Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
130 - Menyerang Raja Roh Hitam


__ADS_3

Ucapan Amdara seketika membuat semua orang terkejut. Seketika pusaran angin milik Amdara menghilang oleh kekuatan Raja Roh Hitam yang menggeram marah karena Amdara berhasil mengetahui kelemahannya.


Setelah melihat tatapan mata Raja Roh Hitam, maka seseorang telah masuk dalam jeratan jurus Raja Roh Hitam. Ketika dia menginginkan orang yang sudah melihat matanya agar tidak bisa bergerak, dia bisa melakukan hanya dengan sekali kedipan mata. Entah bagaimana jurus mengerikan itu dia dapatkan.


Pantas saja Amdara yang memerhatikan menaruh kecurigaan pada mata merah Raja Roh Hitam. Amdara segera berdiri, dan meminta teman-temannya agar pergi menjauh dari pertarungan Tiga Tetua. Mereka mungkin akan melesatkan serangan yang begitu besar.


Mendapat peringatan agar tidak melihat mata Raja Roh Hitam, ketiga Tetua mulai waspada dan langsung menutup mata mereka begitu pula dengan peserta yang langsung mengalihkan pandangan.


"Hmph, jadi roh ini memiliki kekuatan mengerikan juga, yah." Tetua Rasmi tertawa sinis, dia kembali berkata, "walaupun dengan menutup mata, tapi kami masih bisa membunuhmu Roh Hitam ...!"


Tetua Rasmi melesat menyerang, dengan cepat musuh menangkisnya dengan amarah yang memuncak. Lesatan kekuatan Tetua Rasmi tidak bisa dilihat dengan mata telanjan*. Jika dilihat dengan mata biasa, maka hanya terlihat sebuah cahaya dengan kecepatan tinggi berulangkali mengenai Raja Roh Hitam yang sama sekali tidak terluka.


"Kalian semualah yang akan kulenyapkan dalam perut ...!"


Suara Raja Roh Hitam menggelegar. Dia menghilang dan dalam sekedipan mata lalu muncul di atas Tetua Rasmi.


Tetua Genta dan Tetua Widya yang melihat menggunakan kekuatan mereka tanpa harus membuka mata segera melesatkan serangan hendak melindungi Tetua Rasmi akan tetapi tiba-tiba Raja Roh Hitam kembali menghilang. Serangan kedua Tetua itu meledak ke atas.


Blaaar!


Hawa keberadaan Raja Roh Hitam mendadak menghilang. Hal tersebut membuat ketiga Tetua memasang sikap waspada. Mereka saling memunggungi. Memang tidak mudah melawan Raja Roh Hitam yang sangat licik.


Asap hitam terlihat di depan Tetua Widya, langsung membentuk tubuh besar hitam dengan mata merah menyala sambil menyeringai. Raja Roh Hitam memunculkan kapak besar, dan langsung menyerang Tetua Rasmi.


Serangan Raja Roh Hitam entah mengapa meleset dan malah kapak miliknya retak. Sebuah akar merambat mengenai tangan Raja Roh Hitam dan langsung menariknya dengan cepat. Kecepatannya tidak tertandingi, sampai Raja Roh Hitam dibuat tidak bisa mengelak hingga dia terbanting.


"Kau jangan meremehkan kekuatan para Tetua, Roh Hitam ...!" Suara Tetua Widya yang tersenyum tipis. Tangannya bergerak-gerak, sebuah akar merambat mengikat Raja Roh Hitam dengan cepat.


Tetua Genta juga mengangkat tangan, detik berikutnya melesatkan serangan tepat pada musuh yang tidak bisa dibuat bergerak. Tetua Rasmi menggunakan kepalan langsung untuk meninju perut Raja Roh Hitam berkali-kali hingga terdengar suara teriakkan musuh.


Debaman keras terdengar. Asap hitam mengepul di udara, tanah sampai hancur berlubang sepuluh meter.


Suara teriakkan memekakkan telinga membuat merinding. Dari kejauhan para peserta dibuat menelan ludah susah payah melihat kekuatan para Tetua yang mengerikan hanya dalam satu serangan.


Amdara yang melihatnya dengan takjub. Dia bergumam, "hebat."


