan sambil tersenyum senang.


"Tidak." Amdara berkata, "kita akan pergi membeli sumberdaya terlebih dahulu."


Dirgan, Atma, Rinai, Nada, dan Inay tersentak secara bersamaan. Pasalnya Amdara berkata demikian dengan raut wajah datar.


"Hei, memang kau memiliki uang?"


Amdara mengangguk sebagai jawaban Inay. Dia mengatakan memiliki uang setelah pertarungan dengan Senior Bena. Hampir saja Inay, Atma, Dirgan, Rinai, dan Nada melupakan hal tersebut.


Tentu ini juga sebuah kesempatan Amdara bisa membeli sumber daya untuk teman-temannya.


"Pakai ini." Amdara memberikan sebuah topeng kucing warna pada teman-temannya. Dia tidak sadar pernah membuat ulah menggunakan topeng kucing hitam saat acara penyambutan Tetua Besar Moksa.


Inay, Atma, Dirgan, Rinai, dan Nada terdiam sejenak memikirkan sesuatu. Terlintas kejadian beberapa hari lalu, tetapi berpikir bahwa Amdara memang memiliki banyak topeng kucing.


"Untuk apa?"


Pertanyaan tersebut terlontar dari bibir Atma. Amdara menjelaskan secara singkat mengenai mereka yang harus menggunakan topeng agar tidak ketahuan oleh orang-orang bahwa mereka adalah murid Akademi Magic Awan Langit.


Sebelumnya mereka juga telah mengganti pakaian menggunakan pakaian yang diberikan Amdara dan Inay. Jelas pakaian laki-laki Amdara diberikan pada Dirgan dan Atma. Menggunakan sedikit kekuatan pada pakaian Amdara membuat pakaian yang dikenakan dua bocah laki-laki itu nampak pas dan nyaman dipakai. Dan tentu pakaian tersebut adalah pakaian biasa yang dikenakan Amdara saat berada di Organisasi Elang Putih, tetapi bukan jubah organisasi tersebut.


Sejenak Nada menatap Amdara penuh tanda tanya. Seperti ada sesuatu yang ingin diutarakan tetapi ragu.


*


*


*


Masih di kota Awan Langit, tak jauh dari hutan sebuah pasar setiap malam ramai oleh orang berlalu lalang. Pasar itu yang pernah Amdara dan Inay masuki untuk berburu Roh Hitam. Riuh datang ketika seseorang baru saja mengambil sebuah makanan tanpa membayar. Beberapa penjaga langsung mengejar.


Pencuri makanan itu seorang pria tua mengenakan pakaian lusuh. Wajahnya terlihat pucat dan hampir terjatuh andai tak ada yang menariknya.


Jelas pria tersebut terkejut bukan main, dia baru akan mengeluarkan kekuatan saat seorang bocah lain menghampiri.


"Paman, kau kenapa?"


Pertanyaan itu terlontar dari bibir Amdara yang menarik lengan pria itu sebelum terjatuh. Amdara jelas tidak tahu bahwa orang yang ditolongnya adalah pencuri makanan.


"H-hah, tidak apa-apa, Nak."


Beberapa penjaga terus berteriak. Pria tua tersebut langsung gemetar sebelum akhirnya berlari kembali tanpa mengatakan apapun.


Amdara membiarkan, melihat beberapa penjaga baru saja melesat ke arah pria itu.


"Siapa paman itu? Apa kau mengenalnya?" tanya Dirgan saat mereka tidak jauh dari pasar.


Amdara menggeleng. "Tidak."


Inay mendengus kesal. Tahu betul Amdara yang senang berurusan dengan masalah orang lain.


Amdara mengajak mereka ke tengah-tengah pasar mencari penjual sumberdaya untuk beberapa hal. Dia rasa perlu membeli sumberdaya yang cocok untuk tubuh teman-temannya.


"Ramai sekali ...."


Atma dan Rinai yang baru merasakan ramainya dunia luar. Nampak berbinar-binar, Atma langsung mendekat ke toko senjata yang mana dia melihat sebuah pedang panjang mengkilat.


"Wah~" Atma baru saja akan menyentuh pedang tersebut tetapi penjual langsung menangkis pelan tangan kecil Atma. Atma tentu saja tersentak.


