Magic Of Akademic

Magic Of Akademic
178 - Pelatihan Tertutup III


__ADS_3

Satu tahun berlalu begitu saja. Satu jurus serta beberapa tekhnik yang diajarkan Tetua Haki berhasil dikuasai oleh Amdara. Walaupun banyak jurus yang harus dihapalnya, tapi Amdara sama sekali tidak merasa kepusingan. Dia sangat bersemangat melakukan latihan. Namun, Amdara sepertinya melupakan satu hal, yaitu mencari kedua orang tuanya.


Bahkan Amdara juga tidak pernsh mengunjungi teman-temannya. Entah bagaimana keadaan mereka sekarang.


Tetua Haki bahkan sampai memuji Amdara karena dapat menguasai apa yang diajarkannya dengan sempurna.


Amdara saat ini berada di dalam gua sambil bermeditasi selama seminggu ini. Dia baru membuka mata saat merasakan dalam jarak tiga puluh meter dua orang sedang menuju ke gua. Amdara berdiri, dia melesat menunggu dua orang di depan gua.


Tidak lama kemudian Tetua Haki datang bersama Tetua Widya. Amdara langsung memberikan hormat kepada keduanya.


Tetua Widya menoleh ke arah Tetua Haki yang mengangguk seolah sedang mengisyaratkan sesuatu. Pandangan Tetua Widya kemudian beralih kembali ke arah Amdara yang tanpa ekspresi menatapnya.


Tetua Widya lantas berujar, "sudah lama tidak bertemu. Bagaimana keadaanmu, Nak?"


"Mn, baik. Bagaimana dengan Tetua Widya sendiri?" Amdara tersenyum tipis sebagai tanda menghargai.


Tetua Widya mengatakan dirinya selama ini baik. Dia memuji Amdara yang semakin terlihat kuat dan memiliki perubahan.


"Baiklah, setelah satu tahun ini kau sudah bekerja keras. Jadi, aku datang untuk melihat hasil latihanmu."


Perkataan Tetua Widya membuat Amdara menaikkan sebelah alis sebelum mengiyakan ajakan Tetua Widya. Amdara juga ingin melihat hasil berlatihnya selama ini dengan bertarung melawan Tetua Widya. Pasti rasanya akan sangat berbeda saat dia melawan Roh-roh Hitam dan Siluman.


Tetua Widya mengambil posisi begitu pula dengan Amdara. Tetua Widya datang kemari memang bukan untuk sekadar melihat, tapi dia ingin menguji bocah berambut putih ini. Mendengar Tetua Haki yang terus memuji perkembangan Shi, Cakra, terlebih Amdara membuatnya penasaran.


"Bersiaplah, Nak. Kau jangan segan mengeluarkan kekuatan."

__ADS_1


Amdara mengangguk sebagai respon dan berkata tanpa nada, "mohon bantuannya, Tetua."


Lesatan tanaman merambat menyerang bagian vital Amdara. Nyaris saja bocah itu dibuat tumbang hanya dalam satu serangan. Beruntung karena indera kepekaan Amdara meningkat, dia bisa menghindar tepat waktu.


Amdara balik menyerang menggunakan jurus angin beliung. Angin tersebut sangat segar, ada aroma bunga yang menyeruak. Bahkan kelompak bunga juga nampak mulai bermunculan.


Tetua Widya tersenyum tipis, dia kembali melesatkan serangan dengan kecepatan tidak main-main. Bahkan Tetua Widya tidak menganggap Amdara sebagai seorang bocah, melainkan seseorang yang sudah kuat.


Keduanya saling bertukar serangan dengan sengit. Tidak ada yang mengurangi kecepatan dan kekuatan saat melakukan serangan. Benar-benar dahsyat sampai pepohonan sekitar hangus begitu saja. Tetua Haki yang memperhatikan sejak tadi nampak berdecak kagum. Sejauh ini Amdara masih bisa mempertahankan posisi dan menyerang dengan sekuat tenaga.


Debaman keras disertai sambaran petir akibat benturan kedua kekuatan sampai terdengar jauh. Asap mengepul di udara, tanah sudah retak di mana-mana.


Tetua Widya kali ini menyerang secara beruntun. Di sela pertarungan, dirinya masih sempat terperangah dengan bagaimana ekspresi tenang dari Amdara.


"Kau memang jenius. Tetua Haki tidak salah memujimu."