"Benar-benar kekuatan yang mengerikan." Inay yang berdiri di samping Amdara memberikan pendapat. Dia lalu memejamkan mata. Teringat Tetua Bram yang juga kuat seperti Tiga Tetua itu. Dirinya lalu berkata, "kata Tetua Bram, bukankah seharusnya kita yang melenyapkan Roh Hitam?"

__ADS_1


Amdara menoleh sambil menaikkan sebelah alis. Tujuan mereka ke sini juga memiliki misi yang tidak akan terlupakan. Tapi saat ini kondisi keduanya tidak dalam keadaan baik. Sangat mustahil melenyapkan Raja Roh Hitam.


"Kita serahkan yang ini kepada Tetua."


Kata Amdara mengambil keputusan. Kekuatannya sudah berkurang banyak, luka dalamnya pun belum dia sembuhkan. Begitu pula dengan Inay, yang mengangguk dan kemudian memilih mengambil tempat duduk di samping Atma.


Amdara memerhatikan pertarungan yang begitu sengit. Raja Roh Hitam terus memberontak, tapi ketiga Tetua terus melesatkan serangan beruntun hingga Raja Roh Hitam berhasil terkena luka hingga dia menyemburkan darah hitam.


"Beruntung Tetua datang menyelamatkan kita."


Perkataan seseorang yang tiba-tiba berdiri di samping membuat Amdara menoleh. Cakra tersenyum tipis, wajahnya sudah pucat tapi dia menyembunyikan rasa sakitnya dengan ekspresi datarnya.


Amdara mengangguk dan bergumam sebagai jawaban. Dia masih tidak mengetahui apa yang membuat Tetua Wan sampai sekarang belum memberi peringatan mengenai bendera yang sudah dia cabut.


"Yah, nyawa kita jadi terselamatkan. Jika Tetua tidak datang, kita mungkin sudah masuk ke dalam perut." Suara Aray terdengar berjalan mendekat ke arah Amdara. Dia bergidik ngeri. Aray juga mendapatkan luka dalam cukup parah, tapi sama seperti Cakra yang menutupinya. Aray kemudian kembali berucap, "bagus kau mengulur waktu, Luffy."


Amdara mengembuskan napas. Dia terdiam karena mendengar ocehan Aray yang kembali memujinya karena berhasil mengulur waktu sampai Tetua datang.


Cakra melirik Amdara yang tidak menanggapi ucapan Aray. Cakra beralih melirik Aray yang ternyata juga melihatnya dengan tatapan kesal karena Amdara tidak menanggapi.


Lagi-lagi debaman keras terdengar. Bahkan rasa-rasanya tanah mulai terguncang hebat karena serangan tiga Tetua.


"Sebaiknya kita cepat lenyapkan roh ini."


Suara dingin Tetua Genta langsung dimengerti kedua rekannya. Akar yang mengikat Raja Roh Hitam berubah warna menjadi ungu kehitaman yang merupakan jurus racun. Pola bintang biru dari atas Raja Roh Hitam muncul, sinarnya sampai membuat Raja Roh Hitam menyipitkan mata. Perlahan pola bintang itu turun hendak menghancurkan tubuh Raja Roh Hitam, akan tetapi tiba-tiba angin tiba-tiba terasa aneh di benak ketiga Tetua. Guncangan besar terjadi sebelum pola bintang itu mengenai Raja Roh Hitam yang mendadak tertawa sampai taring di mulutnya bermunculan.


"Kalian ingin melenyapkanku?! Tidak semudah itu, bodoh! Dunia ini masih dalam genggamanku ...!"


Detik itu juga benda bulat sebesar bola berjatuhan sampai ketika bersentuhan dengan tanah langsung meledak. Desa itu kini dihujani benda tersebut.


Para peserta pontang-panting menyelamatkan diri ketakutan, sementara ada yang langsung membuat perisai pelindung. Inay yang melihat benda merah darah itu hendak mengenai salah seorang senior, tanpa berpikir panjang menggunakan rambutnya dan langsung melempar benda tersebut ke arah lain.


"Benda apa itu?!"