"Nak, mana uangmu?" Penjual tersenyum ramah. Walaupun tatapan matanya sedikit berbeda.


Atma menggeleng. "Setelah melakukan misi, aku akan membelimu. Pedang, kau tunggu aku, oke?"


Selagi itu Nada mengajak Rinai ke sebelah pedagang senjata, sebuah pernak-pernik membuat kedua bocah perempuan itu terlihat senang walaupun hanya melihat.


Dirgan memalingkan wajah, dia terlihat ingin bersikap seperti Atma tetapi ingat ada seseorang yang lebih muda dari nya bisa bersikap dewasa.


Salah satu toko dekat penjual daging Siluman, merupakan sebuah toko sumberdaya yang tak terlalu besar. Amdara memasuki toko tersebut bersama Inay dan Dirgan, membiarkan teman yang lain melihat-lihat pasar sebentar. Penjaga mempersilahkan, seorang pelayan membawa Amdara dan kedua temannya ke tempat Amdara inginkan.

__ADS_1


"Tuan Muda, sumber daya apa yang kau inginkan?" pelayan nampak ramah memperlihatkan beberapa pil.


"Penambah energi." Amdara berucap tenang. Dia ingin teman-temannya memakan pil tersebut agar di perjalanan nanti tak mengeluhkan kekuatan fisik.


Pelayan tersebut tersenyum kemudian pergi mengambil sumber daya yang diinginkan.


"Kita juga membutuhkan pil penyembuh luka dalam dan luar," kata Inay yang langsung diangguki Amdara. Inay tahu, pil yang satu ini merupakan sesuatu yang sulit dicari di Negerinya sebab kebanyakan orang memiliki kemampuan menyembuhkan diri menggunakan kekuatan.


Dirgan menunjuk sebuah gingseng air yang berada di wadah bening. "Kurasa gingseng itu memiliki khasiat bagus."


Amdara dan Inay menoleh ke arah yang ditunjuk. Sebuah gingseng berwarna putih kebiruan nampak di sana.


"Kau mau?"


Pertanyaan Amdara membuat Dirgan tersentak. Tak menyangka Amdara menawari gingseng tersebut.


Inay yang mendengarnya mengerucutkan bibir. Dia tidak tahu Amdara memiliki berapa banyak keping emas sampai menawari gingseng air yang jelas sangat mahal.


"Ah, tidak perlu. Aku hanya menebak khasiat gingseng itu." Dirgan tersenyum canggung. Tentu dia tidak akan merepotkan seorang bocah berambut putih itu.


Pelayan kembali membawa sebuah kotak dan memperlihatkan isi di dalamnya yang mana beberapa pil warna kuning. "Tuan Muda mau berapa?"


Entah memang pelayan tersebut melihat Amdara sebagai laki-laki karena penampilan, tapi Inay sampai mengedutkan sebelah mata mendengarnya.


Amdara bekata, "berapa satuannya?"


Pelayan tersebut tersenyum. "Hanya seratus keping emas. Jika kau membeli minimal sepuluh pil, aku memberikan sembilan ratus keping saja, Tuan Muda."


Inay dan Dirgan sejenak menahan napas dengan jumlah yang begitu fantastis bagi mereka. Inay tak menyangka harga satu pil saja sejumlah lima misi yang dahulu dia lakukan di organisasi.


"Beri aku lima pil energi dan lima pil penyembuh." Amdara berkata tenang dan memberikan lima kantung besar berisi emas dengan jumlah yang dibayar.


Pelayan itu mengembangkan senyumnya. "Baik, Tuan Muda. Tunggu sebentar. Saya akan segera kembali membawa pesanan Anda."


"Dan satu gingseng air." Amdara menunjuk gingseng air.


Pelayan itu mengangguk-ngangguk paham. "Baik. Satu gingseng air tiga ratus keping emas. Jadi Anda harus membayar seribu tiga ratus keping emas."


Jelas sekali pelayan itu tak memudarkan senyumannya. Tak sia-sia dia memperlakukan mereka dengan ramah.


Inay memelototkan mata. "Kau dapat uang berapa sebenarnya? Kau tak mengambil uang yang diberikan Tetua, bukan?"


