
"Seorang anak berambut ungu itu malang sekali. Mendapatkan cambuk setiap hari. Kudengar dia hampir mati karena hukuman itu."
Mega menceritakan bagaimana anak perempuan berambut ungu selalu dijauhi oleh murid perempuan yang lain dan mendapatkan kejahilan dari saudara seperguruannya.
"Kadang aku membantu anak itu, tapi saat aku mendapatkan misi, entah bagaimana nasib dia karena ulah anak-anak lain."
Mega mengembuskan napas. Dia tahu bahwa anak yang tengah dibicarakannya kadang juga melawan tetapi malah mendapat hukuman tambahan. Padahal yang mencari masalah bukanlah dirinya melainkan Padma dan teman-temannya.
Amdara nampak mengepalkan tangan, tatapannya begitu dingin. Dia rasa bocah berambut ungu itu adalah saudara seperguruanya, Inay.
"Senior tahu di mana dia sekarang?"
Pertanyaan Amdara yang begitu tiba-tiba membuat Mega menaikkan sebelah alis. Nampaknya Amdara tertarik dengan pembicaraan ini. Padahal biasanya anak laki-laki jarang senang mendengar cerita.
"Kurasa dia sekarang tengah mendapat cambukan di Balai Hukuman."
Mega kemudian mengajak Amdara melihat anak perempuan yang tengah mereka bicarakan tanpa Amdara duga.
Balai Hukuman berada sekitar 50 meter dari sekolah, memiliki dua tingkat dan memiliki ruangan bawah tanah yang akan diperuntukkan hukuman berat. Di samping sekolah terdapat tempat pengambilan misi untuk para murid.
Sekolah Magic Awan Langit bertingkat lima. Di belakang sekolah sekitar 35 meter ada lapangan khusus berlatih tanding. Balai istirahat sendiri berada di samping lapangan sekitar 28 meter dan gedung khusus para Tetua berada di samping sekolah.
Amdara dan Mega mendarat di depan Balai Hukuman lalu Mega bertanya murid penjaga seorang penyusup bermasalah berada di tingkat berapa. Sebenarnya bukan hanya Mega yang ingin melihat Inay dicambuk, ada banyak murid yang juga ingin melihatnya setiap malam tiba. Cambukan demi cambukan, darah yang mengalir dari punggung Inay, dan air mata yang bercucuran adalah hiburan sendiri bagi murid seperti Daksa, Kenes, Padma dan yang lain.
Tidak ada yang melarang mereka melihat hukuman itu, para Tetua berpikir murid-murid yang menonton cambukan itu akan merasa takut dan tidak akan berbuat masalah. Padahal murid-murid yang menonton sama sekali tidak berpikir demikian. Maka dari itu Tetua mengizinkan murid-muridnya melihat hukuman tersebut jika tidak ada kelas dan tidak akan mengganggu jalannya hukuman.
Amdara dan Mega segera ke tingkat kedua setelah Murid Penjaga mengatakan bahwa orang yang dimaksud sekarang memang tengah dicambuk di tingkat kedua.
Bisik-bisik terdengar di tingkat kedua, ada sekitar dua puluh murid yang menonton seseorang yang tengah dicambuk.
Darah yang mengalir di punggung Inay bagaikan sesuatu yang menarik bagi Padma dan teman-temannya. Baru cambuk ke 28, akan tetapi Inay sudah tidak kuat, dia berusaha menahan tangis sekuat tenaga. Walaupun Inay memiliki kekuatan, tetapi rasa sakit dari cambukan khusus itu tidak akan menghilang dalam beberapa hari. Sudah hampir sebulan Inay mendapat cambukan tanpa henti, jelas tubuh kecilnya itu tidak akan sanggup. Pernah Inay tidak sadarkan diri karena saking sakitnya.
"Nak? Kau masih kuat?"
Murid yang mencambuk Inay merasa kasihan, dia beberapa kali menawarkan Inay istirahat tetapi bocah itu menolak.
Inay mengangguk sebagai jawaban dia masih kuat untuk beberapa cambukan lagi.
Cambukan ke 29 benar-benar membuat Inay ingin berteriak. Daging punggungnya pasti koyak lagi. Ketika cambukan ke 30 akan segera dilakukan, tubuh Inay nyaris terjatuh saking tidak kuatnya tetapi tiba-tiba ada yang memeluk Inay dari belakang bersamaan dengan cambuk ke 30 dilakukan. Inay merasa hangat dan dingin secara bersamaan.
Bukan hanya Inay yang tersentak, tetapi murid yang mencambuk Inay dan orang-orang yang tengah menonton juga tersentak.
