
Hawa di sekitar semakin menekan. Aura jahat semakin kental. Kabut yang sebelumnya abu-abu berubah warna menjadi merah darah. Kekuatan hitam menekan tubuh Amdara.
"Gggrrr. Kau yang melenyapkan mereka? Grooarrghh!"
Suara dari Raja Roh Hitam terdengar terbakar emosi. Ada dua Raja Roh Hitam yang tubuhnya sangat besar, sama seperti Raja Roh Hitam yang pernah memasuki alam bawah sadar Tetua Wan. Keduanya menatap tajam bocah berambut putih yang sama sekali tidak membalikkan badan.
Satu Raja Roh Hitam mengenakan mahkota layaknya ratu, sementara satunya lagi hanya memakai jubah hitam gelap. Tidak adanya balasan dari bocah berambut putih itu membuat keduanya bertambah marah dan langsung menyerang dengan kekuatan besar. Akan tetapi sebuah cahaya muncul sebesar kekuatan yang dilesatkan, melahap kekuatan tersebut. Kedua Raja Roh Hitam terkejut, tanpa sadar di belakang mereka muncul cahaya lagi dan melesatkan serangan sendiri. Karena terlalu tiba-tiba, keduanya tidak sempat menangkis.
Kedua Raja Roh Hitam maju beberapa langkah karena serangan belakang. Serangan barusan membuat keduanya merasakan sakit luar biasa.
Amdara melihat dari balik punggung mereka sambil tersenyum tipis. Walau kabut berwarna hitam, bukan berarti Amdara tidak bisa melihat sekitar dengan jelas. Menggunakan kekuatannya, dia masih bisa melihat sekeliling. Nampaknya kedua Raja Roh Hitam inilah yang akan menjadi lawan merepotkan. Pasti kedua Raja Roh Hitam ini pula yang membuat titik merah di peta. Amdara mendengus, dirinya dengan cepat mengeluarkan rantai api mengikat tubuh kedua Raja Roh Hitam.
Akan tetapi tiba-tiba saja rantai miliknya hangus begitu saja oleh asap hitam. Amdara masih memasang ekspresi tenang, walau tahu kekuatan lawan jauh di atasnya.
Kedua Raja Roh Hitam membalikkan badan dengan amarah memuncak. Mereka menatap tajam Amdara.
Raja Roh Hitam yang mengenakan jubah hitam berkata, "kau berani sekali menyerang dari belakang, anak manusia!"
Api muncul dari belakang Raja Roh Hitam, ketika tangannya terangkat, api tersebut melesat ke arah Amdara tapi cahaya portal muncul dan menghisap kekuatan tersebut dan muncul kembali dari arah belakang Raja Roh Hitam. Serangan tersebut disadari lawan, ditangkis hanya dengan melibaskan tangan.
Amdara yang melihatnya masih diam, tapi tatapan matanya semakin menajam. Tawa lawan membuat Amdara mengepalkan kedua tangan. Kekuatan keduanya memang terpaut jauh, akan tetapi Amdara sama sekali tidak ingin menyerah. Dia mengeluarkan jurus angin beliung.
Pusaran angin tersebut mengelilingi Dua Raja Roh Hitam. Tidak sampai di sana, Amdara lalu mengeluarkan rantai api dan melilit tubuh musuh dengan cepat. Bola api sebesar rumah bertingkat satu muncul dan menghantam Dua Raja Roh Hitam.
__ADS_1
Debaman keras terdengar. Tanah sampai bergetar hebat. Asap menyeruak ke sekitaran. Percikan kekuatan besar sampai membuat Amdara termundur. Dia pikir Raja Roh Hitam akan mendapatkan luka walau segores, nyatanya saat tiba-tiba api padam musuh masih dalam kondisi baik-baik saja dan malah tertawa.
"Kau hebat dapat mengeluarkan setitik kekuatan bagi kami." Raja Roh Hitam bermahkota tiba-tiba menghilang, muncul dengan cepat di depan Amdara dan mengangkat leher anak manusia ini yang tidak sempat merespon. Dia mencengkram kuat leher Amdara hanya dengan dua jari sampai Amdara nyaris tidak bisa menghirup udara. Bisa dibayangkan seberapa besarnya Raja Roh Hitam ini.
Raja Roh Hitam dengan suaranya yang mengerikan berkata, "dasar tidak tahu malu. Kau pikir dapat menggores tubuh kami dengan kekuatanmu ini?"
Amdara mencoba melepas cengkraman musuh menggunakan kekuatan, akan tetapi mendadak kekuatannya ditekan menggunakan energi spiritual hitam dengan sangat berat. Wajah bocah ini sudah sangat pucat. Dia tidak bisa melakukan perlawanan.
"Kau harus mendapat hukuman karena mengacau di tempatku." Raja Roh Hitam memelototkan mata ke arah Amdara. Dia kemudian semakin menekan tangan, membuat anak manusia itu nyaris meledak.
