
Tetua Widya mengangkat tangan, akar-akar miliknya bermunculan dari bawah tanah. Dirinya tertawa melihat Amdara yang terduduk sambil menekan dada kesakitan.
"Sudah kukatakan kau harus benar-benar mengerahkan kekuatan." Tetua Widya menggelengkan kepala. Akar-akar itu baru hendak menyentuh tubuh Amdara, tapi tiba-tiba terhenti, kaku tidak bisa bergerak. Begitu pula dengan tangan Tetua Widya yang rasanya mati rasa.
Keterkejutan nampak di wajah wanita tersebut. "Apa yang terjadi?!"
Tetua Widya melihat ke arah kaki, di mana rantai es membuat kakinya membeku. Bukan hanya itu, seluruh tubuhnya jadi tidak bisa bergerak. Hanya mulut, dan mata yang bisa bergerak. Tatapan matanya beralih ke Amdara yang masih terduduk, tapi saat itu juga mendongak dan tersenyum tipis.
Amdara dengan lirih berucap, "tidak. Kita seri, Tetua."
Tetua Widya menahan napas dengan teknik tidak disangka-sangka ini. Dalam hatinya menahan amarah karena sampai terkena jebakan lawan. Walau mencoba mengeluarkan kekuatan, akan tetapi dia tidak dapat melakukannya sampai dua menit berakhir.
Tetua Widya menarik napas dalam dan buka suara, "kau ini cerdik sekali. Membahayakan nyawa sendiri hanya untuk menjalankan siasat? Haih, Nak. Ayo, lepaskan."
Amdara memang masih menahan sakit, tapi dia berhasil melakukan uji coba dengan kekuatan sendiri. Hasilnya cukup bagus untuk dilakukan saat lawan berada dalam jarak beberapa langkah darinya.
"Tetua belum mengakui kita seri,"
Ucapan Amdara membuat Tetua Widya berkedip sebelum akhirnya menarik napas dalam dan berkata, "baiklah, kita seri sekarang. Cepat lepaskan aku. Setelahnya aku akan menyerap racun di dalam tubuhmu, jika terlambat akan sulit diobati."
Amdara mengangguk pelan. Jari-jarinya berkutik, rantai es dari kaki Tetua Widya mulai menghilang bersama wanita tersebut langsung bisa bergerak.
Tetua Widya melihat kedua tangannya yang sudah bisa bergerak. Lalu menggunakan kekuatan untuk menyerap racun yang diterapkan di tubuh Amdara. Cara penyerapannya menggunakan akar-akar miliknya. Dia menarik napas dalam karena racunnya belum sampai menyebar ke arah otak.
Amdara juga menarik napas perlahan. Tubuh dan jantungnya tidak lagi terasa sakit. Dia kemudian bangkit dan memberi hormat.
"Terima kasih atas bimbingannya, Tetua."
__ADS_1
Tetua Widya menepuk bahu Amdara. Senyumnya terbit, merasa bangga memiliki murid-murid yang berbakat di Akademi Magic Awan Langit.
"Bukan masalah. Setelah melihat kemampuanmu dan merasakannya secara langsung, aku sudah menentukan pelatihan kali ini."
Amdara menaikkan sebelah alis mendengar perkataan Tetua Widya yang kemudian mengajaknya pergi. Namun, Amdara tidak juga menggerakkan kaki mengikuti.
Tetua Widya menoleh ke belakang saat dirinya sudah terbang. Mengerutkan alis melihat Amdara tidak kunjung terbang. Dirinya bertanya, "ayo, kita akan pergi berburu."
"Ke luar?
"Benar. Kau tenang saja. Pelatihanmu sudah diserahkan kepadaku. Jadi, kau bisa keluar sekarang."
Mendengarnya langsung membuat Amdara mengangguk mengerti dan mulai terbang mengikuti Tetua Widya.
Mereka mulai melewati hutan, beruntung tidak ada siluman dengan kekuatan besar yang datang. Hanya ada siluman dengan tingkat rendah, dan Amdara dapat menghabisinya dalam sekejap. Tetua Widya yang memperhatikan pertarungan Amdara dan Siluman-siluman lagi-lagi terperangah karena Amdara selalu memiliki cara membuat lawan lengah dan melesatkan serangan di titik lemah lawan.