Mata Inay memburam, hidungnya masih bisa merasakan aroma bunga persik. Aroma yang selama ini dia rindukan, aroma yang menenangkan.
"Dara ...?"
Inay mencoba menolah ke belakang, samar-samar matanya bisa melihat wajah yang meneduhkan kini tersenyum tipis.
"Mn. Aku kembali."
Inay tersenyum tipis, air matanya kembali mengalir. Dia benar-benar merindukan bocah berambut putih ini. Apalagi ada banyak gosip mengatakan Amdara sudah mati, karena tidak sadarkan diri begitu lama. Inay tidak pernah menjenguk Amdara karena selalu ada yang menghalangi.
"Hei, bukankah bocah itu penyusup juga?"
Kenes tentu terkejut, dia beberapa kali mengusap mata. Bocah berambut putih itu sekarang tengah berdiri memeluk Inay tanpa lecet sedikit pun. Padahal dirinya tahu mengerikannya bunga Teratai Penghisap Nyawa.
Padma juga berpikiran sama dengan Kenes. Beberapa murid kembali membicarakan mengenai penyusup.
Mega sendiri masih membulatkan mata dan mulut ketika melihat Amdara yang melesat begitu saja ke arah Inay dan memeluknya. Mega seakan melihat pemandangan pahlawan yang mencoba melindungi Tuan Putri. Mendengar bahwa teman barunya juga seorang penyusup membuat Mega terkejut.
Amdara tidak peduli dengan tatapan tidak suka dan gosip yang beredar. Amdara merasa menyesal karena telah membuat Inay mendapat hukuman berat ini. Jika saja dirinya tidak membuat portal sembarangan, andai saja Amdara tidak lemah dan bisa melindungi Inay, semua ini tidak akan terjadi.
Amdara memeluk erat Inay. Inay menjerit kesakitan merasakan sakit di punggung. Amdara segera melepaskan pelukan, dirinya tersentak ketika Inay menjerit.
"Maaf. Aku ...."
"Tidak apa-apa." Inay tersenyum. Melihat Amdara sudah sembuh entah mengapa membuatnya menjadi lebih bertenaga.
"Kau sebaiknya istirahat."
Inay mengangguk, dia dipapah Amdara. Mega tiba-tiba saja melesat ke arah Amdara dan membantu memapah Inay. Hal itu membuat terkejut semua orang termasuk Inay dan Amdara sendiri.
"Maaf merepotkanmu, Senior." Amdara melepas tangannya dari bahu Inay, membuat Inay sedikit tersentak.
"Tidak apa-apa, biar kubantu."
Mega tersenyum mengerti maksud Amdara. Dia kemudian melirik Amdara yang tidak lagi membantu Inay. Melainkan Amdara pergi ke arah murid yang memberi hukuman cambuk.
"Beri aku cambukan sebanyak dia selama ini."
Amdara berkata dingin. Murid yang mencambuk itu tahu bahwa Amdara memang salah satu penyusup. Namun, dia juga mendengar bahwa Amdara yang terluka akibat jurus bunga Teratai Penghisap Nyawa. Tentu murid itu tidak yakin dengan kondisi Amdara saat ini.
"Nak? Tapi kau baru saja sembuh--"
"Selesaikan hukuman cambuk hari ini."
"Tapi--"
__ADS_1
"Ditambah hukuman cambuk dia."
Murid itu hanya bisa mengembuskan napas. Hukuman cambuk bagi Inay dan Amdara adalah selama sebulan, dengan setiap harinya mendapat 30 kali cambuk. Jika Amdara meminta menyelesaikan hukuman cambuk dan menyelesaikan hukuman Inay berarti totalnya 1110 kali cambuk.
Inay yang mendengar Amdara sontak tersentak begitupun Mega dan murid-murid yang sekarang tengah menonton.
"Hei, apa bocah itu sudah kehilangan akal? Ada cambuk seribu lebih."
Padma berdecak kesal. Amdara mendengar perkataan Kenes karena Amdara memang sudah kehilangan akal menurut Padma sendiri. Di pandangan Padma, Amdara sekarang ingin keren di hadapan teman-temannya.
"Ck, bukankah kau sudah tidur lama? Harusnya hukumanmu ditambah. Apalagi para Tetua juga menyembuhkanmu, apa kau tidak ingin membayar semua itu?"
Perkataan Padma membuat tersentak semua orang. Amdara hanya menatap datar Padma yang tidak jauh melayang di antara murid lain. Tangan Amdara terkepal kuat.