Namun, hal tidak terduga terjadi. Amdara berhasil membuat serangan berupa angin beliung tepat di mata kedua Raja Roh Hitam. Angin beliung ini telah tercampur dengan abu sekitar, hingga membuat pandangan musuh terganggu. Di kesempatan itu, Amdara juga berhasil menciptakan rantai sangat tajam Rantai api tersebut menc*mbuk mata Raja Roh Hitam sampai menancap ke dalam. Teriakan memekakkan telinga kembali terdengar.
Raja Roh Hitam melepaskan tangan membuat Amdara langsung terjatuh. Amdara menekan dadanya yang terasa sakit, dia perlahan menarik napas dan mengeluarkannya. Yang barusan itu nyaris saja!
Amdara pelan-pelan menyerap kekuatan alam, dan menyembuhkan luka dalam dan luar. Dirinya menundukkan pandangan, teringat dua manusia yang sebelumnya ditemui mungkin masih berada di ruang bawah tanah. Entah bagaimana keadaan mereka. Amdara tidak tahu apakah orang-orang desa semua bersembunyi di ruang bawah tanah rumah masing-masing. Amdara menoleh tempat di mana rumah yang terbakar habis dan terkena serangan hingga berlubang. Melihatnya membuat Amdara sangat menyesal tidak bisa membuat perisai pelindung lebih kuat. Tanpa sadar dia mengepalkan kedua tangan kuat.
Tatapan matanya kembali menoleh ke arah Raja Roh Hitam yang sudah menghilangkan rantai api. Amdara melayang, menarik udara pengap sekitar. Dengan melakukan kekuatan gabungan, dia melesatkan serangan dahsyat ke arah kedua Raja Roh Hitam.
BAAM!
Blaaar!
Angin kejut dahsyat sampai membuat pepohonan yang terkena hangus seketika. Raja Roh Hitam tidak sempat menghindar. Alhasil terkena serangan Amdara dahsyat barusan. Amdara kembali melakukan serangan secara berturut-turut, tapi kali ini Raja Roh Hitam berhasil menangkis akan tetapi satu serangan telak mengenai mereka.
__ADS_1
"Kau manusia pertama yang berhasil membuatku mengeluarkan kekuatan besar." Raja Roh Hitam menyentuh pipi yang tergores, dan menyeringai saat itu juga. Dengan kecepatan luar biasa mengeluarkan kekuatan besar, melesatkannya ke arah Amdara.
Amdara yang melihatnya segera menghindar, tapi satu Raja Roh Hitam lagi berhasil membuatnya terpental menabrak salah satu rumah sampai ambruk hancur. Bahkan karena serangan nyasar dan tekanan kekuatan Raja Roh Hitam membuat perisai pelindung yang dibuat Amdara di setiap rumah hancur berkeping-keping.
"Kau pikir akan bisa menang hanya dengan kekuatan lemah ini?"
Tangan besar Raja Roh Hitam hendak menekan tubuh kecil Amdara yang bagai semut di mata Raja Roh Hitam. Amdara sontak dengan cepat menghindar. Beruntung nyawanya tidak lenyap karena penyet ditekan musuh. Tanah langsung berlubang besar membentuk sebuah tangan raksaksa.
Amdara menelan darah yang hendak keluar. Kekuatannya sudah mulai terkuras. Dirinya menoleh ke belakang, merasa Raja Roh Hitam lain sudah mengeluarkan asap hitam pekat dan langsung melesat ke arah Amdara. Bocah itu membuat perisai pelindung. Tapi meleleh begitu bersentuhan dengan asap hitam. Amdara tidak bisa menghilangkan rasa terkejut di wajahnya.
Asap hitam sekarang sudah mengelilingi, saat baru akan mengeluarkan jurus angin, tubuhnya tiba-tiba terasa lemas dan berakhir jatuh ambruk dengan dada terasa sesak.
Amdara menarik udara ke paru-paru perlahan. Napasnya tercekat saat kedua Raja Roh Hitam tertawa dengan ringan melihat penderitaan yang dialami bocah ini.
"Kau hanya kaum manusia lemah. Bagaimana mungkin bisa melenyapkan kami?"
Raja Roh Hitam tertawa terbahak, mendekat ke arah Amdara sambil berkata dengan angkuh, "apa kau tidak tahu asap apa itu?"
"Asap yang kau lihat merupakan asap kemat*an. Siapa pun yang menghirupnya, akan mat* secara mengena*kan."
Raja Roh Hitam mengangkat tangan, detik itu juga tubuh Amdara melayang. Serangan dari musuh mengenai perut Amdara yang tidak dapat melakukan perlawanan. Tubuhnya sudah sangat lemas karena pengaruh jurus musuh.
Mata Amdara melotot. Tubuhnya kaku saat itu juga. Dar*h keluar dari perutnya, semakin deras sampai membuat matanya perlahan tertutup. Hingga tidak sadarkan diri. Tubuhnya sudah sangat pucat layaknya mayat hidup.
__ADS_1
Sementara musuh malah tertawa dengan kejadian tersebut. Mata merah menyala mereka menyaksikan secara langsung penderitaan anak manusia ini yang terasa menyenangkan bagi mereka. Kemenangan ini memang layak didapatkan Raja Roh Hitam. Setelah ini tidak akan ada lagi yang berani mengusik keduanya.