"Tetua, kita akan pergi ke mana?" tanya Amdara sambil terus terbang. Tingkat kecepatannya sudah meningkat pesat walau belum bisa menyamai kecepatan Tetua Widya.
Tetua Widya juga mengatakan bahwa misi yang diambil merupakan misi permohonan langsung dari suatu desa yang cukup jauh. Penjelasan Tetua Widya cukup membuat Amdara tersentak. Pasalnya di desa yang akan mereka datangi sedang tertimpa masalah besar. Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada desa tersebut, dari surat permohonan mengatakan désa bernama Igir berada di tangan penjahat dari Aliran Hitam. Walau di Negeri Nirwana Bumi jarang ada Organisasi Aliran Hitam, tapi bukan berarti organisasi ini tidak berulah.
Tetua Widya sampai turun tangan sendiri pasti misinya sangat sulit. Apalagi melawan orang-orang dari Aliran Hitam.
"Jadi kita akan mengusir penjahat itu?"
Anggukan dari kepala Tetua Widya langsung dipahami Amdara. Terus Widya menoleh ke belakang, dirinya mengatakan sesuatu yang membuat Amdara terdiam.
"Tidak dijelaskan berapa banyak penjahat di sana. Kau harus menyiapkan kekuatan besar untuk melawan mereka. Aku percaya padamu."
__ADS_1
*
*
*
Untuk sampai di desa Igir, membutuhkan waktu paling lama satu bulan. Itu pun jika Tetua Widya dan Amdara tidak mendapat masalah di perjalanan. Mungkin mereka akan cepat sampai jika tidak beristirahat dan meningkatkan kecepatan terbang.
Satu minggu dilalui begitu saja, tanpa istirahat dan mengurangi kecepatan terbang. Beruntung, masalah kali ini belum datang.
Tetua Widya mengajak Amdara beristirahat di salah satu penginapan di desa Dawan, akan tetapi Amdara menolak sopan. Tetua Widya tersenyum saat mendengar penolakan tersebut, dia yakin Amdara merasa tidak enak jika harus beristirahat padahal jelas-jelas di desa Igir sedang menunggu pertolongan mereka.
"Hmph, kalau begitu kau pergi duluan saja. Aku ingin istirahat satu hari."
Tetua Widya melangkah pergi mencari penginapan. Mau bagaimana pun dirinya seorang wanita, yang pastinya menganggap Amdara masih sebagai bocah yang akan kelelahan jika tidak pernah beristirahat.
Amdara berkedip melihat kepergian Tetua Widya. Dia menarik napas dalam sebelum mengikut Tetua Widya. Tidak mungkin dirinya pergi ke desa Igir, tempatnya saja dia tidak tahu.
Desa ini ternyata bukanlah desa terpencil seperti yang pernah dilihat Amdara. Di desa Ghu ini, cukup ramai oleh lalu-lalang orang-orang. Di sana juga ada pasar dengan berbagai pedagang menjajakan dagangan.
Selagi Tetua Widya mencari penginapan, Amdara sama sekali tidak mengedarkan pandangan untuk melihat ke sekitar. Pasalnya dia merasa risih ketika banyak orang yang memandanginya. Entah apa yang membuat orang-orang melihatnya. Amdara mempercepat langkah, menghampiri Tetua Widya yang sudah menemukan penginapan.
Tetua Widya menoleh ke samping tepat di mana Amdara berada yang diam tanpa ekspresi. Tetua Widya menggelengkan kepala dan berkata, "senyumlah sedikit. Kau ini perempuan. Tidak boleh kaku seperti ini."
Setelah memberi koin emas kepada penjaga, Tetua Widya memasuki penginapan bertingkat dunia ini.
Amdara berkedip mendengar perkataan Tetua Widya. Dirinya hanya menghela napas panjang, dan mulai melangkah masuk.
__ADS_1
Pemandangan di dalam penginapan sungguh di luar dugaan. Amdara harap dengan dirinya cepat memasuki penginapan, tidak ada yang akan menatap aneh ke arahnya. Namun, harapan itu pupus begitu saja.
Di lantai pertama penginapan, merupakan tempat untuk makan. Banyak orang-orang yang sedang makan di sana. Tapi saat tatapan mata mereka tidak sengaja melihat seseorang berambut putih dengan wajah putih bersih baru saja memasuki penginapan membuat mereka seketika menghentikan aktivitas masing-masing. Mereka bahkan tidak berkedip melihat pemandangan indah di bibir pintu.