"Tetua terlalu memuji." Amdara kali ini melesatkan serangan berupa rantai air. revolusi dari jurus airnya. Rantai air tersebut bergerak liar mencoba melilit tubuh Tetua Widya yang terus menghindar dengan gesit. Amdara tidak serta merta mengandalkan rantai air, dia menggunakan pusaran angin untuk mengalihkan perhatian lawan.


Tetua Widya cukup terkecoh, tapi dia berhasil lolos dari kedua kekuatan lawan.


"Hmph. Kau ini sangat rendah hati, ya. Nak, coba tahan serangan ini!"


Energi spiritual yang amat besar menimpa tubuh Amdara yang mendadak terasa berat dan tiba-tiba saja melemas. Akar besar nan tajam dari arah titik buta berhasil melilit pergelangan kaki, dan kedua tangannya. Amdara mencoba melepasnya menggunakan energi spiritual, akan tetapi Tetua Widya sudah terlebih dahulu menendang dadanya sampai bocah itu terpental menabrak lima pepohonan sekaligus sampai tumbang.


Amdara merasakan dadanya yang sakit. Belum sempat menyembuhkan diri, serangan berupa akar menjalar nyaris menusuk kepalanya andai dia tidak segera berguling ke samping. Posisinya sekarang dalam keadaan sulit.

__ADS_1


Amdara terlambat bereaksi saat akar-akar tidak terhitung jumlahnya melilit dan menutup seluruh tubuhnya. Kekuatan Amdara terkunci, tidak bisa merasakan adanya kekuatan alam. Walau terus mencoba melepaskan diri, nyatanya dia tidak berdaya. Amdara seolah kalah oleh kekuatan Tetua Widya yang masih berada di atasnya. Sekarang Amdara terkurung oleh akar yang dibuat Tetua Widya.


Tetua Widya melesat mendekat. Dia tertawa melihat Amdara yang terkurung dalam akar miliknya. Tetua Haki juga mendekat, melihat murid didiknya tidak berdaya di dalam kurungan.


"Hmph. Dia memang sudah bertambah hebat dari terakhir yang kulihat." Tetua Widya menaik turunkan tangan, akar-akar juga turut naik turun mengikuti. Dirinya kembali berbicara, "lihatlah, aku sampai harus mengeluarkan kekuatan besar untuk bocah ini."


Tetua Widya menghembuskan napas panjang. Sementara Tetua Haki tersenyum bangga. Melihat pertarungan barusan sudah membuatnya yakin Amdara akan masuk ke dalam sepuluh besar Turnamen Magic Muda. Yah, walau kemungkinan besar ada banyak jenius di Akademi lain.


Tetua Haki menyilangkan kedua tangan. Buka suara, "hari ini kau ajari dia. Aku akan melatih Shi untuk beberapa saat. Aku akan pergi sekarang."


Tetua Widya menaikkan sebelah alis dan bertanya, "bukankah sudah ada Tetua Genta yang melatih Shi?"


"Kurasa Shi akan menangis jika terus menerus dilatih Tetua tanpa ekspresi itu."


Tawa Tetua Widya pecah saat itu juga. Dirinya mengangguk mengerti. Kemudian mempersilakan Tetua Haki untuk pergi ke tempat berlatih Shi.


Tanpa di sadari keduanya, di dalam kurungan akar, Amdara mengeluarkan portal. Saat Tetua Haki pergi, dirinya langsung menghilang dan muncul di belakang Tetua Widya.


Rantai es keluar dari belakang punggung, bersiap mengikat tubuh Tetua Widya yang dikiranya tidak menyadari hawa kehadiran Amdara.


"Kau ini benar-benar keras kepala tidak mau mengaku kalah, ya?"


Dari balik punggung Tetua Widya muncul akar hijau besar tajam. Tanpa di duga menyerang Amdara, beruntung Amdara menggunakan rantai api untuk menangkis.


Sekarang yang terjadi adalah akar dan rantai yang saling bertarung menggunakan energi spiritual. Titik-titik keringat sudah bermunculan di dahi Amdara. Dirinya tidak menyangka masih lemah di hadapan Tetua Widya.

__ADS_1


Amdara yang sedang terfokus menyerang sampai tidak menyadari bahwa akar yang berhasil mengenai tubuh sebelumnya membuat dia merasakan sakit luar biasa. Tidak sampai lebam, akan tetapi Amdara merasakan jantungnya seperti digerogoti oleh sesuatu. Dia terjatuh, menekan dada yang semakin sesak. Rantai es menghilang tiba-tiba.


Tetua Widya tersenyum, dia berkata, "kau kalah."


__ADS_2