"Yang dikatakan Padma benar. Bukan hanya mendapat pengobatan dari Tetua. Kau dan temanmu itu telah merusak lapangan dan membuat kekacauan di perbatasan hutan dan asrama!"
Daksa terbang tinggi sambil mulai memprovokasi Amdara. Perkataan terakhir Daksa membuat sedikit tersinggung Kenes dan yang lain. Murid-murid lain mulai menunjukkan ketidaksukaan pada Amdara dan Inay, mereka ingin dua bocah itu mendapatkan hukuman lebih.
Mega sebagai senior berdecak kesal. "Siapa kalian berani memberi hukuman padanya?!"
Tiga murid yang berjaga mencoba melerai, tetapi rombongan Daksa tidak ingin kalah. Mereka terus berbeda pendapat, dan ngotot Amdara harus diberikan hukuman tambahan.
Inay mengepalkan tangan. Ini sudah keterlaluan. Rasanya Inay ingin menebas mereka yang berkomentar buruk. Namun, untuk bicara saja rasanya sulit.
"Baik. Berapa yang kalian inginkan?"
Semua tatapan kini beralih pada satu titik. Di mana Amdara masih dengan raut wajah tenang menatap datar Padma dan yang lain.
Inay, Mega, dan murid penjaga tersentak.
Kenes menaikkan sebelah alisnya. "Bocah bau! Bagaimana jika seribu setengah cambukan?"
Semua orang lagi dan lagi dibuat tersentak mendengar ucapan Kenes yang kelewat keterlaluan. Akan tetapi Amdara masih diam mendengar bocah-bocah kurang kerjaan itu.
"Hei, seribu setengah ambukan sudah cukup untuk bocah lemah sepertinya." Daksa menyeringai.
Perkataan Daksa disetujui Padma dan rombongan. Mega dan murid penjaga tentu tidak setuju, karena yang memberikan hukuman adalah para Tetua. Mereka sama sekali tidak memiliki hak.
"Lakukan."
Amdara menyiapkan diri, dia siap dengan hukuman cambuk ini. Sementara murid yang akan memberi cambukan nampak ragu, tetapi Padma dan yang lain mendesak terus menerus.
"Dara! Apa yang kau lakukan?!"
Inay sekuat tenaga bersuara, tetapi tidak dihiraukan oleh Amdara. Mega hanya diam, dia juga tidak bisa membujuk Amdara.
Cambukan demi cambukan terus dilakukan. Darah mengalir, Amdara merasakan kulitnya yang mulai koyak. Tatapan mata Amdara masih datar dan tenang membuat Padma, Kenes, Daksa dan yang lain cukup geregetan. Tidak seperti Inay yang pertama kali mendapat cambukan langsung menangis.
Inay berteriak, dia tidak bisa melihat Amdara yang terus mendapatkan cambuk apalagi sampai seribu setengah. Benar-benar hal yang akan menghilangkan nyawa!
Mega menahan napas ketika darah terus mencuat dari tubuh Amdara yang tidak jauh darinya.
*
*
*
Amdara masih merasakan sakit pada punggung. Dia yakin tulangnya sudah remuk. Akan tetapi bocah berambut putih itu masih mempertahankan wajah tenangnya seakan tidak merasakan apapun padahal malam berbulan kini hampir terganti fajar. Amdara hanya mencoba menenangkan pikiran dan menyerap kekuatan alam perlahan hingga rasa sakit itu tidak terlalu menyakitkan, walaupun daging punggungnya saat ini telah benar-benar terkoyak.
Amdara tidak boleh sampai menangis apalagi terjatuh. Dia baru saja sembuh dan belum mengetahui informasi mengenai orang tuanya dan malah sudah mendapatkan masalah besar. Tentu Amdara menyalahkan diri sendiri untuk hal ini.
"Aku tidak akan menyerah."
Amdara bertekad dalam hati. Dia memejamkan mata menghirup udara yang kini tercium aroma anyir.
Suara Inay yang menangis dan memanggil-manggilnya sama sekali tidak dihiraukan. Inay telah mendapatkan cambukan selama ini dan mendapatkan perkataan tidak baik dari murid-murid sekolah Akademi Magic Awan Langit. Tentu Amdara akan ingat itu dan akan membalaskan semuanya saat waktunya tiba.
Cambukan ini sama sekali tidak berhenti, murid yang memberika cambukan bahkan bergantian karena lelah. Cambukan dari samping kanan dan kiri dibuat agar cepat selesai tetapi seribu setengah cambukan bukanlah singkat. Alhasil setelah cambukan ke lima ratus menggunakan alat yang memang disiapkan untuk hukuman berat.