Amdara menggeleng. "Seribu keping emas dari hasil pertarungan. Dua ratus keping emas itu tabunganku." Bocah berambut putih itu berkata datar. "Yang tetua berikan tidak sampai seratus."


Inay dibuat tersentak, tak menyangka Tetua Bram hanya memberikan beberapa keping emas dikantung. Bahkan sebelumnya Inay tak berpikir untuk menghitung kepingan emas yang diebeikan. "Benarkah? Oh ya ampun. Dia pelit sekali ...."


Dirgan tidak tahu apa yang kedua temannya bicarakan. Dia hanya cukup tersentak mendengar nilai tabungan Amdara.


Amdara mengembuskan napas panjang. Memang benar, Tetua Bram hanya memberikan sekitar 50 lebih keping emas. Entah disengaja atau tidak tetapi Amdara juga berpikir bahwa Tetua Bram perhitungan sekali.


"Luffy, bukankah itu sangat boros? Satu pil ini sangat mahal." Dirgan berkata dengan wajah khawatir.


Amdara bergumam. "Ini termasuk murah."


Dirgan menatap tak percaya Amdara. "Murah? Sebenarnya kau ini anak bangsawan, ya?" Dirgan menggelengkan kepala. "Berapa keping emas yang orang tuamu berikan setiap hari?"


Pertanyaan Dirgan membuat Amdara sensitif dikalimat terakhir. Tatapan mata Amdara jauh lebih dingin jika dilihat. Tak menjawab, seseorang memanggilnya dan memberikan dua kotak berisi lima pil energi, lima pil penyembuh dan satu gingseng air.


Amdara menerima kotak tersebut setelah pelayan mengucapkan terima kasih dan kemudian pergi begitu saja dari toko tanpa mengatakan apa-pun.


Dirgan yang merasa kebingungan langsung kena tegur Inay. "Ketua Kelas, jangan singgung dia dengan orang tuanya."


Dirgan menaikkan sebelah alisnya tak mengerti. "Memang ada apa dengan orang tua Luffy?"


Sambil berjalan keluar toko, Inay menjawab pelan. "Dia tidak memiliki orang tua."


Deg. Saat itu Dirgan merasa bersalah. Dia ingin meminta maaf pada Amdara, tetapi Inay berkata agar tidak mengganggu Amdara saat ini sebab tahu perasaan bocah berambut putih itu yang tidak karena jika disinggung sedikit saja mengenai orang tuanya.


*

__ADS_1


*


*


Amdara menghampiri Atma yang ternyata baru saja mencarinya. Langit malam ditemani lintang di atas tak membuat hati Amdara yang melihatnya merasa senang.


Atma tersenyum saat dia melihat Amdara yang mengampiri. "Kau ini dari mana saja? Aku mencarimu tahu! Ini pertama kalinya setelah lima tahun tak keluar dari sekolah, lalu kita akan tidur di mana?"


Amdara hampir saja lupa jika teman-temannya tidak akan bisa tidak tidur di luar apalagi di pohon. Hah, ini memang akan cukup merepotkan.


"Penginapan."


Amdara membawa teman-temannya setelah berkumpul ke salah satu penginapan bertingkat dua. Penampilan Amdara dan teman-teman menarik perhatian. Selain sekelompok bocah yang mengenakan pakaian bukan dari Negeri Nirwana Bumi, topeng kucing juga membuat mereka terlihat seperti sekelompok anak yang tengah diberi sebuah misi atau ada yang berpandangan sekelompok bocah itu sedang bermain.


Amdara meminta izin pada penjaga penginapan untuk masuk. Awalnya penjaga penginapan sedikit bingung, tetapi dia berpikir mereka adalah seorang murid dari sebuah sekolah yang pasti memiliki uang membuatnya mengizinkan.


Penginapan tersebut memiliki dua tingkat, terlihat di tengah-tengah tingkat pertama banyak meja makan yang telah diisi oleh orang-orang.


Atma, Rinai, dan Nada menatap takjub. Seakan hal tersebut sangat luar biasa bagi mereka. Dirgan bergumam, dia nampak biasa saat melihat penginapan itu dan belum waktu yang tepat untuk meminta maaf.