Keterkejutan jelas ketara di wajar mereka. Sekarang ketakutan kembali menyelimuti. Amdara hendak membuat perisai pelindung, tapi dirinya ambruk dengan kedua lutut menyentuh tanah. Darah keluar dari dalam mulutnya. Kepala Amdara berdenyut. Satu benda berbentuk bola nyaris mengenainya jika saja Cakra dan Aray tidak menyatukan sisa kekuatan untuk membuat perisai pelindung.


Teriakan-teriakan para peserta membuat tiga Tetua marah. Mereka juga harus melindungi diri sendiri dan juga harus tetap menyerang Raja Roh Hitam.

__ADS_1


Raja Roh Hitam yang melihat mereka tertawa keras dan berkata, "lenyaplah kalian dalam ilusi ini ...!"


*


*


*


Tetua Wan merasakan kepalanya bertambah sakit, padahal sudah dibantu oleh Tetua Haki agar bisa menekan kekuatan roh jahat dalam pikirannya. Aura yang keluar dari Tetua Wan mulai berbeda. Asap hitam keluar dari kepalanya.


"Tetua Haki, tolong terus beri aku kekuatanmu. Roh Hitam itu hampir menguasai ilusi yang kubuat."


Jika ilusi yang dibuat Tetua Wan benar-benar berhasil dikuasai Raja Roh Hitam, maka nanti semua peserta serta tiga Tetua akan lenyap. Bahkan Tetua Wan sendiri tubuhnya akan diambil alih oleh Raja Roh Hitam.


"Kau bertahanlah. Serang terus Roh Hitam dalam pikiranmu."


Tetua Haki mengalirkan kekuatan besar, Tetua Wan semakin merasakan sakit. Gejolak antara aura jahat dan aura milik Tetua Haki bertempur dalam tubuh Tetua Wan.


Saat ini bahkan para penonton tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mereka masih bertanya-tanya tapi belum ada yang bisa memberikan jawaban pasti. Melihat Tetua Wan yang sedang kesakitan serta tiga Tetua yang masuk dalam ilusi, maka sudah pasti ada masalah besar.


Serangan-serangan kekuatan Tetua Haki yang melawan kekuatan Raja Roh Hitam dalam tubuh serta pikiran Tetua Wan terus berlangsung lama.


Karena adanya serangan tidak terduga dari kekuatan Tetua Haki, Raja Roh Hitam mulai kehilangan kendali. Dia menggeram. "Sialan. Si tua itu mulai menyerang balik. Jika begini aku akan benar-benar dilenyapkan."


Dalam jurus ilusi yang setengahnya dikuasai Raja Roh Hitam mampu menciptakan serangan-serangan tidak terduga walaupun tubuhnya sudah babak belur.


"Tidak. Aku yang harus melenyapkan mereka." Raja Roh Hitam membuka mulut, detik berikutnya serangan api keluar dan meledakkan pola bintang yang diciptakan Tetua Genta, Tetua Widya, dan Tetua Rasmi sampai ketiganya terpental menghantam tanah, ketiganya terbatuk darah segar.


"Ha ha ha. Aku akan memakan kalian untuk memperkuat diri ...!"


Raja Roh Hitam akhirnya berhasil meloloskan diri dari akar milik Tetua Widya. Dia berdiri dan menggeram marah. Benda-benda seperti meteor yang dia buat semakin banyak. Asap hitam mengelilingi tubuh Raja Roh Hitam.


Seketika semua orang dalam jurus iluso itu terbatuk darah, merasakan tekanan luar biasa.


Raja Roh Hitam menerjang Tetua Genta yang belum kembali menyerang, tapi tiba-tiba sebuah serangan yang entah datang dari mana mengenai Raja Roh Hitam telak. Meteor-meteor menghilang tiba-tiba, guncangan juga berhenti.


"Kau benar-benar membuatku marah, Raja Roh Hitam."

__ADS_1


Suara milik Tetua Wan seakan keluar dari atas langit. Raja Roh Hitam memundurkan diri perlahan, menatap langit ketakutan. Tanah menyedot tubuhnya, Raja Roh Hitam berteriak. Tidak sampai di sana, sebuah serangan yang benar-benar dahsyat meledakkan tubuh Raja Roh Hitam dalam sekejap.


Asap mengepul di udara. Ledakkan besar itu membuat semua orang yang berada dalam jurus ilusi sampai ikut terpental.


__ADS_2