Kecepatan alat ini bukan main, tetap bisa dihitung karena ada angka di atas otomatis menghitung. Bunyi tulang retak terus membuat Padma, Kenes, Daksa, Inay, Mega dan para murid yang semakin banyak menonton cukup membuat nyeri di telinga.
"Ssh, kenapa raut wajahnya masih sama?!"
Padma menggigit tangan saking gemasnya ingin melihat wajah menyedihkan Amdara. Namun yang dilihatnya sampai sekarang adalah wajah datar tanpa ekspresi kesakitan.
"Hmph. Kurasa dia memang tidak waras."
Kenes juga sama halnya. Beberapakali dia mengetuk keras lantai dengan tongkat peraknya.
"Tsk! Dia pasti melakukan kecurangan!"
Daksa bersungut-sungut, sambil menatap tajam Amdara. Daksa meminta murid penjaga untuk memeriksa tubuh Amdara tetapi memang tidak ada kecurangan sedikitpun. Daksa semakin merah pad
am karena marah melihat Amdara tanpa ekspresi.
"S-senior, kita sudah tertinggal pelajaran ..."
__ADS_1
Junior di samping Daksa mengingatkan, tetapi Daksa malah memelototinya dan memarahi junior itu.
"Diam! Apa kau tidak lihat aku sedang mengawasi bocah tengik itu?!"
Junior yang lain juga tidak ingin kalah mengawasi Amdara. Siapa tahu Amdara akan melakukan kecurangan tentu Daksa, Padma, Kenes dan yang lain tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Fajar sudah muncul beberapa jam lalu, sesuatu yang ditunggu-tunggu sama sekali tidak mereka lihat. Merasa gemas karena Amdara tidak menunjukkan ekspresi kesaksian, membuat Daksa, Kenes, dan Padma berinisiatif membantu melakukan cambukan pada Amdara dan tentunya dengan cara cepat. Tidak ada yang melarang dan mengahalangi kecuali Inay yang kini duduk dan terus berteriak, punggungnya telah diolesi obat oleh Mega dan bocah berambut merah itu juga membantu memulihkan kondisi Inay. Beberapa kali Inay berlari menghentikan cambukan yang dilakukan Padma yang menurutnya cambukan itu lebih keras daripada yang dilakukan murid penjaga tetapi Mega selalu menghalangi.
Di ruang kelas sekolah Akademi Magic Awan Langit sendiri Guru yang mengajar saat ini bertanya-tanya mengapa Daksa, Padma dan Kenes tidak menghadiri kelas. Padahal hari ini adalah pelajaran mengenai tekhnik bertarung yang sangat disukai oleh mereka. Ini pertama kalinya mereka tidak hadir dalam pembelajaran.
Di kelas lain beberapa murid juga mulai bertanya-tanya karena ada teman-teman mereka yang tidak pulang ke asrama dari semalam dan sampai sekarang belum terlihat batang hidungnya.
Mereka tidak tahu bahwa Daksa, Kenes, dan Padma sekarang tengah merah padam dan berdecak kesal. Wajah Amdara memang pucat, tetapi bahkan suara rintihan tidak terdengar.
Tetua Haki dan yang lain setelah meninggalkan ruang istirahat Amdara sampai sekarang tidak menjenguk lagi. Jadi mereka juga tidak tahu sekarang Amdara tengah kesakitan walaupun tidak menunjukkan ekspresi.
"Haish! Kau ini sudah hampir mati kenapa tidak menangis?!"
Padma memberikan cambukan lagi dengan keras. Dia benar-benar kesal setengah mati pada Amdara. Daksa juga demikian, dia memarahi Amdara karena hal serupa. Sementara Kenes tengah melihat tulang punggung Amdara yang nampak remuk dengan darah yang tidak henti-hentinya mengalir.
Amdara tidak menggunakan kekuatannya untuk memperbaiki tulang yang remuk, dia hanya mengurangi rasa sakit. Cambukan semakin dalam, semakin lama pula Amdara memejamkan mata.
"Hampir! Sedikit lagi wajahnya akan berubah!"
Padma semakin cepat melakukan cambukan, dia dan ketiga rekannya tidak merasa lelah, semakin lama malah semakin semangat.
Darah tiba-tiba saja mengalir dari mulut Amdara ketika sore tiba. Inay dari kejauhan tidak berhenti mengucurkan air mata, Mega merasa Inay memiliki simpanan air mata cukup banyak.
"Dara, huhu ... kenapa kau melakukan ini?"
"Hah, kau menangispun tidak akan mengurangi rasa sakitnya."