Amdara mengajak mereka masuk dengan tenang, tetapi tiba-tiba saja orang-orang yang tengah asik mengobrol di meja makan menatap mereka kebingungan.


Salah seorang pria kisaran berumur 40 tahun berambut merah darah dengan tubuh besar tiba-tiba saja berkata, "Hei, apa mereka tersesat? Lihat pakaiannya. Haha, topeng kucing itu terlihat buruk."


Amdara, Inay, Dirgan, Atma, Nada dan Rinai tersentak. Mereka menatap pria berambut merah. Beberapa orang juga tersentak, tetapi mereka hanya diam.


Orang yang duduk di sebelah pria berambut merah juga tertawa mengejek. "Dari mana kalian berasal? Apa orang tua kalian juga kemari?" Tawanya membuat orang-orang di sekitar cukup terganggu. "Oh, bukankah orang tua kalian adalah seekor kucing juga?"


Beberapa orang juga malah tertawa tetapi ada juga yang hanya diam.


Amdara mengepalkan tangan kuat. Menatap tajam pria berambut merah dan temannya.


Rinai dan Nada saling menggandeng tangan ketakutan. Inay sendiri nampak kesal dan ingin melenyapakan orang itu.


Pria berambut merah kembali berkata, "usir saja bocah-bocah pengemis itu. Sangat mengganggu pemandangan."


Atma jadi kesal sendiri. Dia maju ke depan menatap tajam pria itu. "Pengemis?! Kami bukan pengemis kakek!"


Dirgan yang di sebelah Atma tersentak dengan perkataan berani Atma. Begitu pula dengan Amdara, Inay, Nada dan Rinai.


Tatapan mata kemarahan langsung terlihat jelas di mata pria berambut merah. "Apa kau menyebutku kakek?! Berani sekali kau!"


Atma menelan ludah susah payah. Nyalinya menciut setelah dibentak dan pria berambut merah berjalan ke arahnya.


Amdara dan Inay sendiri merasakan hawa membunuh yang cukup pekat.


Amdara tahu akan terjadi hal tak baik jika sampai pria berambut merah sampai di hadapan mereka.


Amdara menyatukan kedua tangan dan memberi hormat pada pria berambut merah. "Saya minta maaf atas kelancangan teman saya. Mohon Tuan memaafkan."


Namun, pria berambut merah itu malah tertawa. "Maaf? Kau pikir kau dan teman-temanmu pantas mendapat maaf dariku?!"


Atma sampai bergetar mendengar bentakan barusan. Dia bersembunyi di belakang Dirgan ketakutan.


"Saya sangat memohon maaf pada Tuan." Amdara masih memperlihatkan ketenangan sambil menunduk.


Inay sampai dibuat menelan ludah susah payah. Dia mengepalkan tangan.


"Hohoho. Kau ini seperti pahlawan, yah?" Pria tersebut tiba-tiba saja menghilang dan detik berikutnya Atma merasakan kesakitan luar biasa di leher sebab sebuah tangan pria berambut merah tiba-tiba saja mencengkramnya dari belakang.


"Akh!"


Amdara dan Inay langsung membalikkan badan. Sementara Dirgan merasakan lututnya yang lemas.


"Tuan, saya mohon lepas---"


Mata Amdara membulat seketika saat hidung Atma mengalirkan darah dengan wajah pucat. Atma berusaha melepaskan tangan besar di lehernya tetapi begitu sulit. Dia hampir saja kehilangan napas saat tiba-tiba sebuah rambut panjang melesat menarik leher pria berambut merah dan kemudian sebuah pedang tajam menancap tepat di lengan. Tidak sampai di sana, Amdara segera bergerak cepat menendang keras wajah pria berambut merah disertai sebuah angin dahsyat yang muncul dari kakinya mengakibatkan pria tersebut langsung terpental dan melepaskan cengkraman.


Atma terbatuk-batuk, dia hampir saja jatuh jika saja Amdara tidak menahan.

__ADS_1


Amdara langsung menyalurkan kekuatan pada Atma dan menatap Inay lalu berkata, "bawa mereka pergi selagi aku menghalangi."


__ADS_2