Mega mengembuskan napas panjang, dia memberikan sapu tangan pada Inay melihat ada sesuatu kental hijau di hidung Inay.
Padma hampir menangis melihat darah keluar dari mulut Amdara, bukan karena kasihan melainkan darah yang keluar itu adalah sesuatu yang membuatnya sedikit bahagia.
"Kau memang hebat menahan cambukan ini, yah?"
Kenes tersenyum sinis, dia mulai merasa Amdara memiliki kekuatan besar hingga seribu setengah cambukan bukanlah sesuatu yang sulit. Pemikiran Kenes tentu sesuatu yang sangat salah. Amdara segera menghapus darah di mulut dengan punggung tangan dengan pelan saking lemasnya.
"Mn."
Di ruangan itu, sama sekali tidak ada yang merasa lapar atau memikirkan hal lain selain ekspresi Amdara.
Malam tiba lagi dan cambukan terakhir membuat para penonton menangis. Bukan merasa kasihan, tetapi sangat kesal karena Amdara masih bisa menahan ekspresi tenangnya.
Bahkan Padma sampai terduduk lemas, padahal yang dicambuk bukan dirinya. Daksa melemparkan alat cambuk dan menggoyang-goyangkan keras bahu Amdara sambil berkata, "kau pasti melakukan kecurangan! Bocah, cepat katakan pada mereka bahwa kau melakukan kecurangan!"
"Aku tidak melakukan kecurangan."
Amdara menepis tangan Daksa kasar. Tatapannya dingin ke mata Daksa.
"Hei, Dara tidak melakukan kecurangan! Berani sekali kau mengatakan dia berbuat kecurangan!"
Inay berdiri, matanya masih sembab. Dia lupa bahwa Amdara mengganti nama. Namun tidak ada yang curiga termasuk Mega karena berpikir Inay memiliki nama sendiri untuk Luffy.
Keributan terjadi antara Inay, Mega dan rombongan Daksa. Mereka ada yang masih curiga, tetapi ada juga yang yakin Amdara memang memiliki banyak kekuatan.
"Kupikir kalian berada di mana, tidak kusangka kalian malah menonton orang yang tengah di hukum."
Suara keras itu berasal dari seseorang berjubah putih yang sekarang melayang di depan pintu. Semua orang yang berada di ruangan sontak menoleh dan wajah pucat seketika.
"T-tetua ...."
Benar, orang itu adalah Tetua Haki yang menggelengkan kepala pelan. Awalnya dia menjenguk Amdara tetapi tidak melihat bocah itu. Tetua Haki kemudian bertanya pada murid-murid, tetapi tidak ada yang tahu. Inay yang biasanya membersihkan halaman pun tidak ada.
"Jadi kalian sudah puas melihatnya dihukum?"
Pertanyaan Tetua Haki membuat murid-murid yang berada di ruangan itu menelan ludah susah payah. Ruangan itu seketika menjadi dingin. Tetua Haki tersenyum malah membuat murid-murid itu merasakan sesuatu yang tidak enak.
Meninggalkan jam pembelajaran sampai satu jam merupakan pelanggaran yang harus dikenai hukuman cambuk sebanyak 30 kali. Sementara Padma, Kenes, Daksa, termasuk Mega dan yang lain meninggalkan jam pembelajaran sampai satu hari.
"Sekarang giliran kalian yang akan dihukum."
Amdara berkata sambil tersenyum, dia tahu ini akan terjadi. Makanya Amdara melakukan keinginan Kenes dan yang lain hanya untuk membuat mereka meninggalkan jam pelajaran.
"Jadi kau sengaja menjebak kami?!"
Daksa naik pitam, dia menatap tajam Amdara yang mengangguk sebagai jawaban.
"Tetua! Kami dijebak oleh dia! Bagaimana mungkin kami mendapatkan hukuman?!"
Padma menunjuk Amdara, dia benar-benar lengah sampai bisa dikerjai oleh Amdara.
Tetua Haki mengembuskan napas dia mengatakan tidak peduli apakah itu jebakan atau bukan tetapi meninggalkan jam pelajaran harus tetap mendapatkan hukuman.
Alhasil hukuman cambuk dilakukan pada semua yang berada di ruangan itu kecuali Amdara dan Inay yang diperintahkan untuk istirahat.
__ADS_1
Inay juga tidak menyangka Amdara memiliki niat tersembunyi setelah dia menerima cambuk seribu lebih. Benar-benar orang sulit ditebak! Dan ini akan menjadi suatu kenangan yang tidak akan mereka lupakan.